
Malam ini semua berkumpul di rumah Abraham Wijaya, acara syukuran dan tahlilan akan diadakan esok hari.
Baby Arsy tidur ditemani oleh kedua neneknya meski masih di kamar yang sama dengan bundanya.
Bram terus berada di sisi istrinya,ia masih bisa melihat dengan jelas kalau di balik senyumnya masih ada kesedihan di matanya.
Malam hari setelah memberi ASI kepada putri kecilnya Mikaila tertidur dalam pelukan Bram.
Ibu Mikaila, Bram dan ibunya berbincang-bincang mengenai acara besok.
Tiba-tiba terdengar isakan tangis dari Mikaila.
"sayang bangun,kamu kenapa?"tanya Bram mencoba membangunkannya.
Mikaila terus terisak dalam tidurnya hingga saat bangun ia masih menangis.
"ada apa?"tanya Bram saat Mikaila sudah terbangun.
"ga apa-apa,"jawab Mikaila masih sesenggukan.
"tidurlah lagi,"ucap Bram mencoba menenangkan istrinya itu .
"iya pasti merasa sangat kehilangan,"ucap ibu Mikaila mengusap rambut putrinya.
Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang bayi yang belum sempat dilihatnya,Ibu juga pernah mengalaminya saat melahirkan anak pertama yaitu Kakak Jabbar.
Tak lama setelah Mikaila kembali tertidur sekarang giliran Arsy yang menangis dalam tidurnya,
"uhh cucuku, Cantiknya nenek kenapa sayang,"ucap ibu Bram mencoba membangunkan gadis kecil itu.
baby Arsy juga menangis sesegukan dengan mata tertutup.
Ibu Bram mengambil dan mendekap bayi mungil itu dalam pelukannya membacakan ayat-ayat dan meniupkan ke ubun-ubunnya,entah apa yang mereka lihat dalam tidurnya.
Ibu Mikaila ikut mengusap punggung cucunya.
,
,
Sementara yang lain sedang bercengkrama di halaman mereka membuat sebuah permainan.
Yoga, David ,Dimas dan Jabar mereka bermain kartu.
Semua ditemani oleh pasangannya Yoga ditemani Ayasa, David ditemani Arabela, Dimas ditemani Syana dan Jabbar ditemani Isabela .Mereka terus tertawa bergembira berbeda dengan Dimas yang biasanya paling ceria dan kocak dalam setiap pertemuan kali ini di hanya diam seribu bahasa dan fokus pada permainan mereka.
"Dimas lho sariawan ya,"tanya Isabela.
"hemmm,"jawab Dimas mengangguk.Dimas mengerti mengapa Isabela bertanya seperti itu....
"aku tau obatnya,,"ucap Arabela.
__ADS_1
"apa Tante?"kali ini Syana yang bertanya.
"hot kiss,"ucap Arabela sambil tertawa.
"hemm,"tegur Yoga.
Arabela lupa,kali ini ada bapak-bapak yang ikut nimbrung.
Semua terdiam dan kembali fokus pada permainan mereka.
Ayasa mendapat telepon dan ia meminta izin kepada ayahnya untuk mengangkat telepon, Yoga mengizinkan dan Ayasa pun menjauh dari mereka ,Dimas sempat melihat nama yang tertera di layar ponsel Ayasa, El Barack.
Ayasa mengangkat panggilan El Barack sedikit menjauh dari mereka, Dimas terus perhatikan gerak-gerik Ayasa.Terlihat sangat bahagia, senyum terus terlihat di wajah cantiknya saat sedang berbicara dengan El Barack .
Entah mengapa ia merasa cemburu dengan hal itu.
Dimas izin untuk pulang dengan alasan sedang tidak enak badan.
Dalam perjalanan pulang Dimas menggenggam setir mobilnya.
"ada apa denganku mengapa aku harus merasakan cemburu saat melihat ia berbicara dengan pria lain,"ucap Dimas terus memukul-mukul setir mobilnya.
Bukannya pulang ke apartemennya Dimas justru melajukan mobilnya ke arah sebuah Bar dan mulai memesan alkohol, iya terus meminum minuman tersebut hingga ia mabuk berat..
Saat Bram turun untuk mengambil air minum ia mendapat telepon dari pemilik sebuah Bar, mengabarkan jika seseorang di Bar miliknya sedang mabuk dan memintanya untuk menghubungi nomor ini.
Syana yang juga masuk tak sengaja mendengar pembicaraan pemilik Bar tersebut dengan Bram .Bram yang sedang menuang air minum memasang pengeras suara saat mengangkat telepon tersebut.
Dimas mengeluarkan semua rasa yang dipendamnya selama.
Bram juga yang ingin melupakan rasa penyesalannya di hatinya ,karena kehilangan bayinya dan melihat kesedihan pada istrinya . Bram ikut minum beberapa gelas sambil mendengar curhatan Dimas.
Syana duduk tak jauh dari mereka, Ini pertama kalinya ia masuk ke sebuah Bar, tak ingin ada yang mengenalinya yang memakai topi dan kacamata serta jaket hoodie .
Awalnya Syana ingin menghampiri Dimas namun saat mendengar nama Ayasa disebut ia menghentikan langkahnya dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dimas kepada Bram.
Ada sedikit rasa sakit di hatinya mendengar Dimas mencintai wanita lain sebesar itu.
Setelah mendengar beberapa curhatan Dimas Syana pulang.
Seperti biasa Syana tidur dengan Ayasa.
"Gimana menurut kamu tentang Dimas?" tanya Syana.
" tentang apa?" tanya ayasa,
"Apa Dimas pantas untuk dijadikan seorang pacar?" tanya Syana.
"iya, dia kan pacar kamu ya pantes lah buat kamu ,"jawab Ayasa sambil merapikan tempat tidur nya.
"kalau Dimas suka sama kamu, kamu mau nggak jadi pacarnya," tanya Syana.
__ADS_1
Ayasa terdiam.
" Sudah ah, aku mau tidur. Aku ngantuk," ucap Ayasa mengalihkan topik pembicaraan..
Pagi hari saat acara berlangsung Syana terus memperhatikan sikap Dimas dan Ayasa, iya bisa melihat jika keduanya memang memiliki perasaan satu sama lain.
"apa selama ini mereka memang menyimpan perasaan mereka masing-masing, kenapa aku jadi seperti penghalang buat cinta mereka ,"batin Syana.
Malam hari Syana mengajak Dimas untuk berjalan-jalan Ia juga mengajak Ayasa bersama mereka.
Saat sudah sampai di bioskop Reza datang menghampiri mereka .
"Maaf ya kalian sudah lama ya?" tanya Reza .
"nggak kok kami baru aja datang," ucap Syana .
Mereka berempat pun masuk ke dalam gedung bioskop dan menonton film romantis.
Syana sengaja menelpon Reza untuk ikut bergabung dengan mereka.
Posisi duduk mereka Ayasa,Dimas, Syana dan Reza. Reza makan popcorn di tempat yang sama dengan Syana sedangkan Dimas berbagi dengan Ayasa.
Saat keluar popcorn Syana dan Reza sudah habis,tak tersisa satupun berbanding terbalik dengan milik Dimas dan Ayasa, milik mereka tak kurang satupun. Syana bisa melihat kecanggungan diantara mereka saat di dalam bioskop.
" Dimas temenin Ayasa dulu ya aku mau beli sesuatu," ucap Syana menarik Reza meninggalkan mereka saat mereka di kafe dan sedang menunggu pesanan.
Syana sengaja meninggalkan Dimas dan Ayasa berdua, tak ada pembicaraan sama sekali antara Ayasa dan Dimas sampai Reza dan Syana kembali bergabung..
Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Pulang sekarang yuk, udah malam," ucap Syana memutuskan untuk pulang .
Ia kecewa dengan Dimas, sedari tadi ia memperhatikan mereka berdua dari kejauhan Syana juga melihat makanan di meja masih utuh,mereka tak menyentuhnya sama sekali.
"dasar kalian ini udah dikasih kesempatan untuk berdua masih aja enggak mau jujur sama perasaan sendiri, tinggal ngomong aku cinta kamu susah amat sih," batin Syana merasa kecewa ...
Sebelum mengajak mereka ke bioskop, Syana curhat kepada Isabela kakaknya tentang apa yang ia ketahuinya tentang Dimas dan Ayasa.
Isabela menanyakan perasaan Syana kepada Dimas ,apakah ia benar-benar mencintai Dimas atau tidak atau hanya ingin bersenang-senang.
Jika ia hanya ingin bersenang-senang dengan hubungannya sebaiknya iya menyatukan Ayasa dan Dimas .
Menurut Isabela, Dimas terlalu dewasa untuk adiknya yang masih belum mengerti yang namanya cinta.
Syana pun memikirkan ucapan kakaknya.
"apa aku menyatukan mereka saja ya, aku masih bisa cari yang lain tapi sepertinya tidak dengan Ayasa,"gumam Syana.
💖💖💖💖🙏💖💖💖💖
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberi like untuk menghargai karya "Pilihan Ku"
__ADS_1
Terima kasih.💖💖