
Kediaman Abraham Wijaya.
"Kak emangnya siapa ustaz Ilham?" tanya Raina.
Raina bersandar di dada Arya, mereka sedang duduk di taman belakang memandang indahnya cahaya bulan purnama yang menghiasi gelapnya malam. Ribuan bintang pun tak mau kalah memperlihatkan keindahan cahayanya.
"Dia anak teman dari kakek!" jawab Arya tanpa melepas pandangannya dari indahnya cahaya langit malam.
"Kalau aku enggak salah tangkap, Kak Syana nggak suka ya dijodohin sama dia?" tanya Raina.
"Iya, kamu kayak nggak tahu aja seperti apa kak Syana, dia itu orangnya enggak mau di jodoh-jodohin kayak gitu. Kak Syana itu masih ingin bebas, tapi sepertinya tante Anin dan tante Aran udah gak tahan melihat dia sendiri seperti itu. Tapi ga salah juga sih, memang seharusnya kan dia sudah menikah di usia sekarang," ucap Arya.
"Tapi menurut aku, sebaiknya di diskusikan dulu sama kak Syana. Takutnya ia nggak terima perjodohan ini. Ini pernikahan, memilih teman hidup kita seumur hidup," ucap Raina.
"Entahlah, kak Syana itu belum ada pikiran kesana, jika mereka izin kepada kak Syana, pasti kak Syana menolak. Tapi sudahlah itu urusan mereka, kita nggak usah ikut campur. Takutnya kita malah memperkeruh suasana kan," jelas Arya.
"Tapi nggak ada salahnya juga sih, Kak Ilham kan seorang ustaz, pasti orangnya baik dan punya ilmu agama yang baik," ucap Raina.
"Pastilah sayang, dia kan ustadz. Kakak juga sudah kenal dengan dia, orangnya sangat baik," ucap Arya.
"Kira-kira kak Syana setuju nggak ya?!" tanya Raina mendongak menatap wajah suaminya.
Arya mengecup kening Raina, "Kita lihat saja nanti," ucap Arya. "Tapi Kakak yakin mereka akan bahagia jika mereka sampai dipersatukan dalam pernikahan." Lanjut Arya.
Saat mereka masih memandang langit malam, mereka yang melihat mobil papanya yang baru datang.
"Bukannya tadi papa sama bunda sudah datang ya ?" tanya Raina.
"Iya tadi kayaknya papa hanya mengantar Bunda terus pergi lagi. Mungkin ia menemui seseorang," jawab Arya melihat hanya papanya yang berjalan masuk.
Bram akan masuk, namun ia melihat Arya dan Raina di luar. Bram pun menghampiri anak dan menantunya itu.
"Kalian ngapain di sini? Ini sudah malam sebaiknya kalian masuk, nggak baik terlalu malam diluar sini," ucap Bram yang melihat jam sudah hampir tengah malam.
Arya juga melihat jam di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.
"Ya ampun Pah, aku nggak sadar sudah jam segini," ucap Arya. "Saking asyiknya ngobrol sama kamu," Arya mencubit gemas kedua pipi Raina.
Mereka bertiga pun masuk kedalam rumah.
Mikaila yang melihat mereka baru datang langsung menghampiri mereka.
"Kalian dari mana?" tanya Melihat melihat Arya dan Raina yang juga baru masuk dengan suaminya.
"Kami ngobrol di di luar Bunda, nggak nyadar udah jam segini. Untung ada Papa yang negur, coba Kalau nggak mungkin kita akan diluar sampai pagi," canda Arya.
"Kalian istirahat sana, takutnya menantu bunda kelelahan lagi," ucap Mikaila tersenyum dan mencubit hidung Raina.
"Iya, Pah kami istirahat dulu ke kamar," pamit Raina melihat ke arah Bram.
"Iya istirahatlah," ucap Bram mengelus kepala Raina yang tertutupi hijab.
Arya dan Raina pun naik ke kamarnya.
Bram dan Mikaila menatap kepergian mereka.
Raina bukan hanya menantu di rumah itu, namun ia sudah seperti putri mereka sendiri.
"Mas aku sangat senang melihat Arya akhirnya menikah dengan Raina. Selama ini aku selalu berdoa agar mereka bisa bersama," ucap Bunda Mikaila memeluk suaminya.
Bram menarik pinggang Mikaila dan mengecup keningnya.
"Mas harap mereka akan terus bahagia selamanya dan Mas juga berharap Kelvin dan Gavin serta putri kita menemukan pasangan yang baik sebelum kita meninggalkan mereka," ucap Bram.
__ADS_1
"Amin Mas," ucap Mikaila mengaminkan harapan suaminya.
Ketakutan terbesar mereka adalah mereka lebih dulu meninggalkan mereka sebelum memastikan mereka benar-benar bahagia, melihat mereka bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Ingin memastikan mereka akan bahagia setelah mereka meninggalkan anak-anaknya menghadap sang pencipta.
Usia adalah rahasia Allah, tak ada yang tahu kapan kita akan menghadapinya mempersiapkan diri untuk menghadap nya sangatlah penting. Memastikan orang-orang yang kita sayangi hidup bahagia sebelum kita meninggalkannya itu juga sangat penting, khususnya bagi orang tua kepada anak-anaknya, itulah yang di rasakan Bram dan Mikaila.
Apa Kelvin dan Gavin sudah pulang?" tanya Bram.
Gavin sudah pulang, tapi entahlah aku tak melihat Kelvin. Iya belum pulang, tadi bilangnya ia ini keluar bertemu dengan teman-temannya. Aku sudah menelpon Natali, tapi katanya setelah mengantarkannya kelvin langsung pulang. Tapi nggak tahu dia kemana lagi," ucap Mikaila.
Mereka berjalan menuju kamar mereka.
"Coba kamu telepon dia, memastikan dia ada dimana ," ucap Bram.
"Iya Mas," jawab Mikaila.
Begitu sampai di kamar Mikaila langsung mengambil ponsel dan menelepon anaknya itu.
Nada sambung terhubung namun hingga nada sambung berakhir Kelvin belum juga mangkatnya panggilan nya.
Mikaila kembali mencoba, namun hasilnya tetap sama.
"Ada apa?" tanya Bram yang melihat ekspresi Mikaila.
"Enggak diangkat Mas," jawab Mikaila.
"Coba lagi ," ucap Bram.
Pada percobaan ketiga, Kelvin baru mengangkat.
Kelvin yang sedang ada di klub melihat panggilan bundanya.
Suasana klub yang sangat bising membuat ia tak mungkin mengangkat telepon bunda nya itu di sana.
Begitu memastikan tempatnya sudah aman, Kelvin pun mengangkat panggilan bundanya.
"Kelvin Kamu di mana?" tanya Mikaila setelah anaknya itu mengangkat teleponnya.
"Ini Bunda, aku lagi sama teman-teman," jawab Kelvin.
"Kamu mau pulang jam berapa?" tanya Mikaila.
"Belum tahu juga bunda."
"Jangan terlalu kemalaman ya, besok pagi kan kamu harus kembali," ucap Bunda.
"Iya Bunda, sebentar lagi," jawab Kelvin.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya," ucap Mikaila matikan teleponnya.
"Ada apa? kemana dia?" tanya Bram.
"Katanya lagi ngumpul sama teman-temannya," jawabnya. Menyimpan kembali ponselnya dan ikut bergabung tidur dalam pelukan suaminya.
"Biarkan saja, dia pasti juga ingin bertemu teman-temannya. Sudah lama kan mereka tak ketemu, Ayo kamu tidur,"
Mikaila sudah mencoba untuk tidur namun tak tau mengapa perasaannya tak enak. Ia terus memikirkan Kelvin.
Matanya terbuka dan menatap langit-langit kamarnya.
Bram yang menyadari jika istrinya belum tidur juga membuka matanya.
"Ada apa, apa yang kau pikirkan?" tanya Bram mengelus wajah cantik Mikaila.
__ADS_1
"Entahlah Mas, aku kok kepikiran Kelvin terus ya," ucap Mikaila beralih menatap wajah tampan suaminya. Wajah yang selalu membuat Ia jatuh cinta setiap saat. Rasa kagum dari ketampanan suaminya tak pernah hilang ditelan waktu.
Perasaan cinta mereka tak pernah hilang sedetikpun, rasa cinta mereka terus bertambah setiap waktunya.
"Kelvin akan baik-baik saja, tidur lah. Dia bukan anak kecil lagi," ucap Bram mencoba menenangkan Mikaila yang terlihat sangat khawatir.
"Semoga saja Mas ini hanya perasaanku," ucap Mikaila mencoba untuk tidur dan memeluk tubuh hangat suaminya.
Hanya beberapa detik saja Mikaila sudah ter tidur pulas. Bram mengecup kening istrinya.
"Kau memang lah istriku yang menggemaskan," ucap Bram menghujani Mikaila dengan ciumannya.
Mikaila hanya menggeliat saat bulu-bulu yang ada di wajah Bram menyentuh pipinya.
Semakin Mikaila mencoba menghindarinya, Bram semakin mengusili istrinya dengan menggosokkan pipinya itu ke pipi istrinya.
Namun dasar Mikaila, ia hanya menggeliat dan kembali tidur dengan pulas.
Bram mengakhiri menjahili Mikaila dan mencoba untuk tidur sambil memeluk istrinya.
Bram sangat bersyukur bisa mengenal Mikaila dan menjadikannya sosok Ibu dari anak-anaknya.
***
Sementara di sebuah klub malam suara musik memekakkan telinga dan puluhan botol minuman beralkohol tergeletak di meja.
Kelvin dan teman-temannya berkumpul di sana.
Awalnya Kelvin tak ingin ikut bergabung dengan mereka, namun mereka terus memaksa dan akhirnya Kelvin pun mengikuti mereka ke klub malam. Kelvin yang sudah biasa meminum alkohol tak menolak saat teman-temannya memberikan Minuman itu kepadanya.
Kelvin yang merasa sudah mulai mabuk pamit pada mereka.
Kelvin terus menggeleng saat menyetir agar tetep fokusnya. Dia mengendarai mobilnya sangat pelan, saat ini dia sedang dalam kondisi mabuk.
Kelvin Akhirnya sampai di kediamannya.
Satpam yang menjaga saat malam dengan cepat membukakan pintu gerbang, ia tahu jika itu adalah mobil Kelvin.
Kelvin sudah tak bisa lagi memarkirkan mobilnya, ia meminta satpam tersebut untuk memarkirkan mobilnya di garasi.
Bi Yanti yang kebetulan bangun dan mendengar mobil Kelvin langsung membukakan pintu.
Alangkah terkejutnya Bi Yanti saat melihat kondisi anak majikannya itu yang Sudah di anggap nya cucunya sendiri.
Bi Yanti bisa mencium aroma alkohol. "Jangan bilang-bilang bunda ya," ucap Kelvin berlalu meninggalkan bi Yanti.
Bi Yanti hanya melongo dan mengangguk melihat kelvin yang berjalan naik ke kamarnya.
Bi yanti memegang dadanya, dia terkejut saat melihat Kelvin hampir terjatuh di tangga.
Bi Yanti mengikuti Kelvin dan baru meninggalkannya saat Kelvin masuk ke kamarnya.
ππππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
Jangan lupa ya Kak like dan komennya nyaπ€
Salam darikuβΊοΈ
Author m anha β€οΈ
love you all πππ
__ADS_1
ππππππππππππ