
Berbagai macam isi hatinya selama ini, Vano katakan pada danau dengan begitu lantang. Malam ini danau tersebut menjadi saksi bisu kesedihan Vano.
Malam semakin larut, Setelah puas mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya. Vano langsung menuju ke mobilnya untuk segera pulang.
"Niah, Datanglah padaku kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, Aku akan tetap ada untukmu walaupun hanya sebagai sahabat." batin Vano dengan begitu sedih.
Sesampainya di mobil Vano langsung naik kedalam mobilnya, Lalu segera melajukan rumahnya menuju kerumah.
Vano terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Sesampainya dirumah Vano langsung masuk kedalam kamarnya, Karena memang dirumahnya juga sudah sepi mungkin Rian dan Via juga sudah tidur.
Vano langsung membantingkan tubuhnya ke kasur, Lalu memejamkan matanya.
"Niah hadirlah dimimpiku!" pinta Vano.
Vano mengambil bingkai foto yang ada disebelah nakas tempat tidurnya,Iya itu adalah foto Niah yang diambilnya secara diam-diam waktu liburan bareng keluarga dulu.
"Niah malam ini biarkan ku tidur sambil memeluk fotomu," kata Vano yang langsung memeluk bingkai foto tersebut kedalam pelukannya.
Malam ini Vano tidur sambil memeluk foto Niah untuk menemani dirinya yang sedang sedih.
Pagi hari yang begitu cerah, Sorot matahari juga sudah menembus jendela kamar hotel David dan Niah.
Pelan-pelan Niah mengerjap-mengerjapkan matanya, Lalu membukanya.
"Sudah jam berapa ini?" Tanya Niah pada dirinya, David yang baru saja keluar mandi langsung menjawab pertanyaan Niah.
"Sudah jam 7, Kamu itu perempuan tapi tidurnya bangunnya siang sekali." omel David yang langsung duduk ditepi ranjang.
Melihat David hanya terbalut handuk dan tubuh kekar David begitu jelas terlihat, Membuat Niah hanya bisa menelan Silvananya dengan kasar "Apa dia sengaja tidak memakai pakaian?" Batin Niah.
"Aku kelelahan, Badanku sakit semuanya." keluh Risa sambil memijat bahunya.
"Aku tidak perduli, Cepatlah mandi! Kita bersiap untuk pulang." suruh David dengan nada agak galak.
"Iya,Tapi aku lapar, Aku juga tidak membawa baju ganti." keluh Niah lagi membuat David merasa sangat kesal.
"Kamu mandilah, Biar aku siapkan semua yang kamu butuhkan!" Bentaknya yang membuat Niah langsung bangun dari tempat tidurnya, Lalu segera pergi ke kamar mandi.
"Dasar suami galak." batin Niah.
Niah langsung masuk kamar mandi, Sedangkan David berganti pakaian lalu setelah berganti pakaian David mengambil ponsel miliknya. David langsung menekan salah satu no lalu menelponnya.
"Hallo Tuan David." Sapanya.
"Bawakan beberapa dress cantik ke kamarku, Aku sedang dihotel!" Pinta David yang langsung mematikan saluran teleponnya.
David baru saja menelpon karyawan butik yang ada di mall, Yang letaknya tidak jauh dari hotelnya hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai di butik tersebut.
Butik yang David telpon adalah butik milik sang mama, Jadi semua karyawan juga tahu dimana kamar hotel David.
David juga langsung memesan sarapan untuk dirinya dan Niah, Setelah beberapa lama karyawan butik tersebut datang dengan membawa beberapa dress.
"Tok..tok.." suara ketukan pintu.
David langsung berjalan menuju ke pintu, lalu membuka pintu kamarnya.
"Ceklek.." suara gagang pintu.
"Tuan ini beberapa dress yang Tuan pesan, Ini semuanya keluaran terbaru." jelas sang karyawan butik.
"Berikan padaku, Untuk pembayaran nanti aku transfer." kata David sambil melihat struk harga yang diterimanya.
__ADS_1
Iya biarpun itu butik milik sang mama, Tetap saja jika David membeli atau berpesan pakaian pasti akan membayarnya.
David langsung mengambil ponselnya, Lalu langsung mentransfer nominal harga semua dress yang dirinya pesan.
Setelah urusannya selesei, David kembali menutup pintu kamarnya. Lalu menaruh semua dress-dress tersebut diatas ranjang tempat tidurnya.
Sarapan juga sudah datang, David duduk sambil menunggu Niah yang sedang mandi.
"Lama sekali dia mandi, Apa-apa jangan-jangan dia pingsan dikamar mandi?" Pikir David karena Niah belum keluar dari kamar mandi dari tadi.
"Sudahlah, Wanita memang seperti itu." kata David yang malah merebahkan tubuhnya kembali ke kasur.
Visual David.
Setelah beberapa lama Niah keluar dengan tubuh dari terbalut dengan handuk, Hingga bagian dada Niah sedikit terexpos."Lekuk tubuhnya begitu indah, Bahkan semuanya masih terlihat kencang, Aku yakin sebelumnya belum ada laki-laki yang menikmatinya." Batin David yang langsung menelan ludahnya dengan kasar.
"Lama sekali." Cetus David tiba-tiba.
"Maaf, Aku makan dulu." Niah meminta maaf, Melihat makanan ada diatas meja Niah langsung ingin memakannya, Namun David langsung mengomelinya.
"Gantilah pakaian dulu baru makan!" omel David yang membuat Niah mendengus kesal.
"Itu pakaianmu sudah aku siapkan, Cepatlah ganti!" bentak David, Niah langsung berganti pakaian Setelah selesei berganti pakaian, Niah langsung menikmati makanannya.
David juga sudah duduk disebelah Niah, Melihat Niah makan begitu lahap membuat David tersenyum tipis.
"Pelan-pelan makannya!" pinta David.
"Oh iya, Untuk beberapa hari kita tinggal dirumah Orangtuaku dulu ya. Soalnya rumahku sedang direnovasi." jelas David, Niah hanya menganggukkan kepalanya.
Dirumah Dimas dan Shinta (Orangtua David).
Sesampainya dirumah orangtuanya, David langsung membukakan pintu mobil untuk Niah. Kini mereka masuk bersama kedalam rumah.
David mengandeng tangan Niah, Lalu Niah berkata pada David.
"Jangan mengandengku, Soalnya dalam perjanjian jika aku memegang bagian tubuhmu, Kamu akan meminta denda padaku atau memberikan hukuman padaku." jelas Niah yang langsung dengan kasar melepaskan tangan David dari tangannya.
David hanya tersenyum penuh kemenangan, Lalu kembali mengandeng tangan Niah.
"Perjanjian itu bisa aku robek kapan saja, Jadi patuhlah padaku! Aku juga tidak mau mama dan papa berpikir macam-macam tentang kita." jawab David dengan sorot mata yang seolah-olah ingin menerkam Niah.
Niah hanya diam dan membiarkan sang suami mengandeng tangannya, Iya biar bagaimanapun Niah tidak mau kalau sampai mertuanya tahu hubungan Niah dan David itu sebenarnya kurang baik.
Karena pintu rumahnya tidak terkunci David langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Dimas dan Shinta yang sedang menonton televisi terkejut melihat kedatangan anak dan menantunya.
"Kalian, Sini sayang! Kok tidak bilang kalau kalian akan pulang sepagi ini?" Tanya Shinta , David dan Niah langsung bersalaman kepada kedua orangtuanya secara bergantian.
"Iya ma," jawab David singkat.
Setelah bersalaman David dan Niah duduk berdampingan, Dimas dan Shinta melihat anak dan menantunya lalu tersenyum pada mereka.
"Kalian serasi sekali," puji Shinta.
"Papa kira kalian akan menghabiskan seharian penuh dikamar." Ledek Dimas yang membuat Niah senyum malu-malu.
"Tidak Pa, Jika terus dikamar aku takut Niah tidak berjalan gara-gara ulahku." David membalas ledekan sang Papa membuat Niah tambah malu, Wajah cantik juga sudah memerah.
"Apa David ini sudah gila, Apa maksudnya sampai tidak bisa berjalan? Jelas-jelas semalam kita tidur terpisah." Batin Niah kesal.
__ADS_1
Shinta tersenyum melihat Niah yang malu-malu karena ledekan papa mertuanya dan kejailan sang suami.
"Niah tidak usah malu, Mama juga pernah jadi pengantin baru." Timpal Shinta yang membuat Niah mengeluarkan senyum tipisnya.
"Tidak ma, Suamiku jangan berkata seperti itu dihadapan mama dan papa!" Kata Niah yang sebenarnya merasa kesal pada David.
"Kalau tidak ada mama dan papa, Aku tidak mau memanggilmu dengan sebutan Suamiku." Batin Niah.
"Istriku kamu tidak usah malu, Mama dan papa pasti lebih paham akan hal ini." jawab David yang sengaja membuat Niah semakin kesal.
Niah tersenyum penuh makna, Kini rasanya pingin sekali menjewer David. Tapi Niah urungkan karena ada kedua orangtua David.
"Oh iya kalian sudah serapan?" Tanya Shinta.
"Sudah ma, Niah bangun tidur langsung minta makan mungkin karena kecapean gara-gara semalam ma." David kembali membuat Niah kesal.
"Kalian itu begitu lucu, Sering-seringlah melakukannya biar adonan kalian cepat jadi." Usul Shinta dengan senyum jailnya, Kali ini Niah benar-benar mati kutu." David kamu itu benar-benar ya." Batin Niah.
Dimas mengambil 2 lembar tiket dari laci, Lalu memberikannya pada David dan Niah.
"Ini hadiah pernikahan dari papa dan mama, Kalian pergilah bulan madu!" kata David sambil memberikan 2 tiket pada David.
"Haah bulan madu?" Niah terkejut.
"Kenapa Niah? Kalian kan pengantin baru jadi harus pergi bulan madu!" kata Shinta dengan senyum bahagianya.
"Tidak apa-apa ma, Iya kita akan pergi bulan madu." jawab Niah dengan gugup.
"Pa, Tapikan pekerjaanku banyak sekali?" Kata David yang sebenarnya menolak untuk pergi bulan madu.
Dimas tersenyum, Dimas mengerti anaknya ini begitu sibuk tapi Dimas juga tidak mau kalau anaknya terus bekerja dan melewatkan bulan madunya dengan wanita yang baru saja kemarin sah menjadi istrinya.
"Masalah kerjaan nanti serahkan pada Randi, Ada papa juga nanti papa bantu mengurus semua pekerjaanmu." Jawab Dimas agar David tetap berangkat bulan madu.
"Baiklah Ma, Pa, " jawab David.
"David ke kamar dulu ya," pamit David yang langsung mengandeng tangan Niah.
Sesampainya dikamar, Niah hanya diam duduk ditepi ranjang.
"David, Aku boleh minta sesuatu padamu?" Tanya Niah yang enggan menyebut nama David dengan sebutan romantis.
"Katakan!" pinta David.
"Aku mau bulan madu kita nanti, Mampir ke tempat kakek dan nenekku. Kemarin mereka tidak bisa hadir ke acara pernikahan kita karena kakek sedang sakit." Pinta Niah.
David duduk disamping Niah "Baiklah nanti kita mampir kesana," jawab David.
Kemarin Kakek Revan dan Nenek Diana memang tidak hadir di acara pernikahan Niah dan David, Bukan karena apa-apa tapi karena Kakek Revan sedang sakit jadi tidak bisa hadir.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Baca juga karya baru Author 😘😊
Baca juga karya teman Asti.
__ADS_1