Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Tak ada Ampun bagi Arya.


__ADS_3

Saat masuk ke dalam ruang kerja Arya, Raina tak bisa lagi menahan air matanya, ia menangis hingga sesegukan.


Arya tak bisa berkata apa-apa, ia hanya menunggu sampai Raina benar-benar tenang.


Cadarnya bahkan sudah basah karena air matanya, Arya duduk di sudut meja kerjanya melihat Raina yang terus menangis di kursi kebesarannya.


Setelah melihat Raina lebih tenang Arya memutar kursi yang diduduki oleh Raina menghadap dan menariknya agar lebih mendekat padanya.


"Kamu Kenapa nggak bilang sama kakak kalau selama ini orang-orang kantor sering membully mu?" tanya Arya mencoba untuk menahan emosinya.


"Raina hanya nggak ingin memperkeruh suasana, lihat saja tadi kakak hampir kan melakukan hal-hal yang bodoh,"


"Apa maksud kamu hal yang bodoh, Raina mereka sudah menghina kamu kakak nggak terima mereka menghina hubungan kita." geram Arya.


"Aku ngerti kok kak, tapi biarkan sajalah mereka mengatakan itu semua, itu juga tidak benar kan. Kita saling mencintai satu sama lainnya, aku nggak pernah menggoda Kakak seperti yang mereka bicarakan. udah biarkan saja kak," ucap Raina masih sesegukan.


Arya mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang dan meletakkan ponselnya kembali setelah memastikan pesannya telah terkirim.


"Raina dengarkan Kakak, jika suatu saat nanti ada yang menghinamu, menyakitimu atau apapun itu kamu harus bicara sama kakak, apapun yang terjadi Kamu harus mengatakan semuanya kepada kakak. Kamu ngerti kan apa yang kakak maksud ?" tanya Arya,


Raina hanya mengangguk sambil terus mencoba menghentikan air matanya yang terus mengalir.


"Apa kamu mau kakak entar pulang?" tanya Arya,


Raina menggeleng,


"Enggak usah Kak, Kakak kan banyak kerjaan. Kakak lanjutkan saja pekerjaannya ," ucap Raina berdiri dari kursi kebesaran Arya namun Arya kembali mendudukkannya.


"Kamu duduk aja di situ, Kakak lagi malas bekerja," ucap Arya.


"Tapi kan kerjaan Kakak masih banyak," ucap Raina .


"Enggak apa-apa kok, Papa juga sudah bilang untuk tidak harus menyelesaikan semuanya. Kakak benar-benar sudah nggak konsentrasi untuk bekerja. Bagaimana kalau kita ke butik aja,"ajak Arya.


"Ke butik?" tanya Raina ,


"Iya , gaun pengantin Kita dikit lagi selesai. tante Arandita menyuruh kita untuk melihatnya dan juga sekaligus untuk mencocokkan ukuran kita." jelas Arya.


"Iya kak," jawab Raina mengangguk walau air matanya sudah tak mengalir lagi namun ia masih sesekali sesegukan..


Mereka keluar dari ruangan Arya kemudian menuju ke lantai bawah, saat mereka berjalan semua mata tertuju ke arah mereka, mereka saling berbisik-bisik.


Arya bisa melihat apa yang mereka lakukan.Arya yakin jika ia dan raina yang sedang mereka bicarakan. Selama ini Arya tak pernah memperhatikan apapun yang di lakukan para karyawan nya.


Namun kali ini Arya memperhatikan setiap tindakan Mereka.

__ADS_1


Arya mengambil ponselnya dan kembali mengirim pesan kepada seseorang.


Arya tetap berjalan menahan emosinya, Ingin rasanya ia memberitahu mereka satu persatu jika Raina adalah cinta masa kecilnya, Raina tak pernah berusaha menggoda dirinya. Justru ia sangat bersyukur bisa memiliki calon istrinya seperti Raina.


Arya membukakan Raina pintu mobil dan berjalan mengitari menuju pintu mobil yang satunya lagi.


Arya bisa melihat jika beberapa orang masih memperhatikan mereka.


Setelah Arya dan Raina pergi, Dika kembali memanggil keempat orang tersebut.


Keempat orang tersebut yang masih ketakutan langsung naik ke lantai atas menuju ke ruangan Dika yang bersebalahan dengan ruangan Arya.


Mereka berdiri di depan pintu dengan sangat cemas, mengapa mereka di panggil lagi.


Mereka mengetuk pintu dan baru membuka pintu saat mereka mendengar suara Dika mempersilahkan mereka masuk.


Begitu mereka masuk mereka bisa melihat wajah kemarahan di wajah Dika. Mereka berjalan pelan menghampiri meja Dika, Dika melampar ke hadapan mereka sebuah amplop.


Mereka saling pandang dan tak ada yang berani mengambil apa yang telah di berikan Dika.


"Ayo ambil," ucap Dika menatap mereka berempat


"Apa ini Pak?" tanya salah satu dari mereka, ia belum membukanya.


"Itu surat pemecatan kalian," ucap Dika.


"Bukannya bapak sudah memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami ," ucap mereka.


"Kau benar , aku memang memberikan kesempatan tapi tidak dengan Arya." ucap Dika santai, berjalan menghampiri mereka.


Mereka kembali terdiam.


"Asal kau tahu saja, semoga ada perusahaan yang menerima kalian. Saran ku kalian bekerja sebagai wirausaha saja, nama kalian berempat sudah tercatat dalam daftar hitam pegawai yang di keluarkan dari Wijaya group dan kemungkinan besar tak ada perusahaan lain yang akan menerima kalian untuk bekerja di perusahaan mereka." jelas Dika.


"Tolong maafkan kami pak, kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan kami lagi. Kami tidak akan mencibir Raina lagi ," ucap mereka memohon.


"Aku tak bisa buat apa-apa untuk kalian, walau kalian memohon padaku, karena itu semua adalah keputusan dari Arya." ucap Dika.


Terima tak terima mereka harus menerimanya.


Mereka langsung mengemas barang-barang mereka setelah keluar dari ruangan Dika.


Mereka berjalan keluar sambil membawa barang-barang mereka, Keluar dari perusahaan Itu hari itu juga.


Semua melihat kepada mereka dan berbisik, Tak lama kemudian Dika datang saat mereka semua sedang berbisik-bisik.

__ADS_1


"Kalian tahu apa alasan mereka harus dipecat dari perusahaan ini ?" tanya Dika,


Mereka yang berkerumun melihat keempat karyawan itu membawa barang-barang mereka sontak melihat kearah sumber suara.


"Tidak pak," jawab mereka.


"Mereka selalu berbisik-bisik seperti yang kalian lakukan sekarang. Mecibir dan menjelek-jelekkan calon istri dari pemilik perusahaan ini, jadi jika kalian masih ingin bekerja disini hentikan ocehan bodoh kalian tentang Raina. Jika ada yang mendengarnya dan sampai kepadaku akan kupastikan hari itu juga kalian akan dikeluarkan dari perusahaan ini," Tegas Dika.


Semua langsung terdiam, mereka tak ingin bernasib sama seperti orang yang baru saja meninggalkan kantor dengan membawa barang-barangnya.


Semuanya menegang, berapa dari mereka memang sering mencibir Raina.


"Semoga saja tak ada yang melaporkan perbuatan ku hari ini." batin mereka Semua.


Saat melihat Raina datang tadi, mereka semua langsung bergosip.


Setelah memperingatkan para karyawan, Dika kembali ke ruangannya.


Natali tersenyum melihat wajah ketakutan mereka dan ikut naik ke lantai atas bersama Dika, ia juga memiliki ruangan di lantai itu.


Di butik.


Sesampainya di butik mereka berdua langsung disambut oleh Syana dan Arandita,


Gaun pengantin yang akan di pakai oleh mereka berdua di rancang langsung oleh Arandita.


Raina mencoba gaun tersebut dan sangat pas di badannya, hanya beberapa saja yang harus di benahi.


Syana yang sudah memiliki butik sendiri membantu pekerjaan Arandita membuat gaun tersebut,


Agar gaun tersebut cepat jadi, waktu mereka sangat sedikit dan Sebentar lagi acara pernikahan Raina dan Arya.


Kakek sungguh membuat mereka menjadi sangat kerepotan.


Seminggu lagi acara pernikahan mereka, namun masih banyak kekurangan dalam persiapan pernikahan mereka.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’– πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa like dan komen


Salam dariku πŸ€—


Author m anh❀️

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2