
"Baiklah aku cari," David tersenyum dan ntah David akan mencari rujak kemana malam-malam seperti ini?
David menelusuri setiap jalanan dan akhirnya menemukan tukang rujak, David memesan satu porsi rujak. Setelah pesannya selesei David segera pulang karena istrinya pasti sudah lama menunggu.
.
.
Sesampainya dirumah, David tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan rujak yang istrinya inginkan.
"Sayang ini rujaknya!" David tersenyum lalu menaruh rujak tersebut diatas meja.
"Tapi aku sudah tidak pingin makan rujak." Niah memasang wajah manja, sungguh David merasa agak kesal sudah muter-muter mencari rujak tapi sang istri bilang sudah tidak pingin makan rujak.
"Tapi aku sudah membelinya." Kata David.
"Anak kamu yang tidak mau." Lagi-lagi Niah menyebut anaknya yang tidak mau.
Dalam hati David, nak kamu sudah membuat papa mencari rujak tengah malam dan kamu tiba-tiba tidak ingin memakannya. Untung papa sayang sama kamu dan mama kamu.
Akhirnya David menikmati rujak yang dirinya beli sendirian.
"Kamu sungguh tidak mau?" David memastikan.
"Iya aku tidak mau suamiku." Jawab Niah.
Setelah selesai makan rujak, David mengajak Niah masuk ke dalam kamar.
"Berbaringlah!" pinta David.
Niah berbaring, David juga berbaring disamping Niah, kini David mengelus-elus perut Niah dengan tangan kekarnya.
"Perutnya sakit tidak?" Tanya David.
"Tidak suamiku." Jawab Niah.
Malam semakin larut, David terus mengelus-elus perut Niah hingga Niah tertidur begitu nyenyak.
David juga ikut tertidur karena sudah sangat mengantuk.
.
.
Pagi hari yang cerah Niah langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Hoek..Hoek.... Hoek..." Niah muntah-muntah.
"Niah!!" David beranjak dari tempat tidurnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu tidak apa-apa?" David memijat tekuk leher Niah.
Setelah beberapa lama, akhirnya Niah sudah tidak muntah lagi. David menatap Niah dengan tatapan tidak tega apalagi kali ini Niah terlihat pucat dan sangat lemas.
"Tidak apa-apa, ini karena kandunganku masih muda jadi masih sering mual tapi nanti kalau sudah beberapa bulan pasti masa-masa ini akan hilang." Niah memberikan pengertian pada suaminya, agar suaminya juga tidak terlalu kawatir pada dirinya.
Niah mengerti sedikit-sedikit gejala tentang wanita hamil, selain Niah sering bertanya pada sang mama, Niah juga sering baca-baca diinternet tentang kehamilan.
Niah tahu seperti apa suaminya, jadi Niah juga harus sering-sering memberikan pengertian padanya karena kalau tidak pasti suaminya akan bersikap berlebihan nanti.
"Tapi kalau kenapa-kenapa kamu harus langsung katakan padaku ya!" David mencium kening Niah dengan lembut.
David beranjak dari tempat tidurnya, lalu menuju kamar mandi untuk segera mandi, setelah selesai mandi David bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
"Aku buat sarapan dulu," Niah hendak turun dari tempat tidurnya, tapi dengan cepat David mencegahnya.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja, nanti aku sarapan di kantor," David mencium kening Niah lalu bergegas pergi menuju ke kantor.
David keluar dari kamarnya, kali ini Niah kembali kesepian karena hanya sendirian dirumah.
"Kak David...." teriaknya.
David hendak masuk ke dalam mobil, tapi mendengar suara teriakan yang begitu imut membuat David langsung menoleh ke sumber suara.
"Ralin, mama, papa," sapa David dengan begitu sopan.
David berjalan menghampiri Ralin dan mertuanya.
"Ayo masuk!" dengan sopan David mengajak mertuanya dan Ralinsyah masuk ke dalam rumahnya.
"Niah mana nak?" Tanya Ana.
"Dikamar ma, tadi aku suruh tiduran saja takut kecapean ma," jawab David.
Sesampainya di dalam kamar, Niah yang tadinya lesuh karena merasa kesepian dirumah sendirian. Melihat kedua orang tuanya dan Ralin datang Niah langsung mengembangkan senyumnya.
"Mama, papa," Niah tersenyum bahagia.
"Anak mama, mama bawakan SOP ayam dan cumi tepung." Ana berjalan menuju Niah, lalu menaruh makanan yang dibawanya diatas nakas meja.
"Mama..." Niah memeluk sang mama dengan erat.
"Anak mama udah jadi ibu," Kata Ana disela-sela pelukannya.
Ana melepaskan pelukannya dari tubuh Niah, David tersenyum bahagia melihat sang istri terus memancarkan senyum bahagianya.
"Apa Niah membuatmu kuwalahan dengan ngidamnya nak?" Tanya Rama pada David.
"Sedikit pa, tapi ini masih wajar kok pa dan David juga bisa menanganinya," David tersenyum pada papa mertuanya.
"Baguslah nak, dulu mamanya juga waktu ngidam Niah banyak sekali kemauan aneh membuat papa pusing," Rama bercerita pada David.
"Bayangkan saja, jika Niah seperti mama pasti aku tidak akan kalah repot dari papa." Batin David dalam hatinya.
"Kalau sekarang masih normal ma, belum ada kemauan yang aneh." Jawab David yang membuat Rama tersenyum simpul.
"Pa aku berangkat kantor dulu ya," pamit David dan langsung mencium punggung tangan sang papa mertua.
David juga berpamitan pada mama mertuanya, setelah berpamitan David keluar dari kamar dan langsung pergi menuju ke kantornya.
"Untung mama dan papa datang jadi Niah tidak akan kesepian." Gumam David.
Sesampainya dikantor, David langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Aish baru sampai kantor aku sudah merindukanmu istriku," David mengambil bingkai foto pernikahannya yang sengaja dirinya taruh diatas meja kerjanya.
Sedang asik memandangi foto dirinya dan sang istri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Masuk!!" David menaruh bingkai foto kembali ke tempatnya.
"Randi, ada apa?" Tanya David.
"Ini semua berkas-berkas yang harus tuan tandatangani dan nanti jam 1 kita ada mitting dengan klien." Jawab Randi.
"Baiklah," Jawab David singkat.
Randi dan David berada diruangan David, kali ini David sedang sibuk dengan laptopnya dan Randi juga sedang sibuk dengan berkas untuk mitting siang nanti.
Dikamar Niah dan David.
__ADS_1
Niah sedang bercanda dan mengobrol bersama kedua orang tuanya dan Ralinsyah.
"Niah apa kehamilanmu merepotkan suamimu?" Tanya Ana dengan nada lembut.
"Sedikit ma," jawab Niah dengan kepolosannya.
"Kak Niah, bagaimana dengan ini?" Tiba-tiba Ralin menunjukkan gaun pengantin kepada Niah.
"Ini cantik, tunggu apa kamu akan menikah dengan Ken?" Tanya Niah dengan tatapan penuh kejailan.
"Iya sama siapa lagi kalau bukan Ken," sambung Ana dengan nada menggoda.
"Iya kak aku akan menikah dengan Ken bulan depan, semuanya sudah diatur oleh mama dan papa." jawab Ralin dengan senyum malu-malu.
"Wahh Rehan tidak bercerita padaku, kalau dia akan menikahkan anaknya bulan depan." Cetus Rama tiba-tiba.
"Mungkin mama dan papa belum sempat cerita kali Om." Jawab Ralinsyah.
Iya setelah resmi berpacaran, Kenan bilang pada orang tuanya untuk segera menikahkan dirinya dengan Ralinsyah. Bukan karena apa-apa tapi karena Ken tidak ingin berpacaran lama-lama takut hilaf.
"Ralin dan Ken, akan segera menikah bagaimana kalau kita nikahkan Kevin dan Valin juga?" Cetus Rama tiba-tiba.
Ana terdiam kali ini pikirannya merasa bingung.
"Aku ingin jujur pada Kevin sebelum Kevin menikah, aku ingin mengatakan kalau aku ini bukan orang tua dan aku ini hanya bibinya. biar bagaimanapun restu pernikahan dari orang tua penting, biarpun mereka sudah tidak ada di dunia ini tapi Kevin harus datang ke makam Kevin dan Siska." Batin Niah dalam hatinya.
"Kita bicarakan dulu dengan Kevin," jawab Ana dengan nada lembut.
"Pasti akan seru jika Kak Kevin juga menikah," Cetus Ralin sambil senyam-senyum.
"Niah mama dan papa pulang dulu, mama mau coba bicarakan pernikahan adikmu dengan Valin." Pamit Ana.
"Iya mama dan papa hati-hati!" jawab Niah.
"Iya nak, Alin kamu temanin kakakmu ya nanti Kenan biar jemput kamu nak!" Kata Ana pada Ralinsyah.
"Siapp tante," Ralin tersenyum pada Ana.
.
.
Rama dan Ana langsung pulang, sesampainya dirumah Ana dan Rama langsung masuk ke dalam Kevin karena kebetulan Kevin hari ini tidak masuk kantor gara-gara kepalanya agak pusing.
"Vin, kamu tidur nak?" Ana mengetuk pintu tapi Kevin tidak membukanya.
"Ceklek.." pintunya tidak dikunci.
"Mama?" Kevin keluar dari dalam kamar mandi.
"Untung saja aku tidak habis mandi." Gumam Kevin.
"Ada apa ma?" Tanya Kevin.
"Duduklah nak," pinta Ana, Kevin duduk di sebelah Ana, kali ini Kevin menatap mamanya dengan tatapan penuh arti.
"Sepertinya mama serius sekali?" Batin Kevin dalam hatinya.
"Ada apa ma?" Tanya Kevin untuk kedua kalinya.
"Mama mau jujur sama kamu nak." Jawab Ana dengan nada agak sedikit sedih.
"Jujur akan hal apa ma?" Tanya Kevin.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊