
Bram berdiri memandang keluar jendela, melihat sekeliling rumahnya.
Ada rasa bangga tersendiri di dadanya, melihat pencapaiannya selama ini.
Hasil kerja keras selama ini bisa membuat ia membangun rumah tempat beristirahat, tempat berteduh untuk keluarganya yang begitu nyaman dan mewah.
Mikaila menghampiri Bram dan merangkul lengan suaminya
"Mas lagi lihatin apa?" tanya Mikaila menyandarkan kepalanya di lengan Bram.
"Enggak lihat apa-apa kok," ucap Bram memberi kecupan lembut di kening istrinya.
"Oh ya Mas, bagaimana tentang perjodohan Syana?" tanya Mikaila.
"Aku sudah bicara dengan ayah ustaz Ilham, kami akan bertemu lusa nanti. Sekarang dia sedang ada di luar kota, begitu juga dengan Ilham. Ia sedang ada dakwah keluar kota." ucap Bram.
"Aku kok masih ga yakin ya, perjodohan ini akan berhasil. Perjodohan tanpa beritahu Syana terlebih dahulu," ucap Mikaila.
"Sebenarnya, Mas juga nggak mau mengatur perjodohan ini tanpa persetujuan Syana. Tapi, Mas bisa apa semua ini keinginan Mbak Anin dan Mbak Aran terlebih lagi didukung oleh ayah." ucap Bram.
"Mas ingin ke kantor, apa kamu mau ikut?!" tanya Bram.
"Aku di rumah aja Mas, temenin Raina. Nggak apa-apa ya, aku nggak temenin Mas dulu ke kantor," ucap Mikaila.
"Iya, ga masalah. Mas juga ingin kamu menemani Raina, ia masih baru di rumah ini semoga saja dia betah tinggal bersama kita ," ucap Bram.
"Apa Gavin sudah ke kantor ?" tanya Bram.
"Kayaknya belum Mas! Mas mau ikut Gavin?" tanya Mikaila.
"Iya boleh, Mas lagi males bawa mobil. Belakangan ini dada Mas kadang sesak lagi," ucap Bram mengusap dadanya.
"Mas jangan terlalu banyak kerja dulu ya. Setiap Mas bilang gitu aku jadi takut," lirih Mikaila.
Bram membawa Mikaila ke pelukannya,
"Mas baik-baik saja kok, selama ada kamu yang ngurusin Mas," ucap Bram. " Mas ke kantor dulu ya,"Bram melepas pelukannya.
Mereka pun keluar dari kamar dan mencari keberadaan Gavin.
Gavin yang kebetulan akan berangkat ke kantor menghentikan langkahnya saat Bundanya memanggilnya.
"Iya Bunda ada apa ?" tanya Gavin menghampiri papa dan bundanya.
"Papa ikut kamu ke kantor," ucap Bram.
"Iya Pah,"
Mereka kemudian berangkat bersama-sama ke kantor, Mikaila baru masuk setelah mobil mereka menjauh dari gerbang.
Saat di kantor Bram langsung menghampiri Arya yang ada di ruangannya.
Arya yang sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas langsung berdiri saat melihat papannya masuk dengan gavin.
__ADS_1
Arya mempersilahkan Papanya duduk di tempatnya.
"Lanjutkan pekerjaanmu," ucap Bram memilih duduk di sofa.
Sementara Gavin Kembali ke ruang kerjanya.
"Apa Kelvin sudah mengenal alkohol?"tanya Bram.
Arya yang sedang menandatangani dokumen menghentikan kegiatannya dan menatap Papanya.
Pagi tadi Bram memperhatikan Kelvin. Ia bisa melihat jika mata kelvin begitu merah dan jalannya juga masih sempoyongan. Bram yakin jika semalam Kelvin pulang dalam keadaan mabuk. Kelvin paling disiplin, tak biasanya ia bangun terlambat apalagi hari ini adalah jadwal kepulangannya.
Arya menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Papanya.
"Sepertinya memang begitu Pah!" ucap arya.
"Arya, kamu tau kan kondisi Papa. Sekarang Papa tidak tak bisa lagi mengawasi kalian semua, Papa menyerahkan tanggung jawab untuk mengawasi adik-adikmu kepadamu.
Di usia mereka sekarang mereka sangat membutuhkan bimbingan. Papa takut jika Kelvin salah pergaulan di luar sana." ucap Bram.
"Iya Pah, akan Arya usahakan," jawab Arya.
"Coba kau nasehati dia untuk tidak menyentuh sedikit pun barang-barang haram seperti itu," ucap Bram.
"Iya Pah, Arya akan coba bicara lagi dengan Kelvin agar tak lagi meminum minuman beralkohol walaupun dengan alasan tak enak dengan rekan bisnisnya," ucap Arya.
Beberapa rekan bisnis Arya juga sesekali mengajak mereka bertemu di tempat seperti klub malam atau hotel berbintang yang menyediakan minuman beralkohol.Namun, ia selalu menolak dan meminta minuman lain.
Tak lama kemudian Yoga datang dan langsung duduk di Kursi yang ada di depan Bram.
"Tidak, aku baru saja datang. Bagaimana dengan pertemuannya?" tanya Bram.
"Kita akan bertemu besok pagi, Sepertinya ustadz Ilham sudah setuju untuk menerima Syana. Aku sudah bicara melalui telepon dengannya." kata Yoga.
"Apa kau sudah menjelaskan karakter Syana padanya?" tanya Bram.
"Iya, ustadz Ilham sudah tau semua tentang Syana, Dia maklum dan dia akan berusaha untuk membimbing Syana agar lebih baik lagi," ucap Yoga.
"Jadi pertemuan besok hanya silaturahmi saja dan bisa dipastikan kalau ustaz Ilham dan mereka sudah menyetujui perjodohan ini?" tanya Bram.
"Sepertinya memang seperti itu, Aku sudah bicara dengan ayah dan pak ustadz Zakaria, besok keluar meraka yang akan mendatangi kediaman pak Surya." Lanjut Yoga..
"Baiklah kalau memang pembicaraannya seperti itu," ucap Bram hanya mengikut apa yang mereka inginkan.
"Rapat akan segera dimulai sebaiknya kita pergi ke ruang rapat sekarang," ucap Bram.
"Iya Pah," ucap Arya mengambil beberapa berkas di mejanya dan mereka bertiga pun menuju ruang rapat.
Sementara itu di kediaman Abraham Wijaya.
Saat siang hari, Mikaila mengajak Raina untuk menjemput Arsy. Mereka rencananya hari ini akan kembali berbelanja keperluan mereka.
Seperti biasanya, saat Bram dan Arya ke kantor mereka bertiga akan pergi berjalan-jalan, shopping dan nonton.
__ADS_1
Mikaila merasa senang Arsy sudah bisa diajak menemaninya berbelanja. Ditambah sekarang sudah ada Raina menantunya.
Selama ini saat berjalan-jalan dengan para pria di keluarganya, ia merasa tak nyaman karena selera mereka berbeda.
Mikaila dan Arsy sangat kompak dalam menghabiskan uang seorang Abraham Wijaya.
"Raina, apa Arya memberimu kartu" tanya Mikaila.
"Iya Bunda ada, ucap Raina mengeluarkan kartu yang sudah diberikan Arya padanya.
"Kau jangan sungkan-sungkan untuk menghabiskannya, pakai saja sesukamu," ucap bunda Mikaila.
"Iya bunda," jawab Raina sedikit ragu.
"Dulu bunda juga seperti kamu, saat pertama kali Papa mereka memberikan kartu kepada pada, Bunda selalu memperhitungkan setiap ada yang ingin Bunda beli. Jika Bunda merasa itu tidak penting Bunda akan mengurungkan niat bunda untuk membeli.Namun, setelah Bunda tahu ternyata uang Papa mereka itu banyak, ya udah. Bunda belanja aja sepuasnya toh Papa mereka juga nggak marah berapapun yang bunda pakai." kata Bunda.
"Apa Arsy juga boleh beli apa saja bunda?" tanya Arsy.
"Tentu saja boleh, tapi kita juga enggak boleh beli barang-barang yang tidak kita butuhkan . Tapi kalau barang itu memang kita butuhkan dan bermanfaat bagi kita kenapa tidak kita beli aja," jawab Mikaila.
Setelah puas berbelanja, Mereka pun memutuskan untuk nonton di bioskop.
Jika mereka bertiga kompak dalam berbelanja. Namun, tidak dalam memilih film yang akan mereka tonton, mereka mempunyai selera yang berbeda-beda. Mau tak mau merek harus mengikuti selera Arsy. Alhasil mereka akhirnya menonton Disney kesukaan Arsy.
Satu pesan masuk di ponsel Mikaila, itu dari Bram yang mengatakan jika pertemuan dengan keluarga ustad Zakaria dimajukan.
"Raina, Kita beli apa ya buat diberikan ke pada keluarga ustadz Zakaria" tanya Mukaila pada Raina
"Kapan bunda acara silaturahminya ," tanya Raina.
"Besok pagi. Papa minta kita membeli sesuatu untuk menyambut mereka, besok mereka yang akan mendatangi rumah pak Surya.
"Langsung acara lamaran bunda?" tanya Raina.
"Mungkin saja!" Jawab Mikaila.
Grup chat di WA keluarga mereka mulai ramai.
Raina dan Mikaila langsung melihat di ponsel mereka yang terus bergetar.
Mereka bisa melihat jika sebelumnya mereka mulai membahas Perjodohan itu Syana dikeluarkan dari grup tersebut dan grup itu mulai membahas rencana mereka agar pertemuan besok berlangsung dengan lancar.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
jangan lupa like dan komen nya.
Salam dariku π€
Author m anha β€οΈ
love you allπππ
__ADS_1
ππππππππππ