
"Bunda," teriak Arsy yang melihat Bundanya sedang berjalan dengan Raina menuju ke arah cafe yang sama yang mereka tuju.
"Hay, sayang. Kalian dari mana aja," ucap Mikaila merentangkan tangannya menyambut Arsy yang berlari ke arahnya.
"Dari main Bunda," ucap Arsy memeluk manja Bundanya.
"Ya ampun sayang. Kalian main apa sih, sampai keringatan seperti ini," ucap Mikaila mengusap keringat yang membasahi hijab putrinya.
Arsy tak menjawab, ia hanya tersenyum dan menggandeng tangan Bundanya berjalan bersama menuju ke kafe.
"Kamu nggak beli apa-apa?" tanya Mikaila yang melihat Arsy dan Clara tak membawa apa-apa.
"Nggak Bunda, tadi kamu langsung ke tempat bermain," jawab Arsy.
"Bukannya sebentar lagi tahun ajaran baru ya, kalian mau sekalian beli perlengkapan sekolah nggak sekarang?" tawar Mikaila.
"Iya, Bunda. mau," ucap Arsy yang di ikuti iya kan oleh Clara.
Tahun ini Clara dan Arsy akan naik ke kelas 7, Putri kecil Abraham itu sudah beranjak remaja, tak terasa waktu berputar begitu cepat bayi kecil Mikaila itu sudah menjadi gadis remaja yang sangat cantik.
Pembawaan Arsy yang tinggi membuat ia terlihat jauh lebih dewasa dari usianya. Namun sifatnya jauh lebih kekanak-kanakan dari usia sendiri.
"Ya udah Bunda, kita kesana, yuk! tunjukkan Arsy pada salah satu toko perlengkapan sekolah.
"Tadi kak Kelvin bilang apa?" tanya Mikaila memperingati putrinya.
"Oh iya," ucap Arsy menepuk jidatnya "Tadikan kakak menyuruh langsung ke cafe."
"Benar sekali, sekalian istirahat dulu nanti kita lanjut lagi shopping nya," ucap Mikaila.
"Oke Bunda," jawab Arsy mereka berjalan menuju ke cafe bersama-sama.
Arsy yang memiliki postur tubuh mirip dengan Bram, Saat berjalan dengan Bundanya yang memiliki postur tubuh yang mungil membuat mereka layaknya seorang kakak dan adik, ditambah wajah Mikaila yang masih terlihat sangat cantik.
Mereka jalan berempat, Mikaila bisa mengimbangi ketiganya.
"Oh iya, ini Bunda beliin buat kalian," ucap Mikaila memperlihatkan kalung yang baru saja dibelinya.
Arsy mengambilnya dan melihat apa isi box tersebut.
"Wah ini cantik sekali, Bunda," ucapnya melihat apa yang dibeli oleh bundanya.
"Syukurlah kalau kamu suka, tadinya bunda khawatir kamu ga akan suka," jelasnya. "Bunda sengaja membeli dua, ini untuk Clara," lanjut Mikaila memberikan satu box lagi kepada Clara.
Arsy langsung memakai kalung tersebut," Gimana bunda?" tanya Arsy memperlihatkan kalung yang melingkar di lehernya, menyibak sedikit hijabnya.
"Cantik, cocok dengan kamu."
Arsy sangat senang, memiliki benda yang sama yang dimiliki Clara.
"Makasih ya Bunda," ucap Clara tulus pada bunda yang selama sudah menjaga dan merawat ia dan kakaknya.
"Iya, kamu sudah Bunda anggap anak sendiri, jadi jika kamu ingin sesuatu jangan sungkan sama Bunda, ya!"
"Iya, Bunda," jawab Clara.
"Ayo cepat, Arsy sudah sangat kehausan."
__ADS_1
"Iya, Bunda. Aku juga sudah Lapar.." ucap Raina.
"Ayo kita ke cafe yang lain udah pada nunggu Kita."
Mereka mempercepat langkah menuju ke cafe.
Begitu sampai di cafe, Arsy langsung menempel pada Papanya, begitulah Putri Abraham itu. Ia sangat dekat dengan papanya, selalu bermanja-manja. Arsy selalu protes saat Papanya terlalu menyayangi Ayra ponakan kecilnya itu. Baginya kasih Sayang papanya hanya untuknya dan bundanya.
Mereka terus berbincang-bincang menghabiskan waktu sambil mengisi perut.
Setelah mereka merasa perut mereka sudah terisi, Kaum hawa melanjutkan perburuan nya, kali ini mereka akan menemani Arsy untuk membeli perlengkapan sekolah baru.
"Kamu mau ikut bunda lagi?" tanya Arya pada Raina yang sedang kembali menyusui putrinya.
"Kakak bisa jaga Aira lagi?"
"Nanti kakak yang jaga, kamu pergi aja sama Bunda."
Arya mengerti jika Istrinya itu pasti ingin juga menghabiskan waktu dengan mertua dan calon iparnya.
Tak kehabisan tenaga, mereka kembali berbelanja bersenang-senang, selain membeli keperluan Arsy mereka juga membeli keperluan pribadi mereka, tujuan utama para wanita itu adalah alat make up. Membeli skin care, lipstik, bedak, dan masih banyak lagi.
Arsy dan Clara yang telah selesai membeli peralatan sekolah mereka, ikut bergabung.
"Bunda, boleh ga sih Arsy pakai makeup?" tanya Arsy yang sudah mulai mengenal yang namanya perawatan kulit, membuat ia ikut larut dalam memilih berbagai macam peralatan make up.
Beberapa teman nya bahkan membawa alat makeup mereka ke sekolah.
"Boleh sih, tapi kita pilih yang aman ya, buat kulit kamu."
"Iya, Bunda aku mau dong!"
"Kalau kita beli yang aman untuk kulit arsy kayaknya ga apa-apa deh Bunda," ucap Natali mengambil krim untuk remaja. "Ini aman ko Bunda," tambah nya.
"Boleh ya Bunda," mohon Arsy.
"Iya boleh, kamu pilih sama kak Natali aja, bunda ga begitu mengerti kosmetik untuk anak remaja" ucap Mikaila.
Natalipun memilih beberapa jenis alat kosmetik yang aman untuk kedua remaja itu.
Mikaila, Raina dan Diandra mencari beberapa kebutuhan perawatan wajah mereka. mencoba berbagai macam warna lipstik dan alat makeup lainnya. Hingga mereka lupa waktu.
Ayra yang merasa jenuh terus saja rewel, Ayra merengek agar Arya membawanya berjalan-jalan. Ayra Terus menunjuk ke arah luar dan menangis. Arya lagi malas untuk membawanya memilih untuk memberikan beberapa mainan yang dibawa oleh Raina dari rumah, tapi Ayra tetap saja tak Tenang.
"Sini sama kakek, Kita jalan-jalan." Bram mengambil cucunya dan membawanya berjalan-jalan keluar, membuat bayi itu senang dan terus tertawa.
Bram membawa Ayra melihat beberapa permainan, membuat bayi kecil itu tertawa gembira dan ingin ikut bermain melihat beberapa bayi seusianya bermain mandi bola.
Bram dan Ayra bermain di sana. Mereka tertimbun ratusan bola berwarna-warni.
Beberapa ibu-ibu di sana terus memperhatikan mereka, mungkin lebih tepatnya memperhatikan Bram.
"Kemana ya ibunya, kok ga menenin anak sama suaminya."
"Iya, mana bapaknya cakep gitu."
"Ibunya udah, ga ada kali ya, Bu," bisik ibu lainnya.
__ADS_1
Mereka tak lagi memperhatikan anak-anaknya justru terus memperhatikan Bram dan Ayra.
"Maksudnya, ibunya sudah meninggal, Bu!"
"Duran dong, aku mau daftar siapa tau aja bisa jadi mama dari anaknya," sahut ibu lainnya lagi.
"Itu bukan papanya, Bu. Itu kakeknya dan saya Neneknya," ucap Mikaila berjalan melalui ibu-ibu yang sedang membicarakan kematiannya.
"Enak aja, mau jadi mama dari anak suamiku," kesal Mikaila menggerutu sendiri sambil berjalan menuju Bram dan Ayra yang sedang asyik bermain.
Sejak tadi Mikaila mendengar pembicaraan mereka yang mengagumi suaminya, Namun ia sangat kesal saat mereka menyimpulkan sendiri jika Suaminya adalah duda dan mau menjadi penggantinya.
Ibu-ibu yang tadi bergosip hanya saling pandang dan langsung terdiam. Mereka seperti maling yang ketangkap basah.
Mikaila ikut bermain bersama Bram dan Cucunya. Sementara yang lainnya menonton di bioskop.
Ibu sendiri entah kemana membawa kartu Mikaila.
Di cafe Arya, Kelvin dan Gabin masih betah untuk duduk menikmati minuman mereka sesekali mereka mengecek pekerjaan mereka dan membahas masalah bisnis.
"Kelvin, apa kamu nggak punya niat untuk menikah dengan Natali secepatnya?" tanya Arya.
"Sebenarnya sudah lama aku ingin melamar Natali, tapi karena masalah ini aku belum berani melangkah, Kak." jawab Kelvin.
"Kalau kakak mau melamar Natali, kakak lamar aja. Masalah Diandra anggap aja udah selesai, Kak. Nggak usah mengkhawatirkan masalah Diandra, sekarang Diandra tanggung jawabku, aku yang akan membahagiakan nya," ucap Gavin.
"Entahlah, mungkin aku akan mencoba mengutarakan maksudku pada Natali Setelah kalian bertunangan nanti atau mungkin Setelah kalian menikah," ucap Kelvin.
Kelvin merasa tak enak jika ia sudah memiliki kehidupan baru sementara Diandra yang pernah di rusaknya belum memiliki kehidupan yang bahagia.
Walau gavin sudah bersedia menikahi Diandra, walau mereka menikah karena cinta, tapi Kelvin masih merasa bersalah, masih ada rasa penyesalan yang mengganggu di dalam hatinya.
Kelvin sangat bangga kepada Gavin yang mau menerima Diandra, mencintai Diandra dengan tulus setelah apa yang telah dialaminya. Jika ia berada di posisi Gavin mungkin ia takkan sanggup memaafkan dan menerima keadaan itu.
"Sudahlah, kalau kau memang punya niat baik jangan ditunda-tunda," ucap Arya. " Sepertinya Diandra juga Sudah melupakan segala masalah kalian, lihatkan Diandra hari ini, ia terlihat sangat bahagia 'kan!" lanjut Arya.
Kelvin hanya mengangguk dan memikirkan apa yang dikatakan kakaknya, sebenarnya rencananya saat pulang dari luar negeri Kelvin langsung ingin menikahi Natali. Namun semua rencananya kacau karena kesalahannya sendiri.
Setelah seharian mereka menghabiskan waktu di Mall, akhirnya mereka pun pulang. Bram sangat senang bisa menyenangkan semua keluarganya dengan uang yang ia miliki.
Saat malam hari Kelvin terus memikirkan apa yang diucapkan oleh Arya, walau Natali tak mengatakannya, tapi ia bisa melihat jika Natali merasa asing saat berada bersama dengan keluarganya. Ia mengerti jika Natali juga ingin kepastian akan hubungan mereka.
Saat tengah malam, disaat semua sedang tidur, tiba-tiba Abraham dihebohkan dengan kabar jika Pak Wijaya ayahnya sedang dalam kondisi kritis, mereka semua langsung pergi ke rumah sakit.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan komennya
Bisa mampir ke karya ku yang lainnya kak🙏
Ditunggu ya kak🤗 makasih🙏
salam dari ku Author m Anha
__ADS_1
love you all 💕💕💕💕
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖