Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
416.Puasa 40 hari s2


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, Niah dan David mengantarkan orang tua Niah pulang ke kerumahnya.


Hari ini pertama kalinya Khalisa dan Shakila berkunjung ke rumah nenek dan kakek mereka, Shakila anteng di pangkuan sang kakek dan Khalisa juga anteng di pangkuan neneknya.


"Niah, nanti nginep dirumah mamakan?" Tanya Ana pada Niah.


"Aku ikutin suamiku saja ma, kalau David mau nginep iya tidak apa-apa ma kita nginep saja nanti," Jawab Niah.


"David, nginep saja nak. Biar mama juga bisa main dengan sih kembar," Ana melihat David yang sedang menyetir.


David sebagai menantu yang baik, paling tidak bisa menolak apa yang dikatakan oleh mama mertuanya.


"Iya ma, nanti David dan Niah menginap dirumah." Jawab David, sambil terus menyetir mobilnya.


Sesampainya di depan rumah kedua orang tuanya Niah. David menghentikan mobilnya, ia memarkirkan mobilnya lalu turun untuk membukakan pintu mobilnya untuk istrinya dan kedua mertuanya.


Valin sedang duduk di depan rumahnya bersama Ralin, sambil menunggu suami-suami mereka pulang kerja.


Melihat kedua mertuanya pulang bersama kakak ipar, Valin beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri mereka, Ralin juga mengikuti langkah kaki Valin di belakang Valin.


"Khalisa, ayo ikut dengan tante." Valin mengambil dari gendongan mama mertuanya.


Ralin juga mengambil Shakila dari gendongan Rama, mereka bisa membedakan yang mana Khalisa dan yang mana Shakila dari anting-anting yang yang mereka pakai, David memakaikan anting-anting ditelinga Khalisa dengan motif bulan dan ditelinga Shakila dengan motif bintang.


Mereka semua masuk ke dalam rumah, Valin dan Ralin begitu gemas merekan menciumi pipi sih kembar dengan lembut.


"Alin, rasanya tidak sabar menunggu anakku lahir." Kata Valin, ia duduk disebelah Ralin.


"Apalagi aku kak, Kenan tiap malam nanya mulu. Kapan buah hati kita lahir sayang? Rasanya aku pusing sekali kak," Jawab Ralin.


Niah, David, Rama dan Ana, sama-sama saling melempar senyum. Ana dan Rama juga tidak sabar menunggu anaknya Valin dan Kevin lahir.

__ADS_1


"Jika anak Kevin dan Valin lahir, pasti rumah ini akan sangat rame." Batin Niah dalam hatinya.


"Valin, Ralin, kalian hamil ditanggal yang sama. Nanti jangan-jangan anak kalian juga lahir ditanggal yang sama." Timpal Niah, sambil tersenyum pada Ralin dan Valin.


"Ntahlah kak, kadang tanggal kelahiran bisa maju atau mundur." Jawab Valin, yang dianggukkin oleh Ralin.


Tiba-tiba sih kembar menangis secara bersamaan, membuat Niah menghela nafasnya dengan pelan.


"Sayang, pasti mereka haus." Kata Niah, Valin dan Ralin memberikan sih kembar pada Niah dan David.


"Ma, pa, aku ke kamar dulu ya. Mau nyusuin sih kembar biar tidur." Niah beranjak dari tempat duduknya, David juga ikut beranjak dari tempat duduknya mereka masuk ke dalam kamarnya.


"Iya nak, kalau ada apa-apa panggil mama saja!" Jawab Ana.


Dalam hati Valin, bagaimana cara Kak Niah menyusui kedua anaknya secara bersamaan? Apa kak Niah menyusuinya satu persatu atau dua-duanya sekaligus, sungguh punya anak kembar sepertinya agak bingung. Apalagi seperti tadi mereka menangis secara bersamaan, Aku punya satu dulu sajalah Belum siap kalau aku punya anak kembar.


Ralin juga membayangkan betapa reportnya Niah saat mengurus kedua anaknya, saat anaknya pup bersamaan, nangis bersamaan, dan David tidak dirumah, pasti Niah akan kuwalahan, hebat Niah bisa mandiri mengurus kedua anaknya tanpa baby sitter dan tentunya David selalu menjadi suami siap siaga dalam membantu mengurus kedua anaknya.


Di dalam kamar, Niah duduk sambil menyusui kedua anaknya Khalisa di sebelah kiri dan Shakila di sebelah kanan. Sedangkan David duduk di samping Niah, ia tersenyum melihat istrinya begitu menyayangi kedua anaknya.


"Jangan sayang, aku bisa urus mereka berdua sendiri." Tolak Niah, tentu saja Niah menolak karena punya alasan sendiri.


"Aku takut jika pakai baby sitter, aku tidak percaya dengan orang lain. Lebih baik aku menjaga kedua anakku sendiri dengan bantuan mama." Batin Niah dalam hatinya.


Niah sering melihat berita-berita di televisi, banyak baby sitter yang jahat pada anak yang mereka asuh, bahkan ada bermacam-macam hal yang membuat Niah takut dan memilih mengasuh dua putri kembarnya sendiri, dengan bantuan suaminya dan mama mertuanya.


"Ada mama, ada mama Shinta, ada papa dan ada kamu juga yang akan membantuku merawat kedua putri kembar kita." Niah berusaha meyakinkan suaminya.


Sih kembar sudah tidur, Niah menaruh sih kembar di atas kasur. Kini sih kembar berada ditengah-tengah Niah dan David.


"Baiklah, untuk sementara kita tinggal di rumah orang tua kamu tidak apa-apakan?" Tanya David, sambil melihat Niah lalu tersenyum padanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, justru aku senang jika tinggal dengan mama. Apalagi dirumah ini rame jadi aku tidak kesepian lagi," Jawab Niah, membuat David tersenyum penuh salah.


"Setiap kali aku kerja, aku selalu meninggalkan Niah sendirian tanpa memikirkan Niah kesepian atau tidak." Batin David dalam hatinya.


"Iya kita akan tinggal disini, kalau perlu aku akan membeli rumah dekat sini agar kamu tidak kesepian lagi." Kata David dan Niah berpindah tempat duduk, lalu dia menghambur ke pelukan suaminya, berulang kali Niah menciumi wajah tampan suaminya, sungguh dia merasa sangat bahagia, apalagi mendengar David mau membeli rumah di dekat rumah orang tuanya.


David membiarkan istrinya itu melakukan apa yang istrinya mau. Setelah puas Niah berhenti menciumi wajah tampan suaminya.


"Sudah puas?" David memegang kedua pipi Niah, dengan tatapan mesum.


"Kamu mau apa?" Tanya Niah, yang langsung mengalihkan pandangannya.


David menaruh Niah di pangkuannya, lalu dia membenamkan wajahnya di leher jenjang Niah.


"Kamu, terus menciumiku itu sama saja kamu membangunkan hasratku, padahal kamu tahu sendiri aku sedang berpuasa selama 40 hari." Kata David, dia menciumi leher Niah dengan lembut.


Niah membiarkan suaminya melakukan hal itu, dia tidak mencegahnya malah Niah senyam-senyum dalam hatinya.


"Aku tidak membangunkan adik kecilmu, jika dia terusik kamu pergilah ke kamar mandi dan selesaikan sendiri di dalam kamar mandi, suamiku." Kata Niah, membuat David sejenak menghentikan aktivitasnya.


David berdecak kesal, untung saja adik kecilnya masih anteng dan belum terbangun dari dalam sangkarnya.


"Sayang, kamu kan bisa melakukan dengan cara lain. Misalnya mulutmu itu," Goda David, dia menggigit telinga Niah dengan lembut.


Sungguh Niah merasa kesal, karena David semakin gila menurutnya.


"Sayang, sudah ih jangan ngaco!" Omel Niah dengan kesal.


David tersenyum, lalu dia melanjutkan aksinya untung anak-anaknya sedang tidur dan sangat anteng.


David menurunkan baju Niah, hingga terlihat punggung mulusnya, dia menciumi berulang kali hingga meninggalkan bekas merah, bahkan dia menyuruh Niah mengelus-elus adik kecilnya hingga tegang. Setelah beberapa lama David merasakan miliknya sudah begitu keras dan tegang. Dia langsung beranjak dari tempat tidur dan pergi masuk ke dalam kamar mandi. Seperti apa kata Niah David melanjutkan aksinya di dalam kamar sana.

__ADS_1


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2