
Semakin hari Arya semakin disibukkan dengan kegiatan kantor. Membuat Ia dan Raina menjadi jarang bertemu, namun Raina bisa mengerti kesibukan Arya saat ini.
Raina sedang membuat makan siang,
"Raina, ini kok banyak sekali, kita kan cuman berdua?" tanya Natali,
"Aku juga membuatnya untuk mereka?" jawab Raina.
"Mereka ?" tanya Natali.
"Iya, belakangan ini Arya, Kelvin dan Gavin sangat sibuk, Aku jadi khawatir mereka tak memperhatikan makanannya. Kita ke kantor ya bawain mereka makanan." ajak Raina.
"Apa nggak apa kita kesana, apa nggak ganggu mereka ?" tanya Natali,
"Kita kan ke sana jam makan siang, jam istirahat jadi kayaknya enggak ganggu deh,"
"Iya juga sih!!"
"Kamu ikut aku ya, aku nggak enak pergi sendiri,"
"Iya deh, aku temenin. Tapi kita makan dulu ya, aku laper," ucap Natali mencium aroma masakan yang dimasak oleh Raina.
"Iya, kita bawa untuk 3 orang aja ,"
Raina mulai memasukkan ke dalam kotak makan dan memisahkan dua piring untuk mereka berdua.
Selesai makan Raina dan Natali bergegas ke kantor,
"Wah kantor nya besar sekali !" kagum Natali.
"Iya, ini juga pertama kalinya aku kesini," ucap Raina,
Mereka pun masuk dan bertanya kepada resepsionis di mana ruangan Arya, resepsionis mengarahkan mereka sampai di lantai tempat Arya dan yang lainnya bekerja.
Raina melihat Dimas,
"Kak Dimas," panggil Raina menghampiri Dimas.
"Hay, kalian ngapain kesini?" tanya Dimas.
"Kami ingin bertemu Kakak Arya, ruangannya mana ya?
Dimas menunjukkan ke arah sebuah pintu yang ukurannya paling besar.
"Arya ada di sana, " ucap Dimas.
"Makasih ya Kak,"
Keduanya menuju ke ruangan yang tunjuk oleh Dimas..
Sebelum membuka pintu Raina mengetuk terlebih dahulu, terdengar suara dari dalam menyuruh mereka masuk.
Arya sedang menerangkan pekerjaan yang harus dilakukan oleh Kelvin dan Gavin.
"Masuk lah," ucap Arya saat melihat orang yang mengetuk tadi adalah Raina.
__ADS_1
"Wah kebetulan nih, aku memang lagi lapar ," ucap Gavin langsung mengambil kotak makan yang dipegang oleh Natali.
Natali memberikan satu lagi untuk Kelvin dan duduk di dekat Kelvin.
"Terima kasih ya," ucap kelvin mengambil kotak tersebut,
"Iya Kak, ini masakan Raina," jawab Natali.
"Sesekali masakin aku juga dong," bisik Kelvin,
Natali mengangguk dan tersenyum ke Kelvin.
Raina memberikan kotak makan yang dipegangnya kepada Arya, ia melihat berkas yang ada di ruangan itu sangat berantakan.
"Kakak sibuk sekali ya, ruangannya sangat berantakan?" tanya Raina,
"Iya, Kak nggak sempat beresin," jawab Arya mulai memakan makanannya begitu juga dengan Kelvin dan Gavin.
"Natali gaji kamu berapa bekerja di toko bunga?" tanya Gavin,
Natali menyebut nominal gajinya!,
"Kamu mau nggak kerja di sini ?! aku gaji dua kali lipat," ucap Gavin.
"Benarkah?" tanya Natali.
"Hhmmmm, bagaimana setuju?"
"Ini kan kantor, aku bisa kerja apa di kantor?" ucap Natali.
"Kalau hanya membersihkan ruangan ini sih nggak masalah, emangnya kalau jadi asisten pribadimu, aku ngerjain apa aja?" tanya Natali,
Gavin mengambil air minum dan meminumnya, membantu makanan yang ada di mulutnya masuk ke dalam perutnya, ia sangat lapar sehingga makan terburu-buru.
"Pertama, kamu harus menyiapkan makanan untukku. Kedua menyiapkan segala keperluanku. Ketiga menuruti segala perintahku," ucap Gavin mengajukan 3 jarinya.
"Emang keperluanmu apa saja?" tanya Natali,
"Ya banyak, seperti mempersiapkan jas ku, menyiapkan peralatan peralatan yang mungkin aku butuhkan di kantor.
"Terus perintahmu?" tanyanya lagi,
"Apa aja yang aku suruh, aku minta harus ada," jawab Gavin.
"Maksudnya aku jadi pembantu kamu gitu, itukah pekerjaan asisten pribadi?"
"Mau nggak gajinya dua kali lipat loh," tawar Gavin,
"Iya deh ,boleh. Tapi aku diperbolehkan untuk menolak jika perintahmu berlebihan" ucap Natali.
"Tenang aja, aku nggak akan minta yang aneh-aneh kalau ga lagi khilaf,"canda Gavin.
"Oke deal,dua kali lipat ya," ucap Natali.
Selesai makan, mereka bertiga melanjutkan rapatnya. Sementara Raina dan Natali mulai membersihkan ruangan itu.
__ADS_1
Ruangan yang dulu terlihat sangat rapi saat pemiliknya masih duduk di sana, kini ruangan itu bak kapal pecah sudah tak tertata lagi.
Diskusi mereka selesai, Arya menyandarkan bahunya meregangkan otot-ototnya.
"Huuf,,,nggak nyangka ya Papa bisa mengerjakan ini sendiri, salut aku sama Papa," ucap kelvin melihat pekerjaan yang begitu banyak yang dikerjakan oleh bapaknya seorang diri.
"Ternyata Papa banyak perusahaan lain ya Selain perusahaan keluarga kita," ucap Gavin yang ngira selama ini Papanya hanya memiliki satu perusahaan saja.
"Sepertinya kita harus masih banyak belajar dari papa." ucap Arya.
*****
Hari terus berganti hari, Natali dan Raina sepulang sekolah akan langsung ke kantor membantu mereka, membantu Apa saja yang mereka bisa lakukan. Walau hanya sekedar menyiapkan makanan, memijat dan menyusun berkas khususnya merapikan tempat mereka.
Bukan hanya ketiga putra Abraham yang menyesuaikan diri dengan keadaan kantor saat ini, tapi semua orang di kantor itu ikut menyesuaikan diri dengan ketidak hadiran pemimpin mereka.
Yoga memijat kepalanya saat melihat laporan tahun ini, ini merupakan laporan tahunan terburuk yang ia periksa semenjak ia bekerja di perusahaan ini selama puluhan tahun.
Yoga mengumpulkan mereka semua. David, Dimas dan ketiga Putra Bram.
"Bagaimana ini pendapatan perusahaan kita terus menurun, kita sudah berusaha semaksimal mungkin tapi hasilnya tetap tidak memuaskan," ucap Yoga.
"Maaf Om, aku sudah berusaha," ucap Arya yang merasa jika semua itu adalah kesalahannya.
"Untuk seusiamu, pencapaianmu sudah sangat bagus. Ini bukan kesalahanmu, bukan kesan siapa-siapa memang Papamu lah yang sangat handal dalam bidang ini. Bahkan kita semua tak bisa menandingi nya.
Apa Papamu tidak pernah mengecek data perusahaan ?" tanya Yoga,
"Bunda melarang papa berurusan dengan perusahaan lagi, bahkan hanya sekedar melihat laptop saja bunda tak mengizinkan Papa," jawab Arya.
Yoga mengangguk,
"Pantas aja Bram tidak menegur kita dengan apa yang dialami perusahaan."
"Apa kamu tahu mengapa papamu tak ke kantor lagi?" tanya Yoga,
"Kalau itu Arya ga terlalu paham Om, tapi sepertinya Papa sedang sakit. Sakitnya apa Arya juga nggak tahu," jawab Arya
"Baiklah, kita harus lebih giat lagi dalam membangun perusahaan ini. Kalian tak usah terlalu memikirkannya, pikirkan saja sekolah kalian. Kerjakan apa yang bisa kalian kerjakan," ucap Yoga pada ketiga putra Abraham itu,
"Iya Om," jawab mereka.
Semua meninggalkan ruangan itu kecuali Yoga dan David,
"Bagaimana ini Mas, jika perusahaan terus turun seperti ini aku tak yakin perusahaan ini masih bisa berdiri kokoh seperti saat ini," ucap David.
"Entahlah," ucap Yoga menatap gedung-gedung dan jalan raya yang berada di balik jendela besar di ruangan itu.
"Aku berharap Bram kembali bergabung di perusahaan," ucap David.
ππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca jangan lupa ya like, Vote dan komennya untuk bab iniπππ
Salam dariku Author m anha ππ
__ADS_1
πππππππππππππ