Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
272.Akhirnya adonan jadi.


__ADS_3

Keesokan harinya, Ayu kembali merasakan mual yang begitu hebat bahkan Ayu sampai lemas sekali.


Ayu langsung beranjak dari tempat tidurnya, lalu berlari menuju ke kamar mandi karena pingin muntah sekali.


Dikamar mandi.


"Huek..huek..." Ayu muntah-muntah.


"Kok mual terus rasanya? sebenarnya Aku ini kenapa?" tanya Ayu dalam hatinya.


Ayu menyandarkan tubuhnya ditembok, lalu Ayu kembali merasakan mual lagi.


"Huek...huek...." Ayu kembali muntah-muntah.


Mendengar suara muntah-muntah, Rehan langsung bangun dari tidurnya lalu langsung menuju ke mandi.


"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Rehan dengan begitu kawatir.


"Aku hanya mual saja." jawab Ayu.


Rehan terdiam sambil berpikir.


"Ayu mual, terus Ayu tiba-tiba pingin makan asem, terus Ayu tiba-tiba meminta makan permen lollipop, apa mungkin Ayu hamil?" pikir Rehan.


Rehan masih terdiam.


"Dulu kak Ana juga waktu hamil mintanya Mangga muda." gumam Rehan.


Rehan mengingat kejadian dulu, waktu Rehan dan Rama muter-muter mencari mangga untuk Ana, karena waktu itu Ana sedang ngidam.


Tiba-tiba Rehan langsung memeluk Ayu, lalu Ayu berkata pada Rehan.


"Kamu bisa membuatku sesak nafas." kata Ayu sambil melepaskan dirinya dari pelukan Rehan.


"Maaf sayang." kata Rehan.


Rehan langsung mengangkat tubuh Ayu, lalu membaringkannya diranjang tempat tidurnya.


"Tetaplah diam diatas ranjang, Aku mau memanggil Kak Via." kata Rehan.


Ayu menuruti apa kata Rehan kini dirinya hanya terdiam diatas ranjang tempat tidurnya, sedangkan Rehan langsung pergi ke rumah Via.


Ayu terdiam, lalu bergumam.


"Kepalaku pusing, tubuhku juga lemas." gumam Ayu.


Setelah beberapa lama, kini Rehan datang dengan wajah yang begitu murung.


Ayu yang melihat suaminya begitu murung akhirnya Ayu bertanya pada Rehan.


"Kamu kenapa Suamiku?" tanya Ayu yang melihat wajah Rehan begitu murung.


Rehan duduk ditepi ranjang, lalu Rehan menjawab pertanyaan Ayu.


"Kak Via, tidak dirumah." jawab Rehan.


Rehan tidak tahu Via sekeluarga berangkat keluar negeri tadi malam, karena Via juga perginya terburu-buru jadi tidak sempat berpamitan dengan siapapun.


"Mungkin sedang pergi kali, ya sudah nanti Kita pergi ke rumah sakit saja." kata Ayu.

__ADS_1


Rehan mengambil ponselnya, lalu menghubungi salah satu temannya yang tidak lain adalah Dokter kandungan.


"Hallo Han?" sapa Renita.


"Hallo Ren, Ren Kamu bisa datang kerumahku tidak pagi ini?" tanya Rehan.


"Ada apa Han?" tanya Renita.


"Kamu kan Dokter kandungan, Aku mau minta tolong periksa istriku." kata Rehan.


"Baiklah, Aku akan kerumahmu." jawab Renita.


"Terimakasih Ren, oh iya alamatnya komplek xx ya." kata Rehan.


"Iya tunggulah, Aku akan segera kesana." jawab Renita.


Ayu dan Rehan menunggu kedatangan Renita.


"Apa Kamu masih mual?" tanya Rehan.


"Tidak sayang." jawab Ayu.


Setelah menunggu beberapa lama, Akhirnya Renita datang. Rehan langsung membukakan pintu rumahnya, kini Renita sudah berada dikamar Rehan dan Ayu.


"Aku periksa sebentar ya." kata Renita.


"Iya Dok." jawab Ayu.


Renita melakukan pemeriksaan dengan begitu teliti, setelah selesai memeriksa Renita langsung menjelaskan pada Rehan apa yang terjadi pada Ayu.


"Sebenarnya istriku kenapa? Dia muntah-muntah terus." kata Rehan.


"Istrimu tidak apa-apa Han, itu karena Dia sedang hamil muda jadi mual, muntah, pusing." jawab Renita.


"Sayang, Aku hamil." kata Ayu yang diiringi dengan senyum bahagianya.


"Iya Kamu sedang hamil." jawab Renita yang belum kenal dengan Ayu.


"Oh iya Han, ini obat untuk istrimu ini untuk mualnya, ini untuk sakit kepalanya, dan ini untuk Vitamin, Untuk obat mual dan sakit kepalanya diminumnya Kalau mual saja dan sakit kepala saja, tapi untuk vitaminnya minumnya sertiap hari sekali." Renita menjelaskan pada Rehan.


"Iya Ren, terimakasih ya." jawab Rehan.


"Iya sama-sama, Aku pamit dulu ya soalnya Aku ada janji dengan pasien." pamit Renita.


"Iya Kamu hati-hati ya." jawab Rehan.


"Dok, terimakasih ya." Ayu mengucapkan terimakasih pada Renita.


"Sama-sama, jaga kandunganmu dan jangan terlalu stres ya." jawab Renita.


"Siap Bu Dokter." kata Ayu.


Renita langsung pergi meninggalkan Ayu dan Rehan, kini Rehan dan Ayu saling menatap dengan penuh kebahagiaan.


"Akhirnya adonan kita jadi." kata Ayu.


"Iya sayang, setelah lama menunggu akhirnya kamu juga." jawab Rehan.


Rehan dan Ayu memang sudah sangat menanti kehadiran seorang Anak dipernikahannya, bahkan setiap malam mereka selalu semangat berusaha, akhirnya usaha mereka selama ini sudah membuahkan hasil kini Ayu sudah hamil.

__ADS_1


Setelah Renita pergi, Rehan langsung merebahkan dirinya dipangkuan Ayu. kini tangan Rehan mengelus-elus perut Ayu.


"Terimakasih ya Nak, sudah hadir diperut Mama katakan pada Papa Nak! apa aja yang Kamu mau bilang saja." kata Rehan pada Anak yang ada didalam kandungan Ayu.


Ayu mengusap-usap rambut Rehan, lalu Ayu berkata pada Rehan.


"Dia belum bisa minta apa-apa sayang, nanti saja kalau sudah lahir baru Kamu bilang seperti itu padanya." kata Ayu pada Rehan.


"Sayang, potongin mangga lagi! Aku pingin mangga yang asem." pinta Ayu pada Rehan.


"Siap sayangku." jawab Rehan.


Rehan langsung pergi menuju ke dapur sambil menggandeng tangan Ayu, setelah sampai di dapur Rehan langsung mengupas mangganya sedangkan Ayu hanya duduk diruang tengah sambil menunggu Rehan.


Setelah beberapa lama, Rehan keluar dari dapur dengan membawa piring berisi mangga muda untuk Ayu.


"Sayang, ini mangganya." kata Rehan yang langsung memberikan mangga yang ada dipiring pada Ayu.


"Terimakasih Suamiku." jawab Ayu yang dengan senang hati menerima mangga yang ada dipiring dari tangan Rehan.


Rehan duduk disebelah Ayu, lalu Ayu meminta Rehan untuk menyuapi mangganya pada dirinya.


"Sayang, suapin dong." pinta Ayu.


Dengan senang hati Rehan langsung menyuapkan mangga tersebut ke mulut Ayu.


Kini Rehan sangat bahagia, akhirnya Ayu hamil juga.


"Akhirnya adonanku jadi juga." gumam Rehan.


Rian dan Via.


Rian dan Via, sudah pulang dari pemakaman kakeknya. kini Via hanya terdiam karena kakeknya adalah keluarga satu-satunya.


"Kek, Kamu belum sempat melihat Anak Via tapi kenapa Kakek begitu cepat meninggalkan Via." kata Via yang sudah meneteskan buliran air matanya dipipinya.


"Bi Lastri, tolong bawah Vano ke dalam kamar ya." kata Rian pada Bidang Lastri.


"Baik Tuan Muda." jawab Bi Lastri yang langsung mengambil Vano dari pangkuan Rian.


Biar Lastri langsung membawa Vano kedalam kamar, sedangkan Rian berusaha menenangkan Via.


"Sayang, Kamu yang sabar ya! Kamu tidak boleh terus-terusan bersedih kasian Kakek, biarkan Kakek tenang dialamnya sana." Rian berusaha memberikan pengertian pada Via.


Rian langsung menarik Via kedalam pelukannya, namun tangis Via semakin pecah.


"Selama ini Aku hanya hidup bersama Kakek, Aku hanya punya Kakek." kata Via sambil menangis tersedu-sedu.


"Sekarang ada Aku yang akan selalu menjagamu seumur hidupku." jawab Rian yang terus berusaha menenangkan Via.


"Sudah jangan menangis terus, Kamu belum makan apa-apa dari sampai disini. Kamu makan dulu ya biar Aku suapin." kata Rian.


Rian membawa Via ke meja makan, lalu menyuruh Via untuk duduk dikursi meja makan.


Rian mengambil beberapa makanan, lalu dengan begitu sabarnya Rian menyuapi Via.


Selama ini Via hanya hidup dengan kakeknya, Karena kedua Orangtua Via sudah tidak ada dari Via masih kecil, jadi bagi Via kakeknya adalah Orangtua sekaligus kakek terhebat selama ini.


Kini kakek Via sudah pergi untuk selamanya, namun bersyukur Via mempunyai suami seperti Rian yang siap menjaga Via untuk seumur hidupnya.

__ADS_1


Bersambung 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2