Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Keinginan Ayah.


__ADS_3

Pak Wijaya sebenarnya sudah lama sakit. Namun, Ia terus menolak untuk dirawat di rumah sakit dan memilih merawat di rumah, di kediamannya sendiri. Menurutnya penyakitnya itu memang penyakit untuk orang tua yang sesuai usianya.


Pak wijaya hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan istri, anak, dan cucunya menunggu ajal menjemput nya. Ia tak ingin di hari tuanya menyusahkan mereka semua dan tinggal terpisah dari orang yang disayanginya.


Pak Wijaya hanya meminta anak dan menantunya Anandita dan Pak Surya untuk merawatnya di rumah, setiap hari Anindita akan mendatangi rumah besar untuk mengecek kesehatan ayahnya. Ia juga menempatkan 2 perawat untuk terus menjaganya.


Namun, kondisinya tetap tak stabil bahkan semakin menurun.


 Kabar pertunangan Gavin sedikit membuatnya bahagia dan punya semangat untuk sembuh agar bisa menyaksikan pertunangan cucunya itu. Namun, sepertinya keinginannya itu tak bisa diwujudkannya.


Malam ini sehabis makan malam perawat  mengecek kondisi Pak Wijaya terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke kamar mereka, semua baik-baik saja sama seperti malam sebelumnya bahkan lebih baik, pak Wijaya masih bisa mencandai Queen, meminta Queen agar menikah sebelum ia meninggal dan ingin menjodohkan Queen dengan anak sahabatnya, tapi Queen menolak. 


Anindita meminta mereka berdua menjaga Ayahnya 24 jam, tentu saja saat tidur istrinya lah yang bertugas mengawasi pak Wijaya.


Ibu Bram mengira Jika suami nya mendengkur dan sedang tertidur nyenyak.


Namun, saat membangunkan suaminya untuk sholat tahajud, ayah tak respon.  Ibu terus mencoba membangunkan suaminya, dengan menggoyangkan tubuhnya. Namun, ayah sama sekali tetap tak merespon, membuat Ibu panik dan langsung membangunkan kedua perawat yang tidur tak jauh dari kamar mereka.


Setelah mengecek kondisi Pak Wijaya, salah satu perawat langsung panik dan menghubungi Dokter Anindita.


Ibu Bram Sudah menangis di samping suaminya sambil memegang tangan pak Wijaya yang tak sadarkan diri. Mendengar kabar itu Anindita dan Surya bergegas datang dan memeriksa ayahnya.


Sebelum datang Anin sudah menelpon ambulans, walau ayahnya menolak Anin akan tetap membawa ayahnya ke rumah sakit.


"Ada apa ini, kenapa Ayah bisa seperti ini?" tanya Anindita pada perawat sesaat  setelah memeriksa Ayahnya.


"Semalam sebelum tidur semua baik-baik saja, Bu!" jelas perawat tersebut.


"Iya, sebelum tidur ayah juga masih berbicara banyak sama ibu, Ibu juga nggak tahu. Ibu pikir ayah hanya tidur tapi ternyata … itu pikir ayah tertidur nyenyak hingga mendengkur," jawab ibu menangis ketakutan.


"Sudahlah, Bu. Ibu tenang saja kami akan membawa Ayah ke rumah sakit," ucap Anindita yang mendengar suara ambulans sudah datang.


David membantu memindahkan Ayah ke mobil, dan mereka semua langsung menuju ke rumah sakit. Arabela terus menerangkan ibunya.


Setelah menempatkan di ruang ICU dan mengecek kondisi Pak Wijaya, Surya memastikan kalau ayah mereka itu dalam kondisi kritis.


David langsung menelpon Bram dan juga Yoga untuk memberitahu jika sekarang mereka berada di rumah sakit dan pak Wijaya sedang dalam kondisi kritis.


Bram yang mendapat kabar dari David langsung segera menuju ke Rumah Sakit bersama dengan keluarganya.


Saat di mobil Mikaila menggenggam erat pegangan di mobil, pasalnya Bram membawa mobil dengan sangat kencang.


"Mas pelan-pelan aja ya, aku takut," lirih Mikaila memberanikan diri.


"Iya, Pah. Arsy juga takut, jangan kenceng-kenceng bawa mobilnya ya, Pah," ucap Arsy yang duduk di jok belakang bersama dengan ibu dan ayah Mikaila. Sementara yang lainnya menaiki mobil yang berbeda dibawa oleh Arya.


Bram baru menyadari jika tanpa sadar ia menginjak gas dan bisa saja membahayakan keluarganya. Ia pun memelankan dan mengendarai mobilnya seperti biasanya.


Ayah dan ibu hanya saling pandang saat Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mereka baru bernafas lega setelah Bram memelankan mobilnya.


Begitu sampai di rumah sakit dan dokter Surya sudah memeriksa ayah. Ayah tak punya masalah dengan organ tubuhnya, penyakit jantung juga terkendali. Tapi usia Ayah memang sudah sangat tua. Tubuhnya sudah semakin melemah seiring berjalannya waktu.


"Bagaimana kondisi ayah?" tanya Bram sedikit berlari menghampiri Pak Surya yang berada di luar ruang ICU sedang berbicara dengan ibu dan Anindita.

__ADS_1


"Kondisi ayah saat ini sangat kritis, tubuhnya sangat lemah dia belum juga sadar," ucap Surya jelaskan,


"Apa aku boleh menemui Ayah?" tanya Bram.


"Sebaiknya kita tunggu ayah sadar dulu, jika mau menemuinya."


"Aku hanya ingin melihat ayah,"


"Baiklah, tapi kau jangan mengganggu istirahat Ayah," ucap Anindita.


"Iya, Kak. Aku hanya akan melihatnya saja,"


Bram masuk ke ruangan ICU, melihat tubuh ayahnya terbaring di ranjang pasien, terlihat  begitu lemah, matanya tertutup dan terlihat seperti sedang tidur pulas dan beberapa alat medis yang menempel di tubuh ayah.


Bram duduk dan menggenggam tangan ayahnya. Bram tak bisa berkata apa-apa. Bram hanya duduk, sembari terus memanjatkan doa agar ayahnya bisa cepat sembuh.


Lama Bram duduk sambil memegang tangan ayahnyaz duduk  di sampingnya ranjang , terus memperhatikan mata ayah berharap mata ayahnya itu bisa terbuka dan melihatnya.


Bram terus seperti itu hingga waktu pagi tiba, Anindita masuk begitu juga dengan Pak Surya. mereka kembali untuk memeriksa kondisi ayah.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, kami akan memberitahu jika ayah sudah sadar," ucap Anindita yang melihat adiknya itu masih duduk terpaku memegang tangan ayahnya.


"Nggak apa-apa kok, Kak. Aku masih ingin menemani ayah di sini," ucap Bram tanpa melihat ke arah Anin dan hanya fokus ke arah wajah ayahnya.


"Ya sudah, kalau begitu mbak keluar dulu, Mbak ingin memeriksa pasien lain," ucap Anindita  begitu juga dengan Surya. Mereka memiliki beberapa pasien yang harus mereka periksa pagi ini.


"Ya, Mbak," Jawab Bram masih terus menatap wajah ayahnya.


Tak lama setelah mereka keluar Pak Wijaya membuka matanya membuat Bram yang sejak  tadi menatap wajah ayahnya itu langsung berbinar senang.


"Bram," panggil ayah dengan sangat lemah.


Bram bisa merasakan tangan Ayah yang sedikit menggenggam tangannya membuat Bram langsung membalas genggaman ayahnya dan mengusap punggung tangan yang sudah keriput itu.


"Jika ayah sudah dipanggil, tolong kamu jaga nama baik keluarga kita, jaga semua keluarga kita. Tolong kau jaga Ibumu jangan biarkan ia merasa bersedih dengan kehilangannya ayah," Ucap pak Wijaya dengan susah payah.


"Ayah, ayah pasti akan sembuh. Ayah istirahat saja." 


Pak Wijaya tersenyum samar,


"Ayah sudah tua, Ayah tak bisa menghindari ajal kemanapun kita pergi. Dan saat ini Ayah sudah siap jika harus dipanggil."


Bram tak bisa berkata apa-apa memang usia adalah rahasia ilahi.


"Sepertinya ayah tidak bisa melihat Gavin untuk berkeluarga, rasanya baru saja Ayah menggendong anak itu, sekarang dia sudah besar dan ingin menikah," ucap Ayah tersenyum mengingat sosok Gavin kecil yang begitu menggemaskan.


"Ayah, ayah harus sembuh agar bisa melihat anak-anak Bram menikah."


"Melihat kalian Semua bahagia itu sudah cukup untuk ayah ... Dimana ibumu ?" tanya ayah mencari istrinya.


"Sebentar Ayah, aku panggilkan Ibu."


Bram pun bergegas keluar dan memanggil ibu yang menunggu di luar bersama yang lain.

__ADS_1


Mendengar suaminya sudah sadar membuat Ibu sangat senang dan dengan cepat menghampirinya di dalam ruang ICU. 


"Ayah, ayah baik-baik saja?" tanya ibu mencoba menahan air matanya.


Ibu menggenggam erat tangan suaminya, membawa tangan itu ke pipinya.


"Jangan menangis, itu akan memberatkan ayah," ucap ayah.


"Ayah, sembuh, ya!" ucap ibu.


"Terima kasih sudah menemaniku selama puluhan tahun, melahirkan anak-anak yang begitu luar biasa dan  memberi kebahagiaan dengan mendapatkan banyak cucu dan cicit. Ayah sangat bersyukur bisa menikah denganmu bisa menjalani hidup denganmu.


Ayah sudah tak menginginkan apa-apa lagi sekarang, semua sudah cukup. Ayah sangat bersyukur dengan segala apa yang diberikan Allah selama ini."


Ibu hanya mengangguk mendengar ucapan ayah dan terus menggenggam tangan suaminya.


"Bu, Ayah ingin pulang ke rumah Kita, ayah ingin menghembuskan nafas terakhir ayah di rumah yang sudah menjadi kebanggaan ayah, ayah tak ingin meninggal di sini," ucap ayah menatap Ibu memohon dengan setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.


Ibu menghapus air mata ayah, "Tapi Ayah harus sembuh, Ayah harus dirawat."


"Ayah mohon, Bu."


Ayah juga menatap Bram. Menatap putranya itu dengan memohon agar ia bisa dipulangkan ke kediamannya.


"Sebentar ya, Yah! Bram konsultasi dulu dengan kak Anin," ucap Bram kemudian meninggalkan ibu dan ayahnya di ruangan itu. Mereka hanya diam dan saling menatap.


Bram menemui Anindita dan Surya, memberi tahu keinginan Ayah yang ingin pulang.


"Kalau itu mau Ayah, Aku sarankan untuk  menurutinya," ucap Surya


"Tapi kondisi Ayah tidak memungkinkan untuk kita membawanya pulang, ayah masih sangat membutuhkan perawatan di rumah sakit ini," ucap Anindita. 


"Anggap saja ini keinginan terakhir ayah, kondisi ayah sudah sangat lemah, perawatan medis pun tak bisa membantu ayah. itu hanya akan semakin menyakitinya, sebaiknya kita turuti kemauannya dan serahkan semua pada yang kuasa," ujar Surya.


"Kita akan membawa alat medis ini ke rumah, berapapun biayanya," ucap Bram.


Mereka pun sepakat akan membawa ayah mereka kembali ke rumah sesuai dengan permintaannya.


Kamar ayah disulap menjadi kamar ruang ICU, semua peralatan dipindahkan ke sana.


Ayah sangat senang mendengar kabar jika anak-anaknya mengizinkannya untuk pulang ke kediamannya tempat ternyaman untuk ayah hanyalah rumah yang selama ini dibangun dengan susah payah, dengan hasil keringatnya. Ayah membangun kerajaan bisnisnya dari nol membuat itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi ayah.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa like, vote, dan komennya.


Kakak Ayo dong beri dukungan kalian di karya terbaru, masih sepi tuh🙈🙈🙈



Ditunggu ya kunjungannya 🙏🙏

__ADS_1


salam dariku Author m Anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2