
Setelah menyelesaikan masalahnya, Alena mengajak Ana dan Rama sarapan bersama.
"Kalian duduklah, ayo sarapan bareng." kata Alena pada Rama dan Ana.
Pagi ini mereka sarapan roti tawar isi selai coklat dan susu, karena Alena belum memasak apapun.
Dimeja makan.
Ana dan Alena membuatkan roti tawar isi selai, untuk suami-suami mereka.lalu mereka menaruh roti buatannya dipiring-piring suami-suami mereka.
"Makanlah." kata Alena pada Bagas.
"Kamu juga makanlah!" kata Ana pada Rama.
Sebenarnya Ana dan Alena masih kesal pada Suami mereka, namun mereka juga tidak mau memperpanjang masalahnya.
"Lain kali, jangan lakukan kesalahan yang sama lagi." kata Alena pada Bagas.
"Jika melakukan kesalahan yang sama lagi, Aku tidak akan membukakan pintu rumah untukmu." kata Ana pada Rama.
"Iya sayang, Aku tidak akan melakukannya lagi." jawab Bagas.
"Aku juga tidak akan melakukannya lagi Istriku tercinta." jawab Rama.
Pagi ini mereka menikmati sarapannya dengan begitu nikmat, biarpun istri-istri mereka terus mengomelinya. tapi Rama dan Bagas tidak melawannya karena mereka sadar dalam hal ini mereka yang salah, pulang larut malam, tidak mengabari istri mereka bahkan sampai rumah baju mereka bau parfum wanita, iya istri mana yang tidak menaruh rasa curiga berlebihan.
"Alena, terimakasih ya! Kita pamit dulu soalnya mau menjemput Niah dirumah Ayu." Ana berpamitan dengan Alena.
"Iya Na sama-sama, oh iya Na perasaan rumah Via beberapa hari sepi ya." kata Alena.
"Iya, Via pergi kemana ya?" tanya Alena.
"Aku juga tidak tahu." jawab Alena.
"Mungkin mereka sedang pergi berlibur dan tidak sempat berpamitan pada Kita." sambung Rama.
"Iya mungkin saja." kata Alena.
Setelah selesai sarapan dirumah Bagas dan Alena, Rama dan Ana langsung menjemput Niah dirumah Ayu.
"Ayo jemput Niah." kata Rama pada Ana.
"Iya ayo Kita jemput Niah." jawab Ana dengan perasaan masih kesal.
"Apa Kamu masih kesal padaku, istriku?" tanya Rama sambil melihat Ana.
"Sedikit." jawab Ana cuek.
Kini mereka berdua sampai dirumah Rehan dan Ayu, melihat pintu rumah Rehan dan Ayu terbuka mereka langsung masuk.
"Ayu, Rehan...." panggil Rama.
Ayu dan Rehan yang sedang berada didalam kamar, mereka langsung keluar sambil menggendong Niah.
"Kak Rama, Kakak Ipar." sapa Ayu dan Rehan.
__ADS_1
"Apa masalah rumah tangga kalian sudah selesai?" tanya Rehan.
"Sudah Han, Aku kesini mau mengambil Niah." jawab Ana dengan nada lembut.
Niah yang sedang berada digendongan Ayu, kini Ayu terus menciumi Niah dengan begitu gemasnya.
"Kak, biarkan Niah disini! Aku masih ingin main bersamanya." jawab Ayu.
"Baiklah, nanti anterin ya!" kata Ana pada Ayu.
"Iya Kak, nanti kita anterin sekalian mau numpang makan malam." jawab Rehan.
"Dilarang numpang makan dirumahku, mulai besok Aku akan menulis kata-kata itu di depan pintu rumahku." kata Rama dengan begitu jailnya.
"Aku akan merusaknya, lalu membuangnya ke tong sampah nanti kak." sambung Rehan.
"Sudahlah, ayo pulang." ajak Ana.
Akhirnya Ana mengajak Rama pulang, karena tidak mau pusing mendengarkan Rama dan Rehan berdebat.
Akhirnya Ana dan Rama langsung pulang menuju kerumahnya.
Dirumah Rian dan Via.
Rian dan Via baru saja pulang dari luar negeri, Bi Lastri orang yang merawatnya kakeknya langsung pulang ke kampung halamannya.
Via dan Rian langsung turun dari mobil, mereka naik taksi dari bandara.
"Capek sekali." kata Via.
Setelah membayar taksi, Rian langsung mengajak Via untuk masuk kedalam rumahnya. kini mereka duduk di sofa diruang keluarga.
"Vi, untuk perusahaan kakek yang disana, siapa yang mengurusnya?" tanya Rian yang memang tidak tahu.
"Disana ada orang kepercayaan kakek, jadi Aku serahkan urusan perusahaan disana sama orang itu." jawab Via.
Via tidak mau ambil pusing, apalagi dirinya seorang Dokter jadi tidak akan cocok jika harus mengelola perusahaan.
"Apa Kamu mau kita hidup diluar negeri, sambil mengurus perusahaan peninggalan dari kakek?" tanya Via sambil menenangkan Vano yang sedang menangis.
"Cup..cup... sayang ! Anak Mama." Via berusaha menenangkan Vano.
"Tidak Vi, Aku kan disini juga harus mengurus tempat usahaku." jawab Rian.
Rian yang mempunyai tempat usaha sendiri dan pasti Rian tidak bisa meninggalkannya, karena Rian merintis usahanya benar-benar dari nol.
"Iya Aku tahu, ya sudah Kita serahkan saja perusahaan kakek pada orang kepercayaan kakek." kata Via sambil menyusui Vano.
"Iya sayang, Kamu Istirahatlah! tadi katanya capek." kata Rian pada Via.
Akhirnya Rian dan Via, langsung menuju kedalam kamar mereka, Via langsung merebahkan Vano diatas tempat tidur karena Vano sudah tidur, kemudian Via membaringkan tubuhnya disamping Vano sedangkan Rian langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi.
Dirumah Alena dan Bagas.
Alena dan Bagas sedang sibuk membuat kue, karena ini tanggal merah jadi Alena iseng membuatkan kue untuk suaminya.
__ADS_1
"Sayang, tolong ambilkan tepung, tempat tepungnya terlalu tinggi." kata Alena.
Bagas yang sedang duduk dikursi meja makan, langsung menuju ke dapur untuk mengambil tepung yang Alena minta.
"Ini, minum susu peninggi badan, biar Kamu tumbuh lebih tinggi lagi!" Bagas meledek Alena sambil memberikan tepungnya pada Alena.
Bagas memang tinggi, namun Alena pendek kira-kira tinggi Alena hanya selengan tangan Bagas.
"Kamu meledekku, mentang-mentang Kamu tinggi. sudahlah Aku tidak jadi membuatkan kue untukmu." Alena ngambek pada Bagas.
"Sayang, Aku hanya bercanda." kata Bagas.
Tiba-tiba Alena merintih kesakitan pada perutnya.
"Auuhh perutku sakit sekali." rintih Alena sambil memegang perutnya.
"Alena Kamu kenapa? Kamu jangan bercanda." kata Bagas dengan nada panik.
"Bukannya Alena melahirkan masih bulan depan." gumam Bagas.
"Beneran sakit sekali perutku." kata Alena yang terus merintih kesakitan.
Akhirnya Bagas langsung mengangkat tubuh Alena, untuk membawanya kerumah sakit. Bagas membawa Alena kerumah sakit dengan mobilnya.
"Tahan sayang!" kata Bagas sambil menyetir.
Disebelah Bagas, Alena terus merintih kesakitan bahkan Alena sampai mengeluarkan keringat dingin.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, dari komplek rumahnya akhirnya Bagas dan Alena sampai dirumah sakit.
Dirumah sakit Alena langsung dibawa oleh suster keruangan tempat Ibu melahirkan.
Bagas menunggu di depan pintu sambil mondar-mandir karena merasa tidak tenang. tiba-tiba Dokter yang menangani Alena keluar dari ruangan tempat Alena melahirkan.
"Dok, bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Bagas dengan perasaan yang begitu kawatir.
"Mau tidak mau Kita harus melakukan operasi Caesar, tapi Tuan harus memilih salah satu dari Anak dan Ibu." kata Dokter.
"Maksudnya Dok?" tanya Bagas bingung.
"Kita hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka, maka siapa yang ingin Tuan selamatkan? silahkan tandatangani semua ini!" kata Dokter sambil menyerahkan selembar kertas pada Bagas.
Bagas memegang kertas tersebut, air matanya pecah begitu saja. Bagas tidak mungkin memilih salah satu dari mereka tapi Bagas juga tidak mau keduanya meninggalkan Bagas selamanya, akhirnya Bagas menandatangani kerta tersebut. lalu Bagas menyerahkan kertas tersebut pada Dokter.
"Selamatkan Ibunya Dok!" kata Bagas yang tidak bisa membendung air matanya.
"Maafkan Aku sayang, Aku harus memilihmu bukan karena Aku tidak menginginkan Anak Kita." gumam Bagas yang terus menangis.
Setelah mendapat persetujuan dari Bagas, Dokter yang menangani Alena kembali keruangan, kini Dokter langsung melakukan operasi Caesar.
Setelah beberapa jam kemudian, Dokter kembali keluar untuk menemui Bagas.
Bersambung 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1