
Hari ini hari pertama David di keluarga Wijaya,ia di sambut oleh semua penghuni di rumah besar.
Mereka sarapan bersama,dan mengobrol.
David sedang membantu membersihkan akuarium bersama mertuanya.
Arabela yang melihat ibu duduk di ruang keluarga sambil membaca majalah menghampirinya.
"Bu,mas Bram kemarin ga datang ya?"duduk di samping ibunya.
"iya,"jawab ibu masih tetap fokus pada majalahnya.
"mas Bram masih marah ya Bu?,"
"wajar kalau mas mu masih ada rasa marah,yang jelas dia sudah menyetujui hubungan kalian itu sudah cukup.Nanti seiring waktu dia pasti bisa maafin kalian,"
"ibu ingin ke rumah mas mu,mau ikut?"tanya ibu meletakkan majalahnya.
"enggak ah Bu,Bela takut.,"
"takut kenapa?masalahnya sudah selesai,kalian sekarang sudah menikah apalagi yang kamu takutkan?"
"lain kali aja deh Bu,"jawab Arabela.
"ya udah,ibu mau siap-siap dulu.Besok mertuanya udah mau pulang."
Ibu Mikaila bermain bersama cucu-cucunya,jika melihat ke tiga cucunya yang sangat menggemaskan ada rasa tak rela ia meninggalkan mereka,namun mengingat ada dua pria di kampung yang sangat membutuhkan dirinya ibu harus balik secepatnya ke kampung halamannya.
"Bu,apa ga bisa gitu ibu tinggal satu atau dua Minggu di sini, anak-anak masih kangen sama ibu?"
"ibu sih maunya juga gitu,tapi ibu kepikiran sama ayah kamu.makannya pasti tidak teratur.Kamu kan tau sendiri ayahmu punya penyakit mag."
"kakak Jabbar belum punya pacar Bu?"
"ibu nggak tau,tapi ibu maunya dia cepat nikah biar ada yang ngurusin dia, sekarang kakak kamu itu sibuk,ibu sering bawain di makan siang ,dia sama aja kaya ayah kamu kalau sudah kerja lupa makannya."
"emang ga ada cewek yang nyamperin kakak kerumah atau di bawah kakak gitu main kerumah,"tanya Mikaila.
"kalau cewek yang datang kerumah banyak cantik-cantik lagi,mereka datangnya juga pake mobil-mobil mewah,"
"masa sih Bu,"tanya Mikaila semangat.Pasalnya ia sedang merekam pembicaraannya dengan ibunya.
"iya,tapi ibu ga suka,"
"kenapa Bu?"tanya Kaila menahan tawanya.
"ya gitu, pakaian mereka tidak sopan."
"tidak sopan bagaimana Bu?"
"ya gitu,roknya cuman sejengkal nunduk dikit aja pasti itunya nongol.udah roknya pendek bajunya juga kurang bahan."
"seksi gitu Bu?"
"bukan seksi lagi kalau menurut ibu sih,udah kaya pakai dalam aja,"
"terus kakak terima aja gitu Bu mereka bertamu kerumah?"
"mereka ga pernah kerumah,ibu lihatnya kalau lagi ke bengkel bawain makan siang.
kalau ke rumah udah ibu usir."
"kakak ga pernah gitu,bilang ke ibu kalau dia suka sama cewek?"
__ADS_1
"nggak sih,tapi ibu rencananya mau menjodohkan dia dengan anaknya pak RT,selain cantik dia itu anaknya Soleha."
"assalamualaikum,"ucap ibu Bram masuk dan langsung menghampiri mereka.
"waalaikumussalam,"ucap Mikaila dan ibunya bersamaan.
Ibu Bram ikut bermain bersama cucu-cucunya.
Rumah Bram kini lebih mirip taman bermain,bukan lagi di ruang tengah,mainan mereka sudah di mana-mana bahkan sampai ke dapur dan garasi mobil.
Dan yang akan kerepotan adalah mba Siti jika mereka menginginkan mainan tertentu yang entah mereka letakkan dimana.
Terkadang semua yang bekerja di sana termasuk satpam diluar rumah akan membantu mencari mainan yang di inginkan majikan kecilnya itu.
Mikaila masuk ke kamarnya dan kembali memutar percakapannya dengan ibunya,
Ia kemudian mengirim percakapan itu ke grup WA nya bersama Arabela dan Isabela.
Tanda pesan di baca.
Ting,,
Arabela membalas pesan itu dengan emoticon tertawa terbahak bahak.
Sedangkan Isabela jangan di tanya lagi,ia langsung berlari ke ruang kerja ibunya.
"ibuuuuu,"teriak Isabela membuat ibunya yang sedang memeriksa pasien kaget karena teriakannya.
"ada apa sih,kamu bikin ibu kaget aja.ibu ada pasien kamu duduk disana,"tunjuk ibu pada sofa yang ada di sana.
Anindita memeriksa semua pasien nya,sambil sesekali melihat anaknya yang mondar-mandir tak karuan,sambil terus melihat ponselnya.
Grup WA nya sudah ramai, Arabela dan Mikaila yang terus saja memanas-manasinya .
"kamu kenapa sih?sampai bikin ibu kaget aja,"tanya Anin duduk di sofa yang sama.
"Bu aku mau nikah sekarang,"jawab Isabela cepat tepat dan lantang.
"kamu salah minum obat?"tak menghiraukan perkataan Isabela.
"Bu,aku serius,"menggoyang-goyangkan tangan ibunya.
"kamu ini apa-apa sih kak,minta nikah kaya minta di beliin baju."
"terus gimana dong Bu?"
"gimana apanya?"
"ya kak Jabbar,"
"kalau dia jodoh kamu,dia ga akan kemana-mana,"
"tapi Bu,,,"
"ibu mau pulang,ibu capek,"ucap Anin.
Anin meninggalkan Isabela yang terus menerus merengek ingin di nikahkan.
"Kaila,"panggil ibu Bram mengetuk pintu kamar Mikaila.
"iya Bu,masuk,"jawab Mikaila membukakan pintu.
"ibu mau pinjam tas kamu,besok ibu ada arisan,tapi tas yang ibu pesan belum datang,tas ibu sudah di pakai semua."
__ADS_1
"ambil aja Bu,masih ada beberapa yang aku belum pakai.Aku mau mandi dulu Bu,ibu pilih yang mana aja."
"sana kamu mandi,"
Ibu masuk ke walk-in closet.Mulai melihat-lihat tas yang berjajar rapi,dan memilih satu.Matanya tertuju pada perhiasan yang juga tersusun rapi di sana.
Bram masuk ke kamar dan mendengar Mikaila sedang mandi.
Bram duduk di atas kasur dan melihat ponsel Mikaila terus berbunyi,ia melihat nama pengirim pesan.
Bram tersenyum,
"apa lagi yang mereka bahas kali ini,"mengambil ponsel dan mulai membaca isi pesan mereka.
Ekspresi wajah Bram langsung berubah saat mereka mulai membahas bentuk badan Jabbar.
Mikaila terdiam saat melihat Bram membaca pesan nya.
Perlahan ia berjalan pelan menuju walk-in closet.Dengan masih mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya.
"kamu mau kemana?"tanya Bram melempar ponsel Mikaila ke tengah kasur.
"mas Bram sudah pulang,"tanyanya dengan senyum terpaksa.
"kalau mas masih di kantor kamu masih ingin membahas perut sixpack pria,"
Mata Mikaila melotot mendengar ucapan Bram.
"maksud mas apaan sih,"
Bram mendekati Mikaila sambil melepas kemejanya, memperlihatkan perut sixpack nya.
"kenapa membahas punya pria lain,kamu sendiri memiliki nya,"Bram menarik tangan Mikaila dan mengarahkannya ke perutnya.
"mas itukan kakak Jabbar,"
Bram mengangkat Mikaila dan mendudukkannya di meja rias yang ada dibelakang nya.
"karena itu foto kakakmu mas akan memaafkan mu,beda ceritanya jika kamu membahas pria lain."
Mikaila memainkan jari telunjuk nya di perut sixpack Bram.
"mas cemburu ya,"mengedipkan matanya.
"jangan menggodaku sayang,"ucap Bram semakin dekat padanya.
Mikaila merangkul leher Bram,menariknya agar lebih mendekat.
"memang kenapa??"ucap Mikaila mendayu-dayu.
Bram mendaratkan ciuman di bibir Mikaila.
Ibu yang awalnya mendengar pembicaraan mereka mengintip dari balik tirai pembatas, namun saat Ciuman mereka semakin memanas,ibu memutuskan keluar dari persembunyiannya.
Bram yang sudah tak bisa mengendalikan nafsunya semakin memperdalam ciumannya,
dan bermain di area favoritnya.
Dengan santai ibu berjalan di samping Meraka.
Bersambung,,,
Terima kasih sudah membaca,,,,
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya 🙏💗🙏