
Ana hanya tersenyum.
"Dasar Suami mesum." gumam Ana yang diiringi dengan senyum bahagianya.
Rama sudah melepaskan ciumannya dari bibir Ana, lalu Rama kembali menggoda Ana.
"Sayang, ayo nambah Anak." goda Rama ditelinga Ana.
"Iya tapi tidak sekarang!" jawab Ana sambil mencubit perut Rama.
"Auuh.. sakit ih." rintih Rama sambil memegangi perutnya.
Rama kembali menghadapkan wajahnya ke wajah Ana kini keduanya hampir berciuman lagi, namun tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dengan begitu keras.
"Tok..tok...tok..." suara ketukan pintu.
Ana langsung memalingkan wajahnya dari wajah Rama, lalu berjalan menuju ke pintu untuk membukakan pintu kamarnya.
"Siapa sih mengganggu saja?" tanya Rama dengan nada kesal.
"Ceklek..." Ana membuka pintu.
Melihat Bibi yang bekerja dirumah yang datang, dengan wajah yang begitu panik. akhirnya Ana langsung bertanya pada Bibi.
"Bi, ada apa?" tanya Ana pada Bibi yang dikerja dirumahnya.
"Itu Nona, Nyonya Rani tiba-tiba sesak nafas." jawab Bibi dengan begitu panik.
"Apa Bi?" kata Ana kaget.
"Bibi kenapa? bukannya tadi baik-baik saja?" Ana merasa sangat kawatir dalam hatinya.
"Baiklah Bi, Aku dan Rama akan segera ke kamar Bi Rani." kata Ana.
Bibi yang kerja dirumah Rama langsung pergi ke kamar Bi Rani, yang disusul oleh Ana dan Rama.
"Sayang, Bi Rani sesak nafas ayo Kita cepat ke kamarnya." kata Ana dengan nada panik.
Rama dan Ana langsung terburu-buru menuju ke kamar Bi Rani.
Dikamar Bibi Rani.
Bi Rani terus sesak nafas, lalu Ana dan Rama langsung menghampirinya.
"Bi... Bibi kenapa?" tanya Ana sambil menangis.
Mami Diana, Papi Revan dan juga Ayu juga sudah ada dikamar Bi Rani.
"Rama, ayo bawa Nyonya Rani kerumah sakit sekarang." pinta Mami Diana.
"Iya Mi,ayo Kita bawa kerumah sakit." kata Rama.
Namun Bibi Rani tiba-tiba memegang tangan Ana, lalu menggeleng kepalanya.
"Bi...bi.. tidak mau kerumah sakit." kata Bibi Rani dengan suara yang terbata-bata.
__ADS_1
"A..na Bi.. bi titip Kevin." Pesan terakhir Bi Rani yang langsung menghembuskan nafas terakhir.
"Bi..Bibi bangun!!" kata Ana yang tangisnya sudah pecah.
Papi Revan mendekat kearah Bi Rani, lalu langsung mengecek denyut nadinya.
"Nyonya Rani sudah tidak ada, Beliau sudah meninggal." kata Papi Revan.
Ana langsung menangis sejadi-jadinya, Rama langsung berusaha menenangkan Ana.
"Sayang, kita iklhas kan Bibi pergi ya." kata Rama yang terus memeluk Ana.
"Kenapa orang-orang yang Aku sayang, semuanya meninggalkanku." kata Ana sambil terus menangis.
Mami Diana dan Ayu juga langsung ikut menangis, lalu Mami Diana langsung menghampiri Ana.
"Ana, Kamu masih punya Mami, Papi, Rama, Rehan, Ayu, Rehan dan yang lainnya." Mami Diana berusaha menghibur Ana.
"Rama, ayo Kita siapkan untuk pemakaman untuk Bibi Rani." kata Papi Revan pada Rama.
Ayu juga sudah menelpon Rehan agar segera pulang, akhirnya Rehan langsung pulang bersama Bagas juga.
Sedangkan Rama dan Papi Revan langsung mengurus untuk pemakaman.
Setelah mengabari suaminya, Ayu langsung pergi kerumah Via dan Alena, kini mereka semua sudah datang kediaman Ana. Rian juga ikut datang karena memang sedang dirumah.
Pelayat juga sudah pada datang, Rehan dan Bagas juga langsung masuk kedalam rumah Rama.
Setelah beberapa jam jenazah Bi Rani sudah siap untuk dimakamkan, akhirnya jenazah Bibi Rani dibawa ke pemakaman keluarga Ardiyansyah.
Mami Diana, Via, Alena, dan Ayu terus berdiri disamping Ana, mereka berusaha menenangkan Ana.
Sedangkan suami-suami mereka, ikut turun langsung untuk menguburkan jenazah Bibi Rani.
"Bibi kenapa Bibi tinggalin Ana." kata Ana yang diiringi dengan isak tangisnya.
"Ana yang sabar ya!" kata Via sambil terus mengelus pundak Ana.
"Iya Na, Kamu tidak boleh menangis terus! kasian Bibi Rani." kata Alena yang terus berada dibelakang Ana.
"Kakak Ipar, yang sabar ya! Kita doakan biar Bibi tenang dialam sana." kata Ayu yang terus ikut meneteskan air matanya.
Setelah jenazah Bibi Rani dikubur, kini semuanya mendoakan dan langsung menabur bunga diatas makam Bi Rani.
"Bibi, Rama janji Rama akan menjaga Ana dan Kevin dengan baik untuk selamanya." kata Rama sambil memegang nisan Bibi Rani.
"Bibi..... Ana sayang sama Bibi." kata Ana yang yang terus menangis diatas makam Bibi Rani.
Setelah acara pemakaman selesei, kini semuanya langsung pulang ke kediaman Rama.
Dirumah Rama dan Ana.
Ana masih terdiam lemas, sedangkan Rama terus duduk disamping Ana.
"Nak, jangan nangis terus ya sayang." pinta Mami Diana sambil menghapus air mata Ana dengan tissu.
__ADS_1
"Semuanya pergi ninggalin Ana, Mi." jawab Ana yang diiringi isak tangisnya.
Rehan dan yang lainnya saling menatap kearah Ana, lalu mereka semua berusaha menghibur Ana.
"Ana Kamu masih punya Kita semua yang selalu sayang sama Kamu! jangan sedih lagi ya." Via mewakili yang lainnya untuk menghibur Ana.
"Iya Na, benar kata Via." sambung Alena.
"Terimakasih ya semuanya, kalian memang sahabat-sahabat terbaikku." jawab Ana yang berusaha memaksakan senyumanya.
Malam ini di kediaman Rama mengadakan acara pengajian untuk Almarhumah Bibi Rani, Siska dan Kevin.
Setelah selesai pengajian, Via dan yang lainnya pulang apalagi Anak-anak mereka sudah mulai rewel mungkin karena sudah mengantuk.
"Rama, Ana, semuanya Aku pamit dulu ya Vano sudah rewel." Via berpamitan pada Rama, Ana dan yang lainnya.
"Iya Na, Aku juga pulang dulu ya." sambung Alena.
"Iya terimakasih ya, kalian sudah datang." Ana dan Rama mengucapkan terimakasih pada Via, Rian, Bagas dan Alena.
Setelah selesai berpamitan Via, Rian, Bagas dan Alena langsung pulang kerumah masing-masing, sedang Rama, Ana dan yang lainnya kumpul diruang keluarga.
"Rama, ajak Ana istrirahat Nak." Kata Mami Diana pada Rama.
"Iya Mi, Aku ke kamar dulu ya." pamit Rama.
Rama langsung mengajak Ana ke dalam kamarnya.
"Rehan, ajak Ayu istrirahat Nak." kata Mami Diana pada Rehan.
"Iya Mi, ayo sayang Kita ke kamar." ajak Rehan.
Rehan dan Ayu langsung masuk ke dalam kamar mereka, sedangkan Mami Diana dan Papi Revan masih duduk diruang tengah.
"Kasian Ana ya Mi." kata Papi Revan.
"Iya Pi, tapi ini sudah takdir ya Kita doakan saja mudah-mudahan Nyonya Rani, Nak Siska dan Nak Kevin tenang di alam sana." jawab Mami Diana.
"Aamiin, ayo Mi kita juga istirahat!" ajak Papi Revan sambil bangun dari tempat duduknya, lalu mengandeng tangan Mami Diana untuk menuju ke kamar mereka.
Dikamar Rama dan Ana.
Ana bengong sambil melihat Kevin dan Niah yang sedang tertidur, lalu Ana membelai pipi Niah dan Kevin secara bergantian.
"Mudah-mudahan, Mama bisa jagain kalian sampai Kalian besar nanti ya Nak." kata Ana sambil membelai pipi Niah dan Kevin secara bergantian.
"Aamiin, semangat istriku! Kamu tidak boleh sedih terus karena dua Anak kita masih sangat membutuhkan Kita." Rama memberikan semangat pada Ana.
Kini Ana langsung memeluk Rama, hingga kembali meneteskan air matanya.
Hari ini Ana ditinggal pergi selamanya oleh Bibi Rani, setelah kepergian Siska dan Kevin.
Bersambung 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1