
Diandra terbangun di pagi hari, membuka matanya dan hanya menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Semalam Ia terus menangis, menangisi takdirnya. Ia juga sangat ingin menjadi bagian dari keluarga Gavin.
Mengingat jika sekarang ia sudah tak memiliki siapa-siapa, ia hanya memiliki Clara adiknya yang membutuhkan dirinya.
Diandra mengingat bagaimana kebaikan seorang Mikaila dan kehangatan seluruh keluarga besar Wijaya. Jika ditanya maukah Ia menikah dengan Gavin, tentu saja ia sangat ingin, ia kembali merasa tak pantas terlebih lagi dalam keluarga itu ada Kelvin orang yang telah merenggut paksa kesuciannya.
"Mengapa dia baru datang disaat aku sudah hancur, Tak bisakah ia datang lebih cepat dalam hidupku," batin Diandra, air matanya kembali menetes mengingat ucapan Gavin semalam yang memintanya untuk menjadi pendampingnya.
Diandra melihat ponselnya yang berdering dan melihat itu pesan dari Gavin, Diandra tersenyum saat membaca candaan chat Gavin.
Setiap pagi Gavin selalu mengirim pesan kepada Diandra, baik itu ucapan selamat pagi atau hanya sekedar candaan biasa, yang membuat Diandra merasa sangat diperhatikan oleh sosok Gavin.
Diandra yang dulu sangat terpuruk, kini mulai kembali ingin menata hidupnya.
"Aku harus mulai bekerja dan mulai menghidupi kehidupanku sendiri dan Clara, aku tak bisa tergantung dengan Gavin selamanya, dia terlalu baik untukku," lirih Diandra kembali melihat chat dari Gavin. "Baiklah, benar. ini sudah benar, aku akan coba mencari pekerjaan kembali, aku bisa menghidupi diriku sendiri dan juga adikku," ucap Diandra dengan tekad yang berapi-api. Ia pun bangun, dan memulai hari ini dengan penuh semangat.
Ia tak ingin lagi jadi sosok Diandra yang lemah yang selalu bergantung kepada Gavin.
Diandra memulai harinya, ia memasak makanan untuknya dan untuk Gavin, kemudian ia memberanikan diri untuk keluar dari Apartemen. Selama ini ia bahkan tak pernah membuka pintu kecuali Gavin datang. ia tak berani dan tak ingin keluar. Diandra menuju ke lantai atas, dimana Gavin berada.
Begitu sampai di depan pintu Apartemen Gavin, ada sedikit keraguan di hatinya. Saat ingin mengetuk pintu itu, bayangan kejadian malam kelamnya bersama kelvin kembali terlintas di pikirannya membuat Diandra kembali memundurkan langkahnya, Ia sangat ingin memberikan apa yang dibawanya kepada Gavin. Namun, tubuhnya seolah menolak untuk masuk ke Apartemen itu. Tubuhnya langsung bergetar saat kembali akan melangkah mendekati pintu.
Diandra memutuskan untuk pergi dari sana, Namun, baru beberapa langkah ia menjauh dari pintu, pintu Apartemen terbuka.
"Diandra," panggil Gavin saat melihat Diandra ada di luar.
"Kak Gavin, ini aku bawakan makanan. Maaf karena sudah keluar dari Apartemenku," ucap Diandra menunduk.
"Kau tak apa-apa?" Gavin khawatir saat melihat Diandra berkeringat dan tubuhnya bergetar. Saat memberikan makanan yang di pegangnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa, aku permisi dulu ya, Kak!" Diandra memberikan makanan yang dipegangnya kepada Gavin kemudian berlari memasuki lift kembali ke Apartemennya.
"Ada apa dengannya, apa dia sedang sakit!" Gumam Gavin memiringkan kepalanya menatap kepergian Diandra, kemudian mengangkat bahu lalu kembali masuk ke Apartemennya. Tadinya Gavin ingin keluar untuk mencari sarapan. Namun, karena Diandra sudah memberinya makanan, Gavin memutuskan untuk kembali masuk dan makan makanan yang dibuat oleh Diandra.
Masakan Diandra sangat enak dan sangat cocok dengan lidah Gavin.
Diandra sudah memantapkan hatinya untuk kembali bekerja dan kembali ke Apartemen milik ibunya. Ia hanya tinggal menunggu kapan Gavin mengizinkannya untuk keluar dari gedung Apartemen itu.
Hari terus berganti, kini tiba saatnya mereka akan menjemput Clara.
Pagi-pagi sekali Diandra menyiapkan dirinya, Ia berdandan secantik mungkin dan sangat bersemangat, Ia seperti orang yang baru keluar dari sebuah sangkar, sudah sangat lama Diandra hanya melihat keramaian kota dari balik jendela kacanya.
Hari ini ia akan kembali ke dunianya dan terbebas dari Apartemen. Diandra bertekad akan kembali mencari pekerjaan.
Gavin yang sudah siap menjemput Diandra ke Apartemennya. Gavin menekan bel kemudian bersandar di dinding samping pintu Sambil terus bersenandung. Memukul-mukul pahanya sehingga mengeluarkan suara sesuai dengan lirik lagunya.
Gavin melongo, terpesona saat melihat Diandra yang begitu cantik hari ini, Gavin dengan susah menelan salivanya. Diandra memakai make up tipis dan rambutnya digerai, terlihat sangat cantik sangat berbeda dari biasanya.
"Kak, kita pergi sekarang," ucap Diandra, Namun, Gavin tak bergeming dari keterpesonaan nya.
Diandra merasa Salah tingkah saat Gavin menatapnya dengan ketertarikan. "Kak kita berangkat sekarang, yuk," aja Diandra sedikit menarik jaket hoodie yang digunakan oleh Gavin.
"Eh! ia maaf," ucap Gavin saat Diandra membuyarkan lamunannya.
"Kita berangkat sekarang aja, yuk! takutnya Clara sudah menunggu kita!" Ucap Diandra mencoba menahan detak jantungnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Gavin menatap Diandra masih dengan tatapan ke keterpesonaan nya pada gadis cantik di hadapannya.
"Ha ... bukannya kita mau sekolahan Clara ya?" tanya Diandra bingung sendiri dengan jawaban Gavin.
"Oh iya ya," Menepuk jidatnya. "Maaf aku lupa, hari ini kamu terlihat sangat cantik. Wajah cantik mu itu mengalihkan dunia," ucap Gavin membuat Diandra langsung menunduk menyembunyikan pipinya yang merona. Namun, Gavin bisa melihat itu.
__ADS_1
"Ya udah, kita berangkat sekarang," ucap Gavin menggenggam tangan Diandra.
Diandra hanya melihat tangannya yang di genggam Gavin dan mengikuti Gavin yang Sudah berjalan lebih dulu.
Sepanjang perjalanan ke sekolah Clara, Gavin terus saja memuji kecantikan Diandra dan melontarkan rayuan-rayuan mautnya, membuat Diandra semakin salah tingkah dan tak berani menatap Gavin dan terus menatap keluar jendela. Diandra sangat yakin pipinya sudah sangat merah. Bahkan Diandra takut jika Gavin bisa mendengar degup jantungnya yang sudah tak karuan.
Begitu mereka sampai Diandra dengan cepat turun dari mobil, merapikan pakaiannya dan menghembuskan nafas dalam mencoba membuang kegugupannya.
"Sayang, ayo kita masuk," ucap Gavin dengan santainya.
Lagi-lagi Gavin membuat Diandra Salah tingkah dengan memanggilnya dengan panggilan sayang.
Diandra berjalan pelan menuju Gavin, Gavin memberikan tangannya agar Diandra menggandengnya.
Gavin menghentikan langkah kakinya saat Diandra meninggalkan nya dan berjalan lebih dulu, mengabaikan tangannya.
"Kenapa, Kak?" Diandra ikut menghentikan langkahnya.
Tanpa bicara Gavin hanya menunjuk dengan tatapan melihat kearah lengannya.
Diandra yang ngerti maksud dari isyarat Gavin perlahan kembali berjalan menuju pada Gavin dan menautkan tangannya di lengan Gavin.
Mereka berjalan masuk ke dalam sekolah sambil bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih yang berjalan di karpet merah..
"Kak Diandra, kak Gavin," panggil Clara saat melihat Diandra dan Gavin berjalan sambil bergandengan.
Melihat Clara yang berlari ke arah mereka, Diandra langsung ingin melepas gandengannya. Namun, Gavin menghimpit tangan Diandra kemudian memegang pergelangan tangannya agar Diandra tetap menggandengnya.
Diandra membelalakkan matanya melihat ulah Gavin, Gavin balas memelototinya. Membuat Diandra pasrah dan tetap menggandengnya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Gavin pada Clara yang sudah sampai pada mereka.
"Iya, Kak," ucap Clara antusias. "Clara sudah tak sabar ingin berjalan-jalan, sudah sangat lama aku tak keluar dari dalam asrama, bosan juga, Kak!"
Hari ini mereka menghabiskan waktu bersama. Clara sangat senang, mereka pergi ke wahana bermain. Menaiki roller coaster, membuat mereka sangat senang meneriakkan segala kesalnya. Clara hanya bisa melihat Gavin dan Diandra. Ia belum di perbolehkan menaiki wahana itu.
Mereka juga menaiki kincir angin raksasa membuat Clara sangat senang saat berada di puncak, tak lupa mereka juga mengambil foto Selfi, mengabadikan kebersamaan mereka.
Mereka berjalan sambil memakan permen kapas, tertawa bersama, terlihat sangat bahagia dan itu semua tak luput dari jepretan kamera dua orang yang terus mengikuti mereka.
Diandra dan Clara sangat senang, walau mereka tinggal di negara itu, tapi mereka tak pernah sekalipun menikmati wahana permainan yang ada di sana, mengingat biaya masuk nya lumayan mahal, tapi itu bukan masalah buat seorang Gavin.
Mereka menikmati hampir semua wahana yang ada. Dari wahana biasa sampai wahana yang ekstrim
Terakhir mereka mencoba menjelajahi rumah hantu.
Awalnya Diandra ingin masuk. Namun Clara dan Gavin terus memaksanya, alhasil Diandra tak pernah membuka matanya saat masuk kesana dan hanya memeluk Gavin sambil terus berjalan hingga mereka tiba di pintu keluar.
Diandra semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar teriakan Clara dan Gavin.
Diandra baru bernafas lega saat mereka berhasil menjauh dari rumah hantu itu.
"Kita pulang sekarang, yuk! Ini sudah malam," ucap Gavin yang juga merasa sangat lelah.
"Iya, Clara juga sudah sangat mengantuk, Kak."
Tanpa mereka sadari mereka terus bermain hingga tak sadar waktu terus berputar dan sekarang sudah hampir tengah malam.
Begitu dalam perjalanan Clara dan Diandra yang kelelahan langsung tertidur di mobil Gavin, Gavin hanya mampu melihat ketenangan yang ada di wajah mereka. Gavin sangat bahagia bisa membuat Diandra dan Clara begitu bahagia hari ini.
Gavin sudah sangat menyayangi kedua nya dan ingin melindungi mereka.
__ADS_1
Ponsel Gavin berdering, itu panggilan dari Kelvin. Gavin hanya melirik dan melihat siapa yang memanggilnya Kemudian kembali fokus ke jalan, Gavin sedang konsentrasi membawa mobil dan malas mengangkatnya.
Namun panggilan itu terus berdering, Gavin yang tak ingin Diandra dan Clara terganggu, mengambil ponselnya dan mematikannya.
Gavin tertawa pelan, saat membayangkan bagaimana ekspresi kakaknya saat ini,
Gavin yakin jika saat ini Kelvin sudah tahu jika Diandra dan Clara ada bersamanya.
"Maaf ya, Kak. Kita bahas nanti saja," batin Gavin.
Begitu sampai di Apartemen, Gavin membangunkan Diandra yang tertidur pulas.
"Diandra, bangun kita sudah sampai," ucap Gavin mengusap lembut wajah cantik Diandra.
"Maaf ya Kak, aku ketiduran," ucap Diandra sambil mengusap matanya yang merasa sangat berat.
"Clara bangun," Diandra membangunkan Clara yang juga tertidur di jok belakang.
"Tak usah di bangunkan, aku akan menggendongnya."
Mereka pun turun dari mobil, berjalan menuju Apartemen mereka dengan Gavin yang menggendong Clara.
Gavin bisa merasa jika sudah tadi ada orang yang mengikuti mereka, tapi ia tetap santai berjalan. Ia yakin orang-orang itu adalah suruhan Kelvin dan Alex.
Gavin membaringkan Clara di kamarnya,
"Kakak menginap di sini ?" tanya Diandra.
"Apa nggak apa-apa?"
"Ya nggak masalah sih, Kak. Di sini kan ada tiga kamar," ucap Diandra.
"Oh ... aku pikir kau mengajakku tidur di kamar yang sama," ucap Gavin mengusap canggung tengkuknya.
Diandra memutar bola matanya malas, kemudian meninggalkan Gavin yang masih duduk di kasur dengan pikiran modusnya.
Diandra masuk ke kamarnya, ia juga sangat mengantuk. Tak lupa Diandra mengunci pintunya sebelum tidur.
Gavin juga sangat lelah, ia memilih untuk pergi ke kamar satunya lagi, kemudian ia mengaktifkan ponselnya saat sudah berbaring di kasur.
Deretan bunyi chat terus berdering, Gavin bisa melihat puluhan chat dari kakaknya, bukan cuman dari Kelvin, tapi juga Chat dari Arya dengan berisi pesan yang sama 'Angkat panggilanku'
Gavin ingin mematikan ponselnya, Namun panggilan dari Arya sudah tertera di layar ponselnya.
Mungkin jika panggilan itu dari Kelvin bisa dipastikan Gavin akan mematikannya. Namun, ia tak berani jika panggilan itu dari Arya.
Gavin menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, Gavin sudah tahu apa yang akan Arya tanyakan padanya, pasti mereka ingin menanyakan masalah Diandra. Dengan sangat perlahan Gavin mengarahkan telunjuknya ke tombol berwarna hijau yang ada di layar ponselnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mampir juga ya kak ke karya terbaruku, kalau lagi sibuk dan gak bisa baca dulu, ya udah like dan favorit aja dulu🙈 komen juga bolah kak🤗. ,," slow up",, ya kita fokus sama cerita Keluarga besar Wijaya.
makasih sebelumnya, Mohon dukungannya ya kak 🙏🙏🙏
salam dariku Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
DI TUNGGU YA KK