
Seperti hari biasanya Mikaila akan Makan dengan lahap apabila ada Bram di sampingnya dan saat Bram berangkat ke kantor Mikaila akan memuntahkan apa saja yang ia makan.
Situasi ini terjadi setiap hari, Bram menyadari perubahan itu, bahkan Mikaila melarang Bram untuk mandi sepulang kantor.
Semakin berkeringat dan bau suaminya ia akan semakin menyukainya bahkan Mikaila tak malu mengajak Bram melakukan aktivitas ranjang.
Bram akhirnya mengerjakan pekerjaannya di rumah dan apabila ada hal penting yang mengharuskan ia datang ke kantor maka Bram akan mengajak Mikaila bersamanya.
Benar saja, Mikaila tidak pernah mual dan muntah lagi. Berat badannya juga semakin bertambah seiring usia kehamilannya.
Pagi dini hari.
"Mas, bangun," Mikaila menggoyang-goyangkan bahu Bram.
"Ada apa sayang?" ucap Bram dengan mata terpejam.
"Mas, mau es buah," ucapnya memelas.
"Sekarang?" Melihat jam, Mikaila mengangguk dengan cepat.
"Yakin? Ini baru Jam 2 pagi, Sayang."
"Tapi, aku maunya sekarang," Mikaila menelan air liurnya yang sudah memenuhi mulutnya.
Bram menuruni anak tangga dan menuju dapur, ia membuka dan melihat ada buah apel, anggur dan semangka.
Bram mulai memotong buah-buahan dengan potongan yang entah berbentuk apa.
Yang penting terpotong. Pikirnya.
Bi Yanti yang baru selesai shalat tahajjud mendengar suara gaduh dari arah dapur,
"Siapa yang lagi di dapur jam segini?" gumam Bu Yanti.
Karena penasaran ia pun mengeceknya ke dapur.
"Ya ampun tuan! Mau makan apa? Biar bibi buatin."
"Ini, Bi! Kaila lagi pingin makan es buah aja ko."
"Sini biar bibi lanjutin, Tuan!"
"Dah selesai, Bi! Tinggal di kasih sirup sama susu aja 'kan?" tanya Bram memperlihatkan potongan buahnya yang acak-acakan.
Bi yanti mengambil sirup rasa stroberi di kulkas,
"Non Kaila biasanya suka yang rasa ini, Tuan," Bibi menyerahkan botol sirupnya.
Bram mencampur potongan buahnya dengan sirup, susu dan menambahkan sedikit es batu lalu mencicipinya,
"Enak," pujinya pada hasil buatannya, "Bi, saya keatas dulu ya Bu!"
"Iya, Tuan."
Bram membawa hasil buatannya ke atas.
"Ya ampun. Ini tuan buat es buah semangkuk aja berantakannya sampai segininya," gumam Bi Yanti sambil membersihkan dapur.
Bi Yanti, pak Slamet dan Wahyu tinggal di rumah Bram, sedangkan bi Lala, Siti dan pak Wawan bekerja pagi sampai sore.
Mikaila yang melihat Bram datang dengan semangkuk es buah pesanannya tersenyum gembira dan langsung duduk di sofa yang ada di kamar mereka.
"Hmmm, Enak," puji Kaila.
"Iya dong. Mas buatnya penuh cinta, jadi pasti rasanya enak," jawabnya bangga.
__ADS_1
"Ini Mas sendiri yang buat?" tanya Kaila melihat suaminya.
"Iya dong, Sayang, khusus untuk Istriku tercinta."
"Pantes aja potongan buahnya kaya gini."
Mikaila menghabiskan es buah buatan Bram dan kembali tertidur.
****
Saat sarapan, Mikaila mengaduk aduk makanannya.
"Kenapa ga dimakan, Sayang?"
"Lagi ga nafsu makan, Mas," jawabnya malas.
"Tapi bayi kita nanti kelaparan, Kalau ibunya ga makan, Sayang." Bram menyuapi Mikaila dengan makanannya.
Ya, begitulah. Mikaila akan merasa makanan sisa Bram terasa sangat enak di lidahnya..
"Sayang, hari ini ada rapat penting di kantor, Mas harus kekantor. Kamu mau ikut atau di rumah aja?"
"Aku ikut ya, Mas. Kaila bosan di rumah terus."
"Ya udah, nanti kita ke kantor."
Mikaila menunggu Bram di ruangannya, karena merasa bosan ia memilih melihat-lihat seluruh ruangan Bram yang sangat besar.
Ada rasa kagum di harinya melihat ruang kerja suaminya itu.
Mikaila melihat ada sebuah pintu di sana kemudian membukanya,dan ternyata itu adalah ruang istirahat.
Ada tempat tidur dan lemari pakaian.
"Ini baju siapa?" batinnya.
Mikaila melihat ada beberapa pasangan pakaian wanita disana.
"Apa mas Bram masih menyimpan pakaian Mbak Inantinya.
Karena dadanya sudah merasa sesek ia memutuskan keluar dari kamar itu.
Bram datang dengan membawa beberapa buah-buahan yang dan mengupasnya untuk Mikaila.
"Maaf ya agak lama, tadi ada sedikit masalah," ucap Bram menyuapi Mikaila dengan buah yang telah di kupas nya.
Mikaila hanya tersenyum sambil memakan buah dari Bram.
Ia sudah meyakinkan hatinya untuk menerima masa lalu Bram. Namun, hatinya masih sakit saat mengetahui hal tersebut.
Saat di mobil Mikaila merasa perutnya sedikit sakit,
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bram saat melihat Mikaila memegangi perutnya.
"Mas, perut aku sakit".jawab Mikaila sambil terus mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.
"Tahan ya, Sayang, kita ke klinik mba Anin,"
Bram melajukan mobilnya dengan sedikit menambah lajunya.
Anindita dengan sangat teliti memeriksa istri dari adik nya itu.
"Bagaimana, Mbak?" tadi katanya perutnya sakit," tanya Bram cemas.
"Bayi kalian ga apa-apa, kamu jangan banyak pikiran dulu ya, ga boleh stres kasihan bayi kamu dia bisa merasakan apa yang di rasakan ibunya. Mumpung kalian disini bagaimana kalau kita USG, kita lihat jenis kelamin bayi kalian," kata Anin, kemudian mereka membantu Mikaila berbaring dan mengoleskan jel ke perutnya.
__ADS_1
"Mas itu bayinya," kata Mikaila saat melihat bayi mereka di layar.
"Iya, Sayang." Bram sangat senang, ia akan menjadi seorang ayah lagi.
"Selamat, bayi kalian laki-laki,.ayah pasti sangat senang karena sebentar lagi akan dapat cucu laki-laki," ucap Anin memberi selamat.
Saat di jalan pulang, Mikaila melihat penjual jagung bakar,
"Mas kita beli jagung ya ?"
"Iya, Sayang, kamu mau makan apa lagi?" tanya Bram yang sejak tadi istri itu terus meminta ini itu.
"Tentu aja, Mas, beli jagungnya yang mentah aja nanti kita bakar di rumah aja sama yang lain"
"Iya, sayang ku.".mengacak-acak rambut Mikaila sebelum turun dari mobil.
Mikaila menghubungi bi Yanti agar menyiapkan keperluan untuk membakar jagung.
Bram membeli banyak jagung dan menaruhnya di bagasi.
Mereka sampai di rumah saat malam hari dan langsung memulai acara bakar-bakar jagungnya.
Mikaila duduk di kursi sambil memperhatikan suaminya sedang membakar jagung bersama pa Wawan dan pak Wahyu.
Mikaila teringat kembali tentang foto dan pakaian Inanti yang Bram simpan.
Ia terus melihat suaminya dan tersenyum getir sambil menghapus air matanya yang lolos dari pelupuk matanya.
Bram menghampiri Mikaila sambil membawa jagung yang telah di bakarnya.
"Ada apa, Sayang?" aku juga tak enak badan, perutnya sakit lagi?"
"Ga apa-apa, ko." Mikaila mengambil jagung bakar dan mulai memakannya.
Mereka menikmati jagung bakar bersama-sama.
*****
Mikaila menatap langit-langit kamar tidur nya, ia tak bisa tidur bayangan foto dan pakaian Inanti terus terbayang saat ia menutup matanya.
"Tidurlah, ini sudah larut malam," ucap Bram membawa Mikaila ke pelukannya.
"Apa Mas mencintaiku?" tanya Mikaila tiba-tiba.
"Sangat, Mas sangat mencintai, Sayang," Mengecup kening Mikaila.
"Mas ga nyesel nikahin aku 'kan?"
"Maksudnya,?"
"Lupakan aja, Mas. Aku dah ngantuk, sejak tadi mencari foto hati besar dimencari posisi tidur yang nyaman di dekapan sang suami.
Bram memang bukan tipe pria yang romantis dan peka,tapi di bisa merasakan ada yang aneh dengan sikap Mikaila.
Bram menatap dalam wajah istrinya itu yang masih sangat cantik walau telah tertidur pulas.
Bram meraih ponselnya dan melihat rekaman cctv yang ada di ruangannya, ia melihat Mikaila masuk ke dalam kamar istirahatnya.Tatapannya berubah saat melihat ekspresi wajah Mikaila berubah dan mematung saat melihat isi di dalam lemarinya, kemudian ia melihat Mikaila mengeluarkan sebuah gaun dari dalam sana.
Bram mematikan ponsel, memijat keningnya, lagi-lagi kenangannya bersama Inanti melukai hati istrinya.
Sepanjang malam Bram terus menatap wajah Mikaila hatinya sakit mengetahui kalau istrinya itu menyembunyikan rasa sakit hatinya dan mungkin penyebab sakit perut yang ia alami Karana hal itu.
Saat pagi hari Mikaila kembali seperti biasa, Bram yang awalnya ingin minta maaf karena kejadian kemarin mengurungkan niatnya melihat istrinya itu ceria kembali. Ia tak ingin merusak harinya dan membuat nya stres sehingga akan berdampak pada bayi mereka.
Bersambung.🙏👍
__ADS_1