Pilihan Ku

Pilihan Ku
Penyesalan


__ADS_3

David membuka matanya saat sinar matahari pagi menerpan wajahnya dari balik tirai jendela kamar nya.


"aww,,ssss"memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


Ia menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur, memijat kepalanya mencoba mengurangi rasa sakit yang dirasakannya.


David sedikit bingung sangat mendapati dirinya tak mengenakan pakaian,ia duduk di pinggiran kasur dan terus memijat kepalanya.


Saat hendak ke kamar mandi ia menarik asal selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya.


"apa ini"ucapnya saat melihat bercak berwarna merah di seprainya.


Sesaat ia tak menghiraukannya,dan kembali memijat kepalanya.


"Bela" ucap saat ingatan apa yang telah terjadi,


"apa ini milik bela,"melihat kembali bercak merah di seprainya.


"Ahggg,Apa yang telah aku lakukan,"menarik rambutnya meluapkan kekesalan pada dirinya sendiri.


David segara masuk ke kamar mandi, menyalakan shower,membersihkan dirinya.


ia merasa perih di bagian bahunya saat air membasahi tubuhnya.


David melihat dari pantulan cermin apa yang menyebabkan bahunya terasa sangat perih.


David meninju dinding kamar mandi saat kembali mengingat bagaimana ia bisa mendapatkan luka di bahunya itu.


Bayangan tangis Arabela saat itu terus terbayang.Ia bergegas memakai pakaian nya dan menuju ke rumah Arabela.


David memukul stir mobilnya terus memaki dirinya sendiri.


"kenapa aku harus meminum nya lagi,"ucapnya frustasi.


David sampai di kediaman Wijaya dan melihat ayah dan ibu Arabela hendak ke luar.


"pagi Tante,"sapanya.


"pagi nak,mau ketemu Bela?"


"iya Tante, Bela nya ada?"


"ada di dalam,dia masih di kamarnya.Tante mau ke rumah sakit masuk aja ada si bibi ko didalam."ucap ibu Bram ramah.


"kami berangkat dulu nak,"ucap ayah Arabela.


"iya om, hati-hati dijalan,"


Mereka meninggalkan rumah dan David langsung masuk,meminta bantuan bibi memanggil Arabela.


David dengan gelisa menunggu Arabela di ruang tamu.


"maaf den,non Bela ga mau ketemu Aden katanya."ucap bibi menghampiri David.


"bi boleh saya panggil sendiri ke kamarnya?"


"iya silahkan den,"


David menaiki anak tangga menuju ke kamar Arabela.Ia mengetuk pintu kamar Arabela.


"sayang,ini aku.bisa bicara sebentar?"ucap David dari balik pintu.


Tak ada jawaban.

__ADS_1


"aku tau kamu pasti marah sama aku kan,aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya,"


terdengar suara benda yang di lempar ke arah pintu.


"sayang maafin aku ya,aku sedang mabuk saat itu,"


Tak ada jawaban.


David terus mengetuk pintu dan meminta maaf.Namun Arabela tetap tak membuka pintu.


David bersandar pada dinding kamar Arabela, membentur-benturkan kepalanya.


"Bela,keluar dulu sayang."


David terus berdiri di sana sampai ia mendengar suara mobil orang tua Arabela kembali dari rumah sakit.


"sayang,aku pulang dulu ya,"


Tetap tak ada jawaban.


David perlahan menjauh dari pintu kamar Arabela.


Arabela terduduk di lantai di balik pintu saat mendengar langkah kaki David menjauh.


David kembali ke apartemen nya, mencoba menelfon Arabela.


David mendengar suara dering ponsel dari arah Sofi dan mengikuti sumber suara itu.


David kembali meneriaki kebodohannya saat melihat tas Arabela ada di atas sofa.,ia juga melihat tempat ia menghabiskan waktu sambil meminum alkohol sudah di rapikan oleh Arabela.


David sangat frustrasi di buatnya,ia baru saja kehilangan ibunya,dan kini ia harus menerima kenyataan kalau wanita yang di cintai juga membencinya.


David membuang semua Minuman yang ada di rumahnya,


"aku tak membutuhkan ini,seharusnya sejak lama harus ku singkirkan ini semua."


Pekerjaan David di kantor juga menjadi terbengkalai, Bram mengerti jika David sedang berduka,jadi ia hanya menegurnya saja.


Ibu Arabela mulai cemas melihat Arabela yang mengurung diri di kamar,ia hanya keluar untuk makan saja,,sudah hampir sebulan lamanya keadaanya seperti ini.David juga selalu mencoba bertemu Arabela.


"halo Bram,"ucap ibu di balik telfon.


"iya Bu ada apa?"


"sepertinya David dan Arabela sedang ada masalah,coba kamu tanyakan ke David ada masalah apa.ibu sudah bicara dengan Bela tapi ia hanya diam saja."


"iya Bu, besok di kantor Bram coba bicara dengan David.


Bram memanggil David ke ruangannya.


"kamu lagi ada masalah dengan Bela?"tanya Bram langsung pada intinya.


"iya pak,"


"masalah apa?"tanya Bram lagi.


David hanya terdiam, mana mungkin ia mengatakan kalau ia telah melecehkan adiknya.


"apapun masalah kalian sebaiknya cepat di selesaikan,ibu mencemaskan keadaan Arabela,"


"iya pak,"jawab David singkat.


"kamu kembali bekerja,fokus pada pekerjaanmu."

__ADS_1


David meninggalkan ruangan Bram.


Ayah mengajak Arabela untuk menemaninya di taman belakang,awalnya ia menolak namun ayah sedikit memaksanya.


Ayah dan Arabela duduk di bangku taman belakang kediamannya.


Arabela duduk bersandar sambil memeluk boneka beruang yang berukuran besar kesayangannya.


Ayah duduk di hadapannya sambil membaca koran dan meminum kopi.


"kamu kenapa?"tanya ayah.


Arabela menggeleng.


"ada masalah dengan David?"


Arabela terdiam.


"kalau ada masalah sebaiknya di bicarakan,jangan selalu menghindarinya."


David datang menghampiri mereka,


"Kalian bicaralah, selesaikan masalah kalian.Ayah masuk dulu."ucap ayah meninggalkan mereka berdua.


"Bela maafin aku ya,aku benar-benar dalam keadaan mabuk saat itu."ucap David mencoba menggenggam tangan Arabela.


Arabela menarik tangannya, menenggelamkan wajahnya pada boneka yang sedari tadi ada di pelukannya.


"sayang maafin aku ya, aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan."David berlutut di hadapan Arabela.


Arabela kembali menagis dan terus memeluk bonekanya.


"sayang,"kamu jangan nangis lagi ya,"ucap David.


"kita putus,aku ga mau lihat kamu lagi,"ucap Arabela dan berlari meninggalkan David yang mematung mendengar kata putus dari Arabela.


David terduduk lemas di atas rumput,mengusap wajah kasar.Lama ia duduk di sana menatap ke arah jendela kamar,mencoba untuk bersabar.David sadar kesalahannya menang sangat fatal dan sangat sulit untuk di maafkan.


David kembali ke apartemen,duduk di pinggiran kasur menatap foto dirinya bersama Arabela saat berada di Bali,kenangan indah yang ia lalui bersama Arabela terus terlintas di pikirannya,hingga ia merasa lelah dan tertidur.


David setiap hari mengirim kata maaf kepada Arabela berharap bisa mendapat maaf dari wanita yang sangat di cintai.Namun tak satupun pesannya yang di balas.


Mikaila selalu mengajak anak-anaknya berkunjung ke rumah besar saat Bram ke kantor,selain atas permintaan mertuanya yang ingin bermain dengan cucunya juga untuk menghibur Arabela.


Mikaila dan Isabela juga selalu menghiburnya walau melalui chat di grup mereka.


Isabela yang super kepo selalu menanyakan penyebab putusnya hubungan mereka setiap ada kesempatan,baik melalui chat atau saat bertemu langsung.


Arabela hanya diam menanggapi pertanyaan dari keponakannya itu.


Pagi hari Arabela merasa sangat mual dan ingin muntah,ia berlari ke kamar mandi namun tak ada yang ia muntah kan.


Arabela mencuci wajahnya yang terlihat pucat,kepalanya seolah berputar.


Dengan susah payah ia berjalan ke kasurnya dan merebahkan dirinya.


Arabela mengambil ponselnya dan melihat jadwal menstruasinya.


"ga mungkin,pasti aku hanya telat bisa."ia melihat jadwal menstruasinya sudah sangat terlambat.


Arabela memegangi perutnya.


Bersambung.

__ADS_1


terima kasih Sudah mampir,


jangan lupa like dan komennya ya 🙏💗🙏


__ADS_2