Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Kebesaran Hati


__ADS_3

Begitu memasuki gerbang kediaman Abraham Wijaya, Zaky sangat kagum melihat kebesaran dan kemewahan rumah itu.


Zaky, Gavin, Arya dan Kelvin mengendarai mobil yang sama, sedangkan Bram membawa mobil lainnya bersama dengan Mikaila, Arsy dan kedua mertuanya.


"Turunlah, Kamu mau di mobil terus," ucap Gavin membukakan pintu mobil untuk Zaky.


Zaky dengan ragu turun dari mobil, Iya pernah melihat rumah ini dari kejauhan. Ia tak menyangka ya bisa masuk ke dalam rumah Megah ini.


Mereka semua masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar masing-masing, karena hari sudah larut malam.


Zaky bingung harus kemana, dia terus melihat sekeliling rumah itu. Zaky bisa melihat dengan jelas kebahagiaan keluarga ini dari beberapa foto yang terpajang di sana, foto keluarga besar Abraham Wijaya.


Gavin merangkul Zaky, "Kau tidur di kamarku ya, "ucap Gavin.


"Iya ," ucap Zaky tak punya pilihan lain.


"Santai saja, anggap rumahmu sendiri, jika kau ingin sesuatu atau ingin makan sesuatu kamu tinggal menemui Bu Yanti atau bibi yang lainnya, mereka semua tinggal di dapur. Mereka akan membuatkan apa yang kau mau," ucap Kelvin sebelum terlalu ke kamarnya, hari ini sangat melelahkan baginya.


"Ayo kita ke kamarku, Kamar ku ada di lantai atas," ucap Gavin berjalan lebih dulu di ikuti Zaky di belakangnya.


Zaky menaiki anak tangga sambil menyusuri ruangan yang ada di sana dengan pandangan nya.


Malam ini Zaky tidur bersama Gavin di kamarnya.


Zaky merasa senang bisa berkumpul dengan mereka, walau ia berbeda ibu namun mereka semua bersikap baik padanya.


Zaky kembali mengingat saat kakek, Ayah dari Papa kandungnya memeluknya.


Ia berpikir mereka memanggilnya karena masalah selama ini ia tinggal di Apartemen Kelvin.


Ponsel Zaky berdering, tertera nama Mama di sana.


Zaky melihat Gavin sudah tertidur, ia sedikit menjauh mengangkat panggilan mamanya.


Zahra yang sedari tadi cemas saat Zaky mengatakan Jika ia ingin ke kota X dan bertemu dengan Pak Wijaya membuat Zahra tak tenang.


Seharian Zahra menunggu telepon dari anaknya itu namun Zaky tak juga menelponnya. Zahra yang tak bisa tidur kemudian menelepon Zaky.


"Halo Mah, Mama belum tidur ?!" ucap Zaky saat mengangkat teleponnya.


"Bagaimana mungkin Mama bisa tidur jika Mama sangat mengkhawatirkan mu. Bagaimana keadaan mu Nak?, apa semua baik-baik saja?! mengapa mereka memanggilmu?!" rentetan pertanyaan dari seorang ibu yang khawatir terhadap kondisi Anaknya.


"Mama Tenanglah, aku baik-baik saja. Mereka memanggilku hanya ingin mengenalku, itu saja Mah, tidak usah terlalu khawatir ya, besok aku akan pulang kok," ucap Zaky.

__ADS_1


"Syukurlah Mama sangat takut terjadi apa-apa padamu!" ucap Zahra.


"Mereka orang-orang yang baik Mah, jadi apa yang Mama takutkan ," ucap Zaky.


"Mama hanya takut mereka menyakiti perasaan mu, mereka orang terpandang Nak,"


"Enggak kok Mah, mereka menerima ku. Sudah ya Mah, aku nggak enak, aku tidur dengan Gavin. Nanti dia keganggu Mah," ucap Zaky yang takut membangunkan Zaky mendengar pembicaraan ia dengan mamanya.


"Ya sudah, besok saat kau akan pulang ke sini telepon kami ya, biar kami menjemputmu," dicap Zahra.


"Iya Mah, Zaky mengerti?"ucap Zaky mematikan panggilannya, Ia pun bergabung dengan Gavin dan tidur.


Pagi hari seperti biasa, semua berkumpul di meja makan. Zaky terlihat sangat canggung, dan sesekali ia melirik Papanya yang sedang makan.


Ini untuk pertama kalinya Zaky sarapan bersama mereka semua.


Zaky bisa merasakan kehangatan keluarga yang berbeda saat berada di tengah keluarga Abraham Wijaya.


Semua sangat ramah dan menyambut kehadirannya.


"Kakak apa Kakak akan tinggal di sini?" tanya Arsy.


"Tidak, aku akan pulang siang nanti!"jawab Zaky melihat ke arah Arya.


"Memangnya Kakak tinggal di mana?" tanya Arsy lagi.


"Kakak kan kakaknya Arsy juga, Kenapa Kakak tidak tinggal disini?" tanya Arsy.


Semua menghentikan makannya saat mendengar apa yang diucapkan Arsy dan mereka semua kompak melirik kearah Mikaila yang masih terus memakan sarapannya.


"Arsy makannya yang banyak ya biar Arsy cepat besar dan tumbuh jadi gadis yang cantik," ucap Ibu Mikaila mengalihkan pembicaraan.


"Iya Nek," ucap Arsy kemudian meminum susu nya.


"Oh ya Kak, kalau Kakak itu kakaknya Arsy kenapa Arsy baru tahu ya!, Emangnya Kakak dari mana saja?!" tanya Arsy lagi Yang penasaran. Ia mendengar semua pembicaraan para orang tua tentang siapa Zaky.


Bram susah menelan makanan yang ada di mulutnya, takut jika pertanyaan Arsy itu kembali membuat hati Mikaila terluka.


Mikaila berdiri dari duduknya dan langsung berjalan menuju ke kamarnya,


"Arsy, Arsy sayang. Jangan tanya seperti itu lagi ya ?!" ucap Arya.


"Pertanyaan yang mana kak?!?" tanya Arsy tak mengerti apa yang di maksud kakaknya itu.

__ADS_1


"Pertanyaan yang mana ya," Arya juga susah menjelaskannya dengan Arsy, pertanyaan yang mana yang tak boleh ia tanyakan dan mengapa ia tak boleh menanyakannya.


"Apa bunda marah ya Kak?!" tanya Gavin santai sambil terus memakan makanannya.


"Marah kenapa ?" tanya Arsy.


"Marah karena Arsy makan sambil nanya terus, ga sopan," ucap Gavin menjawab asal.


"Sudahlah jangan dibahas lagi, Ayo kita makan," ucap Ayah Mikaila yang sedari tadi hanya diam mendengar mereka berbicara.


Tak lama kemudian Mikaila kembali keluar kamar, ia menuruni anak tangga dengan membawa 2 buah undangan di tangannya, Semua melihat ke arah Mikaila.


Mikaila menghampiri Zaky dan memberinya 2 buah undangan pernikahan Arya dan Raina.


Ini undangan pernikahan Arya. Aku harap kamu dan mamamu bisa datang, begitu juga dengan nenek dan Papa mu," ucap Mikaila tulus memberikan kartu undangan kepada Zaky.


Zaky dengan ragu mengambilnya." Terima kasih Tante, Aku akan memberikan undangan ini kepada mereka." ucap Zaky.


"Iya sama-sama, Tante sangat berharap kalian semua bisa datang," ucap Mikaila kemudian ia berlalu ke dapur untuk membuat kan Suaminya secangkir kopi.


"Oh ya, jam berapa kau akan pulang?" tanya Bram.


"Jam 11 Om," ucap Zaky.


Walau Bram adalah Papa kandungnya, tapi ia tetap memanggil Abraham dengan sebutan Om. Sebutan Papa hanya untuk papa Randy bagi Zaky.


Setelah makan Kelvin dan Gavin langsung mengantar Zaky ke bandara.


Mereka sengaja pergi lebih awal agar bisa menikmati waktu sambil menunggu keberangkatannya.


Mereka berbincang-bincang di sebuah kafe yang tak jauh jaraknya dari bandara itu. Keberangkatan Zaky masih satu jam lagi.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi like vote dan komennya 💗


bisa mampir ke karya ke2 ku judulnya


My Papa My Boss.


salam dariku

__ADS_1


Author m anha.


,💖💖💖🙏🙏🙏🙏🙏💖💖💖💖💖💖


__ADS_2