Pilihan Ku

Pilihan Ku
Kasih sayang dari seorang Mikaila.


__ADS_3

Bram membawa Mikaila ke klinik Anindita,


"mas,aku ko bisa hamil lagi sih?"


"ya bisa lah sayang, kamu kan punya suami,"


"maksud aku,kamu kan pakai pengaman?"


Bram hanya tertawa mendengar ucapan istrinya.


"ini adalah titipan sayang,kita wajib menjaga nya."ucap Bram mengelus-elus perut istrinya yang masih rata.


"aku juga ga merasa mual atau gejala lainnya?"


"dia pasti mengerti kalau ibunya sedang mengurus kakaknya yang masih baby."


Bram menggandeng tangan Mikaila memasuki ruangan pemeriksaan,terlihat jelas di wajahnya terpancar rasa bahagia,berbeda dengan Mikaila yang merasa sedikit takut saat melangkah masuk kedalam ruangan itu.


Anindita memeriksa kondisi Mikaila, menanyakan beberapa hal yang di rasakan namun Mikaila tidak merasakan adanya tanda-tanda kehamilan pada kehamilannya kali ini.


Anindita membantu Mikaila berbaring di ranjang,memberi jelly ke perutnya.


"Alhamdulillah,"ucap Anindita saat melihat ada dua janin di dalam rahim adik iparnya.


"ada apa kak"tanya Kaila.


"sepertinya Arya akan punya 2 adik"jawab Anin.


Bram benar-benar bahagia mendengar kabar itu,ia mengecup kening istrinya lalu mencium punggung tangannya.


"makasih sayang,mas sangat bahagia mendengarnya,"


Mendengar kalau ia akan melahirkan Baby kembar, Mikaila memegangi perutnya dan tersenyum,ada rasa bahagia di hatinya.


Sejak kehamilan kedua istrinya Bram lebih sering mengerjakan tugas kantornya di rumah sambil menjaga Arya dan memberikan perhatian lebih kepada Mikaila.


David dan Arabela benar-benar bisa di andalkan,semenjak mereka bekerja,pekerjaan Bram dan Yoga menjadi lebih santai.


Hari ini Bram harus menghadiri rapat penting di kantornya.


"sayang,aku ke kantor dulu ya,selesai rapat mas langsung pulang,"ucap Bram merapikan rambutnya.


"iya mas,aku bisa ko jagain Arya,lagian kan ada Siti dan yang lainnya.Jadi mas bekerja aja."


"mas hanya ga mau kamu kelelahan sayang, kamu kan lagi mengandung."


"aku bener ga apa-apa mas."


Bram mengadakan rapatnya di restoran depan kantor nya,mereka membahas tentang kerjasama yang bernilai triliunan.


Bram memberi tanggung jawab kepada David dalam mempresentasikannya kepada calon klien mereka.


Dengan pengalaman dan kecerdasan David ,dia dengan mudah meyakinkan mereka dan menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan Bram.


Anindita menemui Bram di kantornya.


"ada apa mba?tanya Bram.


"mba cuma mau ngingetin kamu untuk lebih menjaga istrimu di kehamilannya ini."


"maksudnya mba?"tanya Bram bingung.

__ADS_1


"secara fisik istrimu memang tidak punya masalah dengan kandungannya,dan syukurnya dia tidak mengalami gejala mual muntah.Tapi kondisi rahimnya saat ini sangat lemah dan sangat rentan keguguran."


"iya mba,akan Bram perhatikan."


"dia juga ga boleh banyak pikiran."


"iya mba."


Mendengar kondisi istrinya,Bram sangat perhatian kepada Mikaila.


Ia juga melarang Mikaila masuk ke dapur dan memindahkan kamar mereka di lantai bawah agar istrinya itu tidak kelelahan.bahkan Bram melarang Mikaila menggendong Arya yang semakin bertambah padat dan menggemaskan.


"mas,aku baik-baik aja."protes Mikaila saat Bram terus mengawasinya."


"kamu emangnya mau kemana sayang?"


"aku cuma mau ke dapur,mau minum."


"kan bisa minta tolong sama Siti atau Lala."ucap Bram bernada tegas membuat Mikaila yang tadinya sudah melangkahkan kakinya kembali duduk manis.


Mikaila menuruti semua kata-kata Bram walau hatinya sedikit protes.


Hingga saat usia kehamilan memasuki 9 bulan peraturan Bram masih berlaku.


Arya terus menangis,mendengar itu Mikaila terbangun dan mendapati badan Arya hangat.


"mas,kayanya Arya demam."


Bram memberi obat dan mengompres nya.


beberapa saat kemudian demamnya turun tapi ia tetap rewel,ia tak mau di gendong oleh yang lain.


"sayang Arya sama aku aja,"mencoba mengambil Arya dari gendongan bundanya tapi lagi-lagi Arya menagis.


"nggak apa-apa ya mas,Arya mau di gendong sama aku, kasian mas."ucapnya memelas.


Bram pun mengalah dan membiarkan Arya di dekapan bundanya.


Ada rasa khawatir saat melihat Mikaila menggendong Arya yang cukup besar untuk bayi seusia nya dengan perutnya yang sudah memasuki usia 9 bulan.Tapi ia juga tidak tega melihat putranya yang membutuhkan belaian bundanya.


Hari ini jadwal Mikaila kontrol menjelang persalinannya.


"Gimana mba,kapan prediksi kelahirannya?"


"sekitar pertengahan bulan,tapi sebaiknya dilakukan secara sesar aja.Terlalu beresiko jika persalinan normal."


"gimana baiknya aja mba?"jawab Bram.


"mas,aku mau normal aja,"keluh Mikaila,membayangkan ia berada di ruang operasi saja sudah membuatnya ketakutan.


"sayang kamu dengar kan tadi apa kata mba Anin,kalau itu terlalu beresiko."kata Bram menggenggam.


"tapi mas,aku takut,"ucap Kaila mulai berkaca-kaca.


"mas akan selalu mendampingi mu,jadi ga perlu takut ya,"


"iya,percaya sama mba ya,semua akan baik-baik saja."ucap dokter kandungan yang menangani kehamilan yang tak lain adalah kakak ipar nya itu.


Mikaila merasa gelisah, semakin hari semakin bertambah rasa ketakutannya.Iya terus membayangkan dirinya di meja operasi.


Mikaila kembali memanggil ibunya untuk menemani nya.

__ADS_1


Hari yang di takuti nya pun tiba,hari di mana ia akan menjalani operasi sesar.


Mikaila memegang erat tangan ibunya,


"Bu Ade takut,"ucap Mikaila yang mulai menetes kan air matanya.


"ya mau gimana lagi sayang,kamu harus melakukannya."


"Tante jangan takut,malah Tante ga akan ngerasa sakit sama sekali.pikirin aja kalau sebentar lagi si kembar akan ada di dekapan Tante."ucap Isabela yang juga akan ikut membantu ibunya.


Mikaila mengangguk,ia mengatur nafas mencoba menenangkan diri.


Bram masuk dengan mengenakan baju untuk masuk ke ruang operasi.


"mas,"Mikaila memeluk suaminya itu,rasa takut kembali menghantui pikiran saat beberapa dokter masuk dan mulai mengecek kondisinya.


"gimana sayang kamu sudah siap?"ucap Anindita yang akan menangani operasinya.


"iya mba,"ucapnya pelan.


"jangan takut,"ucap Bram mengusap perut Mikaila dan mengecup kening nya.


operasi berlangsung dengan lancar,Bram terus mengajak Mikaila berbincang agar mengurangi rasa takut nya.


Beberapa saat kemudian terdengar tangisan bayi,


"satu bayinya sudah lahir,"ucap Bram mengecup kening istrinya.


"Alhamdulillah"ucap Mikaila,air matanya menetes saat mendengar suara tangis anaknya.


Anin menaruh bayinya di dada Mikaila,


Bram memegangi tangan putra kedua itu dan mereka tersenyum.


Bram mencium bayi dan istrinya bergantian.


rasa syukur terus terucap dari mulut nya


Tak lama kemudian bayi kedua lahir dan juga di letakkan di dada Bundanya.


Mikaila tak bisa menahan tangisnya saat kedua bayi dengan aktif mencari sumber ASI nya.


Dokter mengambil kedua bayi untuk di bersihkan begitu juga dengan Mikaila.


Mereka di pindahkan di kamar yang sama saat melahirkan anaknya pertamanya.


Semua gembira menyambut kelahiran 2 bayi laki-laki yang tak kalah tampan dari kakaknya.


Isabela langsung mengajak adik sepupunya itu berselfi dan mengirimkannya kepada Jabbar dengan menyertakan kalimat,


"pingin juga."


Terkirim.


"Alhamdulillah operasinya lancar,Gimana keadaan Mikaila?"pesan Jabbar.


"Tante baik-baik saja,aku juga,"balas Isabela.


Isabela sangat senang dan tak menyangka Jabbar akan membalas pesannya dengan mengirimkan lambang hati,sehingga tanpa sadar ia berteriak kegirangan.


Semua mata tertuju padanya dangan tatapan yang membuat nyalinya menciut.

__ADS_1


__ADS_2