Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Ngidam


__ADS_3

Pagi hari di Kediaman Abraham Wijaya.


Raina masih berada di atas tempat tidur, Arya dengan pelan menaikkan selimut menutupi tubuh Raina.


Sejak semalam Raina tak bisa tidur, Iya terus saja muntah walau tak ada apapun yang ia muntah kan. Rasa mual nya semakin parah, Arya dengan setia menemani Raina, semalaman ia juga tak tidur, walau Raina sudah tidur Arya tetap siaga menjaganya mengusap lembut rambut istrinya agar lebih terlelap.


Setelah memastikan Raina tidur nyenyak, Arya kemudian mandi dan ikut bergabung dengan yang lainnya di meja makan untuk sarapan.


"Apa Raina masih tidur?" tanya bunda.


"Iya Bunda," jawab Arya lesu.


"Kamu belum tidur?" tanya Bunda Mikaila yang semalam ikut menemani mereka.


"Iya, Bunda sampai kapan Raina akan seperti itu?" tanya Arya yang merasa khawatir melihat kondisi Raina. Semalam ia bahkan tak mau meminum air dengan alasan membuat nya semakin mual jika ada yang masuk ke dalam perutnya.


"Biasanya 3 bulan pertama.Tapi, banyak juga yang cepat. Bunda aja waktu hamil kamu nggak lama, cuman beberapa hari," jawab Mikaila mengingat sewaktu ia mengidam saat mengandung Arya.


"Kok bisa beda ya Bunda ibu hamil satu dengan yang lain?" tanya Arya.


"Bunda juga nggak tahu, yang pastinya setiap ibu hamil itu mengalami gejala yang beda-beda. Bahkan ada teman Bunda yang terus ngidam hingga ia melahirkan," jawab bunda Mikaila.


"Semoga saja Raina cepat keluar dari masa ngidamnya" ucap Arya.


"Bukannya ibu hamil itu kuat ngemil ya, mau makan ini dan itu?!," sahut Gavin.


"Iya, ada juga yang ngidamnya ingin makan terus. Itu tadi yang Bunda bilang, setiap ibu hamil beda-beda, semoga saja Raina termasuk ngidamnya cepat," harap Mikaila.


"Bunda sudah masakan bubur, saat Raina bangun cobalah untuk sedikit memaksa dia makan buburnya, biar kondisinya bisa lebih baik. Sore nanti kita akan ke klinik untuk memeriksa keadaannya," ucap Mikaila pada Arya.


"Iya Bunda, semoga setelah tidur Raina merasa lebih baik," ucap Arya.


"Bunda, emangnya siapa yang hamil?" tanya Arsy yang sejak tadi mendengarkan bicara mereka.


"Ya ampun, maaf ya sayang. Bunda belum cerita ya ke Ade kalau kak Raina sekarang sedang hamil, di perut kak Raina ada adik bayi," ucap Mikaila menerangkan pada putrinya.


"Di perut kak Raina Bunda?" tanya Arsy berbinar.


"Iya Sayang, sebentar lagi di rumah kita akan ada bayi," jawab Mikaila tak kalah senangnya.


"Horeeee. Ada Ade bayi," sorak gembira putri kesayangan Abraham itu, ia sudah lama minta bayi pada Bundanya untuk memberi nya Ade bayi. Ia melihat teman-temannya yang seusia nya banyak yang memiliki adik bayi, bahkan ada yang sudah memiliki 2 Ade bayi.


"Sudah, cepat sarapan hari ini biar Papa Yang antar kamu ke sekolah," ucap papa Bram pada Arsy.

__ADS_1


"Hari ini aku nggak ke kantor dulu ya Pah!. Gavin kamu urusin semua pekerjaan kakak hari ini," ucap Arya melihat ke arah Gavin.


"Oke Kak. Kak tenang saja, sekarang aku sudah bisa menghandle sebanyak apapun pekerjaan." ucap Gavin.


"Gayamu. Dek!, pekerjaan kamu sendiri aja nggak becus." Tawa Arya.


Gavin juga ikut menertawakan dirinya sendiri.


"Untuk satu minggu ini minta Dika untuk menghandle semua pekerjaan mu, fokuslah pada kandungan Raina," ucap Bram.


"Iya. Pah," jawab Arya.


"Setelah makan, Arya kembali ke kamarnya dengan membawa bubur yang sudah dibuat oleh Bundanya. Ia melihat Raina sudah bangun.


Arya berjalan menghampiri Raina yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur, ia terlihat masih begitu lemah, bahkan matanya masih sayup dan terlihat jelas jika ia masih mengantuk.


"Kamu makan dulu ya!" ucap Arya mengelus tangan Raina dan tangan sebelahnya memegang mangkuk bubur buatan bundanya.


Raina melihat bubur itu dan menggeleng, belum juga ia mencobanya perutnya sudah merasa mual. Raina memalingkan wajahnya dari mangkuk bubur itu, hanya dengan melihat bubur itu ia merasa akan muntah lagi.


"Sedikit saja ya, Kak mohon. Kasihan kan bayi kita dia masih sangat kecil dalam rahim kamu" rayu Arya.


Raina juga mengusap perutnya kemudian melihat bubur yang ada di tangan Arya. "Tapi sedikit saja ya Kak," ucapnya.


Ia pun dengan perlahan menyuapi Raina sesendok demi sesendok.Tanpa ia sadari Raina menghabiskan semua bubur yang ada di mangkok itu. Arya tersenyum dan tak mau menegur Raina yang terus membuka mulutnya saat ia menyodorkan sendok mulut Raina. Arya kembali mengambil segelas susu yang tadi dibawanya bersama bubur itu.


Arya kembali menyodorkannya ke mulut Raina. Raina menggeleng.Namun, Arya terus mintanya untuk meminum dan saat meminum susu tersebut Arya lagi-lagi langsung memegang gelas tersebut dan membantu Raina agar menghabiskan semua susu itu.


Segelas susu dan semangkuk bubur sudah mengisi perut istrinya, Arya menjadi sangat lega.


"Beristirahatlah, sore nanti kita akan ke klinik untuk memeriksa bayi kita," ucap Arya membantu Raina kembali berbaring dan memberi kecupan di kening istrinya.


Dengan patuh Raina berbaring dan menutup matanya, hanya dalam beberapa hitungan detik Raina sudah kembali terlelap. Raina merasa lebih nyaman saat tidur dengan perut nya kenyang dan hangat karena susu tadi.


Arya perlahan keluar kamar, ia menutup kamar dengan sangat pelan agar tak mengganggu tidur Raina.


"Bagaimana Apa dia mau makan?" tanya bunda Mikaila yang melihat Arya berjalan menuju dapur.


"Nanti, buatin lagi ya Bunda, sepertinya Raina menyukai bubur buatan Bunda," ucap Arya.


"Raina yang menghabiskannya?" tanya Bunda Mikaila saat melihat gelas dan mangkuk di tangan Arya sudah kosong.


"Iya Bunda, tak tersisa sesendok pun," ucap Arya.

__ADS_1


Bram sudah mengantar Arsy ke sekolah, sedangkan Gavin sudah pergi kekantor hanya tinggal Mikaila sendiri. Arya juga sudah naik kembali kekamar menemani Raina.


Merasa sendiri Mikaila ikut bergabung dengan para asisten rumah tangganya yang sedang berkumpul di halaman belakang.


Mereka bercanda bersama, begitulah Mikaila. Ia tak pernah membeda-bedakan seseorang berdasarkan status, baginya mereka semua sama.


Mikaila melihat pohon mangga yang ada di halaman belakang rumahnya, Ia masih ingat saat Bram manjat nya hari itu saat dirinya juga sedang mengidam.


"Pak Wahyu, apa itu pohon mangga yang sama waktu aku ngidam dulu?" tanya Mikaila tak percaya Jika pohon itu masih berdiri sana, hanya ukurannya saja yang berbeda jauh lebih besar.


"Iya Bu, itu masih pohon yang sama dan sekarang sudah besar dan buahnya juga sekarang lagi banyak," ucap Pak Wahyu.


"Apa buahnya sudah masak?" tanya Mikaila.


"Belum Bu, masih mentah. Mungkin sebulan lagi," jawab pak Wahyu.


Mikaila teringat akan Raina yang tengah ngidam." Pak tolong ambilkan beberapa buah ya, yang masih mentah. Siapa tahu saja Raina ingin makan buah mangga mentah sama kayak waktu aku ngidam Arya dulu,"


"Tentu saja Bu, saya akan ambilkan," ucap pak Wahyu.


****


Sementara itu, di kamar pengantin Syana.


Syana semalam sangat kesal dengan perbuatan Gavin, bukannya melakukan malam panas, ia malah kepanasan sendiri. Syana hanya bisa memandangi suaminya yang tengah tertidur pulas.


Syana mengedipkan matanya saat merasakan sentuhan hangat di bagian perutnya, serta ia bisa merasakan jika tangan tersebut perlahan semakin bergeser hingga ke bagian dadanya.


Syana membiarkan apa yang dilakukan oleh suaminya. Syana hanya terus meremas bantal gulingnya saat suaminya itu terus menyentuhnya dan menghujaninya dengan ciuman di bagian punggung dan lehernya. Sentuhan itu semakin lama semakin tak terkendali. Syana yang membelakangi suaminya memutar badannya agar menghadap ke sang suami. Ilham langsung memulai aktivitas yang sempat tertunda semalam, Iya sendiri tak mengerti mengapa ia melewatkan Malam yang begitu ia nanti-nantikan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️


love you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2