
Pagi hari Raina dan Bram sudah terbangun,
Mikaila dan Gavin serta Kelvin sudah datang membawa makanan untuk mereka serta pakaian ganti.
Mikaila melihat Arya masih belum juga bangun,
"Mas Arya belum pernah sadar?" tanya Mikaila merasa khawatir melihat putranya.
"Tenanglah, semalam Arya sudah sadar, dan sekarang dia hanya sedang tertidur," ucap Bram .
"Raina, ayo sarapan dulu," panggil Bram.
Mikaila menarik Raina mendekati Bram dan makan bersama.
"Makan yang banyak, kamu pasti masih kelelahan," ucap Mikaila mengambil kan Raina makanan.
Raina makan bersama Papa Bram, perutnya memang terasa sangat lapar.
Mikaila menghampiri Arya yang masih tertidur pulas, semalam ia tak tidur. Arya terus memperhatikan Raina hingga Raina terbangun.
Saat Raina bangun Arya pura-pura menutup matanya namun ia keterusan dan tertidur.
Mikaila mengusap lembut rambut putranya "Sayang bangun ya, sarapan dulu," ucap Bunda Mikaila membangunkan Arya ,
"Bunda, lima menit lagi ." gumam Arya kembali menarik selimutnya.
"Kak, ini lagi di rumah sakit, bukan di rumah," ucap Gavin menarik kembali selimut Arya, mendengar gumaman kakaknya itu.
Mendengar ucapan Gavin, Arya teringat akan Raina, dengan cepat dia mendadak bangun dan duduk.
"Aawwww, sakit ," pekik Arya membuat semua yang ada di sana berlari menghampirinya.
"Pelan-pelan dong nak bangun, kamu itu lagi sakit," tegur Mikaila pada Arya.
"Sakit ya kak?!" tanya Raina memegang tangan Arya khawatir.
"Iya sakit, ini sakit ," ucap Arya memegang jantungnya, padahal yang tertembak adalah perutnya.
Semua menatap Arya dengan tatapan kesal dan kembali ke posisinya semula. Bram kembali makan dan Kelvin kembali duduk di sofa.
Awalnya Arya memang merasa sakit saat ia tiba-tiba duduk, ia lupa jika dirinya baru saja menjalani operasi, jahitan di perutnya terasa tertarik. Namun setelah Raina memegang tangannya jantungnya berdetak kencang sehingga ia memegang dadanya dan mengatakan jika di situlah sakitnya.
"Kak makan dulu ya, "ucap Raina mengambilkan makanan untuk Arya,
"Suapin ya," pinta Arya.
Raina mengangguk dan menyuapi Arya.
Mereka mengobrol, Arya terus bertanya apa saja yang Raina alami selama ini.
__ADS_1
Semua menyimak apa yang Raina ceritakan,
sesekali Raina mengusap air matanya yang jatuh saat menceritakan bagaimana dirinya ketakutan saat dibawa ke sebuah tempat di mana ia bertemu dengan Kak Jessica dan Natali .
Ia menceritakan bagaimana saat ia bertemu dengan orang suruhan Papa Bram, bagaimana Iya bisa sampai ke desa D.
Mikaila mendekati Raina mendengar nama desa yang diucapkannya yang seperti tak asing di telinga nya.
Mikaila kemudian menanyakan lokasi tepatnya dan ternyata selama ini Raina tinggal dekat dengan kampung halamannya.
"Benarkah Bunda itu adalah kampung halaman bunda?" tanya Raina yang juga mengenal nama kampung bunda Mikaila.
"Iya, kok bisa ya ibu ga tau kamu ada di sana, padahal Ibu sering ke kampung itu," Jawab Mikaila.
"Kami memang jarang berbaur dengan warga di sana, kami selalu ke kebun membantu kakek," jelas Raina,
"Kamu dan Natali berkebun?" tanya Gavin tak percaya .
"Iya, Kakek punya kebun mangga yang sangat luas dan beberapa kebun buah lainnya," jawab Raina.
Arya, Kelvin dan Gavin saling tatap. Walau tak mengeluarkan sepatah kata pun tapi mereka satu pikiran "Apakah Raina orang yang pernah pingsan karena lemparan Kelvin," itulah yang mereka pikirkan.
Arya dan Gavin melihat Kelvin pelaku pelemparan itu,
Kelvin menggaruk kepalanya, ia baru sadar gadis kecil yang dulu mengejar mereka dengan batu adalah Natali.
Raina juga ikut pulang bersama dengan keluarga Abraham, Raina merasa bersalah karena dirinyalah Arya bisa terluka.
Dengan sabar Raina merawat Arya, membuat mereka semakin akrab.
Sudah seminggu ini Raina tidak ke sekolah dan terus merawat Arya.
"Bunda sepertinya kak Arya sudah sehat, Raina izin pulang ya!" ucap Raina.
"Kok pulang sayang, kamu tinggal di sini aja ya sama bunda," bujuk Mikaila.
"Terima kasih bunda, Raina tinggal di kos-kosan aja, sudah seminggu aku ga ke sekolah, izinnya hanya seminggu bunda. Besok Raina harus ke sekolah," ucap Raina.
"Baiklah, kamu minta Kelvin aja mengantar kamu pulang." ucap bunda Mikaila.
"Iya bunda," jawab Raina.
"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa bilang sama Bunda ya, anggap Bunda ini adalah Bunda kamu sendiri, jangan pernah sungkan kan. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu, Bunda sangat ingin kamu tinggal bersama kami disini," ucap Mikaila penuh kasih sayang.
"Iya Bunda, Raina juga sayang bunda, Raina janji akan sering mampir ke sini," ucap Raina.
Kelvin mengantar Raina ke kos-kosannya.
"Makasih ya, masuk lah dulu," tawar Raina.
__ADS_1
"Aku langsung pulang aja, kalau ada apa-apa, kalau kau butuh bantuan kamu bisa hubungi aku," ucap Kelvin, ia bisa melihat dari balik jendela Natali sedang melihat mereka.
"Iya Kak, terima kasih ," jawab Raina.
"Raina, apa kamu masih marah dengan Natali?" tanya Kelvin.
"Enggak kak, Natali sudah seperti saudara kandung bagiku, Aku ngerti kok kenapa Natali melakukan semua itu. Aku yakin Natali sudah menyesali semua perbuatannya," ucap Raina . Sebenarnya saat Natali menemaninya saat dirinya sedang tidur, Raina bisa mendengar apa yang diucapkan Natali, namun Ia tetap menutup matanya Karena rasa ngantuknya sungguh menyerangnya, ia bahkan tak bisa membuka mata nya..
"Baiklah, masuk lah aku akan pulang dulu," ucap Kelvin menyalahkan motornya kemudian pergi dari sana.
Raina masuk ke dalam kos-kosan sederhana miliknya.
Natali tak berani menatap Raina, Sudah beberapa hari ini Raina terus nelpon Natali, Namun Natali tak pernah mengangkatnya.
Natali sungguh sangat malu kepada Raina.
"Natali kenapa kamu tak mau angkat telepon ku?" tanya Raina.
Natali hanya terdiam dan menunduk menautkan kedua jarinya.
"Natali, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, bisakah kita bersikap seperti dulu lagi,!" ucap Raina.
Natali mendongak melihat Raina, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. Natali memeluk Raina.
"Maafkan aku ya, karena aku kamu mengalami Semua ini, aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu. Kau boleh menghukumku. Aku memang orang yang jahat," ucap Natali menangis sesegukan.
"Aku sudah memaafkanmu Natali. Sudahlah, semua sudah berlalu aku sudah tidak apa-apa, kak Arya juga sudah sehat. Aku harap semua ini takkan pernah terjadi lagi ," ucap Raina juga memeluk Natali.
Sementara Anes terus mengamuk di kamarnya. "Ayah, ibu keluar kan Anes dari sini, aku ingin ketemu kak Arya. Kak Arya adalah milikku." teriak Anes.
Anes terus berteriak dan sesekali tertawa.
Ibu Anes menangis melihat putrinya, putri satu-satunya yang sangat ia sayangi kini divonis dokter mengalami gangguan jiwa.
"Ayah bagaimana ini, bagaimana dengan anak kita ?! Apa yang harus kita lakukan?" tangis Ibu Anes.
"Kita tidak bisa melakukan apa-apa Bu, serahkan saja semua pada dokter. Semoga anak kita cepat sembuh." ucap Ayah Anes yang juga kasihan melihat putrinya.
"kak Arya lepasin Anes, kak Arya," Anes terus memanggil-manggil nama Arya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya dengan belikan like, vote dan komennya .
Terima kasih,
Author m anha ❤️😘😘
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1