Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Wisuda Kelvin.


__ADS_3

Malam hari semua berkumpul di ruang tengah.


Tak lama kemudian Kelvin menelepon. Ia mengabarkan jika minggu depan ia akan wisuda dan berharap mereka semua bisa datang.


"Bagaimana ini, sepertinya Raina sudah tidak bisa ikut kita keluar negeri," ucap Mikaila.


"Iya Bunda, kalian pergi saja. Biar aku yang menemani Raina disini, lagian jadwal persalinannya dua minggu lagi. Masih ada 1 minggu setelah wisuda Kelvin. Raina sudah setuju untuk melakukan operasi saat persalinannya nanti," ucap Arya.


"Benarkah, Bunda senang Kamu memilih operasi. Sejujurnya Bunda juga takut jika Kamu melahirkan secara normal," ucap Mikaila. menggenggam tangan lainnya.


"Iya, Bunda. Sebenarnya Raina sangat ingin merasakan melahirkan secara normal, tapi Raina juga nggak bisa memaksa kalau kak Arya sendiri menginginkan Raina menjalani operasi. Biar bagaimanapun ini adalah bayi kami berdua," ucap Raina bijak.


"Bunda senang dengarnya, Kita memang sebaiknya menurut apa yang suami kita katakan, selama itu baik dan tak menyalahi syariat," tambah Mikaila.


Bram mengabarkan kabar tentang wisuda Kelvin pada semua keluarga besarnya. Semua menyambut kabar itu dengan sangat gembira dan akan menghadirinya. Natali juga tak kalah senangnya, Ia sangat antusias. Sebentar lagi mereka akan bertemu kembali setelah lama terpisah oleh jarak.


Mikaila mulai sibuk menyiapkan apa saja yang harus dibawanya ke acara tersebut.


"Sayang, kenapa bawa banyak barang? Kita kan tidak akan tinggal lama disana. Mengingat Arya dan Raina tidak ikut. Mungkin saja setelah acara selesai kita semua akan langsung pulang."


"Iya, aku tahu Mas. Aku hanya tak ingin kita kekurangan apapun saat di sana," ucap Mikaila mengambil satu koper lagi.


"Satu koper aja seperti sudah cukup untuk kita berdua," ucap Bram pelan.


"Mas, Kita pakai pesawat sendiri, mau itu barang satu atau dua koper sama saja."


Bram mengusap tengkuknya, ia berpikir Mikaila tak mendengar ucapannya tadi.


"Kita bisa beli disana, kita itu pergi ke kota bukan ke desa," ucap Bram yang masih merasa heran dengan istrinya. Kebiasaan membawa barang banyak saat bepergian masih tetap dilakukan sampai sekarang.


"Mas, duduk tenang aja! Lagianan aku hanya membawa 2 koper aja, tak banyak kok," ucap Mikaila menunjuk dua koper besar yang ada di atas ranjang.


Bram hanya menatap 2 koper itu dan tak berani protes lagi. Bram tahu, jika ia akan kalah jika berdebat dengan istrinya. Memilih untuk diam dan hanya melihat Mikaila yang memasukkan ini dan itu ke dalam kopernya.


Tak lama kemudian, Arsy masuk sambil membawa 1 koper besar miliknya. Kebiasaan Mikaila membawa banyak barang saat bepergian menurun pada gadis kecilnya. Arsy juga melakukan hal yang sama. Walau hanya menginap sehari ia bisa membawa 4 sampai 5 atau bahkan lebih baju dengan alasan lebih baik lebih daripada harus kekurangan. padahal mereka bisa membeli jika kekurangan pakaian.


Di kamar Arya.


"Kalau kakak mau pergi ke acara wisuda Kelvin, Kakak pergi saja, Raina ga apa-apa dirumah. persalinan Raina masih seminggu setelah acara Wisudanya! Ada bi Yanti yang menemani Raina di sini," ucap Raina.


"Kakak di rumah saja nemenin kalian, kamu itu lebih penting. Kelvin sudah banyak yang menghadiri wisudanya. Tante Anin juga sudah bilang tanggal itu bisa saja maju atau bisa mundur, tak pasti."


"Kak," Raina bersandar di dada Arya yang sedang menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur. "Semakin mendekati jadwal kelahiran bayi kita, aku semakin takut, aku merasa ...." Raina menghentikan ucapannya.


"Ada apa? Apa yang kau rasakan?" tanya Arya mengecup kepala Raina.


"Entahlah Kak, aku merasa memiliki firasat buruk, aku takut terjadi sesuatu hal buruk pada bayi kita," lirih Raina.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, hal yang langsung teringat akan mimpinya. Arya memegang erat tangan Raina, mengecup punggung tangan, "Apapun yang terjadi, aku mohon jangan pernah tinggalkan Kakak. Kakak sangat mencintaimu," ucap Arya.


"Kak, beberapa hari terakhir ini, Aku sering bermimpi," ucap Raina.


"Bermimpi? Kamu bermimpi apa?" tanya Arya masih terus mengusap rambut Raina yang memeluknya.


"Aku bermimpi jika aku," Raina menjeda kalimatnya. " Aku pergi ninggalin Kakak bersama bayi kita," lirih Raina. "Aku pergi ke suatu tempat yang tak bisa Kakak jangkau, tempat yang sangat jauh. Mimpi itu terasa nyata dan terus berulang."


"Ada apa ini, kenapa mimpiku sama dengan mimpi Raina," Batin Arya.


"Itu hanya mimpi, mungkin kau terlalu memikirkan persalinan mu. Percaya sama Kakak, semua akan baik-baik saja, Kakak tak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian." ucap Arya pada Raina yang ada dalam pelukannya.


Tiba-tiba dada Arya terasa sesak, bayangan akan kehilangan istri dan bayinya, perasaan jika mereka akan meninggalkannya tiba-tiba saja terlintas di benaknya. "Semua pasti akan baik-baik saja," Arya menyakinkan dirinya sendiri.


"Jika sesuatu terjadi pada Raina, Kakak jangan pernah lupain Raina, ya!" Ucap Raina, tiba-tiba saja pertanyaan itu terlintas di benaknya.


"Apa yang kau bicarakan. Jangan pernah berbicara seperti itu lagi, Kakak tidak mengizinkanmu pergi dari kakak." Mengeratkan pelukannya.


"Sudah jangan dibahas lagi, semua akan baik-baik saja," ucap Arya mengusap perut Raina kemudian mengecup singkat bibir istrinya.


Sebelum pergi, Mikaila memperhatikan semua kebutuhan Raina. Apa yang harus dinamakan dan apa yang tak boleh di lakukan oleh Raina.


Sebelum mereka Pergi Mikaila sudah mewanti-wanti bi Yanti untuk selalu menjaganya dan tak membiarkan Raina sendiri jika Arya pergi ke kantor.


"Arya jika pekerjaanmu tak terlalu penting, kamu jangan meninggalkan Raina sendiri di rumah ya," ucap Mikaila.


"Iya, Bunda. Arya paham."


"Nggak kok Sayang, selesai acara kami langsung pulang, mungkin kami hanya 2 hari di sana," ucap Mikaila.


"Kami nggak apa-apa kok, Bunda. Jangan terlalu terburu-buru, kasihan Kelvin, dia pasti sangat membutuhkan Bunda. Bunda bisa pergi lebih awal," ucap Raina.


"Iya, Sih! Rencananya Bunda ingin pergi lebih awal, tapi Bunda khawatir dengan keadaanmu, makanya kami akan pergi sehari sebelum acaranya," ucap nya. "Bunda sudah bicara dengan Kelvin, jika kami mungkin akan terlambat datang dan ia mengerti kok."


Baru saja mereka membicarakan Kelvin, Kelvin sudah melakukan panggilan video kepada mereka.


"Bunda! Kapan kesini?" tanya Kelvin.


"Mungkin sehari sebelum acara kamu, kamu nggak apa-apa kan Bunda pergi nya agak lambat?"


"Iya Bunda, nggak apa-apa kok. Kelvin mengerti. Nggak ada juga yang perlu disiapkan, aku anak cowok, nggak perlu dandan," ucap Kelvin tertawa.


"Kak Diandra mana?" tanya Gavin.


Kelvin langsung mengarahkan kameranya pada Diandra yang sedang sibuk di dapur.


"Kok, sepi, sih! Bisa ramai. Ibu Sulastri dan adiknya Diandra mana?" tanya Mikaila yang biasanya saat menelpon suasana di Apartemen Kelvin sangat ramai karena adanya Clara.

__ADS_1


"Bu Sulastri sedang sakit, makanya hari ini hanya Diandra yang datang untuk membereskan rumah. Kelvin sudah melarang untuk memasak, tapi dia tetap maksa buat sarapan. Padahal dia sendiri mau berangkat kerja."


"Sepertinya, dia gadis yang baik ya?"


"Iya. Dia anak yang sangat baik dan juga pekerja keras," puji Kelvin.


"Emangnya, Diandra kerja apa Kak?" tanya Gavin.


"Katanya sih dia bekerja di sebuah toko sepatu," jawab Kelvin.


"Terus, kalau kamu udah pindah kembali, Bu Sulastri udah nggak punya pekerjaan lagi dong?" tanya Mikaila.


"Ya, seperti itulah kira-kira. Kelvin sudah memintanya dari jauh hari untuk mulai mencari pekerjaan baru." jawab Kelvin.


"Apa sebaiknya kamu mengajak saja mereka untuk pindah ke sini, dia bisa bekerja membantu bu Yanti disini," tawar Bram.


"Aku pernah nawarin, Pah! Untuk kembali, tapi dia menolak. Katanya sudah nggak punya keluarga disana dan lebih nyaman tinggal di negara ini."


"Bukannya tinggal di negara sendiri lebih nyaman, ya?" ucap Mikaila.


"Katanya ia punya banyak kenangan dengan almarhum suaminya di sini."


"Kalau dia memang nggak mau meninggalkan negara itu, ya nggak apa-apa. Mungkin dia punya kenangan tersendiri dengan suaminya yang sangat berharga," ucap Bram.


"Kak, Kakak nggak pernah godain Diandra?" canda Gavin.


"Maksud kamu apa 'ha?"


"Ya kali, Kakak nggak tertarik. Orang Diandra cantik gitu," ucap Gavin yang melihat Diandra sedang menata makanan di meja makan.


Kelvin kembali melihat Diandra, memang benar Diandra sangat cantik, tapi di hatinya sudah ada Natali.


"Hari berganti Hari. Kini tiba saatnya seluruh keluarga besar Wijaya bertolak ke luar negeri, mereka semua menggunakan pesawat jet pribadi milik Abraham. Ibu dan Ayah Mikaila juga ikut pergi, begitupun dengan Natali.


Acaranya di akan dilaksanakan besok, malam ini mereka semua akan menginap di Apartemen Kelvin.


Begitu mereka sampai, Kelvin sedang tak ada di Apartemennya. Yang ada hanyalah Diandra.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya.


salam dariku 🤗


Dariku Author m anha ❤️

__ADS_1


love you all 💕💕💕


💖💖💖🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏💖💖💖


__ADS_2