
Siang hari Arya dan Raina sengaja pulang untuk makan siang, Arya memberitahu bundanya kalau mereka akan pulang untuk makan bersama siang ini, Mikaila sangat senang mendengar Raina akan datang dan makan siang bersama mereka. Ia menyediakan menu makan siang kesukaan Raina.
Begitu banyak makanan terhidang di meja makan, Bram menghampiri istrinya yang terlihat gembira menata makanan.
"Apa ini nggak kebanyakan, apa akan ada tamu??" tanya Bram memeluk dan mengecup pipi Mikaila.
"Iya Mas, Raina akan makan siang di sini. Aku kangen anak itu sudah lama ia enggak kemari," jawab Mikaila tersenyum melihat ke arah suaminya.
Beberapa saat kemudian Raina dan Arya sudah datang, Mikaila yang mendengar suara mobil Arya langsung menghampiri mereka, ia menyambut Raina dengan pelukan hangat.
"Bunda senang kamu kemari, sudah lama kan kamu enggak main kesini," ucap Mikaila pada Raina.
"Iya Bunda, maaf pekerjaan kak Arya terlalu banyak, Raina harus membantu walau tak seberapa sih," ucap Raina,
"Iya Bunda ngerti, terima kasih ya selama ini kau selalu ada untuk Arya,"
"Iya bunda, Raina seneng kok bisa sama kak Arya,"
"Ayo kita masuk, Ini sudah waktunya makan siang, Papa sudah menunggu di dalam," ucap bunda Mikaila.
Mereka langsung ke meja makan, Bram Sudah duduk di sana menunggu mereka. Raina langsung menghampiri Papa Bram.
"Siang Pah, gimana kabar Papa?" sapa Raina.
"Baik, silahkan duduk kita makan dulu," ucap Bram mempersilahkan Raina duduk.
Mikaila seperti biasa mengambilkan makanan untuk suaminya kemudian memberi beberapa lauk di piring Raina,
"Makan ya, Bunda sengaja memasak ini untukmu," ucap bunda Mikaila.
"Makasih ya Bunda,"
"Kok hanya Raina bunda, Arya ga dikasih nih," protes Arya.
"Maaf, Bunda lupa ," ucap Bunda Mikaila mengambil lauk yang sama dan memberikan ke piring Arya.
Mereka mulai makan,
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Bram.
"Lancar pah, nggak ada masalah kok,"
"Syukurlah, bagaimana dengan perusahaan yang dijalankan Gavin? apakah anak itu bisa mengerjakan pekerjaannya?"
"Arya juga nggak terlalu paham Pah, minggu ini Arya belum melihat hasil kerjanya. Tapi Minggu sebelumnya semuanya lancar-lancar saja Pah" ucap Arya.
"Semoga saja anak itu bisa lebih bertanggung jawab lagi,"
"Pah, Arya dan Raina ingin menikah," ucap Arya mengutarakan maksud mereka.
Bram yang ingin memasukkan makanan ke mulut nya tak jadi saat mendengar apa yang diucapkan oleh Putra sulungnya itu.
Bram letakkan sendoknya kembali ke piringnya, baru saja ia ingin bicara namun Mikaila sudah terlebih dahulu berbicara mendahuluinya.
"Kalian mau menikah?" tanya Mikaila berbinar bahagia.
"Iya Bunda, apa papa dan Bunda setuju?" tanya Arya.
__ADS_1
"Arya ..." ucapan Bram terpotong saat Mikaila kembali menanggapi pertanyaan Arya.
"Bunda setuju, biar Bunda yang akan menyiapkan segalanya," ucap bunda Mikaila.
Bram baru ingin bicara, tapi Mikaila sudah heboh.
"Kita membahasnya nanti saja, sebaiknya sekarang kita makan dulu," ucap Bram.
Mereka pun menuruti apa yang dikatakan oleh Bram, semua makan dengan tenang. Mikaila sesekali melihat mereka sambil memasang senyumnya. Ia sangat gembira mendengar kabar jika Sebentar lagi Arya dan Raina akan menikah.
Setelah selesai makan, mereka melanjutkan percakapan mereka di ruang tengah.
"Kalian yakin akan menikah?" tanya Bram,
"Iya Pah, Arya sudah memikirkan secara matang," ucap Arya.
"Tapi menurut Papa, kalian jangan terlalu cepat untuk menikah. Kalian masih sangat muda, pernikahan bukan hal yang main-main sebaiknya kalian fokus dulu untuk belajar dan bekerja.
"Tapi mas..."
"Sayang, mereka berdua masih terlalu mudah untuk menikah, ditambah pekerjaan Arya juga sangat banyak. Mas hanya takut Arya tidak bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan nya. Biarkanlah ia menyesuaikan diri dulu dengan kantor sambil menunggu usianya yang matang untuk menikah," jelas Bram.
"Arya Kamu setuju kan dengan apa yang Papa katakan, kalian bisa kan menunda pernikahan kalian dulu?"
"Iya Pah, Arya mengerti," ucap Arya yang memang tak pernah membantah apapun yang dikatakan oleh Papanya.
Arya dan Raina pun kembali ke kantor.
Arya sangat kecewa dengan keputusan Papanya tapi tidak dengan Raina, sepanjang perjalanan Ia terus tersenyum di balik cadarnya karena memang ia belum siap untuk menjalin rumah tangga. banyak hal yang ia takutkan.
Sama dengan Mikaila, ibu juga sangat kecewa dengan keputusan anaknya itu. Mereka pun mengatur rencana agar pernikahan itu tetap berlangsung dan membuat Bram menyetujui nya.
Pagi hari suasana sarapan yang biasanya ramai, pagi ini mereka makan dalam diam. Bunda Mikaila, Gavin dan Arya hanya saling melirik.
"Pah, Arya ke kantor dulu ya," pamit Arya setelah sarapan.
"Gavin juga pamit Pah, "ucap Gavin langsung berlari mengejar kakaknya.
"Kak Gavin ikut," ucap Gavin naik ke mobil Arya.
Arya mulai menjalankan mobilnya keluar dari gerbang,
"Beneran Kak Papa menolak proposal pernikahan kakak?" tanya Gavin
"Hmmmm"
"Kok bisa?"
"Tau ah, tanya aja ndiri sama Papa,"
"Kok tau ah, Kalau kakak bisa jawab ngapain coba tanya Papa," tanya Gavin
"Papa nyuruh Kakak fokus ngantor dulu," ucap Arya tanpa melihat Gavin.
Gavin yang mengerti jika sekarang kakaknya sedang tidak ingin diganggu memilih diam dan duduk tenang hingga sampai di kantor.
Siang hari ayah dan ibu Bram mendatangi kediaman putranya, Mikaila yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan Ibu langsung menghampiri mertuanya itu.
__ADS_1
"Bram mana?" tanya ibu.
"Di kamar Bu,"
Ibu dan Mikaila langsung ke kamar menghampiri Bram sedangkan Ayah lebih memilih mengobrol dengan Pak Slamat. Walau sudah tak menjadi sopir lagi Pak Slamat masih betah tinggal di kediaman Abraham Wijaya.
Bram yang melihat ibunya datang langsung menghampirinya,
"Ibu apa kabar ?" tanya Bram,
"Ibu sedang tidak baik-baik saja," ucap ibu berjalan masuk.
"Ibu sakit?" tanya Bram menghampiri ibunya.
"Ibu tidak sakit, ibu hanya kecewa Kenapa kamu tak mengizinkan Arya untuk menikahi Raina?!" tanya ibu langsung pada intinya.
"Ibu Arya dan Raina itu masih sangat muda untuk menikah," jawab Bram.
"Kau menikahi Mikaila juga saat seusia dengan Raina, waktu itu Mikaila juga masih sangat muda. Coba lihat sekarang ia memberimu 4 anak dan kalian bahagia kan!"
"Kami berbeda Bu,"
"Tak ada yang berbeda. Arya itu anak kamu, kamu harus percaya padanya walau usianya masih sangat muda Ibu lihat dia sudah bisa berpikir dewasa."
"Ibu pernikahan itu bukan hal main-main lho Bu."
"Ibu tahu, pokoknya Ibu setuju mereka menikah" kekeh ibu.
Mikaila mendekati Bram dan memijat suaminya itu,
"Enggak baik kalau kita melarang mereka jika mereka sendiri sudah siap untuk menikah mas, takutnya mereka melakukan hal-hal yang kurang baik lho Mas," ucap Mikaila dengan sangat lembut dan sesekali ia mengelus-ngelus punggung suaminya.
"Mas percaya sama mereka, mereka tak akan melakukan hal-hal yang tidak baik," ucap Bram.
"Mas, tapi aku ingin mereka menikah," rayu Mikaila.
"Bram Ibu juga ingin mereka menikah, Ibu ini sudah tua. Bagaimana jika ibu meninggal sebelum melihat Arya menikah, Ibu tidak akan tenang."
"Ibu ini bicara apa sih,"
Ibu memasang raut wajah sedih.
"Kamu nggak sayang ya sama ibu, ibu hanya ingin melihat Arya menikah sebelum Ibu tiada, apa itu saja kau tak bisa kau kabulkan?!."
"Mas aku juga ingin anak kita segera menikah." ucap Mikaila yang kini memeluk suaminya dari belakang sesekali ia mencium pipi Bram.
💗💗💗💗🌹💗💗💗💗🌹💗💗💗💗
Terima kasih sudah membaca
LIKE VOTE KOMENNYA 🙏💗🙏
Salam dariku
Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1