
Ibu mengambil tas yang telah di pilihnya,
"Hufff, aku tak melihat apapun," ucap ibu pelan mengelus dadanya.
Ibu berjalan santai, pandangannya lurus ke depan, seolah tak pernah melihat apapun.
Bram menghentikan aktivitasnya saat melihat ibu berjalan melaluinya. Bram dan Mikaila saling pandang dan kembali melihat ibu yang berjalan kearah pintu.
"Ibu," ucap Bram terpaku.
Ibu berbalik menatap tajam Bram yang dibalas tawa tak percaya oleh Bram.
Mikaila menyembunyikan wajahnya di dada Bram yang masih berdiri menghadapnya, sibuk menaikkan handuk yang sudah melorot hingga ke perutnya.
Ibu memberi tatapan tajam dan menutup pintu.
Bram semakin tertawa saat ibu keluar dari kamar dengan sedikit membanting pintu.
Mikaila mendorong tubuh Bram yang masih menertawai situasi yang dialaminya, ia berlari mengambil pakaian gantinya.
Ibu berjalan cepat turun kelantai bawah.
"Ada apa Bu?" tanya besannya.
"Ada hantu," jawab ibu Bram berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air putih.
"Hantu?" gumam ibu Mikaila.
Bram turun ke bawah setelah membersihkan tubuhnya. Ia menghampiri ibu dan mertuanya yang sedang bermain bersama anak-anak nya.
"Anterin ibu pulang," ucap ibu singkat menatap tajam anaknya itu.
"Iya Bu, siap." Bram kembali tertawa dan berjalan mengambil kunci mobilnya.
"Bu, saya pulang dulu ya, besok saya kesini lagi," ucap ibu Bram berpamitan.
"Iya Bu, terima kasih. Hati-hati dijalan."
"Nene, aku boleh ikut?" ucap Arya berlari ke pangkuan neneknya.
"Boleh dong," jawab nenek mencium pipi cucunya.
Arya berlari menuju papanya ke garasi mobil.
"Papa aku ikut," ucap Arya menghampiri papanya.
"Ayo masuk!" Bram membukakan pintu untuk Arya.
Bram dan Arya mengantar ibu pulang.
"Bram, kenapa kamu nggak datang ke acara Bela?" tanya ibu memulai pembicaraan.
"Malas aja Bu," jawab Bram masih fokus pada jalanan.
"Kamu masih marah sama David?" tanya ibu.
"Nggak Bu, aku cuma butuh waktu aja," jawab Bram.
Arya terus menanyakan apa yang dilihatnya pada nenek dan papanya di sepanjang perjalanan.
"Kamu kalau berduaan dengan istrimu pintunya di tutup, lihat sekitar," ucap ibu masih kesal.
"Mana Bram tau, Bu. Jika Ibu ada di sana," jawab Bram menahan tawanya.
"Arya sudah besar, jangan sembarang memperlihatkan dia adegan yang tak pantas."
"Iya Bu, aku ngerti maksud Ibu."
Ibu bergumam sendiri yang entah apa yang ia katakan. Bram hanya terus menahan tawanya.
Mereka sampai di rumah besar.
__ADS_1
"Bu, aku langsung pulang ya," ucap Bram saat ibunya turun.
"Ya udah. Arya mau nginep di rumah nenek, Sayang?" tanya pada cucunya.
Arya hanya menggeleng, tujuan utamanya ikut adalah mengajak papanya jalan-jalan.
Bram kembali menjalankan mobilnya.
Dikediaman keluarga Abraham.
Ibu Mikaila mengetuk pintu kamar Mikaila.
"Kaila kamu di dalam?" tanya ibu dari balik pintu.
Ibu membuka pintu dan melihat putrinya itu meringkuk di atas kasur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kamu kenapa?" tanya ibu.
"Nggak apa-apa Bu," jawab Mikaila dari balik selimut.
"Terus kenapa kamu ga nemuin mertua kamu, ga sopan tau, Dek!" ucap ibu sambil menarik narik selimut Mikaila.
"Aaaaaaaa." Mikaila berteriak dan menggulung tubuhnya diselimut mendengar kata mertua.
"Plak,"
Ibu memukul bokong putrinya yang mengagetkannya.
"Kamu kenapa sih, kesambet ya?" tanya ibu mendudukkan paksa putrinya itu.
Mikaila duduk dengan rambut yang berantakan, memeluk guling.
"Kamu tu ya, mertua datang itu disambut, di ajak ngobrol," ucap ibu terpotong saat Mikaila kembali histeris dan memukul-mukul wajahnya dengan bantal.
Mikaila kini menagis dan sesekali berteriak, berguling-guling di atas kasurnya hingga jatuh ke lantai.
Ibu melempar bantal ke Mikaila dan keluar dari kamar itu dengan mengomel tidak jelas.
Bram dan Arya tak langsung pulang, mereka berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, membeli eskrim dan beberapa cemilan untuk adiknya.
Arya juga membeli beberapa mainan yang di inginkannya.
Ia sangat senang ikut bersama papanya, karena papanya akan memberi apa saja yang ia inginkan, tak seperti bundanya yang harus melalui banyak rintangan untuk mendapatkan yang ia mau.
Mereka kembali ke rumah saat makan malam.
"Anak bunda udah pulang," ucap Mikaila menyambut suami dan anaknya.
"Bunda aku beli ini untuk Kelvin dan Gavin," ucap Arya memperlihatkan belanjaan mereka.
Gavin dan Kelvin yang mendengarnya berlari menghampiri papa dan kakaknya.
Mereka langsung membuka apa yang di bawa Arya bersama-sama.
"Ayo kita makan dulu ya baru makan cemilannya," ucap Mikaila mengambil bungkusan itu.
Mereka makan malam bersama.
Malam ini ibu tidur dengan ketiga cucunya.
Mikaila tidak bisa tidur, ia masih merasa malu saat mengingat kejadian sore tadi. Ia bahkan mendesah saat Bram bermain di dadanya.
Mikaila duduk dan melihat Bram yang sudah tertidur pulas.
Tanpa sadar ia memukul wajah Bram dengan bantal guling, Bram yang awalnya kaget karena ada yang memukulnya langsung tertawa saat melihat tatapan istrinya.
"Mas aku malu banget," ucapnya kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal.
"Ibu itu bukan anak kecil, ia sudah paham masalah seperti itu. Jadi ga usah malu."
"Tetap aja mas aku malu."
__ADS_1
"Sudah. Ayo tidur, besok pasti ibu sudah lupa. Ibu sudah tua."
Bram menarik Mikaila ke pelukannya dan mereka tertidur.
Pagi hari ibu dan ayah Bram sudah ada di rumah Bram, mereka akan mengantar besannya ke bandara.
Ibu Bram juga memberikan beberapa oleh-oleh untuk ia bawa pulang.
Ibu Bram menggoda menantunya dengan mengedipkan mata saat melihat menantunya itu, wajah Mikaila langsung memerah di buatnya.
"Maaf Bu, aku ga tau ibu masih di sana," ucap Mikaila pelan.
"Udah, ga usah di ingat-ingat lagi," ucap ibu mencubit gemes pipi menantu kecilnya.
Mikaila hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya itu.
Mereka semua ke Bandara mengantar ibu.
Saat disana, Mikaila kembali melihat sosok misterius yang sering mengikutinya.
Ia mencoba bersikap tenang.
Setelah mengantarkan besannya, ayah dan ibu Bram juga pulang. Mereka ada acara di tempat lain.
"Sayang kita ke panti ya, sudah lama kita nggak ke sana."
"Iya, Mas. Kita bawa anak-anak juga ya."
"Iya boleh," jawab Bram.
Mereka membeli beberapa barang untuk di bawa ke panti asuhan.
Mba Siti, bi Yanti dan bi Sumi juga ikut, mereka satu mobil dengan pak slamat.
Mikaila, Bram dan anak-anaknya juga satu mobil.
"Mas beberapa hari ini aku ngelihat seseorang terus mengawasi aku deh," ucap Mikaila mengingat sosok yang sering di lihatnya.
"Maksudnya?" tanya Bram melihat Mikaila sepintas dan kembali fokus pada Kemudinya.
"Waktu di acara Bela, di mini market, di depan rumah dan tadi di Bandara. Dia ngeliatin aku terus,"
"Masa sih?" tanya Bram mulai khawatir.
Mikaila mengangguk.
"Aku jadi takut, Mas," ucap Mikaila.
"Kamu gau usah mikirin itu, itu urusan, Mas."
Bram merasa cemas mendengar cerita Mikaila, sepanjang perjalanan ia terus memikirkannya dan tiba-tiba ia teringat akan Niken.
"Semoga saja yang aku pikirkan tidak benar," batin Bram.
"Kalian masuk dulu, Mas mau nelpon seseorang," ucap Bram saat sudah sampai di panti asuhan.
Meraka semua masuk, pak slamat di bantu beberapa orang panti membawa barang-barang yang mereka bawa tadi.
Bram menelfon seseorang untuk memperketat penjagaan di rumah dan menyewa beberapa orang untuk mengawasi keluarganya.
Bram ikut masuk bersama yang lain.
Anak-anak sangat senang mendapat mainan dan pakaian baru.
Mikaila sengaja membawa anak-anaknya agar mereka bisa belajar bersyukur dengan apa yang mereka miliki dan mau berbagi dengan yang lain.
Bersambung βΊοΈ
Terimakasih sudah membaca.
Jangan lupa like dan komennya πππ
__ADS_1