Pilihan Ku

Pilihan Ku
Demi Anak-anak Bunda.


__ADS_3

Bram kembali ke kamarnya,ia mengambil ponsel yang terus berkedip menandakan ada pesan masuk.


"semua sudah siap,"tulis pesan dari Yoga.


Belum sempat Bram membalas pesan dari Yoga ia mendengar suara Mikaila sedang menagis dari arah walk in closet.


Bram menghampiri Mikaila yang sedang mengemas pakaiannya sambil menangis.


Bram berjalan cepat dan langsung membawa Mikaila kepelukannya,


"ada apa,kenapa kamu menagis,"tanya Bram mengusap-usap punggung istrinya.


Mikaila semakin menambah tangisannya.


"Mas hanya tiga hari di sana,semua akan baik-baik saja,"ucap Bram mengira Mikaila menagis karena tak ingin berpisah dengannya.


Tak ada jawaban dari Mikaila,ia hanya terus menangis di pelukan Bram.


Lama mereka dalam posisi itu, sampai Mikaila sedikit tenang.


Bram mengangkat Mikaila ke kasur membaringkannya secara perlahan dan mengusap air mata yang membasahi wajah nya.


"mas akan segera kembali setelah urusan di sana selesai,"ucap Bram


Bram Mulai mencium bibir Mikaila dan mulai menikmati tubuh indah wanita nya.


Bram ingin menghabiskan malam sebelum berpisah dengan Mikaila.


Bram yang berpikir Mikaila sedih karena tak rela berpisah dengannya terus memanjakan Mikaila dengan sentuhan-sentuhan nya,ia ingin memberi kepuasan kepada Mikaila malam ini,namun tindakannya itu justru lebih menyakitinya.


Bayangan Bram melakukan hal yang sama pada wanita lain di luar sana membuat dadanya sesak,seorang anak dari suaminya lahir dari rahim wanita lain, sungguh kenyataan pahit yang tak bisa ia maafkan.


Ini pertama kalinya setelah ia resmi menjadi istri Bram Mikaila tak ikhlas melayani Bram.


Bukan kenikmatan yang ia dapatkan tapi rasa sakit,bukan fisik tapi hati dan batin nya.


Mikaila terus menahan rasa sakitnya dangan mencengkram seprai di bawahnya hingga Bram mencapai puncak kenikmatan nya.


"terimah Kasih sayang,aku sangat mencintai,"ucap Bram mengecup kening dan bibir Mikaila dan tertidur memeluk tubuh polos istrinya.


Merasa Bram sudah tertidur Mikaila masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya ia tak peduli lagi dengan rasa sakitnya,membiarkan air matanya menetes tanpa ia tahan lagi,pikirannya kosong yang ada di benaknya sekarang hanya ingin mencari ketenangan di hadapan sang penguasa semesta.


Mikaila memasrahkan nasib rumahtangga kepada Allah SWT.


Pagi hari.


Bram bersiap-siap untuk berangkat ke bandara.


Mikaila menurunkan koper yang akan di bawah Bram,menyimpannya di samping Mobil.


Anak-anak sudah ada di dalam mobil,Meraka akan mengantar papanya ke bandara.

__ADS_1


Mikaila kembali ke kamar, melihat Bram yang masih sibuk dengan dasinya.Ingin rasanya ia membantu Bram mengikatkan dasi seperti biasa tapi rasa sakitnya masih lebih besar dari keinginannya.


Mikaila masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


Bram duduk di kasur menunggu Mikaila keluar dari kamar mandi.


"sayang apa masih lama?,"tanya Bram mengetuk pintu kamar mandi.


Mikaila menyalakan keran air agar suaranya tak jelas jika ia kembali menagis di dalam sana.


"perut aku sakit mas,kamu berangkat aja,"jawab Mikaila.


"kamu yakin tak mau mengantar mas?"tanya Bram.


"nanti mas bisa terlambat,perut aku masih sakit mas,"jawab Mikaila lagi,


"mas berangkat ya,"ucap Bram tangannya menempel pada pintu seolah ia menyentuh Mikaila.Ada perasaan bersalah di lubuk hatinya kepada Mikaila.


Tak ada jawaban dari dalam kamar mandi,


"sayang mas berangkat ya,"ucap Bram mengetuk pintu kamar mandi.


Yang dibalas ketukan oleh Mikaila.


Bram berdiri sejenak di depan pintu kamar mandi berharap Mikaila keluar,,sebenarnya ia sangat ingin melihat wajah Mikaila sebelum berangkat.


Lama Bram berdiri di sana sambil terus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Mikaila sedari tadi membekap mulutnya agar suara tangisnya tak di dengar Bram,ia tak sanggup lagi menerima kenyataan kalau Bram punya anak dari wanita lain.


Mikaila terus mengurung diri di kamar,ia hanya bisa pasrah,hanya Membaca Al-Qur'an yang bisa menenangkan hati dan pikirannya.ia hanya minum jus yang di bawa oleh Bi Yanti.


Bi Yanti yang melihat kesedihan di wajah majikannya itu membawa segelas jus dan roti kekamar.


"non harus makan,seberat apapun masalahnya non harus tetap kuat.kasihan anak-anak kalau non sampai sakit."ucap bi Yanti penuh kelembutan dan menyodorkan segelas jus kepada Mikaila.


Mendengar kata anak-anak Mikaila melihat kamar anaknya dan ia mengambil jus tersebut.


"makasih bi"ucap Mikaila memberikan kembali gelas yang sudah kosong kepada bi Yanti.


Mikaila juga melewati makan malam nya,kembali bi Yanti memberikan segelas susu hangat kepada Mikaila.


Mikaila sepanjang hari hanya membaca ayat suci Al-Quran di kamarnya,ia tak makan dan juga minum,bi Yanti merasa khawatir dengan keadaan nya.


Malam hari di kota Batam.


Randy dan Zahra menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi, Zahra terus saja berjalan mondar mandir,


"tenang lah, semua akan baik-baik saja."ucap Randy menenangkan.


"semoga saja operasi nya berhasil,"ucap Zahra memeluk Randy

__ADS_1


Lampu operasi di matikan menandakan operasi telah selesai.


"bagaimana operasi dokter,"tanya Zahra saat dokter yang menangani operasi itu keluar.


"operasinya berhasil,kita tunggu saja perkembangannya,"ucap dokter dan berlalu meninggalkan mereka.


Bram dan Zaky di pindahkan ke ruang perawatan,mereka masih dalam pengaruh obat bius .


Mereka di bawa keruangan yang sama,agar lebih memudahkan menemani mereka.


Zahra dan Randy merahasiakan semua dari keluarganya sesuai permintaan Bram.


Di kota x,


Mikaila menatap wajah anak-anaknya yang tertidur pulas,ia tersenyum dan mengusap rambut mereka,menciumi wajah dan tangan anak-anaknya.


Mikaila kembali ke kamar nya dan mengambil catatan alamat rumah sakit tempat Bram akan melakukan operasi.


"seharusnya mas bram jujur sama aku,mungkin menyakitkan tapi mungkin tak semenyakitkan ini.Kenapa mas ga bilang kalau mas menyukai wanita lain,mungkin saja aku akan mengizinkan mas walau itu menyakitiku.mengapa mas nggak bilang apa kekurangan aku,mungkin aku bisa memperbaikinya.ini sangat menyakitkan mas."Mikaila tersenyum getir membayangkan apa yang akan terjadi pada kehidupan rumah tangganya.


"kalau mas ga mau jujur biar aku saja yang mencari tahu kebenarannya,aku akan mengalah mas,demi anak-anak kita."


"seharusnya mas Bram sudah menjalani operasi nya,"Mikaila mengusap jam operasi yang ada di catatannya.


Mikaila mengambil ponselnya menekan tombol panggil pada kontak My husband.


Hingga bunyi deringan terakhir Bram tak mengangkat nya.


Ia kemudian mengirim pesan menanyakan keberadaan dan kondisi Bram.Terkirim tapi tak di baca.


Mikaila menghapus air mata dan memesan tiket ke Batam secara online.


Mikaila memasukkan sepasang bajunya kedalam tas ransel kecil.


Ia shalat tahajjud meminta kepada Allah agar menguatkan hatinya.


Mikaila mengambil ransel dan masuk ke kamar anak-anak,


"bunda sayang kalian."mencium kening anak-anaknya dan turun ke bawah.


Pak slamat sudah menunggu Mikaila di bawah,Sebelumnya ia sudah minta pak slamat mengantarnya ke bandara.


Mikaila mengambil penerbangan pertama ke Batam.


Bi Yanti yang tahu tujuan Mikaila dan merasa cemas menelfon Bram,. ingin memberitahu kalau Mikaila menyusulnya.Tapi Bram tak mengangkat telfonnya...


😭πŸ₯ΊπŸ™


Terimakasih sudah membaca πŸ’—


Jangan lupa like vote dan komennya.

__ADS_1


Jangan bosan-bosan ya,terus mengikuti perjalanan cinta Bram dan Mikaila.πŸ’—β€οΈπŸ’—


__ADS_2