Pilihan Ku

Pilihan Ku
Mencoba menahan.


__ADS_3

Semalam Bram terbangun dan tak mendapati Mikaila di sampingnya,ia mencari dan ternyata ia sedang dikamar anak mereka sedang shalat malam,Bram kembali tertidur.


Pagi hari Bram terbangun dan kembali mendapati Mikaila tak ada di sampingnya.


"Jam berapa ini,"Bram mengambil ponselnya dan melihat jam disana.


Bram melihat pakaian kerjanya sudah Mikaila siapkan,


"kenapa dia tidak membangunkan ku,"ucap Bram duduk di sudut kasurnya.


Bram ke kamar mandi dan bersiap ke kantor.


"bi Kaila mana?"tanya Bram yang tak melihat istrinya dari tadi.


"non Kaila tadi keluar,katanya mau beli sesuatu,"jawab bi Yanti menyajikan makan untuk Bram.


"apa yang ia beli sepagi ini,"Gumam Bram.


Mereka berempat sarapan tanpa Mikaila,


Bram berangkat ke kantor bersama Arya yang akan kesekolah,ini untuk pertama kalinya Bram tak di antar oleh Mikaila hingga depan pintu,tak ada lambaian tangan dan senyum manis dari istrinya,ia merasa aneh sepanjang perjalan namun Bram kembali fokus pada kemudinya.


"apa yang sebenarnya terjadi,semoga semuanya baik-baik saja.ya Allah jagalah selalu kebahagiaan mereka."doa bi Yanti.


Semalam bi Yanti tak sengaja mendengar Mikaila menagis di ruang kerja Bram,lama bi Yanti berdiri di sana.Bi Yanti baru pergi saat Mikaila kembali ke kamar anak-anaknya,dan pagi tadi bi Yanti melihat wajah sembab majikannya itu,tak biasanya Mikaila keluar sebelum Bram berangkat bekerja.


Bram tidak konsentrasi saat di kantor,ia terus berpikir alasan apa yang harus di berikan pada Mikaila,ia tak ingin Mikaila sampai mencurigainya.bram tak ingin memberitahu kenyataan ini padanya,ini pasti sangat menyakitinya.


Yoga tidak ikut ke Batam kali ini,Bram rencananya akan pergi selama tiga hari.


Hari pertama pemeriksaan ulang kesehatan dirinya dan zaky,hari kedua jadwal operasinya dan hari ketiga pemulihan pasca operasi.


Ada banyak pekerjaan yang harus Yoga tangani selam Bram meninggalkan kantor.


Bi Yanti kembali cemas saat Mikaila baru pulang saat siang hari dan penampilannya sangat kusut,mata yang sembab dan wajah nya juga pucat.


Bi Yanti naik ke kamar Mikaila bermaksud untuk memanggil majikannya itu makan siang, namun lagi-lagi bi Yanti mendengar tangis memilukan dari kamar Mikaila sedang menagis di dalam sana.


"ada apa sebenarnya ini,"batin bi Yanti ikut merasa sedih mendengar tangisan majikanya.


Tak ingin menggangu dan ikut campur, bi Yanti kembali ke bawah ikut menemani mba Siti dan mba sumi menjaga anak-anak.

__ADS_1


Sore hari Mikaila baru keluar dari kamar nya,ia mengambil sesuatu yang bisa mengompres mata sembabnya..Ia tak ingin Bram mempertanyakan matanya,ia yakin kalau Bram sampai mempertanyakannya bisa di pastikan ia tak akan mampu menahan sakit hatinya lagi dan akan menagis lagi.


Mikaila ingin menyelesaikan masalahnya saat dirinya sudah tenang,ia tak ingin membuat pilihan yang salah saat masih dalam keadaan bersedih.


Mikaila mengajak anak-anak nya bermain di halaman agar bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih tenang,tingkah lucu Gavin sungguh menghiburnya,mereka bermain bola dan Gavin yang kesulitan menggiring bola dengan kakinya memilih mengambil bola dengan tangan lalu memasukkannya ke dalam gawang yang di jaga pak slamat.


Membuat Kelvin yang satu tim dengan pak slamat selalu memarahinya.


Gavin membuat ekspresi wajah yang sangat menggemaskan saat memasukkan bola ke dalam gawang.


Bram datang dan ikut bermain bersama mereka,ia bermain seolah-olah tak terjadi sesuatu.


Mikaila langsung meninggalkan Bram dan anak-anaknya saat hatinya kembali perih melihat wajah penghianatan suami yang sangat ia cintai,air matanya menetes saat berbalik meninggalkan mereka yang masih asyik bermain.


Bi Yanti memperhatikan mereka sedari tadi bisa merasakan ada yang ganjal di antara Bram dan Mikaila.


Mikaila melihat tanaman bunganya dari balkon kamarnya, bunga yang dirawat sedari kecil hingga tumbuh subur dan berbunga.


Berharap bisa menghilangkan rasa sesek didadanya, Mikaila juga memikirkan tingkah lucu anak-anaknya,membuat senyum terbit di bibirnya.


Bram memeluk Mikaila dari belakang,mencium puncak kepala nya,


"aku mencintaimu,menyayangimu, Sangat-sangat merindukan mu."bisik Bram di samping telinga Mikaila.


"sayang aku ada kerjaan di Batam selama tiga hari."ucap Bram mengecup pipi Mikaila.


"kerjaan apa?"tanya Mikaila berusaha tetap tenang,acar suaranya tak bergetar.


"aku ada pertemuan dengan klien baru,"ucap Bram mengeratkan pelukannya,hatinya sakit saat menyatakan kebohongan pada wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


Mikaila menutup matanya menggigit bibir bawahnya,mengepal tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya,air matanya menetes tak tertahankan bukan karena sakit di tangannya tapi sakit di hatinya mendengar kebohongan yang keluar dari mulut suaminya dan terdengar begitu nyata di telinganya.


Mikaila yang sudah tau Bram pasti akan meminta izin pergi ke Batam untuk operasi itu sudah sedari tadi menyiapkan hatinya untuk tetap tenang.


Tapi mendengar langsung kebohongan pria yang selama ini ia percayai melebihi dirinya sendiri sungguh sangat menyakitinya,Bram terang-terangan membohonginya.


"kenapa ini sangat menyakitkan"batin Mikaila.


"Mas aku ke kamar mandi dulu,"ucap Mikaila berbalik menghapus air matanya,berlalu dengan cepat meninggalkan Bram.


Bram tak curiga sama sekali kalau Mikaila sudah mengetahui kebohongannya,ia juga tak merasa jika Mikaila terus menghindarinya.

__ADS_1


Bram berbaring di atas kasur nya,menatap ke arah pintu kamar mandi.


"apakah keputusan ku merahasiakan ini semua darinya benar,"batin Bram.


Sangat berat baginya menyimpan ini semua,ia harus terus berbohong kepada Mikaila untuk menutupi kebohongan lainnya.


Mikaila menatap wajahnya di cermin, mencuci wajahnya agar tak terlihat kalau ia telah menangis.


Menarik nafas dan tersenyum menghilangkan wajah sedihnya..


Mikaila menghembuskan nafas nya kasar sebelum memutar gagang pintu.


"Mas aku ke bawah dulu ya siapin makan malam."ucap Mikaila memasang senyum terbaiknya.


"hemm"jawab Bram.


Mikaila turun ke bawah dan Bram keruang kerjanya.


Makan malam terasa sunyi, Mikaila dan Gavin makan lebih dulu,sehingga kini di meja makan hanya ada Bram,Arya dan Kelvin.


Mikaila mengajak Gavin makan lebih dulu untuk menghindari bertemu dengan Bram.


Mikaila membawa Gavin ke halaman samping saat melihat Bram turun untuk makan.


Bi Yanti terus memperhatikan sikap tidak bisa Mikaila.


"mengapa Mikaila selalu menghindari Bram,"batin bi Yanti yang sedang beres-beres di dapur.


Bram menidurkan Anak-anaknya, Mikaila mulai menyiapkan pakaian yang akan di bawa ke Batam.


Memasukkan satu persatu baju Bram kedalam koper.


Ia tak tahan lagi,ia membiarkan air mata dan isakannya keluar begitu saja.Dadanya sangat sesak setiap ia berusaha menahannya,setiap hembusan nafasnya terasa membakar dadanya.


kali ini hatinya benar-benar perih,ia seolah-olah menyiapkan kepergian suaminya ke pelukan wanita lain yang sudah melahirkan seorang anak untuknya,anak dari suaminya yang selama ini di layaninya dengan sepenuh hati lahir maupun batin.


Mikaila tak peduli lagi jika Bram mendengarnya.


Bram yang sudah menidurkan Anak-anaknya kembali ke kamarnya. Bram menghampiri Mikaila saat mendengar suara Isak tangis Istrinya itu.


Terimakasih sudah membaca 💗

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya 🙏


Salam dari Bram dan Mikaila.🤗


__ADS_2