
Mikaila terbangun saat merasa sentuhan di pipinya,dia membuka mata dan melihat Bram menatapnya.
"maaf,"untuk kesekian kalinya kata itu keluar dari mulutnya.
"mas,aku udah bosan mendengarnya,"jawabnya manyun.
"kemarin kemana aja,"tanya Bram membelai pipinya.
"maaf mas,kemarin aku ke rumah lama mas tanpa izin,"
"kenapa ga bilang kalau mau ke sana?"
"kalau aku bilang emang mas izinkan?"
"engga,"
"makanya aku ga izin,"
"mas ga izinin kamu ke sana karena mas yakin kamu pasti sedih melihat apa yang ada di sana,"
"kalau mas tau aku akan sedih kenapa masi di simpan,"sedikit ragu mengucapkannya.
"awalnya mas menyimpan semua itu karena mas ga bisa terima kenyataan kalau mereka sudah ninggalin mas untuk selama-lamanya,mas merasa mereka masi ada di dekat mas saat melihat barang barang mereka...Tapi sekarang sudah ada kamu dan bayi kita,mas menyimpannya hanya sebagai kenangan saja.Maaf kalau itu semua menyakiti perasaan mu,"
"awalnya aku sangat sedih, aku merasa mas tidak mencintai aku dan bayi kita,aku merasa tak bisa memberi kebahagiaan seperti yang telah mas dapatkan dari mba Inanti,Tapi aku ga boleh egois kan walau bagaimanapun mereka pernah ada dalam hidup mas,"
"makasih sayang,kamu dah ngertiin aku,mas berencana menyumbangkannya,"
"mas yakin,aku ga mau kalau mas melakukan itu semua karena aku.Aku ga masalah ko mas menyimpan semua itu."
"enggak sayang,mereka pasti senang apabila barang-barang mereka di gunakan oleh orang yang lebih membutuhkannya,"
"mas kemarin aku lihat masi banyak barang-barang mas di sana yang masi bisa di pakai,"
"biarkan saja sayang,mas sudah beli lagi,"
"terserah mas aja,"
"maaf ya mas selalu membuat kamu sedih,"
"enggak ko mas,mungkin karena aku lagi hamil jadi lebih sensitif,ga seharusnya aku cemburu sama mba Inanti kan,"
"itu berarti kamu cinta banget sama mas sayang,"
"iya aku cinta sama mas,tapi ga pake banget ko,"
"yang bener ga pake banget,"menggoda istrinya.
"iya,biasa aja."
"terus kenapa kamu nangis sampai matanya bengkak gitu,"
"ih,mana ada aku nangis,ini karena kurang tidur aja,"beranjak dari tempat tidur.
"ngaku aja sayang,"
"udah ah aku mau mandi,"
"mandiin mas juga sayang,"menyusul Mikaila yang berjalan cepat ke kamar mandi.
__ADS_1
Bram mengajak Mikaila ke makam Inanti.
"ini makam Inanti dan Tasya,"ucapnya kepada Mikaila sambil menyirami keduanya bergantian.
Mikaila menaburkan buang di atas pusara anak dan istri suaminya itu,ada rasa bersalah dihatinya karena kecemburuannya kepada almarhum Inanti.
"Tasya sayang,anak papa sebentar lagi kamu akan punya Ade,"mengusap batu nisan anaknya.
Mikaila berdiri dan mengusap perutnya,
"perutnya kenapa sayang,"tanya Bram melihat istrinya itu mengusap-usap perutnya.
"ga apa-apa mas,hanya cepek Jongkong aja,"
"mas pulang dulu ya,semoga kamu tenang di sana."menaburkan bunga di makam sang istri.
Bram menuntun Mikaila dengan hati-hati mengingat kandungannya sudah mendekati persalinan.
"sayang kita kerumah lama mas ya,"
"iya mas,"
Meraka sampai di rumah lama Bram,dan Mikaila bisa melihat ada beberapa mobil di sana.
"kok banyak orang mas,"
"iya,mas sengaja mengundang keluarga Inanti .Mas berencana menyerahkan rumah ini dan isinya kepada mereka."
"oww,"
"ibu dan bela juga ada di dalam,"
"kenalkan ini Mikaila istri saya Bu,"ucap Bram memperkenalkan Mikaila kepada ibu mertuanya dari Inanti.
"kamu cantik sekali,"ucap ibu Inanti ramah.
"makasih Tante,"jawab Mikaila sopan.
"sudah berapa bulan kandungan kamu?"
"sudah masuk 9 bulan Tante,"
"wah, sebentar lagi lahir ya,Tante senang Bram menikah lagi dan sebentar lagi akan punya anak.Dia sudah sangat menderita selama ini,Tante yakin kamu pasti wanita yang baik sehingga bisa meluluhkan hati Bram,"
Mikaila hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu mertua suaminya itu.
Ibu Bram tengah sibuk di dapur menyiapkan makan siang buat mereka semua m
Mikaila melihat suasana rumah ini sangat berbeda saat pertama kali ia datang kesini,,
Ada banyak keluarga Inanti yang datang,ada ayah,ibu,kakak dan tantenya.
Bram mengajak Ibu Inanti ke kamar nya,saat masuk mertuanya itu kembali meneteskan air mata melihat barang barang almarhum anaknya masi tersimpan dengan sangat baik di kamar ini,ia bisa meresakan betapa besarnya cinta menantunya itu kepada putrinya.
"Bu,Bram ingin menyerahkan barang-barang Inanti kepada ibu,maaf Bram ga bisa menjaga anak ibu dengan baik."
"kamu ini bicara apa nak,kamu sudah memberikan kebahagiaan kepada anak ibu bahkan saat ia meninggalkan kita,semua sudah kehendak yang di atas kita harus ikhlas menerimanya."
Bram menyarahkan kunci rumah kepada ibu Inanti.
__ADS_1
"apa ini nak?"
"ini kunci rumah ini Bu,saya rasa ibu lebih berhak atas semua ini.Tolong di terima Bu,rumah ini atas nama Inanti."
"Makasih nak,ibu berharap hubungan kita masi seperti dulu,kama masi menganggap saya ibu kamu,"
"tentu saja Bu,ibu juga ga usah sungkan kepada Bram dulu saya adalah menantu ibu,sekarang anggap saya sebagai anak ibu ya,"
Ibu Inanti memeluk menantunya itu sangat erat,
"makasih nak,makasih atas semua yang telah kamu berikan kepada kami,"
"iya sama-sama Bu,"
Bram membawanya ke ruang ganti,dan membuka brangkas yang ada di sana.
"Bu kodenya adalah tanggal lahir Tasya,"
"ini apa nak?"
"ini semua perhiasan dan buku tabungan Inanti dan Tasya Bu,sebaiknya ibu saja yang menggunakannya."
"Inanti putri ibu,"ucapnya memegang perhiasan sambil kembali berurai air mata.
"Bu Bram berencana menyumbangkan barang-barang Tasya ke panti asuhan."
"iya nak itu lebih baik dari pada di simpan seperti ini."
Tok tok,
suara ketukan pintu kamar,Bram membuka pintu dan melihat istrinya di balik pintu itu.
"ada apa sayang,"tanyanya mengusap kepala Mikaila yang tertutup hijab.
"makan dulu mas,ibu sudah nyiapin makan siang."
Bram masuk kembali dan melihat mertuanya masi menagis sambil melihat-lihat barang milik mendiang putrinya.
"Bu kita kebawah makan dulu ya,"
ucap Bram mengusap bahu ibu mertuanya itu
"mas aku boleh ambil ini ga?"mengambil foto dimana disana ada gambar Bram Inanti dan Tasya.
Bram mengangguk dan mengecup kening Mikaila
"makasih ya,"
Mereka pun turun untuk makan bersama,suasana bahagia terpancar kembali di wajah mereka.
Bram tersenyum saat matanya melihat foto Inanti yang seolah sedang tersenyum kepadanya.
Mikaila juga mengambil beberapa mainan dan foto Tasya,dan memajangnya di ruang keluarga,termasuk foto Inanti bersama Bram.
Tak ada lagi rasa sakit hati saat menendang foto Bram dan Inanti,
Bram merasa senang dengan apa yang di lakukan istrinya itu,begitu juga dengan Bram saat melihat foto almarhum istri dan anaknya tak ada lagi rasa sakit dan penyesalan.
Ia sudah sangat mengikhlaskan kepergian mereka.
__ADS_1