Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Keputusan Gavin.


__ADS_3

Malam hari Gavin mulai mengeras barang-barangnya, terdengar suara ketukan di luar pintu kamarnya, Gavin menoleh dan melihat jika itu adalah bundanya. Mikaila perlahan menghampiri Gavin.


"Kamu yakin benar-benar akan pergi ke luar negeri dan tinggal di sana?" tanya Mikaila menatap nanar putranya itu.


Gavin tahu jika Bundanya pasti bersedih karena keputusan yang diambil olehnya. Gavin menghentikan kegiatannya dan membawa Mikaila ke pelukannya, "Maaf ya Bunda, Gavin sayang sama Bunda, tapi Gavin juga ingin lebih mandiri dan tidak tergantung dengan keluarga, bergantung pada Papa, kak Arya, dan kak Kelvin, Gavin sudah terlalu banyak meminta pada mereka. Gavin janji akan selalu nelpon Bunda dan saat ada kesempatan Gavin akan kembali menemui Bunda."


Mikaila membalas pelukan putranya, rasanya sangat sakit mengetahui jika putranya itu akan meninggalkannya. Walau mereka bisa bertemu kapan saja, tetapi tetap saja Gavin tak tinggal lagi bersama mereka, tak akan lagi mengurus keperluan anaknya itu.


"Apa tidak bisa kau bekerja di sini saja? jika kau ingin benar-benar mandiri kau bisa membuka usaha sendiri dan membangunnya tanpa campur tangan papa dan kakak-kakak mu."


"Bunda, maaf ya! Gavin juga sebenarnya nggak mau pisah sama Bunda, tapi nggak mungkin kan Gavin tinggal terus disini. Aku juga ingin mencoba memulai hidup menata hidup. Gavin sudah memikirkan dengan sangat matang, dan Gavin yakin jika memutuskan untuk tinggal di luar negeri adalah keputusan yang tepat buat Gavin."


Mikaila menghapus air matanya, ada rasa bangga sendiri di dalam hatinya mendengar ucapan putranya.Gavin putranya yang manja dan bandel kini telah menjadi pria dewasa.


"Bunda, doakan kamu akan selalu sukses dan bahagia tinggal di sana?"


"Makasih ya, Bunda."


Bram masuk dan menghampiri mereka.


Bram menarik Mikaila yang sedang dalam pelukan Gavin dan membawa istrinya itu ke pelukannya.


"Kamu kenapa Sayang, kok nangis?" ucap Bram menghujani pipi Mikaila dengan ciumannya.


Mikaila memukul pelan dada Bram, Bram mengeluh sakit dan sambil memegang dadanya.


"Mas, Mas Kenapa?" panik Mikaila.


Bram menjatuhkan tubuhnya ke ranjang tempat tidur Gavin, "Nggak, nggak apa-apa. Mas cuma bercanda," ucap Bram menertawakan ekspresi khawatir Mikaila.


Mikaila kembali memukul lengan Bram, "Mas jangan gitu, Ah! Nggak baik buat istri panik," Mikaila duduk dipangkuan suaminya dan mengalungkan tangannya dileher Bram.


"Gavin, Apa kamu serius akan mengelola bisnis kita yang di luar negeri?" Bram menatap serius pada Gavin.


"Iya, Pah! Gavin akan serius dalam mengerjakan perusahaan itu dan akan mencoba membangunnya menjadi lebih baik lebih besar."


Sebenarnya Bram juga sangat berat berpisah dengan Gavin, tapi dia tak mungkin menahan putranya itu.  Mereka sudah besar dan bisa menentukan jalan hidupnya mereka.


Gavin melanjutkan memasukkan pakaian di dalam koper.


"Apakah kamu butuh sesuatu?" tanya Mikaila.


"Nggak Bunda, ini semua sudah cukup. Kalau ada yang kurang nanti aku beli disana saja," ucap Gavin.


Mikaila masih asyik duduk dipangkuan suaminya, sesekali ia mengecup pipi Bram dan Bram membalas dengan mengecup bibirnya.


Gavin Sangat senang melihat kedua orang tuanya, yang terlihat begitu bahagia dan masih tetap romantis di usia mereka sekarang.


"Semoga aku juga menemukan jodoh terbaik untukku," batin Gavin.


Pagi hari Kelvin dan Gavin menuju ke bandara diantar oleh semua keluarganya.

__ADS_1


Bukan hanya Gavin, tapi Kelvin juga akan pergi ke luar negeri. Mendengar suara Clara semalam membuat Kelvin memutuskan untuk kembali mencari mereka.


Mikaila kembali melakukan adegan perpisahan.


Iya meluk Gavin sangat erat dan seolah tak ingin melepaskan putranya itu.


"Bunda, kalau Bunda seperti ini kapan Gavin akan berangkat," ucap Gavin yang membalas pelukan bundanya.


Mikaila melepas pelukannya, "Kamu janji ya, akan selalu menelpon Bunda Saat di sana, jangan lupa menjaga kesehatanmu, jaga makan mu, jaga pergaulan mu," ucap  Mikaila di selah Isakannya.


"Iya Bunda, Gavin kan selalu mengingat nasehat Bunda,"


Gavin beralih kepada neneknya dan memeluk mereka berdua, memeluk Ibu Mikaila dan ibu Bram.


"Kamu baik-baik ya disana," ucap neneknya … "jaga kesehatan mu."


"Iya, Nek! Gavin akan mencoba menjadi  lebih baik lagi dan menjadi terbaik untuk nenek," ucap Gavin kembali memeluk kedua nenek nya itu.


Terakhir Gavin memeluk Papanya, "Papa menunggu berita kesuksesanmu," 


Kelvin dan Gavin lambaikan tangan saat mereka akan masuk ke dalam pesawat jet pribadi keluarga mereka.


Mikaila tak bisa menahan air matanya saat melihat kedua anaknya melambai kan tangan sebelum masuk ke pesawat. Pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas. Akan terbang pergi meninggalkannya jauh ke negeri orang. 


"Sudah jangan menangis, tak baik mengantar kepergian anak dengan air mata," ucap Bram mengecup kening Mikaila yang kini memeluknya sambil melihat kepergian putranya.


"Suamimu benar, anak-anakmu sudah besar. Mereka tak akan selalu tinggal bersama denganmu," ucap Ibu Mikaila.


"Tapi aku masih merasa jika mereka masih masih anak-anak, Bu." 


"Sudahlah kita kan masih bisa terus berkomunikasi dengan mereka," ucap Bram  mencoba menenangkan istrinya yang tak bisa membendung air matanya.


Mikaila mengangguk dan mencoba untuk menghentikan air matanya. Namun, air mata itu terus menetes di pipinya.


Kelvin dan Gavin sudah lepas landas, Mikaila hanya bisa melihat pesawat yang membawa kedua anaknya dan hilang di balik awan.


"Kita pulang sekarang," ucap Bram membawa mereka semua pulang kembali ke rumahnya.


Di pesawat.


"Sebenarnya, kakak mau ngapain ke luar negeri?" tanya Gavin.


"Ada sesuatu yang aku ingin pastikan," jawab Kelvin bersandar di kursi sambil menutup matanya.


"Pastikan? Kakak ingin memastikan apa?" tanya Gavin.


"Ini bukan urusanmu, kamu fokus aja sama urusanmu sendiri,"


Gavin tak bertanya lagi, ia tau jika kakaknya sudah mengatakan hal seperti itu berarti ia tak ingin diganggu dan ingin beristirahat.


Semalam Kelvin tak bisa tidur, ia terus memikirkan mengenai Diandra dan Clara.

__ADS_1


Sebelum mengambil keputusan untuk pergi, Kelvin terlebih dahulu mengatakan hal itu pada Natali,  mengatakan apa yang baru saja di alaminya. Ia baru saja mendengar suara Clara.


Natali mendukung jika Kelvin keluar negeri dan mencari Diandra, Kelvin dan Natali sama, mereka ingin masalah mereka cepat selesai.


Sesampainya di Apartemen, Kelvin kembali mencoba menghubungi nomor Bu Sulastri. Namun kali ini nomor itu sudah tak aktif.


Kelvin hanya menyimpan barang-barangnya kemudian keluar lagi. Apartemen itu kini akan ditinggali oleh Gavin. Gavin mulai menyusun barang-barangnya, mulai sekarang dan seterusnya mungkin ia akan tinggal di sana.


Gavin hanya melihat Kelvin yang terburu-buru keluar dari Apartemen itu.


"Apa alasan kak Kelvin datang kesini untuk mencari Diandra," batin Gavin.


Kelvin bergegas ke resepsionis dan bertanya mengenai Diandra. Kelvin yang sudah tinggal lama di Apartemen itu sudah mengenal seluruh petugas yang bekerja disana. Satpam, resepsionis dan beberapa orang lainnya.


Tinggal di Apartemen mewah dimana gedung itu dilengkapi banyak fasilitas yang dapat memudahkan mereka.


"Kamu yakin tak pernah melihat Diandra datang ke sini lagi?" tanya Kelvin.


"Aku tak pernah melihat Diandra setelah kau pergi, aku dengar jika Bu Sulastri juga sudah meninggal ya?" tanya resepsionis tersebut.


 "Ia, dia meninggal saat aku wusuda dan saat itu juga Diandra menghilang. Sudah 8 bulan ini aku mencarinya. Namun tetap saja tak menemukannya," ucap kelvin


"Mengapa kau tak mencari ke Apartemennya. Aku dengar Apartemennya di sekitaran sini," ucap resepsionis.


"Aku sudah mencarinya, Diandra dan juga adiknya tetap saja tak ketemu, mereka sudah tak tinggal di Apartemennya. Aku bingung harus mencari kemana lagi," ucap Kelvin.


"Mengapa kamu mencarinya, Diandra sudah besar, sudah bisa menghidupi dirinya sendiri. Diandra bukan gadis yang manja, aku yakin dia pasti baik-baik saja diluar sana dan bisa menjaga Adiknya."


"Semoga saja," ucap Kelvin mengusap wajahnya. Kelvin mencoba melihat kekiri dan ke kanan, berharap ia bisa melihat Diandra.


"Terima kasih, ya! Aku coba mencari nya ke tempat lain," Kelvin berjalan keluar Apartemen. Kelvin  juga menanyakan kepada beberapa pegawai yang ada disana, tetapi hasilnya juga sama. Mereka tak pernah melihat Diandra lagi.


Kelvin menuju keApartemen Diandra, menanyakan keberadaannya pada orang-orang yang ia temui di sana. orang-orang yang mengenal Diandra dan bu Sulastri, mereka juga mengatakan hal yang sama. Semenjak Bu Sulastri  meninggal, mereka tak pernah lagi melihat Diandra dan clara.


Rumah mereka juga selama ini  selalu di gembok. 


"Diandra kalian dimana, kalian benar-benar hilang tanpa kabar, kemana lagi aku harus mencari kalian,"ucap Kelvin frustasi.


Hari berlalu, sudah seminggu Kelvin tinggal di luar negeri, seminggu juga Kelvin sudah mencari Diandra ketempat-tempat yang biasa Diandra kunjungi, tapi tak ada sedikitpun informasi yang didapatkannya. 


Kelvin tak mungkin terus-terusan tinggal di sana dan mencarinya, masih banyak pekerjaan yang harus dia urusan. Dia tak ingin papa dan bundanya merasa curiga dengannya. Kelvin memutuskan untuk pulang kembali ke kota X.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


mohon dukungannya ya kak, dengan terus memberikan Like, Vote dan komennya 🙏


salam dariku Author m anha ❤️


Love you all 💕💕

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2