
Selepas magrib di kota X,
Bram yang baru saja menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim memilih menikmati udara di balkon kamarnya.
Suara ketukan pintu terdengar dan masuklah Arya menghampiri Papanya.
"Arya," ucap Bram saat melihat anaknya menghampirinya.
"Iya,Pah!"
Bram duduk di kursi yang ada disana meminta Arya untuk ikut duduk.
"Apa itu?" tanya Bram melihat berkas yang dibawa Arya.
"Ini laporan tahun ini dan rencana tahun depan, Pah. Papa periksa lagi," ucap Arya menyodorkan beberapa berkas.
Arya menjelaskan berkas apa saja yang ada di tangan.
"Apa semuanya sudah ada sini?" tanya Bram mengambil dan membaca beberapa lembar kemudian, menyimpannya kembali.
" Iya, Pah!"
"Papa akan memeriksanya nanti," ucap Bram.
"Ya udah. Arya keluar dulu" pamit Arya setelah mendapat jawaban dari papanya.
"Hmm."
Arya keluar kamar dan membiarkan papanya memeriksa hasil pekerjaan nya selama setahun ini.
Tak lama kemudian Mikaila masuk membawa secangkir kopi buat Suaminya, dan berdandan secantik mungkin, ia bahkan memakai pakaian yang sedikit terbuka, memamerkan leher jenjangnya.
Mikaila menghampiri Bram yang sedang duduk di tempat favoritnya, di balkon kamarnya sambil memeriksa beberapa berkas yang Arya bawa tadi.
"Mas, ini aku bawain kopi," ucap Mikaila meletakkan kopi di meja yang ada di depan Bram, sengaja menunduk agar Bram melihat sesuatu yang memang sengaja ia pamerkan.
"Apa ini, hmm! Kau menggoda ku?" Membawa Mikaila ke pangkuannya.
"Apa Mas tergoda?" Mengalungkan tangannya dileher Bram, dengan tatapan genitnya.
"Malam ini istriku ini terlihat sangat cantik," ucap Bram menggendong Mikaila masuk ke kamar mereka, meninggalkan berkas yang masih berserakan di atas meja.
Malam penuh kenikmatan bagi dua insan yang memiliki ikatan yang sah, menyatukan perasaan cinta, melepaskan semua perasaan sayang antara keduanya, Mikaila selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, melayani suaminya kapanpun lahir dan batin.
Mikaila bersandar di dada Bram, memeluk erat tubuh pria yang sangat dicintainya, pria yang telah memberikan anak-anak yang sangat membanggakan baginya.
Bram membalas pelukan istrinya, mengecup kepala Mikaila.
"Mas?" Panggil Mikaila tanpa mengubah posisinya.
"Ada apa?" Mengusap lembut rambut Mikaila.
"Aku udah lama ga shopping!"
"Terus?"
"Aku mau shopping, boleh?"
"Sejak kapan aku ngelarang kamu shopping?" Balik nanya.
"Apa boleh?" Mendongak menatap mata Bram yang juga menatapnya.
"Boleh dong sayang, kamu boleh shopping kapanpun!" Mengecup bibir Mikaila.
"Pakai kartu kamu, boleh?" ucap Mikaila mengedipkan mata pada Bram.
Bram tertawa terpingkal, apa ini alasannya istri cantik nya ini bersikap manis padanya.
"Kamu 'kan punya kartu sendiri?" Mengeratkan pelukannya.
"Iya sih, tapi aku mau bawa anak-anak untuk shopping, takut ga cukup, Mas!"
Bram langsung mengambil dompetnya yang ada di atas meja di sampingnya tempat tidur dan memberikannya kepada Mikaila.
"Ambil yang mana aja, pakai sesuka hatimu," ucap Bram gemas pada Wanita yang sudah dinikahinya puluhan tahun itu.
"Yes!" jangan salahkan istrimu ini ya, Mas! Yang selalu menguras uang kamu," batin Mikaila mengambil kartu yang berwarna hitam milik Bram dan dengan cepat pindah ke dompet nya.
"Ini, Mas" ucap Mikaila memberikan kembali dompet Bram setelah mengambil satu kartunya. Bram meletakkannya kembali di atas meja dan melihat jam yang ada di sana.
"Kamu nggak lapar, sayang." Bram melihat jam menunjukkan jam 8 malam.
"Lapar lah Mas, kita kan belum makan." Kekek mereka, mereka bercinta sebelum mereka makan malam.
Bram lebih dulu mandi kemudian Mikaila.
Bram memilih melanjutkan pekerjaannya sedangkan Mikaila keluar menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Mikaila keluar kamarnya dan turun di lantai bawah, menghampiri yang lainnya yang sedang duduk di ruang tv mengobrol santai.
"Besok kita shopping, yuk!" ajak Mikaila pada mereka semua.
"Nggak, Bunda! Aku capek kemarin habis shopping sama Diandra dan Syana," ucap Gavin.
"Siapa juga yang ngajak kamu, orang bunda ngajak menantu Bunda, Diandra dan Raina."
__ADS_1
"Kamu nggak ngajak ibu," ucap Ibu yang tak mendengar namanya disebut.
"Diajak dong, Bu. Masa sih Ibuku tercinta gak di ajak" ucap Mikaila memeluk ibunya mengecup pipi ibunya yang terlihat merajuk.
Arsy dan Clara ikut juga ya, Bunda. Besok kan hari Minggu," Sahut Arsy tiba-tiba menghampiri Bundanya, sedari tadi Ia bermain keja-kejaran dengan Clara.
Mendengar kata shopping Arsy langsung menghentikan kegiatannya dan memeluk bundanya.
"Boleh dong. Besok hari Minggu kita semua pergi shopping," ucap Mikaila membuat Arsy melompat di kursi, meluapkan segala kesenangannya.
Arsy dan Clara melompat kegirangan menyusun rencana apa yang akan mereka lakukan.
"Udah, Ah! Bunda mau siapkan Papa makan malam,"
"Kenapa tadi Bunda dan papa nggak ikut makan malam dengan kami. Papa sakit ya bunda?" tanya Arsy mengkhawatirkan kesehatan papanya.
"Iya, papa minta di pijat," ucap Mikaila berjalan menuju dapur dan menyiapkan makan malam.
Bram turun dan mereka makan malam berdua. Anak-anak berkumpul di ruang TV, rumah itu sangat ramai, semakin ramai saat Diandra dan Clara ikut tinggal dengan mereka.
Keesokan harinya.
Setelah sarapan mereka semua sudah bersiap-siap untuk shopping, tak lupa Mikaila juga menelpon Natali untuk ikut bersama mereka, tentu saja tak lupa mereka juga menelpon Kelvin untuk menjemput Natali.
Bukan hanya anggota keluarganya, Mikaila juga mengajak bi Yanti, Mbak Lala dan beberapa asisten rumah tangga lainnya.
Mereka akhirnya Pergi menggunakan 3 mobil, 1 khusus asisten rumah tangga, dan 2 lagi mobil dibawah Arya dan dan Gavin. Gavin yang tadinya nggak mau ikut juga ikut ditarik oleh Mikaila.
Begitu sampai di Mall Natali dan Kelvin sudah menunggu di sana.
"Bunda mau ngeborong?" tanya Kelvin yang melihat mereka semua datang. Bahkan Ayra juga datang di gendong Arya.
Kelvin yang sudah lama tak melihat Ayra, langsung mengambil Ayra dari gendongan Arya.
"Tenang, hari ini Bunda yang traktir," ucap Mikaila memperlihatkan kartu yang semalam diambil dari dompet suami nya.
"Pantas ya! Kamu nggak mau gunain kartu kamu," ucap Bram menarik gemes hidung istrinya.
"Nggak apa-apa kan Mas? Sekali-kali. Udah lama juga kan kita semua nggak shopping," ucap Mikaila.
"Iya, nggak apa-apa. Kalian beli apa yang kalian mau, nanti Bu Bos yang bayar," canda Bram terkekeh.
Mikaila langsung menarik Bram masuk ke dalam Mall, mereka jalan lebih dulu diikuti rombongan nya.
Keluarga besar Wijaya memasuki sebuah mall terbesar di kota x.
Begitu masuk mereka langsung berpencar, Arsy dan Clara sudah berhamburan mencari keperluan mereka. Sedangkan ibu dan bi Yanti memilih masuk ke toko yang menurut mereka bagus dan agak lebih murah dari toko lainnya.
Tak perlu mahal, yang penting nyaman. pikir ibu.
Beberapa asisten rumah tangga lainnya juga sudah mencari apa yang mereka butuhkan.
Mikaila, Raina, Diandra dan Natali mereka berempat jalan bersama mencari barang-barang yang mereka inginkan sedangkan Bram, Kelvin, Gavin, dan Arya memilih untuk masuk ke sebuah cafe menunggu para wanita mereka berbelanja dengan membawa Ayra bersama mereka.
"Bunda ini bagus nggak?" Raina memperlihatkan tas branded.
"Iya. Ini bagus, cocok untuk kamu. Ya udah ambil aja."
"Oke Bunda," ucap Raina mengambil tas yang ia inginkan.
Natali dan Diandra saling pandang mereka masih sungkan untuk mengambil yang mereka inginkan. Mereka sekarang berada di dalam toko tas, deretan tas tersusun rapi di etalase, menggoda setiap orang yang melihatnya.
Kalian nggak usah sungkan ambil aja yang kalian mau, jangan perhatikan angka nolnya." ucap Mikaila pada kedua calon menantunya, yang terlihat masih malu-malu berbelanja.
"Bener Bunda bisa ambil apa aja?" tanya Natali.
"Iya sayang, ambil apa aja," jelas Mikaila.
Natali langsung menarik Diandra menuju ke salah satu lemari tas.
"Kamu suka yang mana?" tanya Natali pada Diandra..
Diantar memilih satu tas,
"Ini bagaimana, Kak?" tanya Diandra yang belum tahu merk dan harga tas yang ada di sana.
"Iya, ini cocok untuk kamu. Kamu pinter banget sih milihnya," puji Natali saat melihat pilihan Diandra.
"Kak, ini beneran harganya?" tanya Diandra melihat label harga.
"Iya, bagi Bunda itu nggak seberapa, ambil aja ," ucap Natali. Natali juga mengambil satu tas yang tak kalah mahalnya dari yang diambil Diandra.
"Bunda, kami ambil yang ini, ya!" ucap Natali memperlihatkan dua tas.
"Iya, boleh," ucap Mikaila.
Mikaila pun membayar, 4 buah tas dan mereka keluar tokoh dengan membawa masing-masing kantong belanjaan di tangan mereka.
"Kita ke mana lagi, ya?" tanya Mikaila.
Raina menunjuk toko pakaian,
"Kita kesana yuk, Bunda. Sejak melahirkan pakaianku sudah banyak yang sempit," ucap Raina.
"Iya, boleh." Mereka pun pergi ke salah satu toko pakaian yang terpampang nyata sedang ada diskonan. Saat masuk ke sana mereka bertemu dengan rombongan Ibunya dan asisten rumah tangga.
__ADS_1
"Kalian ke mana aja sih, dari tadi dicariin?" tanya ibu.
"Emangnya kenapa, Bu?" tanya Mikaila.
"Itu, kami sudah memilih pakaian. Sana bayar," ucap Ibu menunjuk tumpukan belanjaan yang ada di meja kasir.
"Iya, Bu." Mikaila memberikan kartu kepada penjaga toko untuk membayar belanjaan Ibu dan yang lainnya.
Hanya dengan satu gesekan, mereka sudah berhasil membayar semua pakaian yang ada di sana.
"Kalian bisa beli apa aja ya kalian inginkan, jangan sungkan. Sudah lama aku nggak mentraktir kalian," ucap Mikaila pada asisten rumah tangganya.
"Iya, Bu. Terima kasih," sahut mereka semua.
Tadinya mereka hanya memilih satu pakaian untuk mereka. Namun kini mereka mengambil masing-masing tiga pasang pakaian bukan hanya untuk mereka, tapi juga mereka membeli untuk anak mereka sesuai yang Mikaila katakan.
Pemilik toko sangat senang dagangannya laris manis, Mikaila memborong pakaian yang ada di sana.
"Terima kasih, Bu," ucap mereka semua.
Mereka tak memakai uang yang tadi di berikan Mikaila untuk berbelanja.
Daripada menghamburkan uang, mendingan mereka menyimpan uang yang diberikan Mikaila.
Mereka memilih untuk menyimpan uangnya. Lagian mereka sudah memegang banyak kantong belanjaan, itu sudah cukup untuk mereka.
Para asisten rumah tangga itu pamit untuk pulang, masih banyak pekerjaan yang mereka tinggalkan di kediaman Abraham.
Mikaila, Ibu, Diandra, NatalI, dan Raina masuk ke sebuah toko perhiasan. Mereka memilih beberapa perhiasan.
"Mbak aku mau satu set perhiasan," ucap pada karyawan yang ada di sana.
Karyawan tersebut mengambilkan beberapa contoh.
"Diandra sini," panggil Mikaila pada calon menantunya.
"Kamu suka yang mana?"tanya Mikaila memperhatikan deretan perhiasan yang telah diperlihatkan oleh karyawan tadi
"Bunda mau beli buat Diandra?"
"Iya, kamu akan menjadi calon menantu Bunda. Bunda ingin kamu tampil cantik di acara pertunangan kamu."
Diandra melihat deretan perhiasan yang ada disana, semuanya terlihat cantik dan dia menunjuk salah satu nya,
"Yang ini aja, Bunda. Aku suka ini,"
"Ya sudah, kami ambil yang ini," ucap Mikaila memberikan kotak perhiasan yang ditunjuk oleh Diandra pada karyawan dan memilih dua kotak perhiasan lagi untuk Diandra.
Mikaila memberikan tiga kotak perhiasan kepada Diandra.
"Ibu boleh memilih juga nggak," bisik ibu.
"Boleh dong, Bu!" Ucap Mikaila.
"Ibu juga memilih sebuah cincin."
"Bagaimana dengan cincin ini, cantik nggak?" Ibu memperlihatkan jarinya kepada yang lainnya.
"Iya cantik, Nak. cocok untuk nenek," ucapan Natal.
Ibu ambil ini ya," ucap Ibu pada Mikaila.
Raina mengambil sebuah kalung dengan liontin yang berbentuk kupu-kupu terlihat sangat lucu.
"Bunda, aku ambil ini.! Buat Ayra. Raina memperlihatkan kalung tersebut.
"Iya boleh, kamu pilih juga ya untuk untukmu."
"Iya bunda," ucap Raina.
"Mbak ada yang bentuknya seperti ini nggak, untuk orang dewasa?" tanya Raina memperlihatkan kalung tersebut pada karyawan di sana.
"Sepertinya ada, Bu? "
Beberapa saat kemudian karyawan tersebut membawakan kalung yang sama.
" Aku ambil ini ya, Mbak," ucap Raina memperlihatkan dua kalau yang sama. Namun ukurannya berbeda untuknya dan untuk putrinya.
Mikaila memilih dua kotak perhiasan lagi
Natali. "Bagaimana dengan yang ini, Kamu suka nggak tanya?" tanya Mikaila pada Natali.
"Iya, Bunda. Cantik," jawab Natali yang merasa tak enak memilih perhiasan, karena Ia belum memiliki status yang resmi dengan Kelvin. Mereka hanya sebatas pacaran berbeda dengan Raina yang sudah menjadi menantu Mikaila dan Diandra Yang sebentar lagi akan bertunangan dengan Gavin.
"Bunda beliin ini ya untuk kamu.?"
"Iya Bunda," ucap Natali tersenyum canggung.
Mikaila membeli beberapa kotak perhiasan, memiliki suami seperti Bram membuat Mikaila tak memperhitungkan harga barang yang dibelinya.
Bram tak pernah mempermasalahkan berapapun uang yang dikeluarkan oleh istrinya.
Bahkan di awal pernikahan Bram yang terus meminta Mikaila untuk membeli barang-barang kebutuhannya, sedangkan Mikaila memilih untuk terus berhemat. Namun, setelah mengetahui jumlah harta yang dimiliki oleh suaminya, Mikaila tak sungkan lagi untuk membeli apapun yang diinginkannya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya dan juga orang-orang yang selama ini membantunya.
Mikaila tak pernah memperhitungkan saat ia memberikan barang-barang kepada para asisten rumah tangganya, menurutnya barangnya akan lebih berguna jika diberikan kepada mereka. Mereka sudah bekerja keras selama ini, membantu kebutuhan mereka, membersihkan rumah, menyiapkan makanan untuk mereka.
__ADS_1
Mereka semua sudah seperti Keluarga Bram.
bersambung.