
Mikaila duduk di di kursi belakang dengan melipat kedua tangannya di dada.
Arya dan Kelvin duduk di pangkuan Bram,tak berani menatap bundanya.
Jabbar menyetir bersama Gavin.
Hening,tak ada pembicaraan di antara mereka hingga sampai di rumah.
Begitu sampai Di rumah Mikaila langsung masuk tanpa menoleh ia masih merasa kesal dengan suaminya.
"sayang, anak-anak sudah tidur,kamu bawa satu ya,"
Mikaila tak menghiraukan panggilan dari Bram.
"Ngembek deh,"pasrah Bram.
"mas,aku bawa masuk Gavin dulu ya,"ucap Jabbar menahan tawanya.
"iya, cepat ya,kaki ku kram.,"
"iya ,mas"
Jabbar masuk dan menidurkan Gavin di kamarnya, kemudian kembali menggendong Arya yang tertidur pulas.
"mereka kayanya kelelahan seharian berlari-lari di sana tadi,"ucap Jabbar mengelus rambut Arya.."
"badan Kelvin ko agak hangat ya?"
"kebanyakan makan eskrim kali mas,"
"iya,memang dia yang makan paling banyak,kalau Kelvin sampai sakit gara-gara itu , adik kamu itu pasti marah nih,"
"walau suka ngambek ,tapi Kaila ga pernah lama ngambeknya."
"iya juga sih,"
Jabbar menidurkan Arya di tempatnya.
"mas aku ke kamar dulu ya."
"iya."
Bram masuk ke kamarnya dan melihat istrinya sudah tidur memunggunginya.
Bram mengganti pakaiannya dan perlahan masuk ke dalam selimut dan memeluk istrinya.
"mas,"
"iya sayang,"
"jangan di ulangi lagi ya, kalau terlalu banyak makan eskrim nanti anak-anak bisa sakit."ucap Kaila dengan mata terpejam.
"iya sayang,ga lagi-lagi."mengeratkan pelukannya.
Mereka pun tertidur.
Bram terbangun saat merasakan ada yang hangat menyentuh wajahnya.
"Kelvin,"melihat Kelvin ada di tengah-tengah mereka.Badannya panas.
"ya ampun,badannya panas sekali."
"papa,peyut tu tatit."ucapnya.
"kita minum obat dulu ya sayang."
Bram membawa Kelvin kembali ke kamarnya, memberi obat penurun panas, mengompres dan membalurkan minyak kayu putih ke seluruh tubuh.
Kelvin kembali tertidur,Bram berjaga semalaman ia tak membangunkan Mikaila,yang sudah pasti akan kembali marah padanya saat mengetahui Kelvin sakit.
"Syukurlah suhunya sudah normal"mengecek kondisi putranya.
Bram kembali ke kamarnya.
"mas kamu tidur di kamar anak-anak?"tanya Mikaila yang melihat Bram datang dari arah kamar anak-anak.
"iya,kamu sudah sholat?"
"belum mas,"
"kita sholat berjamaah,"
"iya mas".
Kelvin bangun dan sudah merasa lebih baik.
"jangan bilang bunda ya kalau semalam perut ade sakit,"
"ote papa,"
"anak pinter,"
__ADS_1
Mereka sarapan bersama.
"kak,kapan pulangnya?"tanya Mikaila.
"maunya sih hari ini,tapi kakak di undang makan malam sama mamanya Isabela,"
"mba Anin?"
"iya,"
"kenapa?"
"mana kakak tau, silaturahmi mungkin,"jawab Jabbar menghabiskan makanannya.
Bram berangkat ke kantor dan Jabbar mengajak ponakannya untuk bermain bola di halaman.
"Ting, satu pesan dari Isabela.
"Tante Kak Jabbar lagi apa?"
Mikaila mengirimkan foto kakaknya yang sedang bermain bersama anak-anak nya.
"mas Bram masih dirumah?"tanya Isabela.
"udah pergi ke kantor,"jawab Mikaila.
Beberapa saat kemudian datanglah Isabela.
"kamu ga kerumah sakit?"
"enggak ada jadwal Tante."
"kuliah,masuk siang,Tante aku ke belakang dulu ya,"jawab Isabela sedikit berlari ke taman belakang.
Isabela ikut bermain bersama Arya dan si kembar, sebenarnya ia tidak suka berlarian karena ia akan berkeringat,tapi demi dekat dengan Jabbar ia rela bermandikan keringat.
"lengket-lengket deh,"batinnya.
"kak,aku ga bawa mobil,anterin ke kampus ya,"ucap Isabela.
"emang mobil kamu dimana,"ucap Mikaila yang ikut bergabung dengan mereka.
"lagi di bengkel Tante,"
"oww"
"bisa ya kak,"rayu Isabela.
Jabbar mengantar Isabela ke kampusnya,
"ya ampun aku lupa,"
"ada apa?"tanya Jabbar.
"hari ini dosennya ga masuk ka,"
"terus,kita ga jadi ke kampus?"tanya Jabbar lagi.
"kita nonton aja yuk kak,aku punya 2 tiket bioskop, filmnya bagus banget"modus Isabela,ia memang sudah merencanakannya dari awal,ia bahkan sengaja membeli tiket.
"ya udah kita nonton."
Mereka menghabiskan waktu berdua,bukan hanya menonton, Jabbar bahkan menemani Isabela shopping.
"kak,kita langsung kerumah aku aja ya,ini udah sore."
"aku telfon Kaila dulu ya,"
Jabbar menelfon adiknya mengabarkan kalau ia akan langsung ke rumah Isabela.
Anindita sudah sibuk menyiapkan makan malam istimewah untuk mereka.
Pak Surya menemani Jabbar di ruang tamu,Meraka bercerita banyak hal.
Isabela membantu menata meja.
"Bu omnya Arya ko ada disini?"
"iya,ibu ngundang dia makan malam bersama."jawab ibu.
Isabela mondar-mandir menyiapkan makan di meja.
"Ade jangan duduk aja, bantuin Mba dong."
"iya mba,"jawab Syana mulai menata piring.
"mba, bayinya udah otw ya,"canda Syana.
"makanya bantuin biar cepat sampai orderannya,"mambalas candaan adik nya.
Makan malam pun tiba, Isabela mengambil makanan untuk Jabbar.
__ADS_1
"kak Jabbar,mau ga nikah sama mba Isya."tanya Syana to the poin.
Pak Surya langsung terbatuk-batuk mendengar pertanyaan putri bungsunya itu.
Anin memberikan air minum ke pada suaminya dan saling tatap dengan Isabela.
Jabbar hanya tersenyum menanggapi.
"Biar mba bisa cepat punya bayi."sambung Syana.
Isabela langsung menutup mulut adiknya itu.
"ayo di makan nanti keburu dingin makanannya."ucap Anin mencairkan suasana.
Mereka kembali makan.
Isabela melotot kepada adiknya,yang dibalas kedipan mata oleh Syana..
"makasih ya Tante makan malamnya."ucap Jabbar saat berpamitan.
"iya, sama-sama,lain kali mampir kesini kalau lagi di kota x,"
"iya Tante,"
"panggil ibu aja,sama kaya Isya."
"iya Bu,"
Jabbar mengendarainya mobilnya dan menghilang dari gerbang.
Isabela langsung mengejar adiknya itu,dan mereka saling kejar-kejaran.
"kamu pacaran dengan dia?"tanya ayah pada Isabela yang masih mengejar Syana.
"belum ayah,"jawab Isabela.
"maksudnya?"tanya ayah mendengar jawaban.
"iya,mba masih usaha ayah"teriak Syana menggoda kakaknya.
"gimana menurut ayah,"tanya Anin yang ikut duduk.
"Seperti nya Jabbar pria yang baik dan bertanggungjawab."jawab ayah.
Isabela ikut duduk mendengar pembahasan orang tua nya.
"kamu sudah yakin dengan pilihan mu,"tanya ibu.
"iya Bu, Isabela yakin pilihan ku pasti yang terbaik."jawabnya.
"kamu selesaikan dulu kuliahmu,baru menjalin hubungan yang serius.Ayah hanya memikirkan masa depanmu."
"iya ayah."
Isabela sudah mengantongi restu dari keluarga,tinggal meyakinkan Jabbar untuk memilihnya sebagai pasangannya.
"semangat"batinnya.
Ting pesan masuk di ponsel Jabbar.
"kakak sudah sampai?"pesan Isabela.
Isabela menunggu dengan sabar balasan dari pesan nya.
Ting satu pesan masuk
Isabela langsung menyambar ponselnya.
"baru aja nyampai."balas Jabbar.
"kakak besok pulangnya jam berapa?"
"penerbangan pagi,"
"aku antar ya kak,"
"apa nggak merepotkan?"
"enggak ko kak,besok aku jemput ya?"
"iya boleh,"jawab Jabbar yang masih duduk di dalam mobil sambil terus membalas pesan dari Isabela.
Senyum terus berukir di bibirnya,ia bahkan mengulang-ulang membaca pesan dari Isabela sambil menunggu balasan dari pesannya.
Dalam hatinya ia juga merasakan perasaan suka kepada Isabela sejak pertama kali bertemu.
Isabela gadis yang sangat cantik menurutnya,ia juga sangat ceria dan baik hati.
Pekerjaannya sebagai seorang Dokter menambah rasa kagumnya pada sosok Isabela,Namum ia sadar berasal dari mana wanita yang berhasil mencuri perhatian nya.
Jabbar yang biasanya tidak pernah memikirkan tentang pacaran dan lebih fokus pada pekerjaannya kini mengagumi sosok Dokter cantik Isabela.
__ADS_1