
Arya menghampiri Bunda, Papa dan Raina yang berada di bawah pohon mangga. Mereka semua melihat ke arahnya yang berjalan kearahnya.
"Kak, pak Wahyu mana?" tanya Rina yang tak melihat Pak Wahyu datang bersama mereka.
"Pak Wahyu nya sudah pulang, katanya ada urusan penting. Kakak mencari Pak Wawan, Pak Wawan juga sudah pulang. Terus security penggantinya juga belum datang," jawab Arya mencoba menjelaskan situasinya.
"Pak Slamet masih kuat panjat pohon?"tanya Mikaila ragu. Ia mengira Pak Slamat lah yang akan memanjat pohon mangga itu karena dialah yang datang bersama dengan Arya bukannya pak Wahyu.
"Ya nggak lah Bu, Bapak sudah tua. Sudah ga kuat panjat pohon lagi, bisa remuk tulang Bapak kalau masih nekat panjat pohon di usia segini," jawab Pak Slamat..
"Terus yang mau panjat siapa dong?"tanya Mikaila menatap mereka berdua.
Pak Slamat dan Arya saling pandang dan mengangkat bahu mereka, tanda mereka juga tak tau siap yang akan memanjat pohon mangga itu.
"Sayang, kamu makan rujak mangganya besok aja ya, kita tunggu Pak Wahyu dulu," bujuk Arya pada Raina.
"Aku maunya sekarang Kak, Raina benar-benar ingin makan mangga itu," tunjuk Raina pada salah satu mangga yang tergantung di atas pohon.
"Gimana ya, Kakak beli aja ya," tawar Arya.
"Aku maunya yang itu Kak," lirih Raina melihat bundanya.
"Kamu aja deh yang panjat pohon ini,"ucap Mikaila menyuruh Arya memanjat pohon tersebut.
"Panjat pohon, Arya yang Panjat bunda," kaget Arya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, dulu papa kamu aja panjat pohon ini!, masa kamu ga sayang dengan bayimu,"ucap Mikaila menuju perut Raina.
Raina langsung mengangguk, merasa mendapat pembelaan dari bunda Mikaila.
Arya melihat pohon itu yang begitu tinggi, dengan susah ia menelan salivanya dan melihat kearah papa meminta bantuannya.
"Kamu kenapa lihat papa, waktu kamu dalam perut Bunda Papa juga panjat pohon ini," jelas Bram.
"Emang Papa bisa panjat pohon?" tanya Arya tak percaya.
"Itu untuk yang pertama kalinya Papa memanjat pohon demi kamu, sekarang giliran kamu yang coba panjat pohon demi anak kamu," ucap Bram.
Arya dengan ragu menghampiri pohon tersebut mencoba melihat dari sisi mana sebaiknya ia mulai memanjatnya.
Lama Arya berputar-putar mengitari pohon mangga tersebut, ia benar-benar tak tau harus bagaimana, tangkai tempat untuk berpijak agak tunggi. Pohonnya lurus di bagian bawahnya.
"Arya, Kamu niat nggak sih panjat pohonnya nya," tegur Bunda yang sudah lelah berdiri menunggu putranya itu.Namun, ia belum juga mulai naik.
"Arya bingung Gimana cara naiknya," jawab Arya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Bram mendekat dan mencoba melihat pohon tersebut.
"Sudah, kamu lewat sini saja. Nanti papa bantu dorong," ucap Bram menunjuk Salah satu sisi yang bagian bisa untuk tempat berpijak.
__ADS_1
Arya mencoba memanjat pohon tersebut dengan bantuan Papanya. Setelah bersusah payah akhirnya Arya sampai di salah satu batang pohon mangga dan duduk untuk beristirahat sejenak.
"Ternyata panjat pohon nggak segampang yang dilihat ya," sahut Arya dari atas pohon.
"Kalau Kakak enggak bisa, Raina bisa kok panjat sendiri, Raina sering panjat pohon mangga di kampung," ucap Raina yang kesal mendengar Arya terus mengeluh.
"Iya sabar, Kak ambilkan," ucap Arya mencoba pindah ke batang lain agar lebih dekat dengan buah mangga yang diinginkan oleh Raina.
"Ada apa sih?" tanya Gavin menghampiri mereka.
"Itu Kakak kamu, lambat sekali sih ngambil buah mangganya," keluh Mikaila menunjuk Arya yang di atas pohon.
"Wihhhh, hebat kak Arya bisa panjat pohon," ucap Gavin melihat Arya yang sudah ada di atas pohon.
"udah. Kamu naik juga bantuin kakak, susah ini," ucap Arya yang kesulitan menggapai buah mangga yang terus bergoyang saat akan menggapai nya, ia memegang batang pohon nya dengan tangan yang bergetar.
Gavin mencoba memanjat pohon tersebut dan juga dibantu oleh Bram. Berbeda dengan Arya Gavin dengan cepat memanjat pohon itu dan sudah berada di dekat Arya.
"Kakak mau ngambil yang mana?" tanya Gavin.
"Yang ini, tunjuk Arya pada buah mangga yang tak jauh dari tangannya. Coba Kakak pindah, biar aku yang mengambilnya," ucap Gavin, Arya pun sedikit bergeser agar Gavin bisa mengambil buah mangga tersebut.
Ternyata memang sulit, tempat pijakan nya terlalu kecil sehingga batang itu sedikit bergoyang saat Gavin menginjaknya.
"Kakak jangan goyang-goyang," tegur Gavin yang merasa batang tersebut terus bergoyang saat ia berusaha menggapai buah mangga itu.
"Mana ada kakak menggoyangkan nya,, Kakak nggak goyang sedikitpun bernafas aja kakak mikir-mikir dulu. Takut Jatuh," ucap Arya.
"Sayang, satu aja cukup kan?" teriaknya dari atas pohon.
"Bunda juga mau dong, ambil juga buat bunda ya, Nak!" teriak Mikaila pada kedua putranya yang ada di atas pohon.
Mereka pun naik semakin tinggi untuk mencari buah mangga yang bisa mereka gapai.
Buahnya banyak, tapi semuanya berada pada ujung batang dan tidak mungkin meraka untuk menggapainya tanpa bantuan galah.
Mereka naik secara perlahan-lahan karena ini baru pertama kalinya mereka memanjat pohon seperti saat ini.
Bram terus tertawa dibawah pohon melihat kedua putranya yang merangkak memanjat pohon.
Mereka akhirnya berhasil memetik beberapa buah mangga dan menjatuhkannya ke tanah.
"Sudah ini cukup," teriak Mikaila yang melihat sudah banyak mangga yang berhasil mereka dapatkan.
"Gavin," ucap Arya pelan dan terlihat kaku.
"Ada apa kak?" tanya Gavin santai.
"Disamping kamu itu apa?" tanya Arya melirik kesamping Gavin.
__ADS_1
"Apakah kak?" tanya Gavin mulai takut.
"Kamu jangan bergerak, kakak turun lebih dulu, setelah itu kamu turun juga. Tapi kamu harus pelan-pelan," ucap Arya mulai turun lebih dulu.
Gavin yang merasa takut perlahan berbalik melihat apa yang kakaknya maksud.
Gavin melihat seekor ular yang mengarah kepadanya, dengan cepat Gavin turun begitu juga dengan Arya.
Mereka seperti berlari di atas pohon itu, hanya dalam beberapa detik mereka sudah lompat dan menapaki kaki mereka di tanah.
Semua yang dibawa melongo melihat keduanya turun dengan cepat.
Gavin dan Arya yang sudah berhasil turun saling menatap dan tertawa terbahak-bahak, mengingat bagaimana cara mereka turun dari pohon tadi.
"Kalian kenapa sih, turunnya seperti itu. Kalau kalian jatuh bagaimana," kesal Mikaila.
"Kalau kita nggak turun dengan cepat Bunda, bisa-bisa kita dipatok ular. Di atas itu ada ular yang sangat besar," jelas Gavin disela tawanya.
"Ayo kita masuk, ini sudah malam," Ucap Mikaila berjalan masuk dengan membawa mangga tersebut, tak menghiraukan perkataan Gavin.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan masih terus tertawa saat pandangan mereka bertemu.
Bi Yanti yang mendengar mereka berisik menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya bi Yanti pada suaminya yang juga ikut tertawa melihat Gavin dan Arya tertawa tak henti-henti.
"Enggak apa-apa Bu, Kami habis dari petik buah mangga," ucapan Slamat menunjuk buah mangga yang sedang dicuci oleh Mikaila. Bi Yanti pun ikut menyiapkan rujak untuk mereka semua.
Malam ini, mereka semua menikmati rujak buah mangga yang mereka petik sejak dengan susah payah dan setelah memakan buah mangga tersebut perasaan Raina menjadi lebih baik, dia sudah tak mau lagi.
"Sepertinya bayi kita suka dengan mangga itu. Aku sudah tak mual lagi setelah memakannya," ucap Raina dengan senyum termanis pada Arya yang duduk di samping nya.
"Kamu tenang saja, apapun akan Kakak lakukan buat bayi kita. Jangankan memanjat pohon, menebang pohon itu saja akan kakak lakukan untuk kalian," ucap Arya menekankan kata menebang.
Membuat Gavin kembali tertawa mendengar ucapan Arya.
Raina yang juga mengerti arti dari ucap Arya melayangkan pukulannya ke lengan Arya.
"Ia, apapun untuk bayi kita," ucap Arya mengusap lembut perut rata Raina.
ππππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
Jangan lupa ya untuk terus mendukung dengan memberi like dan komen nyaπ
Salam darikuπ€
Author m anha
__ADS_1
Love you all πππ
πππππππππππππ