
Bram mengendarai mobilnya,sepanjang perjalanan ia menerka-nerka ada masalah apa sehingga ibu menyuruhnya pulang.
Tidak seperti biasanya,ibu akan memanggilnya ke rumah besar atau langsung datang ke kantor.
Saat masuk Bram semakin bingung melihat Anindita,Isabela dan Arabela juga ada di sana.
Mereka semua terlihat sangat serius.
Bram juga melihat luka bekas tamparan di pipi Arabela.
Mikaila yang melihat Bram datang langsung menyambutnya, mengambil tas kerjanya dan jas yang ada di tangan Bram.
"ada apa Bu?"tanya Bram duduk di sofa ruang tengah tempat mereka berkumpul.
Tak ada yang berani menjawab,mereka lagi-lagi saling melempar tatapan.
Ibu melihat Mikaila,memberi Kode dengan matanya agar ia yang berbicara kepada Bram.
Mikaila menunjuk dirinya sendiri yang mendapat anggukan dari ke tiganya,ia melihat ke arah bram yang juga melihatnya.
"ada apa sebenarnya?"tanya Bram kepada Mikaila.
Mikaila yang tadinya masih berdiri di belakang Bram ikut duduk.
"Gini mas,,,itu,,,emmm"Mikaila tak tau harus mulai dari mana menjelaskannya.
Dengan sabar Bram menunggu ucapan apa yang akan keluar dari mulut istrinya itu.
"mas jangan merah dulu ya,"Mikaila menggenggam tangan Bram.
"hmm"jawab Bram.
Mikaila melihat ke arah Arabela,ia menarik nafas dan berkata,,,
"Bela hamil mas,"ucap Mikaila mempererat genggamannya.
"apa,"tanya Bram tak percaya.
"iya Bram Arabela hamil,"ucap ibu memperjelas ucapan Mikaila dengan ragu-ragu.
Bram melepas genggamannya,mengusap dengan kasar wajahnya yang sudah memerah karena menahan amarahnya.
Bram menatap adik dangan sangat tajam,membuat Arabela semakin menarik Anin mendekat dengannya.
"David ?"tanya Bram melihat Arabela yang duduk di dekat Anindita.
Arabela mengangguk.
"bukk"Bram melempar batal sofa ke arah Arabela,dan tepat mengenai wajah Bela.
Arabela semakin ketakutan,ia memeluk erat tangan kakak sulungnya Anin.
Bram berdiri,Anin langsung ikut berdiri melindungi Arabela.
Bram menendang meja yang ada di depannya hingga pecah dan berantakan.
mba Siti yang sudah tau situasi langsung membawa anak-anak ke taman belakang.
"mas,"pekik Mikaila saat Bram mulai menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya.
Bram mengambil kunci mobilnya dan keluar.
Mikaila berlari menahan Bram,ia tak ingin suaminya mengendarai mobil dalam keadaan emosi.
"mas kamu mau kemana?"tanya Mikaila menahan pintu mobil.
__ADS_1
"David harus menerima akibatnya."mendorong tubuh Mikaila dengan kasar.
Bram langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,tanpa melihat Mikaila yang tersungkur ke lantai akibat ulahnya.
"Kaila,"pekik ibu menghampiri Mikaila yang masih duduk.
"aww,"melihat luka lecet di telapak tangan dan sikunya .
"kamu ga apa-apa nak?"
"enggak apa-apa ko Bu,mas Bram sepertinya ingin menemui David."
"sebaiknya kita juga ke sana,"ucap Isabela berlari mengambil mobilnya.
"ayo mba,mas Bram masih sangat emosi."Arabela naik ke mobil begitu juga dengan ibu dan Anin.
Mobil Bram sudah berada jauh di depan mobil mereka.
"cepat sedikit isya,"ucap Anin.
"ini udah paling cepat Bu,aku ga berani lebih cepat dari ini,"jawab Isabela yang sedang fokus menyetir.
"Bu bagai mana ini Bu,mas Bram sangat marah."Arabela mulai panik,matanya sudah berkaca-kaca membayangkan apa yang akan Bram lakukan pada David.
"kamu telfon David,tanya dia ada dimana."saran ibu.
Arabela menelfon David berkali-kali tapi tidak di angkat.
"engga di angkat bu" ucap Arabela sudah menangis.
"coba terus,"ibu ikut panik.
Bram yang masih emosi mendatangi apartemen David,ia langsung memberi Bogeman saat David membuka pintu, karena tak siap David langsung tersungku ke lantai,
David menerima setiap pukulan Bram tanpa melawan,ia tau apa yang menyebabkan sehingga Bram memukulnya.
"Bram hentikan,"pekik ibu yang baru datang dan melihat keadaan David yang sudah babak-belur Karana ulah putranya.
"Bram cukup,"ucap Anin menenangkan adiknya.
Isabela hanya bisa diam mematung di dekat pintu masuk melihat keadaan David di lantai.
Arabela langsung menghampiri David,mencoba melihat luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya.
"David kamu baik-baik saja,"tanya Arabela menangisi kondisi kekasihnya.
David terbatuk-batuk dan memuntahkan darah,Isabela yang melihat hal itu langsung mendekat.
"perbaiki posisi nya tante,"ucapnya pada Arabela.
Mereka membetulkan posisi David yang mencoba untuk duduk.
"jangan banyak gerak dulu,"ucap Arabela membaringkan David di pahanya.
Bram yang semakin kesal saat melihat Arabela masih memperhatikannya,ia kembali memberikan beberapa tinjunya yang membuat David sudah tak sadarkan diri lagi.
"mas cukup,ampun mas,cukup Bela mohon."
bela memeluk kaki Bram sambil menangis.
Yoga datang dan langsung menghentikan Bram.
"cukup Bram."ucap Yoga.
"Bram cukup nak,"ibu memeluk Bram.
__ADS_1
Yoga dan ibu mengajak Bram keluar dari apartemen David.
Anin langsung menelfon ambulance meminta bantuan.
Mereka membawa David ke rumah sakit,Arabela terus menagis sepanjang perjalanan melihat David tak sadarkan diri.
David di bawah ke UGD dan langsung mendapat perawatan.
Yoga dan ibu mengajak Bram pulang.
Bram hanya diam dan langsung masuk ke kamarnya saat telah sampai di rumah.
"kita kerumah sakit saja,biarkan Mikaila yang memenangkan."ucap ibu kembali masuk ke dalam mobil.
Mereka menuju kerumah sakit untuk melihat kondisi David.
Saat mereka menyusul Bram, Mikaila yang merasa khawatir langsung menelfon Yoga dan menceritakan situasi yang mereka alami.
Bram masuk ke kamar mandi,membersihkan tubuhnya.
Mikaila yang awalnya ingin menghampiri Bram, terpaku saat melihat banyak bercak darah di kemeja yang Bram kenakan.
Mikaila menyiapkan pakaian dan turun ke bawah menyiapkan makan malam untuk keluarganya.
Bram memakai baju lalu masuk ke ruang kerjanya.
Mikaila memberi makan anak-anaknya,
"bunda,papa sudah makan?"tanya Arya.
"belum sayang,papa lagi ada kerjaan jadi nanti aja papa makan.kakak makan yang banyak ya, biar cepat besar bisa bantu papa kerja di kantor."
"iya bunda,kalau kakak sudah besar mau kekantor sama papa,"ucap Arya semangat dan makan dengan lahap.
"unda,Apin uga au terja,Tama papa."ucap Gavin tak mau kalah.
Mereka makan tanpa ada Bram bersama mereka.
Mikaila membawa anak-anak bermain di kamar dan menemani mereka hingga tertidur.
Mikaila mengetuk pintu dan masuk keruang kerja Bram.
Ia melihat suaminya itu duduk bersandar di kursi kerjanya sambil menutup matanya,,
"mas makan dulu,"ucap Mikaila ragu,ia sedikit takut kepada Bram setelah mendengar apa yang baru saja Bram lakukan kepada David,ia juga kembali teringat apa yang telah terjadi pada orang-orang yang pernah menculiknya di masa lalu.
Setelah berdiri lama menunggu jawaban Bram,dan tak mendapat jawaban Mikaila memutuskan untuk keluar,ini pertama kalinya ia merasa sangat canggung selama pernikahan mereka.
Mikaila masuk ke kamar anak-anaknya dan tidur disana.
Saat lewat tengah malam Bram merasa lebih tenang,dan kembali ke kamarnya.
Tak mendapati Mikaila di sana ia masuk ke kamar anak-anaknya dan melihat istrinya sudah tertidur pulas.
Bram mengangkat Mikaila pindah ke kamar mereka.
Mikaila meringis saat Bram meletakkan nya di kasur,dan kembali tertidur.
Bram melihat luka di tangan Mikaila,ia baru menyadari tindakannya siang tadi sudah melukai tangannya.
Bram mencium kening Mikaila.
"maaf sayang,"ucap Bram merapikan anak rambut Mikaila.
Mikaila membuka mata saat merasa ada yang menyentuh wajahnya,ia masuk ke pelukan Bram mencari kehangatan di sana dan kembali tertidur.
__ADS_1
Bram memeluk Mikaila erat,menjadikan dirinya lebih tenang dan ikut tertidur.