
Arya melihat Papanya yang terus berdiri dibalkon kamarnya, menatap lurus ke depan. Terlihat jelas jika ia sedang memikirkan sesuatu.
Arya menghampiri Bram, Papa nya.
"Papa kenapa, apa ada yang papa pikirkan?" tanya Arya duduk di kursi yang ada di sana.
Bram ikut duduk di kursi sebelahnya,
"Papa hanya memikirkan Zaky, Papa bisa melihat tatapan kemarahan saat melihat Papa," jawab Bram.
Bram menyandarkan bahunya memijat pelan pelipisnya
"Papa hanya kasihan pada anak itu, dia tak salah apa-apa dalam hal ini, namun ikut menanggung akibatnya," lirih Bram.
Arya ingin berbicara namun bundanya datang.
"Arya, kamu disini," ucap Mikaila melatakkan secangkir kopi di depan suaminya.
"Iya bunda, Arya ke kamar dulu."ucap Arya pamit.
Arya ke kamar dan membersihkan tubuhnya, seharian di kantor berkutat dengan pekerjaan yang tak ada habisnya membuat ia kelelahan, Belum lagi ia harus membantu pekerjaan Gavin.
Arya merebahkan tubuhnya di kasur dangan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
"Papa benar, Zaky tak bersalah dalam hal ini," gumam Arya mengambil ponselnya dan menelfon neneknya di kampung, meminta alamat rumah Zaky di Batam.
"Nenek tak tau pasti, sebentar nenek tanya neneknya Zaky dulu," ucap mama Mikaila atau nenek Arya mematikan panggilan nya.
Tak lama kemudian satu pesan masuk di ponsel Arya, berisi alamat Rumah Zaky ,"
Arya kebetulan ada pekerjaan yang harus di selesaikan nya di Batam, ia sekalian ingin menemui Zaky dan keluarganya, menjernihkan permasalah dan salah faham di antara mereka.
Arya berpikir masalah Zaky kini adalah tanggung jawab nya. Mengingat Papa nya sudah menyerahkan semua tanggung jawab kepadanya.
Arya bertolak ke Batam, setelah pekerjaan nya selesai, Arya langsung menuju ke alamat rumah yang di kirim neneknya.
Begitu mendekati alamat yang dituju, Arya melihat Zaky keluar dari gerbang dengan memacu sepeda motor nya dengan kecepatan tinggi.
Arya langsung mengikuti kemana Zaky pergi.
Hingga Ia melihat Zaky berhenti di sebuah jembatan, Arya terus memperhatikan Zaky dari dalam mobilnya, ia bisa melihat jika Zaky begitu terpuruk. Arya bisa melihat jika Zaky menangis seorang diri di sana.
Arya melihat Zaky melemparkan ponsel nya ke sungai dan tak lama kemudian ia kembali melihat Zaky melemparkan kembali dompet dan Helm nya dan berteriak, Arya mengerti jika Zaky sedang meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
Lama Zaky duduk di atas motor, begitu juga dengan Arya, ia terus memperhatikan Zaky dari dalam mobil.
Mereka seperti itu hingga malam tiba, Arya terus menunggu apa yang akan Zaky lakukan. Ia tak ingin menambah kekesalan Zaky jika ia menemuinya sekarang.
Namun Arya terkejut saat melihat beberapa orang menghampiri Zaky dan langsung mengeroyok nya,,, mereka semua memukuli Zaky. Dengan cepat Arya keluar dari mobilnya dan ikut dalam perkelahian tak imbang itu.
Walau Arya sudah membantu tetap saja mereka kalah, jumlah mereka terlalu banyak untuk mereka berdua.
Untung saja ada tim patroli yang lewat, sehingga mereka semua langsung berlari membubarkan diri saat mendengar suara sirine polisi.
Arya membantu Zaky yang sudah babak belur naik ke mobil nya dan mereka juga meninggalkan tempat itu, tak ingin berurusan dengan kepolisian.
Salah satu orang yang mengeroyok mereka tadi melihat Arya dan Zaky pergi dengan mobil dan meninggalkan motor nya,,
"Motor thu,,,"ucapnya pada teman yang memboncengnya,
Mereka pun kembali untuk mengambil motor Zaky.
Karena sirine polisi semakin mendekat ia terburu menyalakan motor dan tak sengaja menarik gas motor tersebut sehingga motor itu langsung tancap gas terbang melewat pembatas jembatan dan terjun bebas ke sungai.
Beruntung temannya masih sempat menarik jaketnya sehingga tak ikut terjun bersama motor mahal Zaky.
"Gimana sih, motor mahal Thu lumayan Kalau di jual malah lu buang ke sungai," menyalahkan temannya.
Mereka pun langsung pergi saat melihat mobil patroli sudah Samakin mendekat. 🤭
Arya dan Zaky hanya diam sepanjang perjalanan, dan saat Arya ingin bertanya akan mengantarnya kemana Zaky sudah tertidur dengan beberapa luka lebam di wajahnya, bahkan ada yang mengeluarkan cairan merah.
Arya yang tak tahu harus membawa Zaky ke mana memutuskan membawanya ke hotel tempatnya menginap. Saat sampai Zaky masih tertidur pulas, tak ingin mengganggu tidurnya, Mereka pun tidur di mobil di parkiran hotel. Arya juga mengalami beberapa luka lebam di wajahnya.
Pagi hari saat mereka terbangun semua merasa sakit di sekujur tubuhnya akibat luka pukul semalam.
Arya bangun lebih dulu, ia keluar membeli makanan untuk mereka dan saat ia datang, ia melihat Zaky sudah terbangun.
"Makanlah dulu, setelah itu kita bicara," ucap Arya memberikan satu kantong makanan kepada Zaky dan membuka makanan miliknya. Mereka pun makan di dalam mobil tanpa satu kata pun.
Setelah selesai makan Arya baru bertanya.
"Mengapa mereka memukuli mu,?" tanya Arya,
Zaky tak menjawab, Dia hanya menunduk tak ingin menatap Arya.
Kemarin malam Zaky yang merasa sangat frustasi ingin meluapkan amarahnya. Ia pun mendatangi sekelompok geng motor yang terkenal sebagai preman di wilayah sekitar sana. Zaky hanya ingin meluapkan amarahnya dengan tinjunya.
__ADS_1
Zaky sengaja menantang mereka, merekapun terlibat perkelahian dan sudah dipastikan Zaky pasti akan kalah melawan mereka semua.
Zaky yang sudah tahu bahwa dia akan kalah mempersiapkan diri untuk melarikan diri.
Begitu merasa dirinya sudah puas dan kalah dengan cepat ia berlari ke motor yang sudah di parkir dengan baik, menyalakan motornya dan langsung menancap gas pergi dari sana.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi namun Zaky sudah merencanakan Dimana tempat ia harus pergi agar mereka tak bisa mengikutinya. Memarkirkan motornya di parkiran Kantor polisi adalah ide yang terpikir oleh Zaky agar mereka berhenti mengejarnya.
Dan benar saja mereka tak satupun yang berani masuk kesana.
"Ada apa denganmu sebenarnya ?" tanya Arya.
"Kenapa kondisimu seperti ini," tanyanya lagi melihat kondisi sakit memang sangat memprihatinkan.
Zaky tetap tak menjawab.
Arya menyalakan mobilnya dan keluar dari parkiran hotel tempat ia menginap.
"Aku akan membawamu pulang," ucap Arya,
"Tidak, jangan bawa aku pulang. Aku tak ingin pulang untuk saat ini, bawa aku ke mana saja yang penting jangan pulang," ucap Zaky.
"Apa kau sudah tahu semuanya, cerita tentang masa lalu orang tua kita?" tanya Arya,
Zaky hanya mengangguk,
Arya mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang, kemudian singgah di sebuah toko pakaian dan membeli beberapa pakaian untuk Zaky.
"Pakai ini, aku akan membawamu ke sebuah tempat. Aku tak ingin ada orang yang mengetahui dimana aku membawamu. Aku tak ingin memperkeruh suasana untuk saat ini, kita biarkan semua tenang dulu."Ucap Arya memberikan jaket dan topi serta masker kepada Zaky.
Ia pun membawa Zaki ke bandara disana Arya sudah menyiapkan pesawat jet pribadi yang akan mengantar mereka.
💖💖💖💖💖💖💕💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca
jangan lupa like nya
jangan lupa vote nya
dan beri komen atas bab ini!!!😉
salam dari Author m anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖