Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Penyelamatan Raina.


__ADS_3

Anes melihat ponselnya, begitu banyak panggilan dari kedua orangtuanya.


"Mengapa Ayah dan ibu terus menghubungiku," batin Anes meninggalkan Raina di ruangan itu.


Anes menelpon ibunya,


"Halo Bu...! ada apa?" tanya Anes,


"Anes Kamu di mana?" tanya ibunya,


"Aku ada di vila Bu, emangnya ada apa?" tanya Anes.


"Kamu sama siapa disana ?! jangan bilang kamu lagi buat masalah Anas!?" bentak ibunya.


"Maksud ibu apa sih ?! Aku nggak ngerti," jawab Anes pura-pura tak mengerti maksud ibunya.


"Tadi keluarga Abraham datang ke rumah dan sekarang mereka sedang menuju ke sana," ucap ibu Anes.


"Apa...?" panik Anes, " mengapa ibu memberitahu mereka kalau Anes ada disini," geram Anes .


"Ibu tidak memberitahunya, mereka melacak dari ponselmu. Cepat pergi dari sana, sebentar lagi mereka akan sampai di sana," tegas ibu Anes.


Anes langsung menutup teleponnya dan kembali ke kamar tempat ia mengurung Raina.


"Cepat ikat dia kita harus pergi dari sini, sepertinya tempat ini sudah tidak aman untuk kita," perintahan Anes pada para anak buahnya.


Anes sadar akan tindakannya yang berbahaya, sehingga ia membayar beberapa orang preman untuk melancarkan aksinya.


Mereka mengikat Raina, belum juga sempat mereka turun terdengar kegaduhan di bawah sana.


"Sial, sepertinya mereka sudah sampai," ucap Anes mengintip dari balik pintu. Terlihat beberapa orang yang bukan orang bayarannya.


Anes mengepal tangannya saat melihat Arya juga ada diantara mereka.


"Anes di mana kamu!" teriak Arya,


Anes mengunci pintu kamar itu dan beberapa anak buahnya juga sudah bersiap-siap di kamar yang sama.


Disaat anak buah Alex melumpuhkan beberapa preman itu, Bram dan Kelvin memeriksa semua ruangan yang ada di sana, Arya naik ke lantai atas dan memeriksa semua kamar, salah satu kamar tersebut terkunci,


"Raina apa kamu di dalam?!" teriak Arya menggedor-gedor pintu tersebut,


"Anes buka pintunya," teriak Arya mencoba mendobrak pintu itu,


Bram yang melihat putranya sepertinya menemukan keberadaan Raina menghampirinya dan ikut membantu mendobrak pintu itu.


Alex dan Kelvin juga berlari naik melihat mereka sedang mendobrak pintu.


Pintu terbuka, Arya bisa melihat Raina, Anes dan beberapa orang Preman yang ada di dalam.


Para preman itu langsung menyerang mereka.


Perkelahian pun terjadi, Kelvin dan Alex ikut membantu, membuat mereka dengan mudah mengalahkan para preman itu.


Sadar akan posisi nya saat ini, Anes mengambil botol dan memecahkannya, ia mengancam Raina..


"Jangan mendekat, aku akan melukai Raina," ancam Anes mengarahkan pecahan tersebut ke wajah Raina. Raina hanya bisa menangis. Mulutnya disekap kedua tangannya diikat.

__ADS_1


Anes lepaskan Raina," geram Arya.


"Tidak, aku tak akan melepaskannya," teriakan Anes.


"Anes kau benar-benar sudah tak waras," bentak Arya.


Anas tertawa dan semakin mendekatkan pecahan itu ke wajah Raina, wajah Raina sudah ada goresan dan mengeluarkan cairan merah yang menetes di pipinya.


"Anes lepaskan Raina, jangan buat dirimu dalam masalah besar. Kau tahu sendiri apa yang bisa aku lakukan kepada kamu dan keluargamu ," ancam Bram menatap tajam pada Anes.


Anes yang tahu seperti apa kekuatan dari seorang Abraham membuat nyalinya menciut.


"Aku akan melepaskan Raina, tapi biarkan aku pergi dari sini," tawarannya.


Para preman yang ada di sana tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya memegang pisau Sedangkan para anggota Alex memegang senjata.


"Baiklah kami akan membebaskan mu," ucap Bram.


Mereka menyingkir dari pintu, membiarkan Anes berjalan keluar sambil terus menarik Raina sebagai pelindungnya.


Raina hanya bisa menatap mereka dengan tatapan memohon ia benar-benar takut, pipinya terasa perih karena sayatan pecahan tersebut, air matanya terus mengalir.


Anes sedikit kesulitan menuruni tangga sambil menyeret Raina.


Mereka ikut turun mengikuti Anes .


"Anes lupa kalau di bawah sana masih ada beberapa anak buah Alex, dengan kecekatan mereka, anak buah Alex berhasil memegang tangan Anes dan membebaskan Raina.


Melihat Raina sudah aman, Arya turun menghampiri Raina melepaskan ikatan tangan dan ikatan di mulut Raina.


Arya bisa merasakan tubuh Raina yang bergetar karena ketakutan, Arya mendekap erat tubuh Raina berusaha menenangkannya.


Bram menghampirinya dan mengusap kepala Raina, "Tenanglah, kau sudah aman sekarang." ucap Bram.


Walau merasa sudah aman tapi Raina tidak bisa menghentikan tangisnya, ia terus menangis di pelukan Arya.


Anes terus meronta, ia berusaha melepaskan diri dari pegangan Alex.


Namun cengkraman itu begitu kuat, ia kemudian menggigit tangan Alex membuat Alex melonggarkan genggamannya dan Anes berhasil melepaskan diri. Anes mengambil senjata yang ada di pinggang Alex mengarahkannya ke arah Raina.


Melihat hal itu, Arya memasang badan melindungi Raina begitu juga dengan Bram yang pemasangan badan untuk kedua nya.


"Letakkan senjata itu, jangan main-main dengan senjata itu Anes," tegas Bram


"Kak Arya kamu adalah milikku, aku nggak akan membiarkan siapapun merebut mu dariku," ucap Anes tersenyum sinis.


Kedua orang tua Anas tiba di vila dan melihat kekacauan yang di buat oleh anak mereka.


Ibu Anes menjerit saat melihat anaknya memegang senjata dan menodongkan Nya kepada Bram dan putranya.


"Anes jangan macam-macam nak, lepaskan senjata itu ya, ayo kita pulang. Ibu akan melindungi mu, Ibu sangat menyayangimu," bujuk ibu Anes.


"Enggak Bu, kak Arya itu punya Anes, enggak akan Anes biarkan siapapun merebutnya dari Anes," ucapnya terus menodongkan senjatanya ke arah Bram dan Arya, lebih tepatnya ke arah Raina.


"Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik ," bujuk Ayah Anes pada putri tunggalnya.


"Enggak, ayah hanya janji-janji saja untuk menyatukan ku dengan kak Arya.," sanggah Anes.

__ADS_1


"Anes ayah bilang letakkan sejarah itu," bentak Ayah Anes yang sudah sangat geram melihat tingkah anaknya.


"Aneh tak bergeming, ia tak mengindahkan ucapan kedua orang tuanya.


Alex berjalan mendekati Anes.


"berikan senjata itu,"


"Enggak Jangan mendekat," ucap Anes semakin mundur namun Alex tetap maju mendekatinya.


Membuat Anes semakin panik dan


"Dooor," 1 tembakan keluar dari senjata yang dipegang oleh Anas, semua tersentak dan membungkuk melindungi kepala mereka.


Mereka memeriksa siapa yang terluka.


"Kak Arya ," pekik Raina saat melihat darah di telapak tangan Arya ,


"Arya ," teriak Bram menghampiri putranya.


Anes menjatuhkan senjatanya saat melihat Arya terkulai di lantai.


"Alex urus semuanya," perintah Bram segera membawa Arya ke rumah sakit.


Kelvin membawa mobil sedangkan Bram terus menekan luka putranya, Raina hanya bisa menangis melihat kondisi Arya.


"Hay..., tenanglah aku tak apa-apa ," lirih Arya, ia berusaha untuk tetap tenang melihat kepanikan mereka.


"Jangan banyak bicara, kau terlalu banyak mengeluarkan darah," tegur Bram.


Kelvin menelepon Bundanya jika mereka akan segera tiba di rumah sakit, ia tak memberitahu jika yang terluka adalah kakaknya. Kelvin tak ingin membuat Bundanya cemas.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Ye, ye, Akhirnya Arya bertemu dengan Raina. Maaf ya, pertemuan mereka tak seindah dan romantis yang kalian bayangkan.🙏❤️


kalau kalian suka dengan bab ini beri


👉 Like


👉 Vote


👉Hadiah


👉komen


👉 Favorit kan ya.


Semua yang kalian berikan sangat berpengaruh pada tingkat LEVEL novel ini,, Sekarang Novel kesayangan kita ini berada di level 9 Alhamdulillah.


sama-sama saling dukung ya kakak, agar levelnya terus naik dan bukannya malah turun 🥺 Selain dari ALUR CERITA, dukungan kalian juga sangat berpengaruh.


Caranya ga susah kok kakak, tinggal kalian klik yang di atas (👉)🙏 ga cukup 1 menit kan☺️


Aku 4 jam lho Kak buat 1 bab nya demi kalian🥺🥺🥺.


Salam dariku Author m anha❤️❤️❤️🥺

__ADS_1


__ADS_2