
Drama nasi goreng selesai, saat Gavin akan berangkat ke kantor, Syana kembali meminta Gavin membuatkan rujak mangga yang sama semalam.
"Apa, Kakak mau aku buatkan rujak mangga?" tanya Gavin.
"Iya, kakak pengen banget makan rujak!" mohon Syana.
"Bi, apa mangganya masih ada?" tanya Gavin pada bi Yanti.
"Udah habis mangganya, Semalam bibi buat rujak semua," Jawab Bu Yanti.
"Gimana tu kak, mangganya udah habis!" ucap Gavin.
"Kan di belakang masih banyak, kamu panjat lagi dong buat kakak," pinta Syana dengan wajah memohon.
"Ya, ampun Kakak. Aku sudah rapi begini masa disuruh manjat pohon lagi. Aku ada meeting penting pagi ini kak, ga enak buat mereka semua menunggu," alasan Gavin.
"Terus, gimana dong. Aku pengen banget makan rujak mangga yang semalam."
Gavin menatap Syana dengan memohon. Dia sudah memakai setelan jas, sudah sangat rapi, masa iya harus memanjat pohon dengan memakai dasi.
"Sayang, biar aku aja ya yang ngambil mangganya," tawar Ustaz Ilham.
Syana berpikir sejenak dan mengusap perutnya. Benar apa kata Gavin tak mungkin ia memanjat pohon, Ia juga tak mau egois.Ia tak ingin membuat Gavin terlambat untuk menghadiri rapat hanya karena dirinya. Walau ia sangat ingin Gavin yang melakukannya. Namun, ia mencoba menerima tawaran suaminya.
"Ya udah deh, kakak aja yang ngambil mangganya," ucap Syana mengalah.
"Nah, itu baru benar, biar papanya anak kamu yang melayani kemauan ibunya. Aku janji deh, kalau enggak lagi sibuk, Gavin ambilkan mangganya lagi yang banyak."
"Pulang kerja, janji ya," ucap Syana.
"Iya," jawab Gavin.
Gavin bernafas lega dan dengan cepat ia keluar dari rumah, berjalan cepat menuju mobil dan pergi dari sana. Sebenarnya ia tak memiliki rapat. Namun, ia benar-benar malas untuk memanjat mangga.
Bram hanya tersenyum melihat putranya, kemudian ia ikut dengan Arya ke kantor.
Ustadz Ilham mencoba mengambilkan mangga untuk Syana kemudian membuat rujak yang persis dengan semalam. Namun, saat Syana memakannya, ia tak suka dan justru memuntahkannya. "Ada apa? Apa rasanya tak enak?" tanya Ustadz Ilham.
"Rasanya enak kak, tapi saat masuk ke mulutku aku rasanya pengen muntah," ucap Syana menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Ia benar-benar pusing dan tak tahu harus makan apa, perutnya sudah sangat lapar. Ia sama sekali tak memiliki ***** makan.
Raina mendekati Syana.
"Kakak suka makan bubur?" tanya Raina.
"Bubur ya, kayaknya enak juga," ucap Syana membayangkan rasa bubur di mulut.
"Bubur buatan Bunda sangat enak, kak. Waktu dulu Raina juga hanya bisa makan bubur buatan Bunda."
"Benarkah?" tanya Syana menegakkan duduknya.
"Iya, benar. Bentar ya, aku minta bunda buatin Kakak dulu," ucap Raina mencari Bunda Mikaila.
Syana hanya mengangguk dan melihat Raina berlalu meninggalkannya, perasaannya benar-benar tak enak.
"Kak, apa nggak apa-apa kakak ga ceramah? Sudah berapa hari ini kakak hanya menemaniku," lirih Syana.
"Enggak, Kakak sudah membatalkan semua jadwal ceramah untuk 3 bulan ini. Kakak akan selalu menjaga kamu dan bayi kita" ucap Ustaz Ilham.
Syana menatap suaminya, ia merasa sangat tersentuh mendengar ucapan Ustaz Ilham.
Matanya berkaca-kaca. "Loh, kok jadi manja gini sih," Ustaz Ilham mengusap airmata Syana yang berhasil lolos dari matanya, membasahi pipi.
"Aku kok jadi cengeng banget ya, masa dengar kamu ngomong gitu aja aku nangis. aku enggak pernah loh kayak gini, kak."
__ADS_1
Syana merasakan sendiri perubahan yang begitu drastis pada dirinya, ia merasa sangat sensitif.
Mikaila mulai membuatkan bubur untuk Syana, dibantu oleh Raina.
Raina tak pernah lagi merasakan yang namanya mual, ia bahkan bisa membantu memasak di dapur, sudah tak risih lagi dengan bau bumbu dapur.
"Raina, kamu istirahat saja. Biar Bunda yang buat bubur," ucap Mikaila.
"Enggak apa-apa kok Bunda, Raina pengen bantu-bantu."
"Kamu potong-potong sayur aja ya, Sambil duduk. Takutnya nanti kamu capek."
Raina menuruti apa kata bundanya, ia kemudian mengambil beberapa sayuran dan membawanya ke meja makan.
Raina merasa tak enak hanya tinggal diam di rumah, sementara Mikaila saja ikut membantu di dapur. Walau sudah memiliki banyak asisten rumah tangga, Mikaila tetap turun langsung membuat makanan untuk keluarganya.
"Bubur buatan Bunda sudah jadi, Mikaila mengantarkan bubur tersebut ke kamar Syana. Ia bisa melihat jika anakan itu begitu lemah di masa kehamilannya.
"Makanlah dulu, selagi masih hangat, lalu kamu bisa istirahat dengan perut kenyang," ucap Mikaila.
Syana menuruti apa yang dikatakan Mikaila, ia mengambil bubur dan mulai memakannya.
"Bagaimana?"
"Iya, Tante, rasanya enak. makan ini mual nya agak sedikit berkurang,"
"Ya sudah, habiskan. Kalau memang kamu suka, nanti Tante buatkan lagi ya, Jangan lupa susunya diminum sebelum kamu kembali tidur."
Syana merasa lebih baik setelah makan bubur dan menghabiskan segelas susu, Ilham sedikit memaksa agar menghabiskan keduanya.
Syana kemudian bisa tertidur pulas.
Mikaila kembali mengerjakan pekerjaan di dapur.
"Mbak, kok nggak bilang sih mau datang," ucap Mikaila yang melihat Anin berjalan menghampiri mereka.
"Iya, Mbak mau ke rumah sakit jadi mampir dulu, jadwal Mbak agak siang hari ini. Bagaimana dengan Syana?"
"Sepertinya ia sangat mengidam, aku sudah membuatkannya bubur."
"Maaf ya, sudah merepotkan kalian," ucap Anin merasa tak enak. Seharusnya ialah yang mengurus putrinya.
"Enggak apa-apa kok Mbak, Kami senang Syana tinggal di sini."
"Semoga saja dengan tinggal di sini rasa mual nya sedikit berkurang. Saat di rumah ya tak pernah keluar kamar terus muntah. Syana terus merengek ingin menginap di sini," jelas Anindita.
"Enggak kok, Mbak. Tadi Syana menghabiskan buburnya."
"Syukurlah, saat di rumah dia terus menolak apa yang aku berikan."
"Bagaimana dengan kehamilan kamu?" tanyakan Anin pada Raina yang duduk di dekatnya.
"Baik Tante, aku juga udah enggak mual lagi. Sekarang semuanya sudah terasa nyaman dan enak," jawab Raina.
"Semoga semua baik-baik saja sampai persalinan nanti."
"Amin ...." ucap Mikaila dan Raina mengaminkan ucapan Anindita.
Anin lagi tak banyak pekerjaan di rumah sakit, ia pun memilih untuk berbincang-bincang bersama Raina dan Mikaila.
Tak beberapa lama kemudian, Syana dan ustadz Ilham turun, mereka langsung ikut bergabung.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Anin merentangkan tangannya ingin memeluk putrinya.
__ADS_1
Syana menghampiri ibunya dan memeluk Anin.
"Baik, Bu. Masih sangat pusing," lirih Syana.
"Kamu harus memaksa untuk makan sesuatu, agar perut kamu tak kosong. Itu salah satu yang menyebabkan kamu terus merasa mual."
"Iya, Bu. Syana udah makan bubur tadi," jawab Syana.
"Ibu mau ke Rumah sakit dulu ya, ini sudah siang, ibu ada jadwal operasi," ucap Anin merasa kasihan melihat putrinya.
"Pulang dari rumah sakit, beliin Syana rujak yang di depan rumah sakit ya, Bu."
"Iya, nanti Ibu belikan. Sekarang kamu sebaiknya istirahat saja, Wajah kamu sangat pucat," ucap Anin melihat wajah putrinya.
Syana mengangguk lemah.
"Ilham titip Putri Ibu ya! Sepertinya akhir-akhir ini putri ibu ini sangat manja," ucap Anin mencubit pipi Syana.
Ustaz Ilham hanya tersenyum dan mengangguk. Benar apa yang dikatakan mertuanya, semenjak hamil istrinya itu begitu manja. Sangat berbeda dengan Syana yang dulu.
Anin berangkat ke rumah sakit.
sore hari semua sudah pulang dari kantor. Bram, Arya, dan Gavin.
Mikaila menghampiri suaminya dan mengambil tas kerjanya
"Mas, aku perhatikan beberapa hari ini Mas terus ke kantor, apa ada masalah di kantor?" tanya Mikaila.
"Semua lancar-lancar saja, anak-anak bekerja dengan sangat baik. Mas hanya merasa senang saat berada di kantor," jawab Bram merangkul Mikaila berjalan menuju kamar mereka.
"Mas, apa ga masalah dengan penyakit, Mas? Aku hanya khawatir!" ucap Mikaila menatap sedih pada Bram.
"Iya, enggak lagi. Mas akan kembali ke jadwal dulu, seminggu sekali. ya kan?" ucap Bram menarik Mikaila ke pangkuannya dan menghujaninya dengan ciuman.
Sikap dan tingkah Bram tak pernah berubah kepada Mikaila, mereka sudah bersama puluhan tahun. Namun, cinta mereka tetap sama saat pertama kali bertemu.
Malam hari, Syana berbinar senang saat melihat Anindita ibunya datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Syana yakin jika itu adalah rujak pesanannya.
"Ibu, itu pesanan Syana ya?" tanya Syana berbinar senang.
"Iya, bentar ya. Ibu pindahkan ke piring dulu," ucap Anindita lalu menuju dapur mengambil piring, memindahkan rujak tersebut.
Syana duduk di meja makan, menanti rujak yang sedari tadi diinginkannya.
Setelah memindahkannya ke piringan, Anin membawa rujak tersebut ke depan putrinya.
Gavin yang melihat Syana memakan rujak ikut mendekat dan mulai ikut memakannya.
Entah mengapa awalnya Syana rasa rujak itu tak enak, tak seperti biasanya. Namun, saat Gavin mendekat dan ikut memakan rujak tersebut tiba-tiba rujak itu terasa sangat enak dan mual nya juga hilang.
ππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π.
Jangan lupa ya terus beri dukungan kalian dengan meninggalkan like dan komen di setiap Babnya.π
Du usahakan up tiap hari π jadi mohon bantuannya.
Salam darikuπ€
author m anhaβ€οΈ
love you allπππππ
__ADS_1