
Kelvin berjalan menuju ke jendela kaca yang ada di Apartemen itu, menatap keluar, melihat keramaian kota yang terlihat sangat jelas dari posisinya berdiri sekarang, walau lantai Apartemen nya lebih tinggi dari lantai Apartemen milik Gavin. Namun, Apartemen milik Gavin juga memiliki pemandangan yang sangat indah.
Gedung Apartemen itu merupakan yang paling diminati dari kalangan atas, selain keamanan juga para penghuni bisa dengan mudah mengakses beberapa tempat umum.
Kelvin mendapat Apartemen dari papanya saat setuju untuk melanjutkan kuliahnya di sana, sedangkan Gavin membeli Apartemen miliknya dengan uangnya sendiri.
Bram tak memberi uang kepada anaknya secara cuma-cuma di usia kerja mereka.
Walau tak di gaji sama seperti karyawan pada umumnya. Mereka mendapatkan gaji sesuai dengan hasil kerja mereka.
Mereka semua tak dimanjakan dengan uang walau Bram bisa saja menghidupi anak-anaknya walau mereka tak bekerja.
Harta yang sudah dikumpulkan Bram selama ini tak akan habis walau mereka hanya bermalas-malasan menghamburkan uang papa mereka.
Bram mengajarkan mereka untuk mandiri dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah mereka sendiri dengan jalan yang sudah disediakan oleh Bram tentu.
Arya, Kelvin dan Gavin Sangat bersyukur memiliki papa yang pekerjaan keras di masa mudanya, sehingga mereka bisa menikmati aoa yang di miliki Papanya saat ini.
Bram sudah mengumpulkan pundi-pundi rupiah sejak remaja, meski harus menghabiskan masa remajanya di kantor, bekerja di saat teman-temannya menghabiskan waktu untuk berpacaran bahkan menghabiskan waktu mereka dengan nongkrong bareng, liburan ke berbagai negara dan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang.
Bram kini menikmati masa tuanya, ia tak perlu lagi bekerja dan hanya mengontrol saja, menghabiskan waktu dengan istri tercintanya.
Gavin dan Kelvin juga menikmati kerja keras papanya saat ini. Tak sembarang orang bisa tinggal Apartemen mewah dimana mereka sekarang berdiri.
Kelvin terus mengatur emosinya yang sudah sangat memuncak. Ia sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu.
Kelvin berbalik menatap Gavin yang duduk di sofa, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, mendongakkan kepalanya seraya menutup, menetralkan degup jantungnya yang memburu menahan emosi yang ada di dadanya.
Gavin tak berkata apa-apa dan hanya duduk di sofa dan dengan santainya ia memainkan ponsel.
"Gavin apa tujuanmu sebenarnya melakukan ini semua," geram Kelvin menatap tajamnya Gavin.
Gavin tak menjawab, ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka.
Kelvin yang geram langsung mengambil ponsel Gavin dan membantingnya ke lantai.
"Kakak" pekik Gavin penuh amarah di matanya. Gavin langsung berdiri memandang tajam pada kakaknya dan melihat ponselnya yang sudah tak berbentuk lagi, berserakan di lantai.
Natali yang duduk tak jauh dari Gavin juga terperanjat kaget saat Kelvin membanting ponsel Gavin, ia tak menyangka jika Kelvin akan melakukan semua itu. Ia mengenal sosok Kelvin yang tak akan berbuat kasar pada siapapun terutama kepada adik-adiknya. Natali hanya bisa menutup mulut nya tak berani berbicara sepatah katapun.
"Kau tahu 'kan, kakak selama ini mencari Diandra, selama ini Kakak tak pernah tenang dan terus khawatirkan nya, kau tahu 'kan Gavin?!" ucap Kalvin menatap Gavin dengan berapi-api dengan mengucapkan kata penuh penekanan.
Gavin tak menjawab dan hanya terus menatap tajam pada Kelvin berdiri menantang kakaknya itu..
"Apa sebenarnya maksudmu, mengapa kau melakukan semua ini. Aku dengar, kau bahkan membeli Apartemen ini untuknya. Apa seniat itu kau menyembunyikan Diandra dariku?!" bentak Kelvin dengan suara yang semakin meninggi.
"Aku sama sekali tak menyembunyikannya darimu, Kak. Aku hanya ingin membuat Diandra lebih tenang, aku tak sengaja mendengar pembicaraan Kakak dengan kak Arya, makanya aku mendatangi Diandra. Hari itu dia sangat terguncang dengan apa yang terjadi padanya. Dia hanya ingin menghindari kakak, makanya aku membawanya ke sini," jelas Gavin dengan suara tak kalah tingginya dari Kelvin.
"Kenapa kau tak memberi tahu Kakak, jika dia ada di sini. Kau sudah tahu kan sejak awal kalau Kakak sedang mencarinya?!"
"Aku tahu, dari itulah kenapa aku menyembunyikan Diandra di sini, karena Diandra Sendiri tak mau menemani kakak dan aku tau Kakak mencarinya."
"Gavin Kakak kecewa sama kamu," kesal Kelvin.
"Kakak pikir Gavin tak kecewa dengan kakak, karena kesalahan Kakak hidup Diandra menderita. Kakak sudah merenggut kehormatannya secara paksa." geram Gavin mengingat air mata Diandra. "Kakak meninggalkannya begitu saja."
"Aku tak pernah ada niat untuk meninggalkannya, justru itu aku mencarinya," jawab Kelvin.
"Sekarang kakak sudah menemukan Diandra, apa yang akan kakak lakukan?? apa Kakak akan menikahinya??" Gavin melirik pada Natali yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca.
Kelvin terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sampai saat ini dia tidak punya jalan keluar dari masalah nya.
"Kak, sebaiknya kakak pulang bersama Natali, kakak bisa menjalin hubungan dengannya dan tak usah lagi menemui Diandra. Aku Yang akan mengurusnya."
"Aku takkan kembali sebelum menemui Diandra," kekeh Kelvin melirik tajam pada Gavin.
"Untuk apa lagi Kakak menemui nya, jika Diandra Sendiri tak mau menemui kakak. Diandra sudah memaafkan Kakak dan tak mau membahasnya lagi. Kakak bisa memulai hidup Kakak tanpa mengkhawatirkan dia lagi."
__ADS_1
Natali hanya diam mendengar pembicaraan mereka, dia sangat takut melihat keduanya yang terlihat begitu emosi.
"Di mana dia sekarang?" tanya Kelvin melihat kearah salah satu kamar.
"Aku kan sudah bilang, Diandra tidak ingin menemui Kakak," ucap Gavin menghalangi langkah Kelvin.
"Minggir," ucap Kelvin kemudian ia berjalan menuju ke salah satu pintu kamar yang ada di sana, membuka pintu tersebut dan melihat di sana tak ada siapapun.
Kelvin kembali mencari ke salah satu pintu dan hasilnya tetap sama, di sana juga tak ada, hanya ada Clara yang sedang belajar di dalam kamar itu.
"Diandra pasti ada di kamar itu," batin Kelvin melihat salah satu pintu di sudut ruangan. Baru saja ia akan melangkah menuju kamar itu Gavin sudah memasang badan menghalanginya.
"Aku sudah bilang, dia tak mau menemui Kakak, kenapa Kakak masih terus bersikeras untuk menemuinya," sahut Gavin dengan suara yang kembali meninggi.
"Kamu nggak usah ikut campur, ini masalah kakak, kakak bisa menyelesaikannya."
"Menyelesaikan? Dengan cara apa, Kak?! tentang Gavin terus menghalangi langkah Kelvin.
Natali yang menyaksikan suasana yang semakin keruh berdiri dari duduknya. Ia sangat takut melihat kedua kakak-beradik itu.
"Gavin, minggir," Bentak Kelvin mencoba menyingkirkan Gavin dari jalannya
"Aku tak akan membiarkan Kakak menyakiti Diandra lagi," tegas Gavin.
"Apa maksudmu? Aku tak ingin menyakitinya. Aku hanya ingin bertemu dengannya dan membahas masalah ini."
"Kalau kakak ingin membahas masalah ini silahkan katakan padaku, biar aku yang menyampaikan pada Diandra."
"Gavin. Jangan memancing amarah kakak," ucap Kelvin yang sudah berapi-api.
"Kakak itu sudah melecehkan seorang gadis, Kakak sudah merusak masa depannya. Apa bedanya Kakak dengan para pemabuk diluar sana yang mejadikan alkohol sebagai alasan untuk …" Belum juga Gavin menyelesaikan perkataannya Kelvin sudah melayangkan pukulannya ke wajah Gavin.
Natali memekik dan langsung menarik Kelvin menjauhi Gavin yang jatuh tersungkur ke lantai dengan luka di Sudut bibirnya. Kelvin benar-benar meluapkan kemarahannya dengan tinjunya.
Natali membawa Kelvin duduk di sofa dan menenangkannya. Natali melihat ke arah Gavin yang terduduk di lantai sambil memegangi bekas tinju Kelvin.
"Natali, sebaiknya kau bawa kakak pergi dari sini," ucap Gavin tanpa menoleh pada mereka.
"Gavin benar, jika memang Diandra tak ingin bertemu denganmu, sebaiknya kita jangan memaksanya. Beri Diandra waktu," ucap Natali mengusap lengan Kelvin mencoba menenangkan kekasihnya itu.
Kelvin menarik rambutnya, merasa sangat frustasi. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Mereka terdiam beberapa saat.
Bel Apartemen berbunyi, "Siapa yang bertamu kesini," batin Gavin. Selama ini tak satu orang pun yang membunyikan bel di Apartemen itu.
Gavin tetap duduk di tempatnya, melihat kakaknya yang terlihat begitu frustasi, dengan Natali yang terus menenangkannya.
Bel terus berbunyi, Clara sejak tadi mendengar pembicaraan mereka berjalan pelan menuju pintu dan membuka pintu tersebut.
Begitu pintu terbuka Mikaila langsung masuk ke dalam, disusul Bram, Alex dan juga Jessica.
"Bunda" kaget Gavin yang melihat Bunda dan yang lainnya masuk ke Apartemen itu.
Kelvin yang mendengar Gavin menyebut Bunda, langsung mendongakkan wajahnya. Betapa terkejutnya ia saat melihat Bundanya menatap tajam padanya dengan penuh amarah. Kelvin tak pernah melihat Bundanya menatapnya seperti itu.
"Gavin dimana Diandra?!" Gavin yang masih terkejut hanya bisa menunjuk pintu kamar Diandra.
Mikaila dengan cepat berjalan menuju pintu kamar dan mengetuk pintunya.
"Diandra, ini Bunda. Buka pintunya sayang," panggil Mikaila.
Mikaila bisa mendengar jika suara pintu terkunci yang terbuka. Mikaila langsung memutar gagang pintu dan melihat Diandra di balik pintu.
"Diandra kau tidak apa-apa?" tanya Mikaila yang melihat tubuh Diandra bergetar.
Diandra sejak tadi mendengar pembicaraan Kelvin dan Gavin, membuat ia semakin ketakutan mendengar mereka yang saling membentak.
__ADS_1
"Bunda, aku takut," ucap Diandra terbata-bata dia bahkan kesulitan untuk bernafas.
Mikaila yang melihat keadaan Diandra langsung membawa ke pelukannya dan mengusap lembut punggung Diandra. "Tenanglah, Bunda ada di sini. Semua akan baik-baik saja."
Jessica menghampiri mereka.
"Tolong bantu aku merapikan barang-barang Diandra, aku akan membawanya," ucap Mikaila.
Jessica dan Mikaila langsung merapikan semua barang-barang Diandra. Diandra hanya duduk dan melihat apa yang dilakukan oleh Mikaila dan Jessica.
Di ruang tengah semua terpaku dengan posisi masing-masing, tak ada pembicaraan satu kata pun. Bram hanya bersandar di sofa, sesekali ia memegang dadanya, tak bisa berkata apa-apa. Gavin masih duduk di lantai sambil menunduk melirik ragu pada papanya.
Setelah memasukkan semua barang-barang Diandra, mereka juga mengemas barang-barang Clara.
Setelah semuanya siap Mikaila langsung membawa Clara dan Diandra keluar dari sana, ia hanya melirik pada kedua putranya.
Gavin yang melihat itu langsung menghentikan bundanya.
"Bunda, apa yang Bunda lakukan. Bunda mau bawa Diandra dan Clara kemana?" tanya Gavin menarik tas yang dibawa Mikaila.
"Diandra dan Clara Sekarang tanggung jawab Bunda, jangan menghalangi jalan," tegas menepis tangan Gavin dan berjalan keluar sambil merangkul Diandra.
Gavin yang tak pernah melihat Bundanya semarah itu, tak berani membantah. Gavin pun langsung menyingkir dari jalan bundanya.
Mikaila membawa Diandra dan Clara keluar dari Apartemen itu. Bram dan yang lainnya hanya mengikuti begitu juga dengan Kelvin, Gavin, dan Natali.
Tak ada yang berani menghentikan apa yang dilakukan oleh Mikaila, termasuk Bram.
Mikaila langsung membawa Diandra dan Clara ke bandara dan menuju ke kota X saat itu juga.
Diandra hanya menurut apa yang dikatakan oleh Mikaila,
Sepanjang perjalanan Mikaila terus memeluk Diandra, ia bisa merasakan jika Diandra sudah lebih tenang, tubuhnya tak lagi bergetar seperti saat pertama kali ia menemukannya.
Begitu sampai di kota X Mikaila langsung membawa Diandra pulang dan memanggil Anindita untuk memeriksa keadaan Diandra.
Anindita memberikan obat penenang, dan menjelaskan jika Diandra mengalami trauma.
***
Selama ini Bram Sudah tahu dengan apa yang dilakukan oleh Kelvin. Bram mengetahuinya dari Alex. Alex tak pernah merasakan apapun dari Bram termasuk masalah Diandra.
Awalnya Bram tak tahu dan hanya mengira Kelvin mencari Diandra karena merasa khawatir atas Diandra dan Clara yang baru ditinggal oleh ibu Sulastri, begitu juga dengan Alex. Alex tak tahu apa yang terjadi, yang ia tahu hanyalah Kelvin memintanya untuk menemukan gadis yang bernama Diandra.
Namun sikap Kelvin yang terlalu mencemaskan Diandra membuat Alex merasa curiga mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Alex sangat terkejut saat mengetahui fakta jika Kelvin telah melakukan kesalahan pada Diandra dan memberitahu semua pada Bram apa yang ia ketahui. Bram hanya diam dan menunggu sampai Diandra ditemukan.
Orang pertama yang mendapat informasi tentang keberadaan Diandra adalah Bram dan itu dari Alex.
Begitu Bram tahu jika Kelvin dan Natali pergi ke luar negeri, Ia pun mengajak Mikaila menyusul mereka. Bram tak ingin ada perkelahian di antara kedua anaknya. Saat di pesawat, Bram menceritakan semua pada Mikaila apa yang Alex ceritakan padanya.
Mikaila tak menyangka jika putranya itu mampu melakukan hal seperti itu, Ia selalu minta Kelvin untuk tak menyentuh alkohol atau barang lain yang bisa merusak kesadaran. Inilah yang di khawatir Mikaila, ia percaya pada anaknya, Meraka tak akan melakukan kesalahan, terkecuali itu di luar kesadarannya. Namun sepertinya Kelvin tak mendengar nasehat ini.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏💖
Beri dukungan dengan memberi like, vote dan komennya ya Kak. Semua itu sangat berpengaruh pada level karya.🙏
Ditunggu ya, kunjungannya di karya terbaruku
🙏🤗😘
Salam dariku Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1