Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Memaafkan ternyata Melagahkan.


__ADS_3

Bram terus memikirkan Zaky, dia memandang ke luar jendela memutar-mutar ponsel di tangannya nya.


"Ini bukan salahnya, seperti apapun keadaannya dia tetaplah putraku, meskipun Ia lahir dari rahim wanita lain," batin Bram terus memandang keluar melihat ke arah rumah Zahra.


Bram mengambil buku tabungan Zaky, ia melihat nama Zaky di sana dan melihat deretan angka yang selama ini ditransferkan.


Bram benar-benar pusing dibuatnya, selama ini ia berfikir Jika ia mentransfer uang yang banyak untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya, Zaky tak akan mempermasalahkan jika selama ini ia tidak pernah menemuinya. Namun semua ini diluar dugaannya. Zaky malah tak memakai uang itu sedikitpun.


Bram kemudian menelpon Yoga.


"Halo mas Yoga," ucap Bram saat Yoga sudah mengangkat ponselnya,


"Iya ada apa Bram," jawab Yoga .


"Apa mas sudah mengurus perusahaan yang akan aku berikan kepada Zaky?" tanya Bram sambil terus melihat deretan angka nominal yang tertera di buku tabungan Zaky.


"Tentu saja, aku sudah mengurus semua nya, dia hanya tinggal menduduki jabatannya saja," ucap Yoga.


"Entahlah apakah Ia mau menerima perusahaan itu atau tidak, Aku baru saja menemuinya dan ia mengembalikan semua uang yang kita berikan padanya selama ini. Ia bahkan tidak pernah memakainya sepeserpun."Ucap Bram frustasi.


"Benarkah,?" tanya Yoga.


"Iya mas,"


"Apa ia menuntut hal lain?" tanya Yoga.


"Tidak, ia bahkan tak meminta apapun. Apa mas punya cara lain agar dia mau menerima semua yang kita berikan padanya?" tanya Bram.


"Aku akan coba berbicara dengan Randy,,"


"Baiklah kalau begitu, atur pertemuan kita dengan Randy." ucap Bram mengakhiri teleponnya.


Saat menutup telepon Bram melihat Arya berdiri di depan pintu,


"Masuklah ,"ucap Bram meminta Arya masuk.


Arya berjalan masuk dan duduk di depan Papanya, tadi Arya mendengar jika Papanya menyebutkan nama Zaky.


"Apa Papa baru saya berbicara dengan Om Yoga?" tanya Arya, ingin rasanya Arya bertanya mengapa Papanya itu merahasiakan keberadaan Zaky padanya.


Bram meletakkan buku tabungan Zaky ke depan Arya. Arya mengambil dan melihatnya, ia bisa melihat nama yang tertera di buku tabungan itu adalah nama Zaky, nama yang selama ini ia menggangu pikirannya.


Arya menatap Papanya penuh tanya keningnya berkerut melihat Papanya,


"Apa kau ingat anak yang kemarin berdiri di dekatmu?" tanya Bram.


"Namanya Zaky, dia putra dari Zahra Kakak Humairah.

__ADS_1


Bram menyebut nama Humairah karena Arya dan anak-anak Mikaila yang lainnya hanya mengenal Humairah sahabat bundanya.


"Iya Pah, Arya ingat" ucap Arya..


"Iya, itu buku tabungan miliknya, selama ini Papa yang mentransferkan nya uang, namun seperti dia menolak pemberian itu." jelas Bram.


"Apa boleh Arya tahu mengapa Papa memberikan uang sebanyak ini padanya?" tanya Arya berpura-pura tak tahu maksud dari Papanya.


"Dia juga anak Papa," ucap Bram, Bram yakin jika Arya tadi mendengar pembicaraan dengan Yoga.


"Apa kau sudah tahu?" tanya bram yang melihat Arya tak ada ekspresi terkejut sedikitpun, Arya hanya mengangguk mendengar penjelasan Papanya, dan menyimpan kembali buku tabungan Zaky di meja.


"Iya Pah, Arya sudah tahu, awalnya Arya tak sengaja melihat daftar warisan Papa, ada nama Zaky tertera di antara nama kami. Kemudian Arya juga mendengar Bunda dan nenek membahasnya."


Bram menatap Arya,


"Bunda sudah menjelaskan semua, bagaimana Zaky bisa hadir dalam keluarga kita," jawab Arya.


"Bagaimana pendapatmu ?" tanya Bram serius.


"Mau bagaimana lagi, kita tidak bisa menolak dan menganggapnya tak ada kan?!, dia tetap anak Papa suka atau tidak suka!," ucap Arya bersandar di tembok,


"Kemarin papa menemuinya dan dia meminta Papa untuk berhenti mengiriminya uang dan tidak mencampuri urusannya, ia tak ingin apapun dari Papa. Papa nggak tahu dia marah, tersinggung atau apa. Tapi papa hanya ingin memberikan sebagian harta Papa padanya, papa tidak bisa lepas tangan begitu saja atas dirinya.


"Arya akan coba bicara padanya, Apa yang sebenarnya diinginkan nya," ucap Arya.


Bram hanya mengangguk mendengar ucapan anak sulungnya itu,


Arya menggeleng,


"belum pah, mereka belum tau," jawabnya.


"Sebaiknya kita jangan memberitahunya dulu, Papa tak bermaksud merahasiakan ini dari kalian, Papa hanya menunggu kalian semua dewasa dan bisa berpikir jernih dalam menerima satu sama lain," ucap Bram.


"Apa Papa berencana membawanya ke rumah?" Tanya Arya,


"Tentu saja tidak, Papa masih sangat menghargai bunda mu, Papa sangat mencintai Bunda. Memikirkannya saja tak pernah terlintas di pikiran papa membawanya kerumah, dia akan tetap bersama dengan keluarganya. Papa hanya ingin kalian bekerja sama dalam mengurus perusahaan."


"Bagaimana pekerjaanmu di kantor?" tanya Bram mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Semuanya baik-baik saja Pah, Arya masih bisa menghandle keduanya sampai saat ini". jawab Arya.


Semoga saja Kelvin cepat menyelesaikan kuliahnya dan kembali membantumu, Sepertinya kita tidak bisa berharap banyak pada Gavin. " ucap Bram menggeleng mengingat anaknya yang satu itu, dia benar-benar berbeda dari kedua kakaknya.


Pagi-pagi Zahra dan keluarganya akan kembali ke Batam, Zahra membawa ibu nya ikut bersama mereka.


Sebelum pergi Ibu Zahra berpamitan pada ibu Mikaila.

__ADS_1


Zahra juga berpamitan pada keluarga Mikaila.


"Mikaila kau masih marah sama kakak?" ucap Zahra pelan ,


"Enggak kok kak, kita lupakan saja semuanya," ucap Mikaila juga dengan bersuara pelan, tak ingin didengar oleh anak-anak.


"Terima kasih ya, kamu memang orang yang baik," ucap Zahra.


Zaky berdiri didekat mobil bersama dengan adiknya. Arya menghampirinya.


"Hay perkenalkan namaku Arya," ucap Arya mengeluarkan tangannya.


Zaky hanya menatap Arya, tak ada niatnya untuk menyambut uluran tangan saudara nya itu.


Arya menarik tangan Zaky yang ia masukkan ke dalam saku celananya dan menjabatnya.


"Senang bertemu denganmu, semoga kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik," ucap Arya menepuk lengan Zaky, Zaky hanya melihat lengannya yang ditepuk oleh Arya dan menatap Arya tanpa berkata apa-apa.


Arya tersenyum melihat tingkah Zaky, ia jadi teringat akan Kelvin, yang juga memiliki sifat yang sama dengan Zaky.


Gavin yang melihat Arya menghampiri Zaky juga ikut menghampirinya,


"Hay perkenalkan aku Gavin," ucap Gavin juga langsung menarik tangan Zaky.


"Aku Raina ,"ucap Raina hanya melambaikan tangan berdiri di samping Arya.


"Aku Natali," ucap Natali memukul lengan Zaky sok akrab.


"Kamu tinggal di mana?" tanya Natali.


Zaky tak menjawab pertanyaannya,


"Kami tinggal di Batam Kak," ucap adik Zaky,


"Oh kalian dari Batam ya," ucap Natali sedikit canggung karena Zaky hanya mendiaminya.


"Kami pulang dulu ya, kalau kalian ke Batam mampirlah ke rumah tante ," ucap Zahra.


"Iya Tante," ucap mereka semua kecuali Arya. Entah mengapa Arya tidak suka melihat Mama Zaky, Arya masih berpikir negatif tentangnya.


Mereka semua melambaikan tangan saat mobil Zaky dan keluarganya meninggalkan pekarangan rumah mereka.


Mikaila menggandeng tangan Bram, ia merasa lebih lega. Untuk pertama kalinya ia berbicara langsung dengan Zahra setelah selama ini terus mendiaminya, memendam perasaan kesal selama bertahun-tahun.


💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖🙏💖💖💖💖


Like, Vote dan komennya 🙏

__ADS_1


Author m anha.


💖💖💖💖💖💖💖💖❤️💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2