Pilihan Ku

Pilihan Ku
Firasat Mikaila.


__ADS_3

Mikaila kembali ke rumah, perasaannya semakin tak nyaman,,,


"ada apa nak?"tanya ibu.


"ga tau Bu,aku ko kepikiran mas Bram terus ya,dada aku sampai sesak Bu,"ucap Mikaila mengelus dadanya.


"itu karena kamu masih meragukan kesetiaan suami kamu,kita doakan saja semua akan baik-baik saja."ucap ibu memberikan air minum kepada Mikaila.


"amin Bu,"Mikaila sedikit tenang setelah menghabiskan segelas air.


"prangkkk,"Mikaila tak sengaja menjatuhkan gelas.


"astagfirullah astagfirullahhalazim,"ucap Mikaila saat serpihan pecahan gelas tadi melukai kakinya.


"ada apa Bu,"tanya ayah yang datang karena mendengar suara pecahan.


"ga apa-apa yah,Ini Mikaila ga sengaja menjatuhkan gelas,"ucap ibu menenangkan ayah yang terlihat panik.


"hati hati,kamu temani anak-anak mu di luar,ini biar ayah yang membersihkan.


Mikaila tak berkata apa-apa,ia berjalan keluar.


"mas Bram,kenapa perasaan aku jadi semakin tak enak begini,"batin Mikaila.


Mikaila mengambil ponselnya dan menelfon Bram.


"belum aktif,mungkin mas Bram masih di pesawat,"gumam Mikaila.


Mikaila mengusir rasa khawatirnya dengan menenani anak-anaknya bermain di halaman rumah.


Di bandara.


Pak slamat sudah menunggu pesawat pribadi milik Bram,ia terus melihat jam,memastikan berapa lama lagi pesawat majikannya itu mendarat.


Seseorang dari dalam mobil terus mengawasi pak slamat.


Bram menaiki pesawat pribadinya.


sesampainya di bandara


Arya melambaikan tangan saat melihat pak slamat yang telah menunggunya dan melambaikan tangan pada Arya.


Bram memengang tangan Arya saat berjalan menuju ke mobil jemputan mereka.


Ponsel Bram berdering dan tertera nama orang yang Bram tugaskan mencari keberadaan Raina.


Tak ingin membuat anaknya bersedih karena mendengar nama Raina Bram menyuruh Arya lebih dulu berjalan menuju pak slamat,pak slamat langsung berlari kecil menghampiri Arya.


"Wah den Arya, bagaimana kabarnya? seneng banget kayanya habis dari kampung"tanya pak slamat memegang tangan Arya menuju mobil mereka.


"baik pak,Arya senang banget.kami pergi ke kebun bersama Kakek dan om Jabbar.


Seseorang yang sedari tadi menunggu mereka tersenyum penuh arti.


orang tersebut adalah Sonia,mereka keluar dari persembunyian untuk menjalankan rencana yang mereka susun dengan sangat baik.


"jalan,"ucap Sonia yang sedari tadi mengawasi pak slamat.


"baik,"jawab seseorang di balik kemudi,ia menjalankan mobilnya ke arah Arya dan pak slamat.


"kami sudah menemukan lokasi Raina,tapi sepertinya orang yang menyekap mereka juga menemukan lokasi mereka."ucap orang suruhan Bram dari balik telfon.


"Kalian harus bisa mendahului mereka,bawa mereka ke tempat yang aman."ucap Bram mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Bram akan menyimpan ponselnya,namun ponsel Bram kembali berdering.


"Alex,"gumam Bram mengangkat panggilan Alex.


"ada apa Lex,"tanya Bram.


"Sonia berada di bandara,kami kehilangan jejaknya."ucap Alex.


"Arya,"ucap Bram langsung mencari keberadaan anaknya.


"papa,"teriak Arya saat seseorang mencoba memasukkan nya ke dalam mobil..


"Arya,"Bram berlari mengejar mobil yang sudah melaju meninggalkan pak slamat yang terkapar di jalan.


Bram tak bisa mengejar mobil tersebut,ia melihat Alex dan beberapa mobil lain sudah mengejar mobil yang membawa Arya.


Bram kembali ke tempat pak slamat,


Pak slamat memberikan kunci mobilnya.


"cepat selamat kan putramu,"ucap pak slamat yang sudah berlumuran darah.


Bram tak tega meninggalkan pak slamat dalam kondisi seperti ini,ia sudah menganggap pak slamat ayah keduanya.


Tapi Bram juga mengkhawatirkan keadaan putranya.


Bram mengambil kunci mobil dari tangan pak slamat dan Bram langsung mengejar mobil yang membawa Arya, Bram menghubungi Yoga untuk mengurus pak slamat.


Saling kejar-kejaran terjadi di jalan raya pun terjadi,Alex dan anak buahnya terus mengejar mobil Sonia, Begitu juga dengan Bram yang berhasil menyusun mereka.


Yoga yang sedang memimpin rapat langsung meninggalkan rapat tersebut setelah mendapat telepon dari Bram.


Yoga meminta David mengurus pak slamat dan ia sendiri ikut mencari Arya.


David membubarkan rapat dan langsung menuju bandara.


Sonia dan komplotan nya sudah merencanakannya semua dengan sangat baik,ia sengaja menggiring Bram agar terus mengikuti nya sedangkan yang lain berusaha menghalangi Alex dan antek-anteknya.


Sonia tersenyum saat mendapat kabar jika mereka berhasil mengecoh Alex dan mengikuti mobil lain yang sama persis dengan yang Sonia tumpangi.


Sonia membawa Bram ke sebuah dermaga,di sana sudah ada beberapa anak buahnya yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Mobil Sonia langsung masuk ke dalam kapal yang sudah mereka siapkan sejak awal.


Mobil Bram berhenti saat beberapa mobil menghadang jalanan nya.


Bram melihat Arya berada di dalam kapal,


"papa"teriak Arya ketakutan.


Bram ingin menolong Arya,namun beberapa orang menghadangnya dan terjadilah perkelahian yang tak seimbang..


Bram yang memang ahli dalam bela diri mampu mengalahkan mereka semua,


"berhenti,"teriak Sonia menodongkan senjata api ke kepala Arya.


Arya sudah menagis ketakutan melihat papanya dikeroyok dan pistol yang di pegang oleh Sonia.


Bram tak bisa berbuat apa-apa melihat wajah ketakutan anaknya,ia mengangkat tangannya,,,Bram tak ingin terjadi apa-apa pada anaknya lagi.


"Bukk,bukkk, bukkk. "


Pukulan demi pukulan di layangkan kepadanya,Arya terus merontah ingin bersama papanya,

__ADS_1


"jangan,jangan pukuli papaku.papaaaa,"teriak Arya menagis dan memohon kepada Sonia.


Sonia hanya tersenyum jahat melihat Bram yang tak berdaya dan menerima pukulan dari beberapa anak buahnya.


Hingga salah satu dari mereka memukul kepala Bram dengan tongkat.


"bukkk"


Bram merasa pusing akibat pukulan itu,cairan merah menetes dari kepala nya.


Bram berbalik melihat Arya,


"ya Allah selamatkan anak ku,"batin Bram.


"papa,"teriak Arya berlari menghampiri papanya saat melihat Bram terjatuh sudah tak sadarkan diri.


Sasaran utama Sonia adalah Bram,Arya hanya di jadikannya umpan agar Bram datang sendiri padanya.


Kebenciannya pada Bram semakin bertambah saat ia mengingat bagaimana penderitaannya saat keluar dari hutan tempat di mana ia terjatuh dari jurang dan hampir merenggut nyawanya.


Luka di wajahnya menjadi bukti rasa sakitnya.


Setiap saat ia selalu berharap bisa membalas dendamnya.


"masukkan mereka kedalam kapal,"ucap Sonia memutar-mutar pistol di jari telunjuknya dan melenggang masuk ke dalam kapal.


Meraka membawa Bram dan Arya masuk ke kapal.


Mikaila menelfon Bram berkali-kali namun tak ada jawaban,ponsel Bram aktif tapi tak di angkat.


"kenapa mas Bram tak mengangkat telfonnya."ucap Mikaila semakin cemas.


Mikaila menelfon pak slamat juga tak di angkat.


Akhirnya Mikaila menelfon bi Yanti menanyakan apakah mereka sudah sampai atau belum.


"halo bi assalamualaikum,"ucap Mikaila saat bi Yanti mengangkat telfonnya.


"waalaikumussalam non,"jawab bi Yanti.


"bi apa mas Bram dan Arya sudah sampai?"tanya Mikaila langsung pada intinya.


"belum Bu,mungkin masih di jalan"jawab bi Yanti mengira-ngira.


"aku dari tadi coba menghubungi mas Bram tapi tak di angkat,aku khawatir bi.Minta mas Bram hubungi aku ya bi jika mereka sudah sampai ke rumah.."


"iya non,nanti bibi sampai kan."ucap bi Yanti mengakhiri pembicaraan mereka.


Bi Yanti mendapat telfon dari nomor suaminya.


"pak sudah sampai mana?"tanya bi Yanti.


"pak slamat sekarang ada di rumah sakit,bibi langsung kesini ya,"ucap Anindita.


"rumah sakit,ia bu bibi ke sana sekarang."


ucap bi Yanti berlari keluar rumah dan meminta pak Wawan mengantarnya ke rumah sakit.


πŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­


Terimakasih sudah membaca πŸ’—πŸ™πŸ‘


Jangan lupa like vote dan komennya πŸ™πŸ™πŸ™.

__ADS_1


__ADS_2