
Dimas berjalan memasuki kantor dengan lesu. Berbeda dari pengantin baru biasanya yang terlihat ceria di pagi hari,Dimas justru terlihat sangat berantakan.
"Dimas ,"panggil David.
"Pagi Pak," ucap Dimas,karena memang jabatan David lebih tinggi darinya.
"Aku pikir kamu masih cuti,"ucap David.
"Cuti atau enggak sama aja Pak,"jawab Dimas."Sama-sama pusing."
"Pusing, kok pusing,"tanya David .
"Pusing nahan Pak,"ucap Dimas menekan tombol lift.
"Nahan apa maksud kamu?"tanya David.
Dimas hanya terdiam dan berjalan ke ruangannya begitu pintu lift terbuka,sesekali ia memijat memijat tengkuknya .
Ingatannya masih sangat jelas bagaimana semalam iya tidur bersama Yoga ayah mertuanya .
Dimas merasa senang saat sudah kembali ke Apartemennya bersama istrinya namun tiba-tiba suara bel Apartemennya berbunyi.
Dimas berjalan menuju pintu Apartemennya, senyum tak lepas dari wajahnya, namun saat membuka pintu ia melihat Yoga, Arandita dan Gibran berdiri dengan tas di tangan Yoga.
"Masuk pah, mah,"ucap Dimas sedikit gugup, belum terbiasa memanggil Papa dan Mama kepada mertuanya.
"Mama nggak ganggu kan Dimas,? tanya Aran.
"Enggak kok mah,"ucap Dimas.
"Papa,,"ucap Ayasa memeluk papanya."Mama.."sama Ayasa kepada mamanya.
"Hai Kak,"sapa Gibran kepada kakaknya.
"Hay ,adik Kakak yang ganteng."balas menyapa adiknya.
"Papa dan mama sudah makan ,?"tanya Ayasa yang baru selesai masak.
"Belum, kamu sudah masak,?" tanya Arandita.
"Sudah mah,tapi lauknya cuman sedikit."jawab Ayasa.
"Ga apa-apa, kita bagi-bagi aja."acap Arandita berjalan ke dapur ikut membantu menyiapkan makan malam mereka.
Mereka pun makan bersama, Dimas makan sambil sesekali melihat Yoga yang terlihat serius.
"Mau ngapain mereka semua ke sini ,bawa barang segala lagi,"batin Dimas melihat tas besar yang ada di ruang tamu.
"Itu kok ada tas ?tanya Ayasa.
"Itu barang-barang mama sama papa sama adek kamu, kami rencananya akan tinggal beberapa hari di sini," ucap Aran.
__ADS_1
Dimas langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Ibu mertuanya itu.
"Tinggal di sini mah,di Apartemen ini?"tanya Dimas .
"Emangnya kenapa, kamu keberatan,? tanya Yoga yang sejak tadi diam.
"Enggak ko pak, nggak apa-apa."jawab Dimas cepat.
"Terus kenapa kamu tadi nanya?"tanya Yoga.
"cuma Apartemen Dimas sempit," jawab Dimas mencari alasan.
"Ya sudah, Ayasa kemasi barang-barang kalian."ucap Yoga.
"Loh maksudnya?" tanya Dimas .
"Jangan banyak tanya, kemasi barang-barang kalian berdua," ucap Yoga berdiri meninggalkan meja makan karena Ia memang sudah selesai makan malam.
Dimas mengikuti Yoga,"Pak maksudnya apa, mengemasi barang-barang kami?"tanya Dimas.
"Bukannya kamu bilang Apartemen kamu sempit untuk kami, ya sudah kamu saja yang pindah ke rumah kami,"ucap Yoga."Dengan adanya kamu tak akan membuat ruangan di rumah kami menjadi sempit.
"Tapi,"
"Ga ada tapi, ayo cepat kemasi barang-barang kamu ,ini sudah malam anak saya pasti kelelahan karena acara kemarin."ucap Yoga tak ingin di bantah.
Dimas tidak bergerak dari tempatnya,
"Iya pak,"ucap Dimas langsung berjalan ke kamar nya.
Dimas kemudian ke kamarnya dan melihat Ayasa memasukkan beberapa bajunya ke dalam tas, "Kak Dimas nggak apa-apa kan kita untuk sementara tinggal di rumah Papa?" tanya Ayasa.
"Iya nggak apa-apa kok sayang," ucap Dimas tersenyum menjawab pertanyaan istrinya walau dalam hatinya mengumpat ayah mertuanya itu.
Mereka pun menginap di rumah orang tua Ayasa.
Dimas menatap langit-langit kamar dan menetap seseorang yang tidur di sampingnya,
" Malang banget sih nasibku, malam pertama gagal, Malam kedua tidur sama mertua," batin Dimas melihat yoga yang tertidur pulas di samping nya,sementara Ayasa tidur bersama mamanya.
Di kantor.
Hari ini diadakan rapat dengan parah investor,Dimas juga ikut di dalam rapat tersebut. Selama rapat Dimas hanya diam sambil memainkan pulpen di jarinya,Bram sekali melihat raut wajah Dimas yang terlihat sangat lesu.
Rapat selesai semua keluar ruangan kecuali Bram dan Dimas.
"Dimas kamu kenapa ?"tanya Bram.
"Entahlah, aku udah nikah kayak belum nikah,"ucap Dimas.
" Maksud kamu apa sih Dimas?" tanya Bram duduk di meja di dekat Dimas yang masih duduk di tempatnya .
__ADS_1
"Tebak semalam aku tidur sama siapa ?"Tanya Dimas.
"Istri kamu lah,"ucap Bram melipat tangannya di dada.
" Salah,"ucap Dimas.
"Terus kalau bukan sama istri kamu, kamu tidur sama siapa?" tanya Bram.
"Tuuu,,"tunjuk Dimas pada Yoga dengan matanya saat Yoga berjalan melewati ruang rapat.
Bram tertawa terbahak-bahak."Dimas Dimas aku pikir kamu sudah membuat cucu buat aku,"Bram kembali tertawa menepuk pundak Dimas dan keluar dari ruang rapat.
Sepulang kantor bram manggil Dimas ke ruangannya.
Tok tok tok ,masuk Bram mempersilahkan Dimas masuk.
"Ada apa,? tanya Dimas duduk di depan Bram.Bram memberikan kan sebuah amplop. "Apa ini,?"Tanya Dimas mengambil amplop dan membukanya,
"Itu untukmu ,"ucapkan Bram.
Dimas melihat kartu unlimited.
"Aku sudah mempersiapkan segalanya di sana, kalian tinggal pergi saja menggunakan pesawat jet pribadi ku.Kartu itu kau bisa menggunakannya, pakailah sesukamu,"ucap Bram.
"Serius..?tanya Dimas dengan wajah yang berubah drastis dari murung menjadi terlihat berseri-seri.
"Aku akan bicara dengan bersama Yoga,mungkin dia masih tidak rela melepaskan Putri kesayangannya untukmu .
Terima kasih ya Juna, kamu memang yang terbaik!"ucap Dimas.
Bram sudah menganggap Dimas seperti adiknya sendiri, tinggal bersama Dimas selama beberapa bulan sungguh sangat berbekas di hatinya Bram, Dikala ia tidak punya siapa-siapa Dimas selalu ada untuknya.Kartu itu bukanlah apa-apa untuk Bram.
Akhirnya Dimas bisa pergi berdua dengan Ayasa istrinya,mereka menghabiskan waktu berdua. Dimas benar-benar merasa bahagia saat memiliki ayah seutuhnya.
Yoga mengizinkan Dimas membawa Ayasa untuk berbulan madu dengan syarat setelah pulang Dimas akan tinggal bersama mereka dan Dimas pun menyetujuinya.
Beberapa bulan kemudian Ayasa dinyatakan positif hamil, membuat Yoga semakin posesif kepada anaknya. Di awal kehamilan,Yoga tak membiarkan anaknya itu tidur bersama Dimas dengan alasan kandungan Ayasa masih rawan keguguran,mereka pisah kamar hingga dokter mengatakan jika kandungan Ayasa benar-benar sudah kuat .
Usia kandungan Ayasa sudah memasuki 7 bulan Tapi tetap saja iya masih merasa pusing mual dan ngidam ingin makan ini dan itu.Selama ini Dimas dan Yoga memberikan apa saja yang Ayasa inginkan,walau harus keluar kota di saat tengah malam.
Malam ini Ayasa sangat ingin makan semur jengkol, makanan yang tak pernah ia makan sekalipun. Dimas yang mendengar istrinya ingin makan semur jengkol langsung pergi membeli ke tempat langganannya.
Menu makan malam mereka malam ini adalah semur jengkol, Ayasa tak ingin ada makanan lain di atas meja makan.
Ayasa makan dengan lahap begitu juga Dimas, berbeda dengan Yoga, Arandita dan Gibran. Mereka hanya saling pandang dan mengaduk-aduk semur jengkol yang ada di piring mereka. Gibran mencicipi sedikit, "Rasanya enak juga," ucap Gibran ikut memakan itu dengan lahap.
🙏🙏🙏💖🙏💖💖🙏💖🙏🙏🙏
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa berikan like dan komen sebanyak-banyaknya ya dan jangan lupa mampir ke karya
"My Papa My Boss" oke ditunggu ya
__ADS_1
Salam dari,, author m anha 💖