Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Mencoba Bangkit


__ADS_3

Malam ini Bram terus membujuk Mikaila, meyakinkannya jika kondisinya baik-baik saja namun Mikaila tetap menangis, hatinya terasa sangat sakit. Ia sudah pernah merasakan bagaimana saat ia mendengar berita jika Bram sudah meninggal, membayangkannya saja sudah membuat hatinya hancur. Ia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Sayang tenanglah, jika kau seperti ini kau juga akan ikut sakit. Mas tidak apa-apa, mas baik-baik saja. Sekarang di tangan Arya Perusahaan sudah kembali stabil. Arya dan Kelvin sudah bisa menyesuaikan diri dengan semua pekerjaan mas selama ini, sayang mas janji akan mengurangi pekerjaan mas. Mas hanya akan mengontrol pekerjaan mereka, tolong izinkan Mas untuk tetap membantu mereka ya," bujuk Bram.


"Tapi bagaimana dengan keadaan Mas, Bagaimana dengan kondisi Mas ?! bagaimana jika kondisi mas kembali memburuk," ucap Mikaila yang sudah sesegukan.


"Percaya sama Mas, kedepannya Mas akan lebih memperhatikan kesehatan mas lagi ya, percaya sama Mas dan anak-anak ya. Kami ga akan buat kamu bersedih, kami akan selalu menjaga dan membuat mu bahagia."


Mikaila menatap dalam mata Bram,


"Tapi aku takut mas,"


"Percaya sama Mas, mas akan baik-baik saja," ucap Bram mengelus-ngelus wajah cantik Istrinya yang tak lekang dimakan usia, ia masih cantik sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.


"Cup," Bram mengecup singkat bibir Mikaila dan mengangguk, meminta agar istrinya itu percaya padanya.


Mikaila mengangguk,


"Makasih sayang," Bram membawa Mikaila ke pelukannya.


Mikaila akhirnya memutuskan untuk mengizinkan Bram kembali berkantor, membantu anak-anak dengan catatan ia harus terus menjaga kesehatannya dan hanya mengontrol mereka saja.


"Jika kesehatan mas terus menurun, Mas janji ya nggak akan kerja lagi, ga akan ngumpet-ngumpet lagi ?!" ucap Mikaila menghapus air matanya.


"Iya sayang, Mas janji akan nurutin semua perkataan kamu," ucap Bram.


Mereka terus berbincang-bincang hingga pagi.


"Sebentar lagi anak-anak akan berangkat ke sekolah, sebaiknya kamu mandi dulu ya. Anak-anak pasti khawatir melihat wajah sembab mu," ucap Bram merapikan rambut Mikaila yang berantakan.


Mikaila mengangguk dan terus berusaha menghapus air matanya yang tak berhenti menetes.


"Mau mandi bareng ?" goda Bram ikut membantu menghapus airmata istrinya itu.


"Tapi janji ya mas, hanya mandi," ucap Mikaila cemberut,


"Kita lihat saja nanti, Mas gak bisa janji ," ucap Bram berdiri mengambil handuk untuk mereka berdua.


"Ini sudah pagi mas, anak-anak juga mau berangkat sekolah," protes Mikaila,


"Mereka sudah besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, mas juga ingin di bersamamu."


"Emang Mas masih kuat, Mas kan lagi sakit," ucap Mikaila.


Bram menunduk,


"Kamu mau berapa ronde," bisik Bram yang membuat Mikaila memukul dada Bram mendengar bisikan suaminya itu.


"Awww, sayang sakit" Keluh Bram mengusap dadanya.

__ADS_1


"Tuh kan, belum ada rodanya aja udah sakit," ucap Mikaila dengan cepat mengelus dada suaminya yang tadi tak sengaja ia pukul.


Bram tertawa,


"Kalau yang satu itu walau sakit Mas masih sanggup, kamu mau sampai berapa ronde juga mas sanggup," ucap Bram menggendong Mikaila masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas aku bisa jalan sendiri, nanti mas tambah sakit," pekik Mikaila namun Bram tak menghiraukannya, Ia terus mengangkat Mikaila ke kamar mandi. Mereka menutup drama perdebatan air mata dengan drama romantis di pagi hari.


Karena terlalu lama menghabiskan waktu di kamar mandi, ke-4 anak-anak mereka sudah berangkat kesekolah saat mereka keluar kamar.


"Bi anak-anak mana?" tanya Mikaila yang melihat mba Lala membereskan meja makan,


"Mereka sudah berangkat Bu," jawab mba Lala.


"Oyah," ucap Mikaila melihat jam yang ada di dinding ruang makan tersebut,


"Astaga, ini sudah jam 8," batin Mikaila yang mengira sekarang belum jam 7," berarti berapa jam kami di kamar mandi," gumam Mikaila malu sendiri mengingat kelakuannya.


Arsy ikut dengan Arya kesekolah, sedangkan Kelvin dan Gavin juga sudah berangkat ke sekolah, mereka sudah mendekati masa-masa ujian akhir sekolah membuat pikiran mereka menjadi terbagi antara perusahaan dan sekolah.


Beruntung Arya sudah menguasai dan mampu membantu pekerjaan mereka di sela-sela pekerjaannya di Wijaya group.


Setelah sarapan Bram dan Mikaila kembali tertidur, semalam mereka tak tidur dan pagi tadi mereka juga melakukan kegiatan yang menguras tenaga.


Tak lama kemudian ponsel Bram berdering, Mikaila mengambilnya dan melihat nama Alex tertera di sana, Mikaila tau kalau Alex adalah orang kepercayaan Bram dan bisa di pastikan setiap panggilannya pasti hal yang penting.


"Siapa ?" tanya Bram dengan mata yang masih tertutup,


"Dari Alex mas," ucap Mikaila.


Bram langsung membuka mata,dan mengambil ponselnya yang ada di tangan Mikaila. Mengangkat telepon dari orang kepercayaannya itu,


"Halo Alex, ada apa ?" tanya Bram.


"Aku sudah menemukan Jessica dan sekarang ia sudah ada bersamaku," jawab Alex ,


"Benarkah, Bawa ia menemui ku," perintah Bram,


"Maaf pak, seperti tidak untuk saat ini, ada sedikit masalah dengan nya. Aku akan membereskan nya terlebih dulu dan membawanya kepada anda Pak," jawab Alex.


"Baiklah bereskan lah semua masalah yang menyangkut dengannya, Aku percayakan semua urusannya padamu," ucap Bram.


"Baik pak, aku akan secepatnya menyelesaikan masalah ini dan membawanya ke hadapan anda." ucap Alex menutup teleponnya.


"Siapa Mas ?!" tanya Mikaila penasaran, samar ia mendengar nama Jessica .


"Jessica, Alex sudah menemukannya,"


"Jessica, siapa Jessica?" tanya Mikaila lagi , merasa tak asing dengan nama tersebut.

__ADS_1


"Jessica adalah kakaknya Natali, orang yang sudah merawat dan menyelamatkan Raina dari para penjahat yang mengadopsinya." jelas Bram.


"Terus kapan Alex membawanya ke sini?"


"Masih ada sesuatu yang harus di selesaikan Alex, kita tunggu saja kabar selanjutnya," ucap Bram kembali memeluk istrinya dan kembali tertidur.


Bram benar-benar menepati janjinya, ia tak lagi bekerja saat malam hari dan hanya datang ke kantor saat hari Senin saja, itupun ditemani oleh Mikaila.


Hari terus berganti, kondisi Bram sudah mulai kembali pulih, Arya juga sudah bisa menghandle perusahaan. Sedangkan Kelvin dan Gavin serta Raina dan Natali telah menyelesaikan ujian terakhir mereka.


Kediaman Abraham Wijaya


"Kalian ingin melanjutkan pendidikan di mana?" tanya Bram kepada Kelvin dan Gavin.


"Aku ingin melanjutkan di sini saja Pah" ucap Gavin.


"Bagaimana dengan kamu Kelvin?"


"Aku juga ingin di sini saja Pah, aku ingin kuliah sambil bekerja di perusahaan," jawab Kelvin.


"Sebenarnya Papa ingin kamu kuliah di luar negeri, dan mengurus perusahaan di sana," ucap Bram kepada Kelvin.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan di sini?"


"Papa rasa Gavin sudah bisa menghandle nya, iya kan Gavin,?!" tanya Bram melihat ke arah Gavin yang sedang makan.


Gavin hanya menggaruk kepalanya dan mengangguk ragu.


"Iya Pah, akan Gavin usahakan, lagian kak Arya juga bisa membantu begitu juga dengan papa kan," ucap Gavin memasang senyum terbaiknya.


"Baiklah kalau itu yang Papa inginkan, Kelvin akan kuliah di luar negeri dan mencoba mengembangkan bisnis Papa di sana," jawab kelvin.


"Bagaimana dengan Raina dan Natali ?!, apa mereka sudah memilih fakultas mana tempat mereka melanjutkan kuliah?" tanya Mikaila,


"Natali akan kuliah di tempat yang sama denganku," jawab Gavin.


"Bagaimana dengan Raina?" tanya Mikaila melihat Arya,


"Sepertinya dia juga akan kuliah di sana, itu akan mempermudah mereka kuliah sambil bekerja di perusahaan", jawab Arya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca,πŸ™ jangan lupa ya beri dukungan pada karya ini dengan cara memberi πŸ‘‰ LIKE, VOTE dan KOMENNYA πŸ™πŸ˜


Mari kita sama-sama membuat karya ini menjadi lebih baik lagi☺️☺️☺️


Mampir juga ke My Papa My Boss yaπŸ™πŸ™ ditunggu πŸ’–


Author m anha ❀️

__ADS_1


__ADS_2