Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Mencari Solusi part 2


__ADS_3

Suasana mencekam masih terasa di ruang kerja Abraham Wijaya. Mikaila yang mendengar perintah suaminya, walau dengan ragu Ia pun memanggil Diandra.


"Bu, Diandra mana?" tanya Mikaila yang melihat ibunya Sedang membereskan meja makan. Namun, ia tidak melihat Diandra di sana. Arsy dan Kak Clara juga sedang asyik bermain di ruang tv.


"Diandra ada di kamar Raina, tadi mereka ingin memandikan Ayra," ucap ibu.


"Ya, udah. Bu! Aku panggil Diandra dulu."


Begitu Mikaila ingin pergi, Ibu langsung menahan nya,


"Tunggu. Ada yang ingin Ibu ditanyakan," ucap Ibu memandang Mikaila dengan penuh selidik.


Mikaila yang ditatap semakin salah tingkah. Pasalnya ia merahasiakan masalah Kelvin.


"Kamu nyembunyiin sesuatu ya dari Ibu?" Menatap tajam pada putrinya.


"Nyembunyiin apa sih, Bu!"


"Kamu ngaku, Ibu tahu ada masalah di rumah ini," jiwa kepo ibu meronta-ronta.


"Aku pergi dulu ya, Bu. Aku disuruh manggil Diandra," ucap Mikaila yang sudah kabur berlari naik ke atas ke lantai 2, ia ke kamar Raina untuk memanggil Diandra.


Sebelum membuka pintu Mikaila mengatur nafasnya, "Ya ampun, ternyata aku benar-benar sudah tua, lari segitu saja Aku sudah ngos-ngosan," bergumam sendiri sebelum membuka pintu.


Saat membuka pintu, terlihat Diandra dan Raina sedang bermain bersama Ayra. Dimana Aira terus tertawa melihat Diandra yang sesekali menyembunyikan wajahnya di balik bantal dan mengejutkannya.


"Diandra ikut bunda, ya!" ucap Mikaila mengulurkan tangannya, 


Diandra turun dari tempat tidur dan menyambut uluran tangan Mikaila.


"Kita mau kemana bunda?" tanya Diandra ikut berjalan keluar kamar.


"Suami Bunda memanggilmu!"


Langkah kaki Diandra berhenti, Ia tahu jika maksud Mikaila adalah Ia juga dipanggil untuk membahas masalahnya dengan Kelvin di ruang kerja dan itu membuat Diandra takut.


"Udah nggak apa-apa, ada Bunda. Bunda akan pasti kan kamu mendapat keadilan."


"Keadilan apa? Memangnya apa yang terjadi pada Diandra?" tanya ibu yang tiba-tiba muncul di belakang Mikaila.


"Ya ampun, Ibu. Bikin kaget saja," ucap Mikaila memegang dadanya, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.


"Ayo, Ibu juga ingin mendengar apa masalah kalian, jangan sembunyikan apapun dari Ibu. Ibu paling tidak suka," ucap Ibu Mikaila berjalan lebih dulu menuju ke ruang kerja di mana menantu dan cucunya ada di sana.


Mikaila menarik tangan Diandra, mau tidak mau Diandra pun ikut menyusul masuk ke ruangan itu.


Ayah Mikaila hanya melihat mereka, ia lebih memilih bersama Pak Slamet sambil menikmati cemilan mereka.


Mereka masuk dan semua mata tertuju pada ibu Mikaila.


Kelvin langsung berdiri. Kenapa Bundanya juga membawa neneknya. Pikir Kelvin.


Kelvin tahu seperti apa sifat neneknya. Jika ia mengetahui kesalahannya mungkin neneknya itu akan menghajarnya.


Ibu langsung duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu, Bram juga ikut duduk di depan mertuanya.


Melihat ibu dan suaminya duduk di sofa Mikaila pun menarik Diandra dan ikut duduk.


"Sebenarnya ada apa ini? Ada masalah apa. Kenapa wajah kalian begitu tegang saat ibu masuk?" tanya ibu yang sejak tadi mulai curiga.


"Ini masalah Kelvin dan Diandra, Nek," jawab Gavin tanpa ditanya.


Bram hanya menggaruk kepalanya mendengar putranya itu sepertinya lagi-lagi akan membocorkan rahasia mereka.


"Memangnya ada masalah apa dengan Diandra dan Kelvin? Nenek tegas dan kini ia berpindah duduk di dekat Gavin yang berdiri di sana, dibelakang salah satu kursi. Nenek menarik cucunya itu duduk di dekatnya.


"Jadi begini, Nek! Pada lulusan Kelvin beberapa bulan yang lalu, waktu itu kan karena Raina melahirkan itu kita semua pulang dan ternyata kak Kelvin itu mabuk-mabukan bersama teman-temannya."

__ADS_1


Gavin menceritakan semua yang ia tahu tanpa menutup nutupi sedikitpun membuat nenek merasa geram dan melihat cucunya yang masih duduk di kursi depan meja kerja Bram.


"Bukannya kamu pacaran dengan Natali? Terus kenapa kamu malah meniduri Diandra," bentak nenek pada Kelvin dari tempat duduknya.


 Bukan hanya Kelvin yang tersentak karena bentakan Nenek, semua orang yang ada di dalam ruangan itu ikut tersentak khususnya Gavin yang duduk di dekat Nenek.


Semuanya hanya diam.


"Kak Kelvinkan lagi mabuk,Nek. Namanya juga orang mabuk, gak sadar  dia itu mau melecehkan orang, mau bunuh diri, ya gak akan sadar, Nek!" lagi-lagi Gavin yang menjawab.


"Terus bagaimana sekarang?"


"Papa ingin menikah kan Kelvin dengan Diandra sedangkan Kak Kelvin kan ada Natali. Gimana tu, Nek?" Gavin dengan santainya duduk dan menaikkan kakinya ke kaki satunya.


"Ya harus dong? Walaupun dia punya Natali, Kelvin kamu harus bertanggung jawab," ucap nenek menatap Kelvin yang masih terdiam membisu di tempatnya.


"Tapi, Nek! Diandra juga nggak mau sama kak Kelvin!" Sahut Gavin cepat.


Nenek menetap pada Diandra. Yang sedari tadi memeluk lengan Mikaila.


Diandra tak ingin melihat ke arah Kelvin.


"Bagaimana?" tanya ibu menatap Diandra.


"Bagaimana! Maksud ibu?" Mikaila yang menjawab dan bertanya balik. 


"Ya, bagaimana! Apa Diandra mau menikah dengan Kelvin?" Menatap Diandra kembali.


Diandra dengan cepat menggeleng.


"Tuh 'kan … dia nggak mau!" Sahut Gavin.


"Kamu pikirkan dulu, jangan cepat-cepat menggeleng seperti itu. Kamu mengertikan apa yang sudah kamu alami mi?" Nenek melihat prihatin pada Diandra.


Diandra melihat pada Mikaila yang  mengusap tangannya.


Diandra menggigit Bibir bawahnya tak tahu harus menjawab apa. Namun dalam hatinya dia tetap tak ingin berhubungan lagi dengan Kelvin.


Semua menunggu jawaban Diandra.


Ibu Mikaila berpindah duduk di dekat Diandra, memaksakan bokongnya masuk ke sofa. Mikaila yang merasa sempit langsung berpindah duduk ke samping Bram.


"Dengarkan Ibu, kehormatan seorang wanita itu sangat penting, kita harus selalu menjaga kehormatan kita untuk suami kita kelak. Terkadang banyak pria yang menganggap kita remeh jika kita sudah tak suci lagi saat menjadi istrinya. Tak jarang juga banyak pria yang tak menerima kenyataan jika kita sudah tak suci lagi.


Kesucian seorang wanita itu sangat penting, sangat berharga dan patut kita jaga, tapi nenek mengerti kondisi kamu sekarang, ini semua bukan kehendak kamu, ini semua kesalahan cucu Nenek. Jadi dia yang harus bertanggung jawab, takut di masa depan kelak kau mendapat masalah dengan pendampingmu karena ulah cucu Nenek ini," ucap nenek menggenggam tangan Diandra.


"Nggak semua  Pria menganggap kesucian wanita itu harus, banyak kok wanita yang sudah menikah yang ditinggal suaminya menikah kembali, mereka baik-baik saja, bahagia!" Sahut Gavin.


"Itu kasusnya beda," ucap Ibu melempar Gavin dengan bantalan sofa.


"Beda gimana, kan sama-sama sudah … Apa bedanya coba!" Protes Gavin.


"Mereka itu sudah menikah, mereka melakukan hubungan yang resmi, sedangkan Diandra belum menikah dia akan dicap sebagai wanita nakal." Jalas Ibu gemas.


Kelvin terdiam mendengar perdebatan Gavin dan Nenek nya, memang benar apa yang dikatakan neneknya. Semua itu akan mempengaruhi masa depan Diandra.


"Tapi 'kan kalau saling mencintai itu juga tak masalah, Nek!" Kekeh Gavin.


"Diandra! Apa kamu mencintai seseorang?" tanya nenek pada Diandra.


Diandra terdiam.


"Emang ada yang mencintai Diandra?" tanya nenek, kali ini ia menatap Gavin.


"Aku," ucap Gavin santai mengakui perasaannya pada Diandra di depan Semua.


Bram yang sejak tadi hanya mendengar terperanjat kaget mendengar jawaban Gavin.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu kamu aja yang menikahi Diandra," ucap nenek spontan.


"Oke siapa takut," jawab Gavin menantang neneknya.


Begitulah, mungkin sifat Gavin yang sering ceplas-ceplos dan selalu membangkang berbeda dari yang lainnya, sifatnya itu turun dari neneknya, Ibu dari Bundanya. Memang bersifat seperti itu, sangat mirip bahkan lebih rumpi dari Gavin…


"Bagaimana Diandra? kamu mau menikah dengan Gavin, daripada kamu menikah dengan Kelvin, pria yang sudah menyakiti kamu." Nenek melirik tajam pada Kelvin.


Diandra tak menjawab, ia hanya menautkan jemarinya sambil terus menunduk.


"Diandra Pilihan ada di tangan kamu, kamu bisa memilih menikah dengan Kelvin atau Gavin. Om pasti akan merestui hubungan kalian. Siapapun yang kamu pilih dia yang akan menjadi suamimu, yang bersamamu selamanya, Om akan menjamin kau kan bahagia." Bram ikut menimpali.


"Ya pastilah dia memilih Gavin. Kamu nggak lihat waktu Ibu tanya dia mau menikah dengan Kelvin dia langsung menggeleng. Lagian kalau kamu memaksa dia menikah dengan Kelvin belum tentu mereka akan bahagia, bukannya Kelvin sudah punya Natali. Jadi menurut ibu kamu nikahnya dengan Gavin," ucap Ibu Mikaila.


"Diandra kamu mau kan menikah dengan aku, setelah kita menikah kita akan kembali ke Apartemen kita. Kita nggak usah tinggal di sini kalau kamu nggak suka dekat dengan Kak Kelvin, kita akan memulai hidup baru di luar negeri," ucap Gavin dengan ekspresi wajah seserius mungkin.


Satu lemparan bantal sofa lagi melayang ke wajah Gavin.


"Aduh ... Bunda apaan sih," keluh Gavin mengusap-ngusap hidungnya yang terkena lemparan Bundanya. Bunda melempar dan mengenai pas di hidung mancungnya.


"Kamu ya, ngapain juga kamu mau bawa Diandra ke luar negeri. Kalian kan bisa tinggal di sini." Mikaila menatap tajam Gavin yang masih sibuk dengan hidung nya.


"Tapi Bunda, Diandra itu nggak mau dekat-dekat dengan kak Kelvin. Kalau kita tinggal di sini, otomatis mereka akan sering bertemu dan Diandra dengan begitu tak akan bisa melupakan traumanya.


"Aku saja yang keluar dari rumah," ucap Kelvin tiba-tiba menyambung pembicaraan mereka.


Mereka semua terdiam tak tahu harus berbicara apa, jika situasinya seperti ini memang salah satu dari mereka harus keluar dari rumah. Entah itu Gavin ataupun Kelvin, jika Diandra menyetujui lamaran.


"Diandra! Apa kamu mau menikah dengan Gavin?" tanya Bram.


"Kalian tak usah menikah dalam waktu dekat jika kamu memilih Gavin, kalian bisa bertunangan terlebih dahulu jika kamu memang belum siap untuk menikah," tambah Bram.


Diandra menatap Gavin. Gavin dengan cepat memberi isyarat dengan menganggukkan kepalanya.


"Sebaiknya kita tunangan saja dulu," ucap Diandra pelan. Namun, masih bisa didengar oleh mereka.


Gavin bernafas lega, Ia sangat menanti-nanti jawaban itu dari Diandra, bukan hanya Gavin yang bernafas lega, Kelvin dan Bram  juga sangat lega. Beban yang beberapa bulan ini ditanggungnya seakan hilang.


Bukannya Ia ingin lari dari tanggung jawab, Namun, ia tidak yakin akan bisa membahagiakan Diandra dan Ia tak ingin menyakiti hati Natali.


"Jadi, keputusannya hari ini kita akan mengadakan pertunangan antara Diandra dan Gavin," Bram menatap mereka semua.


"Diandra jika kau ingin merubah keputusanmu kau bilang saja, kau jangan pernah takut untuk meminta tanggung jawab pada Kelvin," tambah Bram.


Bram sebenarnya ingin menikahkan Kelvin dengan Diandra agar Kelvin bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Namun, Ia juga tak bisa memaksa jika Diandra yang tak mau dinikahi oleh Kelvin, beruntung ada Gavin yang mau menerima Diandra.


Begitu Bram sudah mengambil keputusan Mikaila dan ibunya membawa Diandra keluar, Diandra memilih kembali ke kamarnya.


"Gavin apa kau benar-benar ingin menikahi Diandra?" tanya Bram pada putranya setelah para wanita keluar.


"Iya, Pah! Gavin ingin menikahi Diandra karena mencintainya, ingin melindungi dan menjaganya. Bukan karena kasihan, bukan karena ingin bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi padanya," ucap Gavin dan kali ini ia benar-benar berbicara dengan model seriusnya. 


Bram mengangguk- angguk mendengar jawaban anak nya.


Keseriusan Gavin membuat Bram percaya dan Gavin, jika anaknya itu berkata jujur dan mengambil keputusan yang sudah ia pertimbangkan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah berkunjung ☺️


Mohon beri dukungan nya ya🤗 Dengan memberikan like, vote, dan komentarnya 🙏


Salam dariku Author m anha 💖


Sambil menunggu up terbaru bisa mampir ka karya ku lainnya


__ADS_1


makasih Kak 🙏💗🙏👍


__ADS_2