Pilihan Ku

Pilihan Ku
Ke khawatiran


__ADS_3

Arandita terus mengirim pesan kepada suaminya, namun tak satupun yang di balasnya.


"mas Yoga ko ga membalas pesan ku ya?"tanya Aran pada Isabela yang sedang bermain bersama Gibran.


"mungkin masih di perjalanan Tante."ucap Isabela.


"coba kamu telfon ibu mu?"ucap Aran pada Isabela yang sedang mencoba menelfon Yoga."


Isabela mencoba menelfon ibunya, tapi sama saja ibunya juga tak mengangkat telfonnya.


"Bu bagaimana keadaan Tante Mikaila?"tulis Isabela dan bermaksud mengirimkannya ke ibunya.


Ting,, notifikasi pesan masuk di ponsel Isabela.


"ibu balas pesanku,"batin Isabela mengambil ponselnya menyangka pesan yang baru masuk di ponsel nya adalah pesan balasan dari ibunya.


"ada apa dengan Mikaila?"isi pesan balasan yang masuk ke ponsel Isabela.


"alamak,"Isabela memukul jidatnya saat membaca pesan itu dan melihat nama si pengirim My love.


"kenapa pesanku malah ke kak Jabbar,"batin Isabela memeriksa kembali pesan yang tadi di kirimnya.


"bagaimana ini,"gumam Isabela menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


"ibu kamu membalas pesanmu?"tanya Aran yang melihat ekspresi wajah Isabela setelah membaca pesan di ponselnya.


Isabela hanya menggeleng,ia tak mengatakan kalau ia salah kirim dan sialnya ia mengirim pesan kepada kakak Mikaila.


Isabela terkejut saat ponselnya berdering dan tertera My love di layar ponselnya.


saking terkejutnya Isabela refleksi langsung mematikan panggilan dari My love.


"adu kenapa aku matikan,gimana ini,"panik sendiri.


Panggilan video call dari My love.


Isabela pamit pada Aran dan berlari ke kamar Ayasa.


menarik nafas dan berusaha tersenyum sebelum mengangkat panggilan kekasihnya itu.


"pagi kak,"sapa Isabela.


"ada apa dengan Mikaila,apa maksud pesan kamu tadi?"tanya Jabbar langsung pada intinya.


"bukan apa-apa kak,aku hanya salah kirim tadi,"ucap Isabela terbata-bata.


"lalu kenapa kamu mematikan panggilan ku,"tanya Jabbar lagi.


"maaf kak,aku ga sengaja tadi,"ucap Isabela yang kini menunduk tak berani menatap wajah Jabbar yang melihat nya dengan tatapan mencurigai.

__ADS_1


"kamu jangan bohong sama kakak,kakak paling ga suka sama seseorang yang suka berbohong."ucap Jabbar tegas.


Isabela bingung harus bagaimana,ia takut memperkeruh suasana tapi dia juga tak mau kehilangan kekasih hatinya.


Melihat Jabbar yang terus menatapnya tajam sambil menunggu jawaban dari nya, Isabela akhirnya menceritakan apa yang di ketahui nya tanpa menambah atau menguranginya sedikitpun.


"aku akan ke Batam sekarang," ucap Jabbar setelah Isabela mengakhiri ceritanya.


"aku juga akan ke sana kak,kita ke temu di bandara Batam kak," ucap Isabela.


"kita ketemu di sana."Jabbar mengakhiri panggilannya dan langsung ke bandara mengambil penerbangan ke Batam.


Jabbar tak ingin membuat orang tua nya cemas,jadi ia ingin memastikan nya dulu sebelum memberitahukan mereka.


Isabela langsung kembali ke rumah nya dan tak ingin buang waktu langsung izin pada ayahnya ke Batam.


Ini adalah kesalahannya,ia tak ingin Jabbar menambah masalah yang sudah ada di Batam.


Di rumah sakit Batam.


"Sayang,kamu sudah bangun."ucap Bram menatap mata sayup Mikaila,mengelus penuh kelembutan pipi mulusnya.


Mikaila menatap Bram penuh kesedihan, Bibir mulai bergetar,matanya sudah berkaca-kaca.


Bram tak bisa berkata-kata,ia hanya menggeleng membalas tatapan kepedihan istrinya.


Bram menggenggam tangan Mikaila dan mengecup kedua punggung tangannya yang terasa sangat lemah,Bram ingin menghapus air mata Mikaila yang kini mulai menetes dari matanya.


Bram mengepalkan tangannya yang telah terulur dan mendapatkan penolakan dari Mikaila.


Mikaila menutup wajahnya dengan satu tangan sedangkan tangan satunya lagi tak pernah lepas dari genggaman tangan Bram.


Tubuh Mikaila bergetar menahan tangisnya ia menggigit bibir nya agar tak mengeluarkan suara tangis kepedihannya.Sekuat tenaga ia terus menahannya,, semakin bergetar nya tubuhnya dan lolosnya beberapa Isakan tangis dari mulutnya dapat menggambarkan betapa tersiksanya ia kini.


Randy membawa Zahra kepelukannya,Zahra tak kuat menahan tangisnya melihat penderita yang telah ia berikan kepada Mikaila.


Mulut Bram benar-benar kaku,rasa sakit yang di rasakan istrinya bisa ia rasakan.


Bram memeluk Mikaila yang sedang berbaring menutupi wajah nya sambil menahan tangisnya.


Tangis Mikaila pecah saat Bram menindihnya dan membisikkan di telinganya kata Maaf.


"Maaf kan mas sayang,maaf maaf maaf,"ucap Bram di telinga Mikaila dengan suara yang nyaris tak di dengarnya,suara Bram tercekak menahan gejolak di hatinya.


Bram memeluk sangat erat tubuh Mikaila yang semakin terisak, Mikaila tak bisa berbuat apa-apa lagi,ia benar-benar pasrah.


Hati dan tubuhnya sangat lelah,ia hanya bisa mengeluarkan semua nya dengan menangis.


Anindita tak tahan melihat pemandangan di hadapannya,ia memilih untuk keluar dari ruangan itu begitu juga dengan Yoga.

__ADS_1


Lama Bram dalam posisi itu, mendekap erat tubuh Mikaila mencoba melindunginya dari rasa sakit yang di buatnya sendiri...


Bram mengeraskan rahangnya berusaha menahan air mata yang terus mendobrak pertahanannya.


Isak tangis Mikaila semakin berkurang dan tak terdengar lagi.


Mikaila tertidur di dekapan Bram,yang hanya di butuhkan ya sekarang hanyalah mengistirahatkan tubuh.


Bram melepas pelukannya saat di rasa Mikaila sudah tertidur pulas,,.


Bram kembali memandang wajah Mikaila mengecup kening nya dan terus menggenggam tangan nya.


Pikirannya kosong,ia tak tau apa yang harus dilakukannya saat ini.


Bram terus duduk diam di samping Mikaila tak ada yang berani menegur nya walau hanya sekedar menawarkan makan dan minum.


Yoga terus mematikan panggilan dari Aran,tak tau harus mengatakan apa pada istrinya itu tentang situasi ini.


Anindita memilih menemui dokter yang menangani operasi Bram dan Zaky,ia ingin tau lebih banyak tentang kondisi Zaky.


Terima atau tidak Zaky tetaplah anak Bram,berarti Zaky adalah bagian dari keluarga mereka.


Di bandara, Isabela melambaikan tangan saat melihat Jabbar.


Isabela salah tingkah saat melihat Jabbar terlihat terpesona melihatnya,,, sepanjang perjalanan ia terus mempercantik diri.


Sudah lama mereka tak bertamu membuat rasa rindu di hati Isabela seakan memuncak saat melihat senyum Jabbar kepadanya.


Tangan Jabbar terulur ke belakang kepala Isabela,yang di salah artikan oleh Dokter cantik itu.


Isabela berpikir Jabbar ingin memeluknya,baru saja Isabela kegirangan karena ini pertama kalinya ia akan di peluk oleh kekasihnya itu.


Isabela mengangkat tangan ke pinggang Jabbar bermaksud akan membalas pelukan


yang akan di dapatkannya.


"kamu pakai rol rambut di pesawat?"tanya Jabbar mengambil rol rambut yang masih terpasang di rambut Isabela.


Isabela merasa ingin lompat ke jurang yang sangat dalam agar tak ada yang tau betapa malunya ia saat ini.


Isabela langsung menurunkan tangannya dan pura-pura mengibas-ngibaskan tangannya.


"panas banget sih kak,ayo kita cari taksi"ucapnya berjalan meninggalkan Jabbar yang masih memegang 1 rol rambut sedangkan 2 lainnya masih bergelantungan di rambut Isabela.


"ga dibuka dulu rol rambut nya,"ucap Jabbar mencandai Isabela.


"ini gaya baru kak,"ucap Isabela mempercepat jalannya,wajahnya benar-benar memerah saat ini karena malu.


Jabbar hanya menggeleng melihat tingkah pacarnya itu,,sejenak ia melupakan kekhawatirannya pada Mikaila.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca 💗🙏


Jangan lupa like vote dan komennya.


__ADS_2