
Semua menyambut saat Raina didorong masuk ke dalam ruang rawatnya, Mikaila langsung menghampiri dan mengencup kening menantunya itu.
"Terima kasih untuk kebahagiaan yang sudah kau berikan pada keluarga Ku, Nak," ucap Mikaila mengusap penuh sayang kedua punggung tangan Raina.
"Aku yang seharusnya berterima kasih Bunda, Bunda mau menjadikanku bagian dari keluarga, aku sangat bahagia bisa menjadi keluarga kalian semua," ucap Raina berkaca-kaca. Semenjak menjadi menantu di keluarga Wijaya ia merasa sangat bahagia, semua sangat menyayanginya. Bukan sebagai menantu, tapi mereka menyayanginya seperti seorang anak.
Suster mendorong ranjang bayi masuk dalam ruangan tersebut, semua orang yang ada di sana langsung beralih pada bayi cantik yang sedang tertidur di ranjang bayi nya.
"Cucuku … cantiknya," Mikaila langsung mengangkat bayi kecil itu ke gendongannya.
Bram juga menghampiri Mikaila dan mengecup kening cucu pertamanya, Bram tak bisa mengungkapkan kebahagiaan saat melihat bayi kecil itu.
Arsy tak mau kalah, ia langsung menarik Bundanya untuk duduk agar bisa melihat bayi kecil yang kini tengah menggeliat karena tidurnya terganggu.
"Bunda ini bayi yang ada di perut Kak Raina ya?" tanya Arsy berbinar dan memegang tangan kecil bayi cantik yang ada di pangkuan bundanya.
"Iya Sayang, ini bayi yang ada di dalam perut Kak Raina, cantik kan?"ucap Mikaila mengelus lembut pipi sang bayi, membuat bayi itu kembali menggeliat kemudian tertidur kembali.
Tanpa terasa air mata Mikaila menetes. Namun, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
"Sini sama Eyang, digendong sama Eyang, ya!" ucap Ibu Mikaila mengambil bayi itu ke gendongannya,
"Ih, cantiknya nya. Kok, wajahnya mirip Arsy ya!"ucap Ibu Mikaila.
"Pasti dong Nek, ini kan adiknya Arsy." Arsy sangat senang saat mendengar neneknya mengatakan jika wajahnya dan bayi kecil itu mirip.
"Iya, Kau benar. Wajahnya sangat mirip dengan Arsy waktu kecil dulu," ucap Ibu Bram yang membenarkan ucapan Ibu Mikaila.
"Coba sini aku lihat," ucap Gavin ikut mendekat.
"Nggak, Ah! nggak mirip adik, bayinya lebih cantik," canda Gavin yang membuat adiknya itu mengerucutkan bibirnya.
Kelvin langsung menarik Arsy ke pangkuannya.
"Dua-duanya cantik," ucap Kelvin menggelitik Arsy membuat Arsy kembali tersenyum.
Semua silih berganti ingin menggendong bayi kecil mungil yang sangat menggemaskan itu.
"Sudah, jangan diganggu dulu, biarkan bayinya istirahat. Jangan dicium terus, kulitnya masih sangat sensitif. Kasian kalau bayinya sampai terkena iritasi." tegur Anin.
"Aku gemes Mbak," ucap Mikaila terus mencium pipi cucunya.
"Iya. Emang gemes, tapi kamu sayang kan sama cucumu, kamu nggak mau kan kalau pipinya merah-merah, terus gatal, terus iritasi," ucap Anindita mengambil bayi kecil itu dari gendongan Mikaila dan meletakkannya di samping Raina, membersihkan pipi bayi kecil itu yang ia yakini sudah banyak yang telah menciumnya.
Arsy mendekat dan dan membiarkan bayi kecil itu menggenggam jari telunjuknya.
"Arsy senang ya, sayang? Adik bayinya sudah datang, udah lahir?" ucap Anindita.
"Iya, Tante. Arsy senang banget, sudah lama menunggunya lahir," ucap Arsy mencium tangan bayi kecil itu yang terus menggenggam jari telunjuknya dan berusaha menarik tangan Arsy ke mulut kecilnya.
"Arsy Jangan dicium terus ya pipi adiknya, nanti iritasi pipinya, apalagi kalau Arsy baru makan," ucap Anindita memperingati Arsy.
"Iya Tante, Arsy ngerti. sebelum mencium adik, Arsy akan membersihkan mulut dulu," ucap Arsy tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya.
"Gitu dong. Arsy sayang kan sama adiknya bayinya?" mengelus rambut Arsy.
Arsy mengangguk.
"Bunda adiknya makannya apa? kayaknya dia lapar, pengen gigit tangan Arsy terus!" tanya Arsy saat Mikaila kembali mendekat pada cucunya.
__ADS_1
"Raina, apa ASI kamu sudah keluar?" tanya Mikaila,
"Belum deh kayaknya Bunda, tapi dada Raina sudah mulai sakit."
"Kok, dadanya sakit sayang?" tanya Arya mendekat mendengar keluhan Raina.
"Memang sakit kalau ASI-nya sudah mulai keluar, 2 atau 3 hari udah sembuh kok, apalagi kalau bayi kalian sudah aktif menghisap ASI-nya."
"Arya, kamu sudah paham kan kalau kamu belum boleh menyentuh istrimu," tegur Anindita yang melihat Arya memeriksa dada Raina.
"Iya Tante, Arya tahu kalau soal itu." Jawab Arya masih terus mencoba memegang dada Raina, tapi Raina terus menyingkirkan tangan Arya.
"Tante cuma memperingatkan, terkadang orang yang sudah tahu, tetap saja melanggar, itu nggak baik untuk kesehatan Raina kedepannya dan itu juga dilarang agama," jelas Anindita .
Anindita mengangkat bayi kecil itu dan mencoba mengajarkan untuk mulai mencari sendiri sumber ASI-nya.
Raina merasa sedikit malu saat harus mengeluarkan dadanya,
"Sudah jangan malu, kamu malu sama Bunda mu, sama Tante?" ucapan Anindita.
Raina pun mengeluarkan dadanya dan Anin meletakkan bayinya di sana, agar bayi itu bisa mencari sendiri sumber ASI-nya.
Di kamar itu hanya tersisa Mikaila, Anindita, Arya, dan juga Arsy. Sementara yang lainnya sudah entah kemana, ada yang pulang dan ada juga yang mencari makan.
Raina tersenyum bahagia saat bayinya sudah mendapatkan sumber ASI-nya dan menghisap dengan sangat kuat.
"Wah, sepertinya dia sangat lapar, ya," ucap Arya.
"Tante sudah ya! dadaku sakit." Raina sedikit menarik dadanya. Namun, bayi kecil itu seperti ini tak ingin melepas sumber ASI-nya.
"Apa sebaiknya kita belikan susu formula dulu, Tante?"tanya Arya yang merasa kasihan melihat anaknya yang terlihat begitu kelaparan.
Anin kemudian memeriksa dada yang satunya, ternyata sudah mulai mengeluarkan ASI.
"Terus ajari dia untuk meminum ASI-nya, jangan biasakan untuk minum susu formula saat ASI kamu masih lancar." Ucap Anin.
"Iya Tante, Raina akan memberikan Asi eksklusif" ucap Raina.
"Mbak, kapan Raina bisa pulang?" tanya Mikaila.
"Sementara kita lihat dulu perkembangannya, jika kondisi mereka baik-baik saja, mungkin dia hanya sehari dirawat," jelas Anindita.
Malam ini Arya, Mikaila dan ibu Mikaila menginap di rumah sakit. Sedangkan yang lainnya pulang kerumah dan akan datang lagi besok pagi.
Malam hari bayi itu sangat rewel, dia tidak mau tidur dan terus menangis saat ditidurkan di atas tempat tidurnya, Ia hanya ingin dipangku oleh Arya. Saat Mikaila menggendongnya bayi itu kembali menangis dan baru tenang saat berada di gedongan Arya.
"Bunda apa aku harus menggendongnya sampai pagi,"keluh Arya yang sudah merasa sangat lelah, punggungnya terasa sakit. Sejak tadi ia duduk dan terus menggendong bayinya. Kedua tangannya terasa pegal dan keram karena belum tahu cara menggendong bayi membuat dia menjadi sangat kaku, takut jika bayinya terjatuh.
Setelah melihat bayi cantik itu tidur dengan sangat pulas, barulah Arya memindahkan bayinya dengan sangat perlahan ke pangkuan bundanya, mereka bahkan menahan nafas saat bayi itu menggeliat saat berhasil di pindahkan ke pangkuan Mikaila. Memindahkannya dengan sangat hati-hati agar bayinya tidak kembali terbangun.
Arya bernapas lega dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa saat berhasil memindahkan bayinya ke pangkuan Bundanya.
"Cepat kamu tidur sana, istirahat. Sebelum anak kamu bangun lagi."ucap Mikaila melihat Arya bukannya berbaring di sofa, tapi malah bangun dan menghampiri Raina yang sudah tertidur pulas.
"Arya Kamu mau tidur dimana?" tegur ibu Mikaila yang juga masih terjaga.
"Arya nggak bisa tidur, Nek. Kalau nggak meluk Raina," ucap Arya naik keranjang Raina dan langsung tertidur pulas sambil memeluk istrinya.
Raina yang tak tidur nyenyak dari kemarin, malam ini tidur begitu nyenyak. Bahkan ia tidak merasakan saat Arya berbaring di sampingnya.
__ADS_1
Mikaila hanya membangunkan Raina saat bayi itu menangis ingin menyusu.
Kediaman Abraham Wijaya
Di rumah, Arsy terus merengek ingin kembali ke rumah sakit. Bram mengatakan jika mereka akan kembali ke rumah sakit besok pagi.
Arsy marah dengan papanya dan langsung berlari ke kamar Kelvin dan tidur di sana.
Bram masuk ke kamar Kelvin dan melihat Arsy sudah tidur di kasur kakaknya. Bram tak melihat Kelvin di kamar itu, kemudian ia mendengar suara Kelvin di balkon kamarnya.
"Apa kau sudah menemukan gadis itu?" tanya Kelvin pada seseorang dari balik teleponnya.
"Terus mencarinya dan hubungi aku secepatnya saat kau menemukannya," ucap Kelvin matikan panggilannya.
Saat ia berbalik, Kelvin melihat Bram berdiri menatapnya penuh curiga.
"Gadis siapa yang sedang kau cari?" tanya Bram menatap Kelvin dengan tegas.
"Bukan siapa-siapa, Pah!" jawab Kelvin.
"Kau jangan bohong sama Papa, Papa tahu kau sedang dalam masalah. Papa bisa melihat tingkah mu sangat aneh semenjak kau pulang. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan dari Papa," tegas Bram berjalan menghampiri Kelvin.
Kelvin hanya terdiam, tak berani menatap wajah Papanya.
"Apa kau membuat masalah di sana?"tanya Bram.
Lagi-lagi Kelvin hanya terdiam.
Bram duduk dan menyuruh Kelvin duduk di sampingnya.
"Kalau punya masalah, ceritakan pada Papa, anggap Papa ini adalah temanmu."
"Ini masalah Diandra, Pah," ucap Kelvin memberanikan diri.
"Diandra?" tanya Bram mengerutkan keningnya.
"Iya, Pah. Aku menyuruh orang untuk mencarinya dan juga Clara. Sebelum pulang aku ke Apartemennya. Orang-orang disana menyatakan jika bu Sulastri sudah meninggal dan Diandra serta adiknya pergi entah kemana, aku hanya khawatir dengan mereka," ucap Kelvin. Kelvin tak mengatakan jika ia telah melakukan kesalahan kepada Diandra.
"Apa dia tidak memberitahumu dia pergi kemana?" tanya Bram.
"Tidak, Pah. Aku bahkan tak tahu jika Bu Sulastri sudah meninggal. Aku baru tahu saat aku mendatangi Apartemen mereka sehari sebelum aku pulang."
"Aku akan meminta Alex untuk membantu mencarinya. Alex sangat ahli dalam mencari seseorang."ucap Bram.
"Iya,Pah."
Bram kembali ke kamarnya, Kelvin mengusap kasar wajahnya. Ia tak berani mengatakan kebenaran nya pada papanya.
"Diandra, Clara dimana kalian," batin Kelvin.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon dukungannya ya kakak 🙏
Like dan komen kalian sangat membantu🙏
Salam dariku Author m anha ❤️
__ADS_1
Love you all 💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖