Pilihan Ku

Pilihan Ku
Rencana Bram dan Gavin.


__ADS_3

Mereka semua bersiap-siap untuk pulang,


"Kakak aku ikut kakak ya ke kampung,"ucap Mikaila menghampiri kakaknya.


Bram menolah ke arah Mikaila saat mendengar keinginan istrinya itu.


"anak-anak kamu menunggu kamu di rumah,kamu ga kasihan ke mereka?"tanya Jabbar menatap wajah sembab adiknya.


"aku kangen ibu,"ucap Mikaila air matanya kembali menetes.


"sayang,kita pulang dulu ya,nanti mas pasti anterin kamu ketemu ibu."ucap Bram duduk di samping Mikaila.


Mikaila menepis tangan Bram dan memeluk lengan Jabbar seolah meminta perlindungan dari Bram.


"mas Bram benar dek,apa kata ayah sama ibu lihat kamu datang tiba-tiba dan dalam kondisi seperti ini."ucap Jabbar mencoba menasehati adiknya.


"aku mau pulang aja,aku kangen ayah"kekeh Mikaila.


Bram mengusap wajahnya kasar,ia tau istrinya masih marah padanya,tapi membiarkannya pulang ke kampung halamannya akan memperkeruh suasana.


Anindita, Isabela dan Yoga masuk ke kamar mereka.


"semua sudah siap,kita bisa berangkat sekarang."ucap Yoga.


"Kakak aku ga mau pulang,aku mau ikut kakak,"rengek Mikaila,kini ia sudah mulai terisak.


"sebaiknya kita pulang dulu ya,ga baik kamu pulang seperti ini,pikirkan perasaan orang tua kamu."ucap Anindita mengelus bahu Mikaila.


Bram tak bisa berbuat apa-apa,melihat istrinya kembali berurai air mata.


"baiklah,kakak akan ikut pulang ke rumah kamu."ucap Jabbar membawa Mikaila ke pelukannya.


Mereka keluar dari rumah sakit, Yoga kembali melihat seseorang yang kemarin mengawasi mereka.


Sepanjang perjalanan Mikaila terus memeluk tangan kakaknya dan tak ingin melihat Bram.


Bram hanya pasrah berjalan di belakang nya, Yoga menepuk-nepuk bahu Bram yang berjalan di dekatnya.


Di pesawat Mikaila juga memilih duduk di samping Jabbar, menyandarkan kepalanya di dada kakak,kepalanya terasa pusing sehabis menagis.


Jabbar membiarkan adiknya itu.


Isabela hanya tersenyum saat Jabbar melihat nya,ia mengerti Mikaila lebih membutuhkan dia dari pada dirinya saat ini.


Isabela semakin kagum kepada Jabbar melihat bagaimana cara ini menjaga adiknya, memberikan perhatian dan terlihat jelas Jabbar sangat menyayangi Mikaila.


Bram sesekali melihat pemandangan yang membuat hatinya panas, Mikaila yang biasanya bermanja-manja dengan nya kini ia bersandar di dada pria lain.


"jangan bilang kalau kau ingin melempar kakak ipar mu ke luar pesawat,"tulis Yoga pada sebuah kertas dan memberikannya kepada Bram yang duduk di hadapannya.


"Itu yang sedang aku pikir,apa kau bisa melakukannya,"tulis Bram kembali menyerahkan kertas tersebut kepada Yoga.

__ADS_1


Mereka terus saja saling balas,terkadang mereka tersenyum saat membaca atau sedang menulis.


Anindita yang memperhatikan mereka sejak tadi menjadi penasaran,dan menghampiri Meraka.


Anindita langsung saja mengambil kertas itu dan membacanya,Bram dan Yoga yang tadinya ingin mengambil kembali kertas dari tangan Anin mengurungkan niatnya saat melihat tatapan tajam putri sulung keluarga Wijaya itu.


"jangan menambah masalah."ucap Anin membuang kertas tersebut ke tempat sampah.


Isabela dan Jabbar hanya melihat apa yang di lakukan Anin tanpa ada niat bertanya melihat ekspresi wajah ibunya.


Saat sampai di rumah, Mikaila langsung ke kekamarnya dan mengunci semua pintu.


Pintu depan, pintu penghubung antara kamarnya dan anak-anaknya,pintu yang menghubungkan antara kamar dan ruang kerja Bram.


Anak-anak yang melihat bundanya berlari ke atas ikut mengejar Mikaila.


"bunda,"teriak Arya dan Kelvin dari pintu depan, pintu nya terkunci.


"bunda buka pintunya," teriak Gavin menggedor-gedor pintu yang ada di kamarnya.


Mikaila bisa mendengar suara dari luar,tapi mereka tak bisa mendengar suara Mikaila dari dalam yang kembali menagis.


Jabbar mengajak Arya dan Kelvin ke bawah,sedangkan Bram coba menenangkan Gavin yang sudah menagis di depan pintu.


Mikaila tak mendengar suara anak-anaknya lagi,ia memiliki berendam merilekskan pikiran dan tubuh nya.


Bram membawa Gavin duduk di kasurnya,mereka menyusun rencana agar Mikaila bisa membuka pintu untuk mereka..


Gavin menagis kencang di balik pintu, Mikaila menajamkan pendengarannya bahkan menempelkan kuping di daun pintu,ia hanya mendengar suara Gavin yang menagis.


"kemana mas Bram, kenapa meninggalkan Gavin sendiri di kamar."gumam Mikaila.


Dengan ragu Mikaila memutar kunci pintu,ia menggigit-gigit kukunya.


Bram tersenyum saat mendengar suara kunci terbuka dan hendel pintu bergerak memutar perlahan.


Mikaila merasa ragu membuka pintu,ia tak ingin bertemu dengan Bram.namun ia tak tega membiarkan Gavin menagis sendiri di luar.


Perlahan ia membuka pintu, mengintip apakan Bram ada atau tidak di luar sana.


Bram bersandar di dinding ,ia yakin Mikaila akan kembali menutup pintu jika melihatnya..


Mikaila tak melihat Bram disana,ia membuka pintu dan mengulurkan tangannya memanggil Gavin masuk bersamanya.


Gavin yang memang sangat ingin bersama bundanya langsung berlari saat pintu di buka.


Bram tak mau membuang kesempatan,ia langsung menahan pintu saat Gavin sudah masuk dan Mikaila kembali akan menutupinya.


Mikaila langsung menutup pintu saat melihat Bram, namun ia terlambat, tangan Bram sudah menahan pintu terbuka.


Mikaila mendorong pintu sekuat tenaga, Gavin yang melihat bundanya mendorong Pintu ikut mendorong juga.

__ADS_1


Gavin berfikir bunda dan papanya sedang bermain saling dorong pintu.


Namun dua kekuatan tak mempu menghentikan Bram masuk,dengan sangat mudah Bram mendorong pintu hingga terbuka lebar.


"ya bunda, papa menang."ucap Gavin terlihat kecewa.


"papa yang menang,jadi papa yang punya bunda,"ucap Bram menanggapi ucapan Gavin.


Gavin menggeleng dan memeluk kaki bundanya.


"ini bundanya Gavin,"ucap Gavin menatap tak suka pada papanya.


Bram mengeluarkan dompetnya dan memberikan 2 lembar uang kepada Gavin.


"beliin bunda dan papa eskrim dong,"ucap Bram pada Gavin sambil menaruh uang di tangan anaknya itu.


"untuk Gavin mana,"ucap Gavin kembali meminta uang.


Bram kembali mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar lagi.


"buat kak Arya dan kak Kelvin mana,"ucap Gavin lagi.


Bram memberikan dompetnya kepada Gavin.


"beli yang banyak ya,minta om Jabbar yang anterin."ucap Bram pada Gavin,ia ingin berbicara dengan Mikaila.


"ok papa,bunda tunggu ya,"ucap Gavin keluar dari kamar.


"yang jauh ya,"ucap Bram menepuk pantat Gavin yang berlari keluar.


Bram mengunci pintu, Mikaila yang sudah menduga Bram akan berhasil mengusir Gavin memilih mengambil pakaiannya.


Bram memeluk Mikaila dari belakang saat sedang mengambil pakaian.


Aroma wangi tubuh Mikaila yang habis mandi membangkitkan gairah Bram.


"mas lepas ih,aku mau pakai baju,"ucap Mikaila mencoba melepas tangan Bram yang melingkar di perutnya.


Namun Bram semakin mempererat pelukannya dan bermain di punggung mulus istrinya.


Mikaila terus mencoba melepaskan pelukan Bram.


Bram membalikkan badan Mikaila dan menarik tengkuk nya,menahan agar Mikaila tak bergerak saat Bram mulai menikmati bibir Mikaila.


Bram sudah tak tahan lagi,ia sangat membutuhkan Mikaila saat ini,ia tak peduli Mikaila terus berontak bahkan menagis saat Bram meminta haknya sebagai seorang suami.


Terimakasih sudah membaca 💗


Like, like dan like.🙏🙏.


selamat hari raya kurban.🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2