
Diandra tak bisa berbuat apa-apa saat tubuh kekar Kelvin yang sedang dikuasai ***** dan alkohol memaksanya, merenggut paksa kesucian yang selama ini dijaga nya.
Diandra hanya bisa pasrah saat Kelvin berhasil membobol pertahanannya melakukan penyatuannya secara paksa.Β
Kelvin ambruk diatas tubuh Diandra saat berhasil melakukan pelepasannya. Alkohol benar-benar menguasai dirinya, ia sudah tak sadar lagi dan tertidur pulas.
Diandra dengan susah mendorong tubuh Kelvin yang masih berada di atasnya. Diandra datang ke Apartemen itu berharap ada sedikit harapan untuk masa depan nya dan Clara, ia bisa membahagiakan adiknya dan ternyata kenyataan pahit yang justru ia dapatkan. Bukannya kebahagiaan justru kehancuran yang Kelvin berikan padanya.
Diandra merasakan sakit yang luar biasa di area sensitifnya, Kelvin memaksakan miliknya pada Diandra.
Setelah berhasil keluar dari dekapan Kelvin, Diandra mencoba untuk duduk dan mencari dimana pakaiannya, yang sudah dilepas oleh Kelvin secara paksa dan entah kemana dibuangnya.
Perlahan Diandra berjalan, memungut satu demi satu pakaian dan memakainya.
Diandra berjalan keluar kamar dan melihat adiknya Clara yang masih tertidur pulas di atas sofa. Diandra lunglai, Jatuh terduduk lemas sambil bersandar di pintu kamar Kelvin. Hanya bisa menangis apa yang baru saja ia alami. Tak pernah terpikirkan olehnyaΒ akan mendapat perlakuan seperti ini dari Kelvin.
Selama ini, ia selalu menjaga jarak pada pria yang selalu menatap dirinya dengan penuh *****.
Memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang sempurna justru membuat Diandra selama ini kesulitan, ia bahkan tak sungkan mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ia merasa jika atasannya sudah mulai tertarik, merayu dan menginginkan tubuhnya.
Walau hidup di negara yang terbilang bebas. Namun, Diandra selalu menjaga kehormatannya.
Sekuat tenaga ia mendekap mulutnya, mencoba menahan isakannya agar tak mengganggu Clara. Diandra tak ingin adiknya itu mengetahui apa yang telah terjadi padanya, ia juga tak bisa menahan rasa sakit di hatinya, rasa kecewa kepada Kelvin yang sudah dianggapnya sebagai seorang kakak.
Setelah merasa puas menangis, Diandra mencoba berjalan dan membangunkan Clara.
"Dek, bangun. Kita pulang sekarang," ucap Diandra saat clara membuka matanya.
"Apakah kak Kelvin belum pulang?" tanya Clara.
"Kak Kelvin sudah pulang ke negaranya, sebaiknya kita pulang ke rumah. Tak ada gunanya kita menunggu disini," bohong Diandra kepada adiknya, ia tak ingin adiknya itu terus berharap pada sosok Kelvin yang tengah tertidur pulas di kamarnya setelah merenggut kesuciannya.
Clara menata pintu kamar Kelvin, Sampai detik ini Clara masih berharap Kelvin akan membantu mereka.
Diandra terdiri dan memegang tangan Clara.
"Ayo kita pulang," ucapnya menarik Clara untuk keluar dari Apartemen Kelvin, Clara terus menatap pintu kamar Kelvin berharap Kelvin keluar dari sana dan menahan mereka.
Sampai mereka keluar dari Apartemen itu, Kelvin tak juga datang.
Mereka berjalan pulang, Diandra terus berpikir apa yang harus dilakukan untuk bisa bertahan hidup dengan adiknya. "Semoga saja uang ini cukup untuk saat ini, aku harus secepatnya mencari pekerjaan baru," batin Diandra melihat uang pembelian Mikaila, sisa dari pemakaman ibunya. Uang yang tersisa cukup banyak, cukup untuk menghidupi mereka hingga beberapa bulan kedepan.
__ADS_1
Iya baru saja kehilangan ibunya dan sekarang ia sudah kehilangan kesuciannya, jika bukan karena Clara mungkin Diandra sudah menyusul Ayah dan ibunya.
Mereka pulang ke Apartemen kecil milik mereka, beruntung Ayah dan ibunya sudah membeli apartemen tersebut sehingga mereka tak akan kesusahan dengan tempat tinggal. Diandra hanya perlu memikirkan bagaimana cara mereka untuk tetap bertahan dan memenuhi kebutuhan mereka.
Pagi hari Kelvin terbangun dan merasa sakit di kepalanya. ia mencoba untuk duduk sambil terus memijat pelipisnya.
Kelvin melihat tubuhnya yang polos, ia kemudian menarik selimut untuk menutupi bagian bawahnya.
Kelvin terus memijat tengkuk yang terasa sakit dan, " Mengapa aku tidur tak memakai pakaian," gumam Kelvin. Ia masih belum mengingat apa yang telah ia lakukan semalam.
Tanpa sengaja matanya melihat bercak merah di atas sprei, ingatan tentang apa yang telah dilakukannya pada Diandra seketika muncul.
"Diandra" Kelvin bisa mengingat dengan jelas apa yang telah dilakukannya pada Diandra.
"Aaaaaaaaah β¦ Apa yang telah kulakukan," teriak Kelvin menarik rambutnya sendiri, merasa frustasi. Kelvin mengingat saat ia memaksakan nafsunya pada Diandra.
Kelvin mengusap kasar wajahnya menatap sekeliling kamarnya, tiba-tiba ia merasa sesuatu yang mengganjal di bawahnya,
Saat mengambil benda yang ada di bawahnya Kelvin membelalakkan mata, melihat bra Diandra masih ada disana, Kelvin mengangkat dan melihatnya, dengan cepat membuang bra itu ke lantai ... Kelvin memang menyukai alkohol, tapi ini tak pernah bermain wanita, ini juga merupakan yang pertama baginya.
"Sial, sial, sial, Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Semua ini karena minuman haram itu. Kenapa aku harus menyentuhnya lagi, aku sudah susah payah meninggalkannya," kesal Kelvin pada dirinya sendiri.
Kelvin yang masih kesal akhirnya masuk ke kamar mandi, semua sudah terjadi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kelvin duduk di sofa, dia melihat sekeliling rumahnya. Disinilah Diandra sering berlalu-lalang, ia sering melihat Bu Sulastri tersenyum padanya dan Clara yang selalu menemaninya bermain, tertawa bersama.
Semua ingatan Itu semakin membuatnya merasa bersalah pada Diandra,
"Apa yang aku harus lakukan sekarang," kesal Kelvin pada dirinya sendiri.
Setelah lama berpikir Kelvin memutuskan untuk mendatangi Apartemen Bu Sulastri.
Kelvin pernah mengantarkan Bu Sulastri pulang, sehingga ia bisa tahu dimana letak tempat tinggal mereka.
Saat sampai di sana, Kelvin melihat rumah itu sangat sepi dan tergembok, Kelvin bertanya pada orang sekitar . Mereka mengatakan Bu Sulastri telah meninggal dan kedua anaknya sudah pergi tadi pagi.
"Apa ..., meninggal??" kaget Kelvin.
"Jika bu Sulastri sudah meninggal, lalu kemana mereka," ucap Kelvin bergegas mencari mereka berdua di sekitaran tempat tersebut, berharap ia masih bisa menemukan Diandra dan Clara. Namun setelah mencari seharian Kelvin tak juga menemukannya.
Bundanya terus saja menelponnya, menyuruh Kelvin segera "Jika semua urusanmu sudah selesai, kembalilah cepat!" ucap bunda Mikaila
__ADS_1
Kelvin yang sudah seharian mencari mereka berdua akhirnya memutuskan untuk kembali ke negaranya. Kelvin meninggalkan sepucuk surat di Apartemennya untuk Diandra, yang minta Diandra segera menghubunginya jika membaca pesan tersebut.
Kelvin kembali ke negaranya dan langsung menuju ke rumah sakit. Semua keluarganya sudah ada di sana,, Kelvin melihat Arya sedang duduk bersantai bersama dengan papa dan Kakek Sambil tertawa.
"Mengapa mereka justru tertawa? Bukannya ada masalah dengan Persalinan Raina? Apa bayinya sudah lahir?" batin Kelvin.
Kelvin berjalan menuju mereka, "Kak. Bagaimana keadaan Raina , Apa ponakanku sudah lahir?" tanya Kelvin.
"Kakak salah, maaf ya. Sudah membuat keluarga panik dan meninggalkan acara wisuda mu," ucap Arya.
"Maksud kakak apa ya?" tanya Kelvin bingung.
"Iya, ternyata Raina belum mau melahirkan, itu hanya kontraksi palsu dan aku sudah membuat seluruh keluarga jadi panik."
"Nggak apa-apa kok, Kak!" jawab Kelvin.
Jika malam itu Bunda masih tinggal menemaniku, mungkin kejadian itu tak akan pernah terjadi. Batin Kelvin memikirkan Diandra.
Raina hanya mengalami kontraksi palsu. Namun, Arya sangat panik, saat Raina mengatakan jika perutnya sangat sakit.
Sebelum berangkat ke rumah sakit Arya yang menelpon Anindita membuat seluruh keluarga menjadi panik dan langsung meninggalkan acara wisuda Kelvin, Begitu sampai di rumah sakit, rasa sakit yang di rasakan Raina pada perut tiba-tiba hilang, tak ada rasa sakit sedikit pun.
Dokter memeriksa kondisi Raina dan mengatakan jika ia hanya mengalami kontraksi palsu dan itu sering terjadi pada ibu hamil. jelas dokter.
Mengingat jadwal prediksi persalinan Raina seminggu lagi, dokter menyarankan untuk segera melakukannya, lebih baik mempercepatnya, Karena janinnya juga sudah siap, dokter sudah menjadwalkan untuk melakukan operasi besok malam, dan itu juga disetujui oleh Anindita sebagai dokter kandungan Raina.
Raina yang sudah terlanjur dibawa ke rumah sakit juga setuju agar operasinya dipercepat.
ππππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca, maaf ya bab ini agak menguras emosi π
Terima kasih sudah memberi dukungannya selama iniπ
Terima kasih untuk like, vote dan komen kalianπ.
Salam darikuπ€
Author m anha, β€οΈ
Thank you allπππππ
__ADS_1
πππππππππππππ