
Dikamar.
Mikaila bersandar di dada Bram, bercerita tentang masa sekolahnya.
"mas dulu waktu aku sekolah aku jualan donat loh,,"ucap Mikaila.
"pasti banyak yang beli,kamu kan cantik,"jawab Bram mengelus-elus rambut Mikaila.
"apa hubungannya cantik dengan banyak yang beli?"protes Mikaila.
"pasti pelanggannya banyakan cowok,"ucap Bram.
"emang mas kalau beli,lihat penjualnya dulu cantik atau jelek."mendongak menatap wajah Bram.
"terkadang,"jawab Bram singkat.
"cih,mas Bram waktu dulu pasti punya banyak cewek."
"mas terlalu sibuk untuk koleksi cewek,mas masuk kantor gantiin ayah waktu masih sekolah."
"terus mas ketemu mamanya Tasya di mana?"
"Inanti dulu karyawan di kantor,"
"selain mba Inanti mas pernah suka sama siapa lagi?"tanya Mikaila,dan kini ia sudah duduk menghadap Bram.
"banyak,selain mamanya Tasya mas juga jatuh cinta sama Bundanya Arya,bunda Kelvin dan bundanya Gavin."ucap Bram merapikan rambutnya Mikaila yang berantakan.
"aku serius mas,"kembali berbaring.
Bram hanya tersenyum.
"mas ga gampang jatuh cinta,mas pikir Inanti adalah wanita terakhir yang bisa buat mas jatuh cinta,mas pikir mas akan hidup sendiri selamanya.Makanya mas waktu itu lebih fokus pada kerjaan dari pada mencari pendamping."ucap Bram.
Mikaila kembali duduk dan memeluk guling kesayangannya.
"Tapi setelah mas ketemu kamu hati mas kembali bisa merasakan cinta ,dan bahagia sampai saat ini."ucap Bram mengacak-acak rambut Mikaila yang sudah berantakan.
"mas suka sama aku sejak kapan?"tanya Mikaila antusias sambil merapikan asal rambutnya.
"hemmm,kapan ya."mengingat saat ia dan Yoga hampir menabraknya saat menyebrang jalan.
Bram tertawa saat mengingat waktu itu ia sering memimpikan Mikaila tanpa tau siapa namanya.
"mas kenapa tertawa,apanya yang lucu?mas jatuh cinta ke aku saat di kafe kak Randy kan?
__ADS_1
Waktu itu mas datang ke sana sama mba Aran dan mas Yoga,"tebak Kaila.
"kenapa kamu mikirnya gitu,,?tanya balik Bram.
"iya,soalnya waktu itu mas terus liatin aku.Mas tau ga,waktu itu aku sampai keringetan,kaki aku sampai lemas"ucap Mikaila melipat kedua tangannya di dada.
"masa sih,"Bram kembali tertawa,,,
"iya,mas nyebelin banget waktu itu,ga sopan langsung pergi gitu aja,"ucap Mikaila mengingat Bram saat itu langsung pergi meninggalkan mereka.
"mas malas lihat kamu dan Randy."ucap Bram menghela nafasnya.
"mas cemburu, berarti mas udah jatuh cinta dong waktu itu."Mikaila menaik turun kan alisnya.
"kamu sendiri sejak kapan menyukai mas?"tanya balik Bram.
"sejak pertama kali kita bertemu,tapi waktu itu aku pikir mas udah punya istri makanya aku ga mau tau lagi tentang mas."jawab Mikaila.
"kamu tau dari mana aku punya istri?"tanya Bram lagi.
"kalau mau cari info mas itu gampang benget,tinggal tanya mba google.Waktu itu aku hanya lihat foto mas sama mba Inanti dan Tasya.Nggak baca keterangannya secara lengkap."
"Oya mas,"ucap Mikaila memandang tajam Bram.
"mas kenapa nyembur aku saat nganterin pesanannya mba Aran."tanya Mikaila.
"maaf sayang,"menarik Mikaila ke pelukannya.
"waktu itu mas cuma kaget aja,kamu bisa Sampai secepat itu dari Batam."lanjut Bram.
"mas waktu itu,aku di taksi nangis sampai ke butik.Mas bayangin aja berapa lamanya aku nangis gara-gara mas,"ucap Mikaila mulai emosi.
"maaf,kamu sih langsung pulang.mas jadi ga sempat minta maaf,"
"tapi aku senang banget waktu tau mas itu ternyata duda.Tapi kenapa waktu itu mas ga pernah deketin aku??mas kan udah suka sama aku?"tanya Mikaila penasaran.
"mas ga pede,usia kamu saat itu masih 18 tahun.mas yakin kamu pasti akan nolak mas."
"sok tau ,,kalau waktu itu mas melamar aku pasti aku terima."ucap Mikaila.
"Kamu beneran jualan donat waktu sekolah?"tanya Bram kembali ke topik awal mereka.
"iya,dulu kalau aku mau beli sesuatu harus ngumpulin uang dulu,,kadang aku jual kue,jualan online,pokoknya apa aja yang halal.kadang aku bantu orang manen buah."
"kamu mau kuliah lagi?"tanya Bram.
__ADS_1
"mau sih,tapi nunggu anak-anak besar dulu deh,aku mau fokus mengurus mereka untuk saat ini."jawab Mikaila.
"emangnya cita cita kamu mau jadi apa??"tanya Bram kembali mengusap rambut panjang Mikaila yang bersandar di dada bidang nya.
"cita cita aku ingin punya banyak duit,biar bisa beli apa aja yang aku mau,bisa bantu ayah dan ibu,bisa membahagiakan anak dan suamiku.sekarang aku sudah punya semuanya,tinggal di jaga aja."
"kuliah itu penting,jadi kalau mas udah ga ada kamu bisa bimbing anak-anak jalanin perusahaan."ucap bram
"mas,jangan ngomong gitu.mas ga boleh tinggalin aku."ucap Mikaila memeluk erat tubuh suaminya.
"ajal tidak ada yang tau,mas cuma ingin kamu dan anak-anak selalu bahagia dan berkecukupan walau mas sudah tak di samping kalian."Ucap Bram mencium pucuk rambut Mikaila.
"aku ngantuk mas,aku ga mau bahas itu lagi.pokonya mas harus di samping aku terus,menemani aku terus."Mikaila menutup matanya dan menarik selimut menutupi mereka berdua.
"mas,"panggil Kaila dengan mata yang terpejam.
"hemm,"jawan Bram.
"jangan pernah selingkuh ya,"ucap Mikaila pelan.
"tidur lah,"Bram mengeratkan pelukannya.
"mas, jawab pertanyaan aku."menatap mata Bram.
"kamu adalah segalanya buat mas,mas ga akan melakukan hal bodoh yang bisa membuat kamu terluka,"entah mengapa rasa bersalah yang telah ia lupakan kini kembali menghampirinya.
Merekapun menuju alam mimpinya masing-masing.
Pagi hari Mikaila mendapat telfon dari panti asuhan,ibu panti mengabarkan kalau Raina sudah ada yang mengadopsi.Mereka akan membawanya ke luar negeri.
"bagaimana ini,Arya pasti sedih."gumam Mikaila melihat Arya yang masih tertidur pulas.
"mas,tadi ibu panti telfon kalau Raina sudah ada yang akan mengadopsinya"ucap Mikaila membatu Bram berpakaian.
"bagus dong sayang,itu berarti ia akan punya keluarga."
"tapi masalahnya mereka akan membawa Raina ke luar negri,Arya pasti sangat kehilangan ."Mikaila khawatir.
"Arya anak yang pintar,ia juga pasti mengerti,cepat atau lambat Raina akan di adopsi."jelas Bram menenangkan Mikaila.
"mas aja ya,yang jelasin ke Arya, biar dia ga sedih saat mereka nanti berpisah.
"iya,nanti mas bicara dengan Arya.Anak kamu itu memang masih kecil,tapi ia sudah sangat cerdas untuk di ajak ngobrol.
Bram berangkat bekerja seperti biasa,Mereka memulai aktivitas seperti biasa,dengan kejahilan para bocil yang ada di rumah itu.
__ADS_1