Pilihan Ku

Pilihan Ku
Perubahan Mikaila.


__ADS_3

Jabbar pamit pulang,ia memeluk adiknya yang terus menahannya.


Mikaila tak ingin kakaknya itu pulang,layaknya anak kecil yang tak ingin ditinggal sendirian.


"Kakak harus pulang,ibu sudah menelfon kakak terus.kakak janji akan datang lagi ya,"


Mikaila menggeleng dan terus menarik tangan Jabbar.


Mikaila bahkan mengunci pintu depan dan mengambil kunci nya.


Bram hanya melihat saja tingkah istrinya,walau Mikaila sudah memaafkannya namun sikapnya jauh berubah,tak ada lagi morning kiss,tak ada lagi senyuman,tak ada lagi candaan dan kelucuan Mikaila saat menggodanya.


Mikaila melakukan semua tugasnya sebagai seorang istri tapi tak seperti dulu lagi.


Seminggu sudah Jabbar tinggal di rumah Bram,ibu sudah berkali-kali menelfon nya dan sudah berkali-kali pula ia harus berbohong kepada ibunya, Jabbar mengatakan kalau ia sedang ada pekerjaan di luar kota.


"baiklah kakak ga jadi pulang,"ucap Jabbar, baru lah Mikaila melepas tangannya.


Jabbar menginap semalam lagi,keesokan harinya Jabbar beralasan akan mengantarkan Arya ke sekolah,ia sudah menyimpan tasnya di dalam mobil sejak semalam.


Mikaila mengantar Arya sampai ke teras rumah,hari ini Arya di antara oleh Jabbar dan Bram ke kantor sendirian.


Mikaila melambaikan tangan ke arah mobil mereka yang bergerak meninggalkannya.


Bram bisa melihat kalau senyum dan lambaian tangan itu bukan untuknya.


Bram menghela nafas dan menyandarkan kepalanya,ia benar-benar kehilangan sosok Mikaila yang dulu sangat mencintainya.


Pak slamat yang sejak tadi berjongkok di bagasi mobil maju ke kursi depan saat mobil Sudah keluar gerbang.


"ko pa slamat bisa ada di dalam mobil,"ucap Arya kaget saat menengok ke belakang ada pak slamat duduk santai.


"bapak kan sakti den,bisa menghilang,"canda pak slamat.


"oww,"ucap Arya masih bingung.


Jabbar dan pak slamat hanya tersenyum melihat wajah lucu Arya.


Setelah mengantar Arya,Jabbar langsung pindah ke mobil Isabela yang sudah menunggunya di depan sekolah Arya.


Pak slamat pulang ke rumah dan Jabbar pergi ke Bandaran.


Mikaila yang tau kakaknya juga membohonginya,semakin sedih.


Ia terus mencegah Jabbar pulang karena hatinya masih sangat perih,walau ia sudah bisa tersenyum saat bersama anak anak nya tapi saat sendiri ia masih sangat rapuh.


Mengetahui kakaknya ada di sampingnya sudah membuat dia sedikit merasa ada yang menjaganya.

__ADS_1


Mikaila tak keluar dari kamar,ia terus duduk di atas sajadahnya.


Lantunan zikir terus keluar dari bibirnya,hanya itu satu-satunya yang membuat hatinya terasa lebih baik.


Bram hanya bisa melihat Mikaila,ia tak ingin menggangunya dan akan menambah kesedihannya.


Bram memilih turun ke bawah menemani anak-anak nya.


"tuan,non Kaila belum makan apapun dari pagi,"ucap bi Yanti.


"tolong ambilkan makanan ya bi,biar saya bawa ke kamar,"ucap Bram..


"Arya temani adik adiknya bermain,papa mau bawain bunda makanan dulu ya,"ucap Bram kepada anak sulungnya.


"iya papa,"jawab Arya.


Arya sudah mengerti kalau papa dan bundanya sedang ada masalah.


Bram membawa makanan di tangannya,


"sayang kata bi Yanti kamu belum makan ya?"tanya Bram menghampiri Mikaila.


Mikaila hanya diam.


"sayang makan dulu ya,"ucap Bram membawa makanan di depan Mikaila.


Mikaila menutup wajahnya dengan kedua tangannya , Mikaila masih memakai mukena.


Wajah ayah dan ibunya terus terlintas di benak nya,ingin rasanya ia berlari ke pelukan ayahnya dan menagis di sana meluapkan semua rasa sakit yang selalu menderanya.


Mikaila bahkan tak berani menelfon ibunya,ia yakin ibunya akan tau kalau ia sedang ada masalah walau hanya mendengar suaranya.


Sebelum pulang Jabbar selalu mewanti-wanti Mikaila agar masalah ini untuk saat ini tak di ketahui orang tua mereka,setidaknya sampai ia tenang.


Bram menyandarkan tubuhnya di tempat tidur,ia tak bisa berbuat apa-apa.


Hari terus berganti, Mikaila lebih banyak menghabiskan waktu di kamarnya.


Ia akan turun saat akan makan,ia tak ingin anak-anaknya merasa kehilangan kasih sayang dari nya.


Anindita mengajak semua keluarganya untuk jalan jalan ke pantai,,


Hari ini adalah hari Minggu,jadi semua bisa ikut.


Baby Queen juga ke pantai bersama mereka.


Mereka menghabiskan waktu di pantai, anak-anak bermain kejar-kejaran ,para orang tua ada yang bermain voli pantai dan ada yang bermain sky,

__ADS_1


Arabela menitipkan anaknya kepada Mikaila yang terlihat hanya duduk dan melihat anak-anak bermain pasir,membuat istana pasir.


Bram ikut duduk di samping Mikaila walau tak ada pembicaraan di antara mereka, namun Bram senang bisa melihat senyum dan tawa lepas Mikaila.


Baby Queen membuat Mikaila melupakan sejenak masalahnya,bayi mungil yang sudah mencoba merangkak itu sangat menggemaskan bagi Mikaila,apalagi Arabela mendadani nya dengan sangat lucu,membuat Mikaila menjadi gemes dan terus mencium nya.selama ini Mikaila hanya mengurus bayi laki-laki saja.


Baby Queen



Saat matahari terbenam semua kembali ke rumah masing-masing, Mikaila kembali mendiamkan Bram.


Panggilan Jabbar selalu ia matikan, Mikaila masih marah dengan kakaknya itu.


Mikaila melihat-lihat bunga yang ia tanam dari balkon kamarnya,melihat bunga dan daun yang berwarna warnai membuat hatinya menjadi lebih tenang.


Bram menghampiri Mikaila,ia melihat istrinya itu tersenyum saat melihat bunga bunga yang bermekaran. Bram bingung harus berbicara apa untuk memulai pembicaraannya.


Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


"sayang kamu tau dari mana masalah Zaky,"tanya Bram pelan agar tak menyinggung perasaan Mikaila dan merusak moodnya.


"Tania yang memberi tahu ku,ia memberikan laporan kesehatan Zaky dan hasil tes DNA yang mas sembunyikan dariku."ucap Mikaila tanpa melihat Bram dengan suara sangat pelan.


"Tania?"ucap Bram meyakinkan pendengarannya.


"hemmm,dia juga bilang kalau mas itu brengsek,pembohong, penipu,penghianat,"ucap Mikaila menatap Bram tajam.


"benarkah,?"tanya Bram.


Mikaila masuk ke dalam kamar dan merapikan tempat tidur yang berantakan karena ulah ketiga anak-anaknya.


"Tania bilang apa lagi tentang mas?"tanya Bram mengikuti Mikaila masuk ke dalam kamar.


Mikaila menyebutkan semua yang selama ini ingin ia katakan, namun ia berusaha menahannya,walau bagaimanapun Bram tetaplah suaminya yang harus ia hormati.


Mikaila mengeluarkan semua unek-unek di hatinya mengumpat Bram,mengatakan ini dan itu semua hal buruk tentang Bram.


Bram tersenyum mendengar ocehan Mikaila,walau berisi umpatan untuk dirinya namun ia senang mendengar nya..


Bram yakin itu semua bukanlah ucapan Tania tapi isi hati Mikaila sendiri.


Bram lebih senang Mikaila memarahinya dari pada mendiaminya...


Bram berharap bisa mendapat maaf yang tulus dari sang istri.


Terimakasih sudah membaca 💗

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennya 🙏💗🙏.


Semoga Mikaila bisa menerima semua kesalahan yang tak sengaja Bram lakukan,bisa menerima kehadiran Zaky.


__ADS_2