
Keesokan harinya.
Ana sudah bangun, kini Ana sudah rapi dengan daster rumahannya. Ana langsung menuju ke dapur untuk membuat sarapan.
Rama baru saja bangun, lalu menuju ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap berangkat ke kantor.
"Sayang, Aku ke dapur dulu ya. kamu bersiaplah nanti kalau sudah selesai langsung turun kebawah ya" kata Ana, yang baru selesai membereskan tempat tidur mereka.
Rama mengacak-acak rambut istrinya, dengan begitu lembut.
"Baiklah, masaklah yang enak!" jawab, sambil mencium kening istrinya.
Rama meninggalkan Ana masuk ke dalam kamar, sedangkan Ana langsung pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Ayu sudah berada di dapur, karena Ayu tidak bisa tidur jadi sudah bangun dari tadi.
Ana baru saja sampai di dapur.
"Yu, kamu sudah bangun?" tanya Ana.
"Ana, iya Aku bangun dari tadi. soalnya Aku tidak bisa tidur sama sekali" jawab Ayu.
Ayu sudah hampir selesai memasak, akhirnya Ana hanya membantu Ayu menyiapkan makanan taruh dimeja makan.
"Apa kamu merindukan Rehan?" tanya Ana.
"Iya, semalaman Aku hanya memikirkan Dia. padahal dulu biasa tidur sendirian tapi semalam benar-benar tidak bisa tidur" jawab Ayu, sambil berjalan menuju meja makan.
Ana tersenyum melihat Ayu.
"Wajarlah Yu, namanya juga pengantin baru. pasti rasanya kesepian" kata Ana, dengan nada meledek.
"Haha iya Na, masih anget-angetnya ya" jawab Ayu, yang membalasnya dengan ledekan juga.
Rama baru saja turun dari kamarnya.
"Apa yang kalian gosipin sepagi ini?" timpal Rama.
"Hanya sedang mengobrol, kak" jawab Ayu.
"Kamu sudah siap, ayo sarapan dulu" kata Ana, yang langsung mengandeng suaminya untuk duduk dikursi meja makan.
Kini mereka sudah duduk dimeja makan, menikmati sarapan mereka.
"Ayu, apa Rehan sudah menelponmu?" tanya Rama, yang sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Belum kak" jawab Ayu.
"Tunggulah, mungkin Dia sedang sibuk disana" jelas Rama, agar Ayu tidak terlalu kepikiran akan suaminya.
"Iya kak, nanti Aku coba menelponnya" kata Ayu, karena memang sudah sangat merindukan suaminya.
Setelah selesai sarapan, Akhirnya Rama berpamitan untuk berangkat ke kantor.
"Sayang, Aku berangkat dulu ya" pamit Rama, seperti biasanya Rama mencium kening Istrinya sebelum pergi ke kantor.
__ADS_1
"Iya, kamu hati-hati ya" jawab Ana, sambil membenarkan dadi suaminya.
Seperti biasanya, Rama hendak mencium bibir Ana. namun Ana menahan dengan jari telunjuknya.
"Kenapa?" tanya Rama, dengan tatapan kesal.
"Ada Ayu, kasian nanti Dia ngiler" jawab Ana, yang secara tidak langsung meledek Ayu.
"Ehem..ehem...." Ayu berdehem.
"Aku akan munutup kedua mataku" kata Ayu, dengan senyum jailnya.
"Jangan, Rehan sedang jauh kasian" saut Rama.
Akhirnya Rama langsung, berangkat kerja tanpa mencium bibir istrinya seperti rutinitas setiap pagi biasanya.
Rama langsung melajukan mobilnya menuju kantornya.
Skip..
Sampailah dikantor Rama.
Rama langsung berjalan menuju masuk ke dalam ruangannya.
Bagas sudah duduk disofa yang berada diruangan Rama, sambil menunggu Rama.
"Ceklek" Rama membuka pintu ruangan kerjanya.
Rama melangkahkan kakinya masuk ke dalam, melihat Bagas yang sudah duduk disofa yang ada diruangannya. Akhirnya Rama langsung menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Rama, yang langsung duduk disebelah Bagas.
Rama tertawa mendengar perkataan Bagas.
"Baguslah, itu tandanya Alena cinta sama kamu" jawab Rama, sambil menepuk bahu Bagas.
Bagas menatap kesal kearah Rama.
"Apa, Tuan Rama tidak punya rasa simpati sedikitpu dengan kondisiku sekarang?" kesal Bagas, dengan wajah kesalnya.
Rama semakin mengencang tawanya, melihat Bagas yang menurutnya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Untuk apa, Aku simpati denganmu? lagian Gas, seorang wanita cemburu itu hal yang sering terjadi. tinggal kitanya sebagai laki-laki bisa tidak membuat wanita kita percaya pada kita!" kata Rama, yang berusaha menasehati Bagas.
"Katakan padaku Tuan, bagaimana cara membujuk istri kita saat sedang cemburu" kata Bagas, dengan begitu antusias.
"Berikan Dia hadiah yang Dia suka" saran Rama, karena wanita itu paling senang jika diberikan benda yang mereka suka.
Bagas langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" tanya Rama, sambil menatap Bagas.
"Membelikan hadiah untuk Istriku, Tuan" kata Bagas, dengan senyum manisnya.
"Dasar, sana pergilah!" Rama mengusir Bagas dari ruangannya, sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi Tuan Rama?" kata Bagas.
"Tapi apa?" jawab Rama.
"Apa ya, kira-kira benda yang harus Aku beli untuk istriku?" Bagas meminta saran dari Rama.
Bagas langsung tersenyum begitu jail.
"Perhiasan, berlian, mobil baru, atau ajak Alena bulan madu untuk kedua kalinya" saran dari Rama, yang diiringi dengan tawa jailnya.
Bagas menghela nafasnya.
"Apa semahal itu, Aku harus membayar rasa cemburu Alena" keluh Bagas.
Rama hanya tertawa penuh kemenangan untuk saat ini.
"Biarkan saja, Aku kerjain sekalian" gumam Rama, dengan tawa dihatinya.
"Tidak ada yang mahal untuk seorang istri, bukankah gajianmu tidak akan habis kalau hanya untuk membeli salah satu dari barang itu" kata Rama, yang memang tau gajian Bagas tidaklah kecil. bonus bulanan Bagas aja sangat besar.
"Benar kata Tuan Rama, ya sudah saya pamit untuk membeli hadiah untuk Alena ya Tuan" pamit Bagas, dengan penuh rasa semangat.
"Pergilah, hati-hati dijalan" jawab Rama.
Akhirnya Bagas pergi meninggalkan ruangan Rama, sedangkan Rama langsung pindah duduk ke kursi meja kerjanya.
"Bagas.. Bagas terkadang kamu begitu pintar tapi kamu juga bisa jadi bodoh hanya karena Alena" kata Rama, yang diiringi tawanya.
Bagas yang begitu dingin bahkan jarang sekali pergi kencan dengan seorang wanita, tapi kini Alena mengubah hidupnya dan sikap dinginnya menjadi laki-laki yang begitu hangat dan sangat perhatian.
Bagas langsung melajukan mobilnya, untuk menuju ke toko perhiasan terbesar dikotanya.
Skip..
Bagas langsung masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.
"Selamat datang, Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya salah pelayan ditoko perhiasan itu.
"Saya mau mencari, kalung yang bagus untuk istri saya" jawab Bagas.
Pelayan tersebut langsung menujukan keluaran terbaru dari tokonya.
"Silahkan, ini adalah keluaran terbaru dari toko kami" kata pelayanan tersebut.
Bagas memilih salah satu kalung yang begitu imut dengan liontin berbentuk hati, menurut Bagas itu akan sangat cocok untuk istrinya.
"Tolong bungkus yang ini ya, Nona" kata Bagas, sambil tersenyum pada pelayan.
"Baik Tuan, tunggu sebentar" jawab pelayan tersebut.
"Ini, Tuan pesanannya" kata pelayan.
"Terimakasih, ini Nona" jawab Bagas, Bagas memberikan kartu ATM tanpa batasnya pada pelayan tersebut.
Setelah proses pembayaran selesei, akhirnya Bagas langsung keluar dari toko itu.
__ADS_1
Bagas melanjukan mobilnya, langsung menuju Kerumah untuk memberikan hadiah untuk istrinya yang sedang ngambek gara-gara cemburu.
Bersambung.