Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Pertama kali Berpisah.


__ADS_3

Alex mengantar mereka hingga ke Apartemen. Meraka sampai di Apartemen sudah larut malam, Jessica memaksa Alex untuk menginap di Apartemen Mereka, Alex pun menyetujuinya.


Apartemen tersebut terdapat 3 kamar tidur, Alex tidur di kamar yang akan ditempati oleh Jessica sementara Jessica Raina dan Natali tidur di kamar yang sama, sepanjang malam mereka terus berbincang-bincang bercerita Apa saja yang mereka lakukan selama ini, mereka berbincang-bincang hingga tanpa sadar hari sudah mulai pagi dan mereka sudah ngantuk.


Karena tak tidur semalaman, saat pagi mereka baru tertidur pulas, Alex sudah terbangun dan tak mendapati mereka,


"Kemana mereka semua, kenapa jam segini mereka belum keluar dari kamar ," gumam Alex yang sejak tadi menunggu mereka di ruang tengah.


Alex merasa lapar, ia kemudian memutuskan untuk membuat makanan untuknya dan untuk mereka. Alex membuat nasi goreng, karena hanya itu yang ia bisa.


Nasi goreng telah siap, Alex juga sudah selesai makan namun mereka tak kunjung keluar dari kamar. Alex menulis sebuah pesan di secarik kertas dan menempelnya di kulkas sebelum meninggalkan Apartemen itu. Masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan selain menunggu mereka keluar dari kamar.


Jessica terbangun saat merasa lapar, ia memegang perutnya dan melihat jam di ponselnya,


"Pantas saja aku lapar, Ini sudah lewat jam makan siang ," gumam Jessica kemudian membangunkan Natali dan Raina.


Saat keluar kamar mereka melihat makanan sudah terhidang di meja makan, Jessica melihat tulisan Alex saat akan mengambil air minum,


"Aku sudah memasak makanan untuk kalian, makanlah. Senang bisa berkenalan denganmu," tulis Alex. Jessica tersenyum membaca tulisan dari Alex, ia merasa aman dan nyaman saat berada di dekat Alex.


"Alex udah pergi ya?"tanya Natali melihat kakaknya membaca sebuah pesan,


"Iya",


"Apa ini buatan Alex, rasanya sangat enak ?!" ucap Raina yang sudah lebih dulu makan nasi goreng buatan Alex.


"Benarkah rasanya enak ?!" ucap Jessica ikut makan nasi goreng tersebut.


"Iya rasanya enak," jawab Natali.


Mereka pun makan dengan lahap nasi goreng buatan Alex.


Di kediaman Abraham Wijaya.


Pagi ini adalah hari pertama Arya bekerja sebagai pemimpin perusahaan, Mikaila memasak semua hidangan kesukaan Arya.


"Makan yang banyak, agar kamu bisa memimpin perusahaan dengan baik," ucap Mikaila menyendok kan makanan ke piring Arya.


"Bunda jangan banyak-banyak, nanti bukannya memimpin perusahaan aku malah bolak-balik ke kamar mandi," ucap Arya melihat porsi yang diberikan oleh bundanya.


Arsy tertawa mendengar ucapan kakaknya itu,


"Kakak selamat ya, semoga Kakak menjadi pemimpin yang hebat melebihi Papa," ucap Gavin.


"Amin," ucap Bram mengaminkan ucapan anaknya.

__ADS_1


"Pah, rencananya dua minggu lagi aku akan berangkat keluar negeri," ucap Kelvin sambil menyendok kan makanan ke dalam mulutnya.


Mikaila yang mendengarnya merasa sedih,


"Mas apa nggak bisa Kelvin kuliah di sini saja," ucap Mikaila, ia tak pernah berpisah dengan anak-anaknya dalam waktu yang lama apalagi Kelvin akan pergi ke negeri.


"Mas ngerti kamu merasa sedih, tapi ini semua demi kebaikannya. Disana dia akan menimba banyak ilmu dan belajar membangun perusahaan. Ia ke sana tak akan lama begitu kuliahnya selesai kelvin bisa kembali kesini dan membangun perusahaan miliknya sendiri," jelas Bram.


Mikaila menatap sedih pada Kelvin.


"Bunda Kelvin akan baik-baik saja, kelvin hanya butuh berdoa Bunda semoga bisa menjalani hari-hari di sana dengan baik dan lancar dan pulang membawa kebanggaan untuk papa dan Bunda,"


"Doa bunda akan selalu menyertaimu, menyertai kalian semua tanpa kalian minta,"


"Ayo makan, kalian harus berangkat ke kantor," ucap Bram mengakhiri pembahasan yang bisa membuat mood mereka semua menjadi hilang.


****


Arya mulai terbiasa dengan jabatannya, ia sudah bisa menyesuaikan diri sebagai pemimpin perusahaan.


Raina selalu menemaninya, membantu apa saja yang di butuhkan oleh Arya. Memperhatikan makan dan sekedar menjadi tukang pijat saat Arya kelelahan.


Sebelum pergi ke luar negeri Kelvin mengajari Gavin apa yang harus dilakukan, walau sedikit kesulitan namun Kelvin tetap mengajari Gavin dengan sabar.


Bukannya Ia tak percaya dengan adiknya itu tapi Gavin memang lebih banyak bermain daripada serius dalam bekerja. Untung saja bunda sudah mengizinkan Papanya untuk kembali ke kantor walaupun hanya sesekali, setidaknya ia bisa mengawasi pekerjaan Gavin selama kelvin pergi keluar negeri.


Natali hanya diam begitu juga dengan Kelvin.


"Kamu yakin mau pergi ke luar negeri?" tanya Natali memulai pembicaraan.


"Aku tak punya pilihan lain, Papa banyak menggantungkan harapannya padaku. Aku ingin membanggakan Papa dan Bunda dan bisa membangun perusahaan Papa" ucap Kelvin. "Apa kamu mau ikut bersamaku,"


Natali melihat kelvin, ingin rasanya ia mengatakan Iya namun Iya baru saja bertemu dengan Kak Jessica. Rasa kerinduannya belum sepenuhnya hilang, Ia juga sudah merasa nyaman berkantor di perusahaan.


"Maaf ya, sepertinya aku kuliah di sini saja. Aku sudah nyaman disini, aku takut aku hanya akan merepotkanmu di sana," jawab Natali.


"Enggak apa-apa, tolong bantu Gavin ya dia Anaknya ceroboh. Aku tak ingin saat kembali perusahaan itu sudah hancur di bawah kendalinya," canda Kelvin.


"Aku dengar selama di sana kamu juga akan bekerja ya?"


"Iya, Papa punya perusahaan disana, walaupun nggak sebesar perusahaan di sini tapi aku akan bekerja di sana, mencoba mencari pengalaman kerja." jawab Kelvin.


Tiba saatnya keberangkatan Kelvin, semua mengantarnya ke bandara.


"Sudahlah bunda, aku hanya ingin pergi belajar, Bunda nggak usah nangis?" ucap Kelvin mengusap airmata Bundanya yang terus mengalir sambil memeluknya.

__ADS_1


Mikaila bahkan sudah menangis dari semalam saat mengemas barang-barang Kelvin. Bram mengusap kepala istrinya,


"Sayang anak kita hanya pergi sebentar, bukan selama-lamanya, dia kan sering kembali. Dia bahkan bisa kembali setiap akhir pekan jika kamu memang menginginkannya." ucap Bram.


"Kamu jangan lupa makan ya, jangan lupa istirahat, Jangan berteman dengan orang-orang yang bisa menjerumuskan ke hal-hal yang negatif," pesan Mikaila.


"Iya Bunda, Kelvin akan ingin pesan bunda."


Kevin menghampiri Natali,


"Aku pergi ya," ucap Kelvin, Natali tersenyum dan mengangguk.


Semua melambaikan tangan mengantar kepergian kelvin, Bram merangkul istrinya.


"Sudah jangan sedih, Kalau kau mau kita bisa setiap hari mengunjunginya," canda Bram.


****


Bukan cuman perusahaan, Bram juga menyerahkan ruang kerjanya yang ada di rumah kepada Arya.


Ia ingin istirahat dari semua pekerjaannya dan menyerahkannya kepada Arya.


Arya duduk di kursi kerja Papanya, ia merasa bangga dengan dirinya sendiri dengan apa yang sudah ia capai.


Arya menelusuri setiap sisi ruangan itu melihat-lihat barang-barang milik Papanya dan matanya tertuju pada brankas yang ada di sudut ruangan itu.


Arya mencoba membukanya namun brangkas itu memerlukan kata sandi. Ia mengirim pesan kepada Papanya meminta sandi brankas tersebut.


Tak butuh waktu lama, pesan masuk dari Bram, berisi sandi brankas itu.


Arya memasukkan kode sandi tersebut dan brangkas nya terbuka.


Arya melihat begitu banyak berkas penting yang ada di sana. Ia memeriksa beberapa berkas dan matanya tertuju pada pembagian harta warisan seluruh kekayaan Papanya.


"Wah, ternyata harta Papa banyak sekali ," kagum Arya melihat semua aset yang di miliki Papanya.


Bram sudah membagi seluruh hartanya kepada mereka semua.


"Zaky, siapa Zaky?" batin Arya melihat salah satu yang tertera di daftar warisan tersebut. Ada nama Zaky diantara nama mereka.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca semoga menghibur. β˜ΊοΈπŸ€—


Banyak yang like kita up lagi ya!!!!!!

__ADS_1


Salam dariku Author m anha ❀️


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈ


__ADS_2