Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Kasih Sayang Abraham Wijaya.


__ADS_3

Arya dan Kelvin langsung membersihkan ruangan itu dibantu oleh beberapa OB, ruangan itu benar-benar berantakan butuh beberapa waktu untuk membersihkannya,


"Terima kasih ya, kalian boleh keluar," ucap Arya kepada OB yang telah membantu mereka.


Arya melihat sekelilingnya semua sudah sangat rapih, ia duduk di samping Gavin yang masih tertidur,


"Dasar anak ini, bisa-bisanya dia tidur nyenyak saat kita sedang dalam masalah," celetuk Kelvin.


"Mungkin dia kelelahan ," ucap Arya melihat adiknya itu.


"Bagaimana ini kak, Papa pasti menanyakan kepada kita masalah perusahaan,"


"Mau bagaimana lagi, kita jelaskan semuanya kepada Papa," jawab Arya,


"Apa papa akan memarahi kita?"


"Entahlah, tapi sepertinya tidak. Kau tahu sendiri kan semarah apapun Papa jika sudan tenang dia akan melupakan kemarahannya."


"Sebaiknya saat di rumah nanti kita terus berada di sekitaran Bunda, hanya Bunda yang bisa buat Papa tenang," usul Kelvin.


Arya tertawa mendengar ucapan Kelvin,


"Mau sampai kapan kamu akan menghindari Papa, sudahlah aku mau pulang dulu kau ingin tetap disini ini?" tanya Arya.


"Aku ingin pulang saja, sekarang juga sudah terlambat untuk ke sekolah," jawab kelvin.


Mereka pun pulang dan meninggalkan Gavin yang masih tertidur pulas di ruangan itu.


Beberapa saat kemudian Gavin terbangun dan mendapati tak seorang pun ada di sana,


"Kakak ke mana?!" tanya Gavin pada dirinya sendiri dan melihat sekelilingnya sudah sangat rapih, "Apa mereka sudah pulang ya, kenapa mereka meninggalkanku,"


Gavin melihat jam di lengannya,


"Inikan hari sekolah, kenapa aku ga ke sekolah," Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Gavin berjalan keluar dengan penampilan yang acak-acakan dan muka bantalnya.


Semua karyawan memperhatikan nya namun Gavin tak mempedulikan dan tetap terus berjalan.


Saat tiba di rumah Gavin mencari kedua kakaknya yang telah meninggalkannya itu,


"Kakak mana bi,?" tanya Gavin pada mba Lala.


"Mereka keluar," Jawab mba Lala.


"Keluar, keluar ke mana?" tanya Gavin lagi.


"Enggak tahu den, setelah pulang dari kantor mereka hanya mandi kemudian pergi lagi,"


"Kemana ya mereka," gumam Gavin naik ke kamarnya,


******


Saat sampai di rumah, Arya dapat telepon dari Raina mengabarkan jika mereka sedang ada di mall berbelanja bersama Bunda dan Papanya.


"Aku mau ke mall, kamu mau ikut? tanya Arya,


"Ngapain!"


"Raina dan Natali ada disana bersama Bunda, kakak mau ke sana,"


"Tapi kan di sana ada Papa juga!"


"Emangnya kenapa kalau ada Papa?" tanya Arya melihat ke arah Kelvin.

__ADS_1


"Kalau Papa marahin kita di sana gimana?!"


"Kamu ada-ada aja, nggak mungkin lagi Papa marahin kita di sana. Di sana kan banyak orang, apalagi ada Bunda," jelas Arya.


"Ya udah deh, Aku juga ikut." ucap Kelvin bergegas mengganti pakaiannya.


Mereka pun pergi ke mall menemui wanita yang selama ini sudah mengisi hatinya mereka.


Saat di mall Arya dan Kelvin terus berada di sekitaran Bundanya, mereka terus menghindari tatapan Papa nya.


****


Malam hari setelah Mikaila tidur Bram ke kamar Arya.


Bram mengetuk pintu,


"Apa Papa boleh masuk?"


"Masuk Pah," jawab Arya meletakkan ponsel yang sedari tadi di pegangnya.


Bram duduk di dekat putranya itu,


"Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bram yang sekarang sudah lebih tenang.


Arya mengambil laporan 2 tahun terakhir mengenai kedua Perusahaan yang di pegang nya dan menjelaskan semua, jika selama 2 tahun ini perusahaan terus mengalami banyak masalah dan di tahun ini Perusahaan mereka sedang dalam masalah.


"Arya janji Pah, akan memperbaikinya nya," ucap Arya merasa bersalah setelah melihat raut wajah kecewa Papanya.


Bram mengusap wajahnya kasar Perusahaan yang selama ini dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun hancur hanya dalam waktu 2 tahun.


"Ini bukan salahmu, sepertinya Papa yang salah dalam hal ini. Papa berpikir masih bisa menjalankan perusahaan hingga kalian benar-benar siap." ucap Bram menatap putra nya.


"Apa yang kalian lakukan sudah bagus, teruslah belajar," ucap Bram.


"Pah, Arya berencana melepas jabatan di Wijaya group dan fokus kepada perusahaan Papa. Bagaimana menurut papa?" tanya Arya.


"Tapi Papa, Arya takut ditangan Arya perusahaan kakek semakin buruk," lirih Arya.


"Apapun yang terjadi, Perusahaan itu adalah hak mu. Papa akan membantumu menjalankan perusahaan Sampai kau bisa berdiri sendiri, tapi jangan beritahu bunda mu!, paham kan maksud Papa"


"Iya Pah, Arya paham," ucap Arya semangat mendengar ucapan Papanya.


Panggil Kelvin dan Gavin ke ruangan Papa.


"Iya Pah," Jawab Arya bergegas memanggil kedua adiknya.


Sebelum keruangannya Bram memastikan Mikaila masih tertidur pulas.


"Apa Papa mau marahin kita?" tanya Gavin,


"Iya, tadi Papa bahkan sudah bawa tongkat baseball, kayaknya dia bakalan mukulin kita," canda Arya.


"Yang bener Kak?" tanya Gavin menghentikan langkahnya secara mendadak membuat Kelvin yang sedang membalas chat dari Natali menabraknya dari belakang.


"Gavin apaan sih, kok langsung berhenti. Lihat ponsel Kakak jadi rusak," geram Kelvin melihat ponselnya yang jatuh ke lantai bawah.


Gavin tak memperdulikan ucapan Kelvin,


"Beneran Kak?! Papa mau mukulin kita ?" tanya Gavin panik.


"Siap yang mukulin siapa !! apa pernah Papa selama ini mukulin kita?" protes Kelvin yang berlari turun memungut ponselnya.


"Kak Arya bilang Papa mau mukulin kita, udah nyediain tongkat ,"


"Kita kamu aja kali, tau nggak tadi itu Papa marah banget waktu kamu tidur di ruangannya, kita mah udah dapat bagian tadi di kantor," ucap Kelvin berjalan lebih dulu ke ruangan Papanya, berpura-pura meringis memegang bahunya.

__ADS_1


"Serius Kak, Kakak dapat bagian tadi?" tanya Gavin mulai ketakutan,


"Iya nih, awww badan Kakak sakit semua dipukulin," ucap Arya pura-pura kesakitan mengikuti permainan Kelvin.


"Gavin menelan saliva nya dan berjalan masuk ke ruang kerja papanya menyusul kedua kakaknya.


Saat membuka pintu ia melihat Papanya sedang sibuk dengan laptopnya.


Kelvin dan Arya sudah duduk di depan Papanya, Kelvin sibuk mengaktifkan ponselnya.


Gavin masih berdiri memeriksa dengan matanya di mana tongkat yang kakaknya maksud..


"Gavin kenapa kamu berdiri?! cepat duduk," ucap Bram mengalihkan pandangannya dari laptop kepada ketiga anaknya.


"Dengar Papa sudah memeriksa semua hasil kerja kalian selama 2 tahun ini, sangat mengecewakan. Tapi Papa juga bangga pencapaian kalian tidak terlalu buruk dan masih bisa di perbaiki.


"Papa akan membagi tugas buat kalian," lanjut Bram.


Gavin melihat Kelvin dan Arya yang menahan tawa melihat wajah ketakutan Gavin.


"Awas ya kalian, nanti ku balas," ucap Gavin tanpa mengeluarkan suara.


Bram mulai membagi tugas kepada mereka,


Arya bertugas mengurus semua masalah di Wijaya group sedangkan Kelvin yang mengurus Perusahaan pribadi miliknya dibantu oleh Gavin.


"Papa akan membantu kalian, tapi jangan beritahu Bunda." ucap Bram lagi memperingatkan ketiga putranya,


"Iya Pah, kami mengerti,"


Bram pun mulai menjelaskan apa-apa yang harus mereka lakukan, ketiganya memperhatikan secara serius dan merasa bangga ternyata seperti inilah cara kerja Papanya selama ini.


Begitu lah setiap malam,


Saat Bunda Mikaila sudah tertidur, Bram akan keluar dan ke ruang kerjanya, di sana sudah ada Ketiga putranya yang menunggunya.


Bram membantu menyelesaikan masalah di kantor sambil menerangkan bagaimana cara mengerjakannya, menerangkan mana saja yang harus lebih didahulukan dalam pengerjaannya.


Mereka terus melakukan itu tanpa sepengetahuan Mikaila. Hampir setiap malam mereka tidur hingga larut malam, terkadang sampai subuh.


Bram bisa merasakan jika kondisinya kembali menurun, namun ia tak bisa meninggalkan anak-anak yang belum siap sepenuhnya.


Malam bergantian malam, mereka terus bekerja sama meningkatkan Perusahaan mereka.


Tak terasa waktu terus berlalu.


Dan kini Arya mampu memimpin perusahaan. Di bawah kepemimpinannya Perusahaan mengalami peningkatan hanya dalam beberapa bulan, walau ada campur tangan Bram dalam setiap pekerjaan nya.


Begitu juga dengan Kelvin, sedikit demi sedikit ia sudah bisa memulihkan perusahaan milik Papanya.


Malam ini mereka kembali berkumpul diruang kerja Bram, mereka membahas peningkatan pekerjaan mereka, Bram sangat bangga dengan pencapaian anak-anaknya kali ini.


Disaat Arya dan Kelvin sedang sibuk mengurus perusahaan, Gavin malah sibuk di alam mimpinya. Bahkan ia sampai mendengkur di tengah-tengah diskusi mereka.


"Begitulah Pah, kalau kita lagi kerja dia nggak pernah serius," keluh kelvin.


"Biarkan saja, Kalian berdua sudah cukup untuk memimpin perusahaan kita. Kita tidak bisa memaksanya," ucap Bram mengusap punggung anaknya yang mendengkur dengan sangat keras.


"Kalian lanjutkan pekerjaan kalian, Papa istirahat dulu," ucap Bram memegang dadanya yang kembali terasa sakit.


💖💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖💖💖


LIKE ,VOTE, KOMENNYA 🙏.


Mampir juga ke My Papa My Boss 🙏.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2